
" Swhus... swhus...." ketiga sosok paruh baya itu terus bergerak, membawa rombongannya menjauh dari pohon raksasa itu.
" Tetua, mengapa harus pergi. Badj****n itu bahkan tidak menghormati anda," ucap pemuda yang sebelumnya ingin mengusir Hu Yan Lan dengan wajah kesal.
" Tuan muda, anda harus belajar melihat bagaimana seseorang dari reaksinya. Jika dia lemah, dia tidak mungkin akan bertindak seperti itu." Sang tetua menjelaskan.
" Tapi tetua, bagaimana jika dia hanya mengertak kita?"
" Tuan muda, tidak ada orang yang ingin bermain-main dengan nyawanya, karena hanya orang bodoh yang melakukan hal itu."
" Tapi tetua...."
" Sudahlah. Aku tidak ingin membuat masalah. Ingat dengan tugas utama kita yang belum selesai," ucap tetua tersebut, lalu membawa rombongannya berhenti di bawah pohon raksasa yang berjarak dua ratus meter dari pohon yang di tempati oleh Hu Yan Lan.
Dari jauh.
Para pemuda yang menyingkir dari tempat itu, hanya bisa mendesah panjang, melihat rombongan yang baru datang itu menjauh pergi.
" Dengan kekuatan seperti itu, mereka masih ingin mengganggu tetua tersebut, sungguh mencari mati."
" Setidaknya, tetua tersebut bijaksana. Jika tidak, mereka akan menjadi kelompok ketiga yang akan pergi dengan kehilangan tingkat kultivasi," ucap pemuda lainnya menimpali.
****
Di bahwa pohon raksasa.
Hu Yan Lan masih tidak bergeming dari tempat duduknya, mencoba menenangkan diri.
" Apa kabar penguasa di dalam." Batinnya, mencoba menghubungi Qing Ruo namun gagal.
Matanya yang tajam terus mengitari tempat itu, memeriksa dinding gunung, tempat muncul sosok yang gagal di dalam gunung.
Sepanjang waktu, selalu saja ada yang keluar dari tempat itu, yang menandai mereka telah terbunuh oleh Monster ilusi.
****
Dua ratus meter dari tempat Hu Yan Lan berada.
Rombongan yang baru tiba itu juga tidak berhenti mengarahkan pandangannya pada dinding gunung.
" Tetua, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa para pendekar muda itu keluar dari tempat itu?"
" Tuan muda, mereka yang gagal dan terbunuh di dalam gunung, akan terlempar keluar...."
" Lalu bagaimana dengan saudara Jin Qui dan yang lainnya?"
" Itulah yang ingin kita selidiki. Ini sangat aneh, karena lencana giok jiwanya telah hancur, namun sosoknya tidak muncul."
" Apakah itu berarti saudaraku Jin Qui dan yang lainnya benar-benar telah mati?"
" Besar kemungkinannya demikian," jawab tetua itu dengan serius.
" Tetua, lalu apa yang akan kita lakukan?"
" Sambil menunggu gerbang itu terbuka besok pagi. Cari informasi keberadaan mereka pada semua orang di tempat ini."
" Baik tetua."
****
Di dasar gunung Ping Xie.
Qing Ruo duduk dengan tenang, mempelajari halaman kitab segel suci Shenghuo yang terbuka, yang berisi penjelasan mengenai berbagai jenis tanda suci dan aturannya.
Lima menit kemudian halaman kitab itu kembali menutup, membuat Qing Ruo yang sedang berusaha memahami isi kitab itu begitu kelabakan.
" Ini sangat sulit," ucapnya mendesah panjang, karena harus menunggu lima jam lagi dan itu pun dengan halaman yang berbeda.
Setelah halaman kitab itu menutup, Qing Ruo lalu menggunakan waktunya untuk memahami lembar halaman kitab yang belum tuntas dia pelajari tersebut.
" Yang muncul dari halaman utama adalah gambaran besar, bukan rinciannya. Ini benar-benar memerlukan pemahaman yang tinggi." Qing Ruo membatin.
*****
Tiga hari kemudian.
Di dalam aula istana puncak gunung Ping Xie. Shenghuo Congming dan Shenghuo Zhuanjia yang sedang bersantai tiba-tiba dikejutkan dengan kemunculan delapan pemuda berusaha memasuki tangga istana.
" Saudara, ternyata ada lagi yang berhasil datang," ucap Shenghuo Zhuanjia, lalu bergerak meninggalkan aula istana, melihat sosok yang sedang berusaha melewati tangga emas.
" Swhus... swhus...." sosoknya tiba di depan tangga istana, menatap delapan pemuda yang sedang mencari cara memasuki melewati tangga itu.
" Saudara, apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang pemuda pada rombongannya.
" Saudara, aku juga tidak tahu. Dua saudara kita telah lenyap di dalamnya, apakah kita akan tetap memaksakan diri." Sambil menatap cahaya hitam yang ada dihadapannya.
" Swhuss...." sosoknya tiba-tiba terhisap dan lenyap, menyisakan kabut darah yang memercik keluar dari cahaya hitam tersebut.
" Oh tidak, cahaya ini ternyata dapat membunuh." ucap pemuda itu ketakutan, membuat mereka terdiam.
Tidak lama kemudian, muncul sajak kuno tidak beraturan dari cahaya itu.
" Saudara, untuk bisa memasuki istana, kita harus bisa melewati cahaya ini. Jika pun tidak, kita hanya bisa mempelajari sajak kuno itu," menantap tulisan kuno yang kadang muncul dan lenyap di dalam cahaya tersebut.
" Jika demikian, baiklah." Lalu mengambil sikap dan duduk di depan tangga emas tersebut.
Di dalam istana.
Shenghuo Zhuanjia dan Shenghuo Congming menatap kelompok baru tersebut tersenyum santai.
" Tanpa lencana Giok hijau Shenghuo, kalian tidak akan pernah bisa memasuki istana ini," ucap Shenghuo Zhuanjia.
" Sepertinya mereka tidak seberuntung Ruo er yang menemukan lencana giok di hutan terlarang," ucap Shenghuo Congming, sambil menatap pemuda tersebut dengan santai.
*****
Di tempat lain.
Di depan dinding gunung.
" Shwus ...." sosok pemuda yang memasuki lingkaran cahaya sebelumnya, muncul di tempat itu.
" Ternyata aku di tolak," ucapnya sedih, lalu dengan perlahan, bergerak meninggalkan tempat itu.
" Swhus...." Dua pemuda dari Klan Jin menghampirinya.
" Saudara, maaf mengganggu. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam?" Tanya pemuda dari klan Jin itu dengan serius.
" Aku ditolak oleh istana puncak," jawab pemuda tersebut, sambil memberi penjelasan dengan rinci, membuat kedua pemuda dari klan Jin itu terdiam.
" Saudara, terima kasih atas penjelasannya," lalu kembali ke dalam rombongannya.
Tidak jauh dari tempat itu.
Hu Yan Lan yang menguping pembicaraan Pemuda tersebut menganggukkan kepalanya.
" Itu berarti penguasa diterima oleh oleh istana," batinnya senang.
****
Dasar gunung Ping Xie.
Di hari ketiga itu, Qing Ruo telah mempelajari empat halaman utama kitab tersebut dan tersisa halaman terakhir yang benar-benar memerlukan pemahaman tingkat tinggi.
" Swhus...." sosok Shenghuo Zhuanjia muncul di tempat itu.
" Guru, ucap Qing Ruo dengan hormat.
" Ruo er, bagaimana?"
" Aku masih mengulang halaman utama kitab yang terakhir, guru,"jawab Qing Ruo dengan hormat.
" Lalu apa yang kamu pahami?"
" Kekuatan itu berasal dari cahaya dan kegelapan. Cahaya memiliki kekuatan untuk menghalau yang gelap dan demikian sebaliknya, kegelapan memiliki kekuatan memadamkan cahaya. Dan dua kekuatan ini masing-masing memiliki kehidupan."
" Benar, yang kita pelajari sekarang adalah kekuatan cahaya itu sendiri, lalu apa yang kamu pahami?"
" Kekuatan cahaya yang mewujudkan dirinya dalam bentuk fisik yang dipahami sebagai tanda suci yang tampak, ternyata memiliki kekuatan yang sangat lemah, sama seperti penjelasan guru sebelumnya, namun berbeda dengan cahaya yang tidak mewujudkan keberadaannya, ternyata memiliki kekuatan yang tidak terbendung. Karena tidak memiliki nyawa, maka untuk menggerakkan dan menggunakan kekuatannya diciptakan sebuah aturan dalam bentuk segel suci."
" Benar, halaman utama kitab terakhir yang menjelaskan bagaimana cara menggunakan teknik tersebut memang memerlukan pemahaman tingkat tinggi, jika hal itu mudah, maka semua orang akan dapat mempelajarinya, jadi pahami dengan tuntas," ucap Shenghuo Zhuanjia dengan gembira.
" Baik guru."
" Ruo er, apakah ada pertanyaan?"
" Tidak ada, guru."
" Jika demikian, aku pergi dulu."
" Baik Guru."
" Swhuss ...." sosok Shenghuo Zhuanjia, kembali lenyap dari tempat itu.
Qing Ruo yang hampir menguasai kitab itu mendesah panjang, sambil menunggu halaman kitab yang masih belum terbuka, berharap dengan segera dapat menuntaskannya.