
Kelima tetua yang sedang bertarung bersama begitu terkejut saat melihat sosok Qing Ruo yang mereka abaikan sebelumnya ternyata lebih kuat dari mereka. Dan yang membuat mereka semakin terkejut adalah reaksi Dugu Leng dan Dugu Cai.
" Nak, kami tidak tahu dengan pasti siapa pemuda itu, tetapi sebelumnya kami pernah bertemu. Saat itu kultivasinya hanya ada di tingkat pendekar raja Dewa, tapi bagaimana di tiba-tiba menjadi sangat kuat. Apakah kalian juga mengenalinya?"
" Ka-kami tidak tahu, tetua..." jawab Dugu Cai dengan gugup.
Tindakan Dugu Cai dan Dugu Leng membuat para tetua itu saling berpandangan.
"Saudara, aku yakin yang menindas kedua murid Klan Dugu ini adalah pemuda tersebut..." Sambil menatap Qing Ruo yang sedang bertempur, melempar hewan buas yang menyerangnya ke berbagai arah.
" Aku juga merasa demikian. Tapi siapa pemuda itu sebenarnya...." Menatap Qing Ruo dengan kagum.
" Apakah yang meminta kalian terlibat dalam pertempuran ini, adalah pemuda itu?" tanya salah satu tetua, menatap Dugu Leng dan Dugu Cai yang terlihat begitu kelabakan.
" Maksud tetua?" tanya Dugu Leng berpura-pura.
" Nak jangan berbohong. Kami semua tahu bahwa kamu berdua berasal dari klan Dugu. Bukankah menolong orang lain itu adalah sesuatu yang sangat berat bagi kalian. Lalu bagaimana bisa kalian dengan kekuatan yang lebih rendah dari kami, tiba-tiba dengan rela hati terlibat dalam pertempuran. Jika dilihat dari sikap orang-orang dari klan Dugu, mungkin saat ini kalian sudah pergi dari tempat ini, bersembunyi dan mencari tempat perlindungan..." Ucap tetua tersebut dengan tajam.
Kata-kata yang dilontarkan oleh tetua tersebut membuat wajah Dugu Leng dan Dugu Cai memerah menahan malu.
" Apakah kalian benar-benar tidak mengenalinya?"
" Tetua, kami benar-benar tidak tahu siapa dia. Namun yang pasti dia adalah orang yang sangat kuat...." ucap Dugu Cai menghentikan kata-katanya.
Pengakuan Dugu Cai membuat kelima tetua tersebut tersenyum senang.
" Sangat hebat. Pemuda yang kita anggap lemah sebelumnya adalah sosok yang sangat mengerikan. Dia bahkan berani menindas orang dari Klan Dugu..."
" Saudara benar, tapi lihat. Dia sepertinya sedang merencanakan sesuatu...."
" Benar, aku baru menyadarinya ternyata dia tidak membunuh hewan-hewan tersebut..."
Di tempat lain.
Di hadapan para tetua tersebut.
Qing Ruo yang terbebas dari aturan ruang dan waktu tempat itu, terus bergerak melawan serangan hewan buas. Sebenarnya dia dapat saja membunuh dan mengalahkan hewan buas tersebut dengan mudah, namun dia tidak ingin melakukannya, karena dia memiliki rencananya sendiri.
" Dhuar... Dhuar..." Pukulan tapak keemasan terus muncul, menghantam tubuh hewan buas yang kini semakin beringas.
" Swhus... Swhus...". Tubuh-tubuh hewan raksasa itu terlempar ke berbagai hingga puluhan meter, menghantam pohon-pohon raksasa dan menghancurkannya.
Semakin larut tempat itu semakin kacau, terutama wilayah timur, dimana hewan buas lainnya yang sedang berkonsentrasi menyerang para pendekar tingkat tinggi di tempat yang berbeda, mengalihkan serangan pada Qing Ruo. Selain itu, kemunculan hewan buas terus berdatangan tanpa henti, yang hingga hampir memenuhi kawasan itu, membuat semua orang mulai kelelahan.
Qing Ruo yang terus bertempur tiba-tiba membiarkan dirinya terkena terkaman serigala taring emas hingga terlempar puluhan meter.
" Dhuar..." ledakan keras melepar tubuhnya, hingga menghantam pohon raksasa dan merobohkannya.
" Oh tidak, dia juga mulai kewalahan. Saudara, mari kita bantu dia..." ucap salah satu tetua mencoba mendekati wilayah timur untuk membantu Qing Ruo, namun niat dan usaha mereka terhalang oleh hewan buas yang bergerak menghadang mereka.
Di sisi para tetua tersebut.
Dugu Cai dan Dugu Chen yang melihat Qing Ruo terkena serangan hewan buas, terus bertempur sambil menahan senyum, berharap Qing Ruo dilukai oleh hewan buas itu dengan parah.
Di tempat lain.
Qing Ruo yang terkena serangan hewan buas segera melenyapkan aura kultivasi dari tubuhnya, diam tak bergeming, seolah-olah dirinya telah ditewaskan oleh hewan buas tersebut. Membuat serigala taring emas yang hendak menyerangnya kembali, bergerak mundur lalu mengalihkan serangannya.
Di tempat lain.
Kelima tetua yang melihat hewan buas telah mengalihkan serangannya, menyimpulkan bahwa Qing Ruo telah terbunuh, terlebih lagi mereka tidak merasakan adanya aura kehidupan dari tubuh Qing Ruo membuat Dugu Cai dan Dugu Leng begitu senang.
" Saudara, akhirnya kita bebas..." ucap Dugu Cai meninggikan suaranya.
" Saudara benar," ucap Dugu Leng dengan gembira, lalu bertarung dengan lebih santai.
" Saudara apa kita akan pergi, sekarang?" tanya Dugu Cai.
" Aku rasa tidak perlu. Karena kita sudah terlanjur memasuki wilayah pertempuran, sebaik kita tuntaskan saja pertempuran ini hingga akhir," jawab Dugu Leng, melirik para tetua yang sedang bertempur di sisi mereka.
" Saudara Leng benar. Lagi pula aku juga tidak ingin orang lain membicarakan hal buruk mengenai klan Dugu kita..." Menyinggung kelima pria paruh baya yang sedang bertarung di sisinya.
Semakin lama, pertempuran itu semakin memanas. Hewan buas yang telah mengalihkan serangannya, bergerak secara massal, menyerang Dugu Leng, Dugu Cai dan para tetua tersebut.
Setelah bertarung sepanjang waktu, mereka mulai kelelahan.
" Jika seperti ini, kita akan terkubur ditempat ini," ucap salah satu tetua.
" Benar, kita bisa mundur untuk memulihkan diri. Kabari yang lain..." sambil bergerak mundur, lalu di ikuti oleh tetua yang lain.
Melihat para penyusup yang memasuki wilayah itu mundur, ribuan hewan buas yang begitu beringas sebelumnya lalu menurunkan serangannya, dan membiarkan kelompok itu pergi.
" Saudara, seperti mereka tidak ingin meninggalkan markasnya..."
" Benar, dengan demikian kita dapat memulihkan diri."
" Hais, kekuatan segel ruang dan waktu di kawasan puncak gunung Bei Tian ini benar-benar merepotkan...." sambil bergerak mundur.
" Aku harap perwakilan Klan Dugu yang tiba-tiba muncul, tidak pergi begitu saja," ucap salah satu tetua, membuat Dugu Leng dan Dugu Cai yang juga ikut bergerak di belakangnya begitu kesal.
" Tetua, jangan memancing kemarahan kami..." ucap Dugu Cai.
" Jangan bercanda. Kalian itu hanya berdua. Jika kami membunuh kalian di tempat ini, siapa yang akan peduli..."
Kata-kata Tetua tersebut membuat Dugu Cai dan Dugu Leng terdiam.
****
Di tempat lain.
Qing Ruo yang masih berada di tempatnya, duduk dengan tenang, sambil mengawasi situasi yang terjadi.
Di hadapannya, ribuan hewan buas yang sedang memulihkan diri, saling bekerjasama membuat formasi pertahahan di sepanjang tempat itu, untuk menyambut serangan yang akan dilancarkan para pendekar yang berada lima kilo meter dari tempat itu.
Setelah memastikan para pendekar itu telah pergi, Qing Ruo lalu meninggalkan tempatnya, memasuki wilayah terlarang yang di jaga oleh hewan buas tingkat tinggi tersebut dengan dengan tenang.
" Swhuss... swhuss..." tubuhnya bergerak zig-zag diantara pohon-pohon raksasa dan batu-batu besar yang ada di tempat itu.
Tiba-tiba kerumunan besar hewan buas itu menyadari kemunculannya. Namu pada saat mereka akan bergerak, Qing Ruo tiba-tiba melepaskan aura Semi abadi tingkat delapan dari tubuhnya, membuat kumpulan hewan buas itu mematung.
" Swhuss....." Qing Ruo tiba di depan mulut gua yang berada di balik batu-batu besar yang berserakan tersebut.