Sang Penguasa

Sang Penguasa
338. Rencana Yin Bei.


Di tempat lain.


Halaman istana bela diri.


" Swhuss... swhus..." Dua sosok tiba di  tempat itu.


" Tetua, ada apa?" tanya Yin Gang dengan penasaran.


" Pangeran, ada kabar gembira, tetapi...," ucap tetua menjeda kata-katanya, menatap Yin Gang dengan hormat.


" Maksud tetua?" tanya Yin Gang dengan penasaran.


" Pangeran, kita telah memenangkan peperangan," jawab sosok dengan tenang. .


" Maksud Tetua?" tanya Yin Gang dengan wajah serius.


Dengan tenang, sosok itu lalu menjelaskan kehadiran  Qing Ruo yang  menghentikan pertempuran dengan  menunjukkan kepala Yin Zuo pada semua orang.


" Saudara, jangan bercanda!" Seorang tetua menanggapi cerita tersebut dengan tatapan tidak percaya, bahkan Yin Gang juga sangat sulit mempercayai kisah itu.


" Jika tidak percaya, silakan saudara periksa sendiri, namun perlu saudara ketahui, semua pasukan puncak Dong Yin saat ini telah  mundur dari puncak Nan Yin,"  ucap tetua itu menjelaskan situasi yang sedang terjadi di luar puncak Nan Yin.


Pada saat mereka sedang membicarakan hal tersebut, tiba-tiba mereka melihat  kilatan cahaya ungu dan kehitaman bergerak mendekati tempat itu.


" Qilin Api Hitam dan Api Ungu...." ucap Yin Gang dan semua orang yang ada di tempat itu mengambil sikap siaga.


" Pangeran, itu tuan Qing Ruo..." ucap tetua tersebut menjelaskan.


" Swhuss.. swhus...." Sosok Qilin Api Hitam dan Qilin Api Ungu yang membawa Qing Ruo muncul di tempat itu.


" Tuan Qing Ruo," ucap Yin Gang dengan hormat.


" Pangeran, bicaralah," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Bagaimana kabar saudara Bei dan saudaraku Zuo?" tanya Yin Gang dengan penasaran.


Qing Ruo menganggukan kepalanya pelan.


" Pangeran, tujuan kedatanganku adalah untuk membicarakan masalah tersebut dan aku juga memohon maaf," ucap Qing Ruo dengan serius.


" Maksud tuan Qing Ruo?" tanya Yin Gang dengan wajah heran.


Tanpa menjawab, dengan perlahan Qing Ruo mengeluarkan  kepala Yin Zuo yang tersegel oleh jaring emas yang terbuat dari Cakram emas langit Ling, lalu memberikannya pada Yin Gang, membuat tempat itu menjadi hening.


Walaupun dengan raut wajah sedih, Yin Gang menganggukkan kepalanya.


" Terima kasih, dan tuan tidak perlu meminta maaf akan hal ini. Jika tuan tidak melakukannya, maka kami semua yang  akan mati,"  ucapnya sambil meraih kepala tersebut dan menyimpannya.


" Pangeran, saat ini saudara Bei dan patriark Jin Kong sedang mencari patriark Quan, aku ingin pangeran menemui mereka," ucap Qing Ruo menjelaskan tujuan kedatangannya agar Yin Bei dan dan Jin Kong memberi sedikit keringanan hukuman padanya patriark klan tersebut.


" Baik tuan, aku mengerti," ucap Yin Gang sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu meninggalkan tempat itu.


Setelah Yin Gang pergi, tiba-tiba semua orang yang ada di tempat itu bersorak gembira, menatap kehadiran Qing Ruo dengan penuh syukur.


" Tuan,  terima kasih," ucap para tetua tersebut satu persatu memberi hormat pada Qing Ruo.


Qing Ruo yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa tersenyum kecut dan mengelengkan kepalanya.


" Tetua, perang ini masih belum selesai," ucapnya pelan.


" Tuan Qing Ruo benar, memang perang ini belum selesai, tetapi dan tewasnya pangeran  Zuo dan Jue, itu artinya kita sudah tidak memiliki penghalang lagi,"  ucap para tetua tersebut menanggapi.


Qing Ruo mengangguk kepalanya pelan.


" Semoga saja demikian, namun  aku ingin para tetua tetap menyegel puncak Dong Yin hingga perang berakhir," ucap Qing Ruo dengan serius.


" Baik tuan," ucap para tetua tersebut dengan hormat.


Setelah menyampaikan banyak hal, Qing Ruo lalu meninggalkan tempat itu.


" Swhuss.... swhus...." sosok Qilin Api  Hitam dan Qilin Api Hitam yang membawanya bergerak pergi,  meninggalkan kawasan istana bela diri itu dengan cepat.


" Tuan Qing Ruo benar-benar luar biasa," ucapnya para tetua tersebut berdecak kagum, menatap kepergian Qing Ruo dengan hormat.


****


Di tempat lain.


" Dhuar...dhuar...." suara ledakan pertempuran di sekitar puncak Nan Yin, saat ribuan pasukan puncak Dong Yin  yang bergerak meninggalkan tempat itu bertemu prajurit Puncak Zhu Yin yang mengawasi tempat itu terdengar sayup dan menggetarkan kawasan gunung Langit Yin.


" Penguasa, mengapa kita tidak bergerak ke puncak Zhu Yin?" tanya Huo Mingzhi dengan heran.


" Mingzhi, aku ingin memulihkan kekuatanku terlebih dahulu," jawab Qing Ruo.


" Baik penguasa." Sambil terus bergerak dengan tenang.


Pada saat bergerak terus bergerak, tiba-tiba Huo Mingzhi merasakan aura yang begitu kacau dari tubuh Qing Ruo.


" Penguasa, apa yang terjadi?" tanya  Huo Mingzhi dengan khawatir saat merasakan kekuatan Qing Ruo semakin melemah.


" Mingzhi,  aku hanya perlu memulih diri," ucap Qing Ruo dengan tenang sambil mengedarkan kekuatan penyembuhan dari tubuhnya.


" Ba-baik penguasa," ucapnya terbata sambil mempercepat gerakannya.


" Tapi Penguasa, apa yang sebenarnya terjadi?"


Tidak ingin membuat Huo Mingzhi terus bertanya, Qing Ruo lalu menjelaskan keberadaan Yin Zuo yang memiliki tiga lingkaran kekuatan abadi serta keberadaan Tombak Cahaya yang dia gunakan. 


" Untuk dapat membunuhnya dengan  Tombak Cahaya, aku harus menggunakan seluruh kekuatanku, namun aku tidak menyangka jika kekuatan cahaya memerlukan kekuatan penopang yang lebih kuat hingga menghisap satu tingkat kekuatanku, bahkan menyerap sebagian kekuatanku jiwaku," ucap Qing Ruo, membuat Huo Mingzhi terdiam


" Ini terlalu mengerikan, tapi apakah penguasa maish bisa bertarung?" tanya Huo Zhaodau sedih.


" Tentu saja, bukankah aku masih bisa membunuh Yin Jue? Dan aku ingin kalian merahasiakannya," ucap Qing Ruo mengingatkan.


" Baik penguasa..."


Setelah terus bergerak, Huo Mingzhi dan Huo Zhaodau akhirnya tiba di kawasan Danau Es Hitam.


" Swhus..." sosoknya memasuki dasar danau sambil melepaskan segel perlindungan pada tempat itu.


Di dasar danau, Qing Ruo langsung melepaskan segel mantra formasi Cakram Langit Ling, yang langsung membentuk bola emas melindungi mereka.


" Zhoudau, Mingzhi, lindungi tempat ini," ucap Qing Ruo dengan serius.


" Baik penguasa..." ucap mereka berdua dengan hormat.


Setelah memberikan perintah pada kedua Qilin Api itu, Qing Ruo lalu memasuki dunia jiwa.


****


Di dalam dunia jiwa.


" Swhus..." Sosok Qing Ruo muncul di atas danau Giok Biru.


" Masih ada waktu, semoga Yin Quan adalah sosok yang mudah di tangani,"  ucapnya pelan lalu  memasuki dasar danau dan mulai memulihkan diri.


***


Di luar dunia jiwa.


" Swhus... swhus...." Sosok Yin Bei dan Jin Kong tiba di puncak Zhu Yin, mengawasi tempat itu dengan seksama.


" Pangeran ternyata mereka telah mempersiapkan diri," ucap Jin Kong sambil mengamati tempat itu dengan seksama.


" Benar, dalam situasi perang seperti ini, akan sangat bodoh jika mereka merasa diri paling aman." Yin Bei menanggapi.


" Pangeran, apakah kita tidak langsung bergerak?"  tanya Jin Kong menatap Yin Bei yang tiba-tiba berhenti dengan heran.


" Patriark, target utama kita adalah Yin Quan, biarkan dia muncul sendiri dan membersihkan pasukan puncak Dong Yin yang sebentar lagi akan tiba," ucap Yin Bei yang telah mendapat kabar dari Qing Ruo  mengenai  pergerakan pasukan puncak Dong Yin tersebut.


" Pangeran benar, tapi tindakan kita ini  sama saja  memberikan Yin Quan kesempatan untuk naik tingkat," ucap Jin Kong menanggapi.


" Patriark benar, namun aku tidak ingin kita  menghabiskan waktu untuk mencarinya, karena aku yakin dia pasti berada di tempat rahasia yang aku sendiri tidak tahu keberadaannya. Selain itu, kita juga tidak perlu khawatir, karena seseorang yang baru  saja memasuki tahap abadi, kekuatannya  pasti  tidak stabil."


" Pangeran benar, apalagi dengan kehadiran tuan muda Qing Ruo, membunuh  yang abadi lingkaran pertama bukalah hal yang sulit," ucap Jin Kong dengan tenang. 


" Patriark benar, yang perlu kita lakukan saat ini adalah mengawasi kawasan ini dan menunggunya, karena dia pasti akan keluar," ucap Yin Bei dengan santai.