Sang Penguasa

Sang Penguasa
228. Meninggalkankan Dunia Kecil Xiong Mao.


Tiga hari kemudian.


Qing Ruo dan Qing Ling yang baru saja kembali mengelilingi dunia kecil Xiong Mao, kembali ke istana kediaman Ling Zhong.


" Tuan muda, Nyonya Ling, Anda berdua di tunggu patriark," ucap seorang pelayan dengan hormat.


" Terima kasih nona," ucap Qing Ruo dengan ramah, lalu bergerak menuju taman belakang istana.


" Kakek guru," ucap Qing Ruo dan Qing Ling dengan hormat, sambil  menghampiri sosok Xiong Mao Tian yang  sudah menunggu.


" Duduklah," ucapnya dengan ramah.


" Terima kasih," ucap Qing Ruo dan Qing Ling bersamaan.


" Ruo er, Ling er, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian, ini mengenai Jun er."  Dengan wajah tenang.


" Kakek guru, silakan," ucap Qing Ruo dan Qing Ling dengan penasaran.


" Aku telah mengajarkan teknik jalan keabadian padanya, dan kalian berdua, jangan pernah mencoba untuk mempelajarinya." Dengan wajah serius.


" Baik kakek guru," ucap Qing Ruo dan Qing Ling dengan hormat.


" Selain itu, aku juga mengajarkannya teknik pelindung tubuh emas. Jadi dengan teknik ini, Jun er  tidak perlu lagi terus-menerus berada di dalam dunia jiwa," ucapnya dengan tenang.


" Terima kasih Kakek guru," ucap Qing Ruo dan Qing Ling dengan gembira, yang merasa satu masalah mereka telah di selesaikan.


" Ruo er, Ling er, putra kalian benar-benar pemilik tubuh emas yang luar biasa. Sangat cerdas dan penggila latihan. Seandainya saja dia ingin tinggal di tempat ini, mungkin aku akan mampu mengembangkan kekuatan puncaknya," ucap Xiong Mao Tian dengan serius.


Qing Ruo dan Qing Ling saling berpandangan. Dan memahami maksud sosok abadi tersebut.


" Kakek guru, aku tidak melarang Jun er tinggal dan berlatih di tempat ini. Dan aku sangat mendukung hal itu, namun keputusannya ada pada Jun er."


" Ling er, bagaimana dengan dirimu?" Tanya Xiong Mao Tian.


" Kakek guru, aku juga menyerahkan keputusannya pada Jun er," jawabnya pelan  dengan perasaan tidak rela.


Xiong Mao Tian menganggukan kepalanya.


" Aku juga sangat mengharapkan Jun er tinggal di tempat ini, namun aku juga tidak ingin memaksanya. Ruo er, sebelumnya Jun er bercerita bahwa kalian berdua adalah penguasa agung Benua Teratai Biru. Apakah benar demikian?"


" Benar kakek guru," jawab Qing Ruo dan Qing Ling bersamaan.


Xiong Mao Tian menganggukan kepalanya.


" Bisa aku melihat tanda itu?"


Qing Ruo menanggukkan kepalanya.


" Swhuss.... " tombak emas teratai biru muncul dari punggung Qing Ruo dengan mata tombaknya berbalut api teratai bitu.


" Ruo er, segel benua," ucap Xiong Mao Tian.


" Swhuss......" pada dahi Qing Ruo muncul  bunga teratai biru dengan  pagoda emas tiga lantai dan tombak emas yang menyatu, lalu dengan perlahan menghilang.


" Benar-benar pemilik segel suci," batinnya menatap Qing Ruo dengan kagum.


" Ruo er, seberapa sering kamu menggunakan kekuatan segel suci ini?"


" Maksu kakek guru?" Tanya Qing Ruo dengan heran.


" Ruo er, apakah kamu tidak pernah menggunakannya?" Menatap Qing Ruo dengan lekat.


Qing Ruo tersenyum kecut, menggelengkan kepalanya.


" Ruo er, ketiga segel suci itu jika digabungkan akan menjadi senjata segel yang sangat mengerikan," ucapnya dengan serius.


" Tapi kakek guru, aku benar-benar tidak tahu menggunakannya, bahkan tombak emas ini juga sangat jarang aku gunakan, karena kekuatannya yang terbatas," ucap Qing Ruo membuat  Xiao Mao Tian terkekeh.


" Ruo er, pada saat kamu berada di tingkat kaisar dewa, segel itu sudah bisa membunuh semi abadi tingkat dasar. Alasan Dunia kecil terlarang Benua teratai biru itu aman, karena segel itu bahkan  para dewa kuno takut dengan segel itu."


Penjelasan Xiong Mao Tian membuat Qing Ruo dan Qing Ling saling berpandangan, karena mereka benar-benar tidak mengetahui hal itu.


" Ruo er, segel suci itu di pelajari dan dipahami. Sama seperti kamu menggunakan mantra cakram langit Ling. Tapi ingat ada kelebihan dan kelemahannya. Dengan kekuatanmu, segel itu sudah dapat membunuh semi abadi tingkat delapan hingga tingkat sembilan tahap dasar, tetapi kelemahannya, segel itu menggunakan banyak kekuatan, sehingga tidak boleh digunakan setiap saat," ucap Xiong Mao Tian dengan serius.


" Kakek guru, terima kasih. Ini adalah pengetahuan baru bagiku." Dengan gembira.


" Pelajari teknik tanda segel. Dengan demikian kamu akan mengetahui dasarnya."


" Tapi aku ...." ucap Qing Ruo ragu.


" Pergilah ke kawasan kuno gunung langit Pin Xie, kebetulan kamu akan ke klan Yin, dan tempat itu searah."


" Terima kasih kakek guru," ucap Qing Ruo dengan gembira yang tidak menyangka pertemuannya dengan Xiong Mao Tian akan membuka rahasia kehebatan segel penguasa agung yang dia miliki.


" Kakek guru, aku juga ingin menanyakan keberadaan klan Lan dan klan Xin Fangyu. Apakah kakek guru tahu kedua klan itu?"


Xiong Mao Tian terdiam sesaat.


" Ruo er, ada banyak klan dengan nama yang sama, seperti klan Lan, mereka ada di setiap tempat yang berbeda. Tetapi klan Fangyu ada di wilayah selatan, daerah perbatasan timur. Apakah kamu ingin mencari jejak asal usul leluhur kalian?"


" Benar kakek guru, jika kami ada waktu, kami akan mengunjungi mereka," Jawab Qing Ruo.


Pada saat mereka sedang berbincang-bincang,  tiba-tiba Qing Yong  Jun datang dengan wajah ceria.


" Duduklah," ucap Qing Ruo dengan lembut.


" Jun er, bagaimana dengan latihanmu?" tanya Xiong Mao Tian.


" Kakek buyut, aku telah selesai mempelajari teknik tersebut." Sambil  menyerahkan gulungan kitab pada Xiong Mao Tian, namun di tolaknya.


" Jun er, simpanlah. Itu untukmu. Selain itu, aku juga meletakkan segel rahasia padanya.  Jika kamu kesulitan, kamu dapat memanggilku dengan mengirimkan kekuatan jiwa padanya."


" Terima kasih Kakek buyut." Dengan gembira, lalu menyimpan kitab tersebut pada cincin penyimpananya.


" Jun er, kebetulan sekali kamu sudah datang. Ada hal penting yang ingin kami bicara."


" Silakan Kakek buyut."


" Jun er, sebelumnya aku telah meminta kepada ayah dan ibumu, agar kamu tetap berada di sini dan berlatih bersama aku. Namun aku juga tidak memaksamu." Dengan tatapan hangat dan ramah.


Qing Yong Jun terdiam sesaat, lalu menatap wajah Qing Ruo dan Qing Ling dengan lekat, yang mengangguk padanya.


" Ayah, ibu," ucapnya pelan.


" Jun er, ayah dan ibu memberikan kebebasan. Lakukan apa yang kamu pandang baik," ucap Qing Ling sambil mengusap kepalanya dengan lembut.


" Kakek buyut. Aku akan berlatih di tempat ini, tapi beri aku waktu. Aku masih ingin bersama ayah dan ibu, dan besar bersama An er," ucapnya pelan.


" Jun er, terima kasih. Aku akan menunggumu," ucapnya dengan lembut, menatap Qing Yong Jun dengan gembira sambil menyerahkan cincin penyimpanan.


" Kakek buyut, ini?"


" Ada banyak sumber daya, dan berbagai teknik khusus yang telah aku pilih untukmu. Pelajari dengan baik dan kuasai teknik tersebut," ucapnya menjelaskan.


" Terima kasih Kakek buyut." Sambil meraih cincin penyimpanan tersebut dan menyimpannya.


" Berlatihlah dengan giat," ucapnya dengan ramah.


" Ruo er, Ling er, ini untuk kalian," ucapnya sambil menyerahkan masing-masing satu cincin penyimpanan pada Qing Ruo dan Qing Ling.


" Kakek buyut, terima kasih," ucap Qing Ruo dan Qing Ling bersamaan.


" Kakek guru, maaf hanya ini yang dapat aku berikan," ucap Qing Ruo sambil memberikan cincin penyimpanan pada Xiong Mao Tian.


" Ruo er, ini lebih dari cukup. Terima kasih," ucapnya dengan lembut.


" Kakek guru," ucap Qing Ruo ragu.


" Bicaralah."


" Aku akan melanjutkan perjalanan," ucap Qing Ruo pelan.


Xiong Mao Tian menganggukan kepalanya, menatap Qing Ruo dan keluarga kecilnya dengan hangat.


" Kakek buyut," ucap Qing Yong Jun memeluk Xiong Mao Tian dengan erat.


" Jun er, ingat untuk kembali. Aku akan menunggumu. Maaf tidak bisa membawamu jalan-jalan ke hutan gelap terlarang." sambil mengusap rambut Qing Yong Jun dengan lembut.


" Kakek guru, terima kasih," ucap Qing Ruo dan Qing Ling lalu diikuti oleh Qing Yong Jun,  berlutut dihadapan Xiong Mao Tian dengan hormat.


" Bangunlah.  Dapat bertemu dengan kalian adalah kebahagiaanku. Aku akan merindukan kalian," ucapnya dengan sikapnya yang hangat.


" Terima kasih kakek guru...."


Setelah bangkit berdiri. Qing Ruo lalu membuka gerbang dimensi dunia jiwa.


" Kakek buyut, aku pergi...." ucap Qing Yong Jun sekali lagi sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu memasuki dunia jiwa bersama Qing Ling.


Setelah Qing Ling dan Qing Yong Jun memasuki dunia, Xiong Mao Tian membawa Qing Ruo keluar dari dunia kecil  itu.


" Swhus...swhus ..." sosok mereka berdua muncul di halaman gua tempat pertama kali Qing Ruo bertemu Xiong Mao Shanliang dan rombongannya.


" Ruo er, untuk untukmu," ucapnya sambil memberikan lencana giok putih dengan lambang bambu ungu langit.


" Kakek guru, ini?"


" Ini adalah lencana khusus klan Xiong Mao. Para Dewa kuno tahu apa yang akan mereka lakukan saat melihat lencana ini." Dengan senyumnya yang hangat.


" Baik Kakek guru, terima kasih."


Xiong Mao Tian lalu mengibaskan tangannya.


" Swhus....." pusaran angin hitam keemasan muncul.


" Ruo er, berhati-hatilah dengan klan kuno yang kuat,  karena mereka pasti memiliki sosok Abadi," ucapnya memeluk Qing Ruo dengan hangat.


" Terima kasih kakek guru. Aku akan selalu merindukanmu." Membalas pelukan Xiong Mao Tian dengan hangat.


Setelah berpamitan Qing Ruo lalu memasuki gerbang teleportasi tersebut.


" Swhus..."  sosoknya lenyap dari pandangan Xiong Mao Tian.


" Sepertinya aku akan mengunjugi Benua Teratai Biru," ucapnya pelan lalu lenyap dari tempat itu.