
Di luar lorong. Di depan pintu makam.
Heian Bai dan rombongannya berdiri dengan sikap siaga.
" Saudara Heian Bai, apakah penguasa muda menjelaskan alasannya?" tanya Murong Jianyu dengan wajah khawatir, sambil menatap ke arah Hua Zhen yang juga tampak begitu kebingungan.
" Saudara Jianyu, saudara Ruo tidak menjelaskan rencananya dengan rinci, namun aku percaya pada."
" Aku juga demikian. Walaupun kultivasi hanya berada di tingkat dua, aku tidak pernah meragukannya." Dalu Rong menimpali.
" Tapi saudara, di dalam sana ada banyak hewan buas..." ucap Hua Zhen khawatir.
" Saudara berdua tenang saja. Walaupun aku juga mengkhawatirkannya, namun aku percaya padanya. Perlu saudara berdua ketahui. Kemenangan perang di dalam samudera kehampaan abadi, dan kemenangan pasukan jubah emas dalam melawan pasukan gelap di perbatasan Utara ini, itu semua karena strategi saudara Ruo," ucap Dalu Rong menjelaskan, membuat mereka berdua ternganga.
" Benarkah," ucap Hua Zhen dengan takjub. Sedangkan Murong Jianyu yang telah mengetahui keberhasilan strategi Qing Ruo dalam menangani masalah di perbatasan Utara itu, tidak terlalu terkejut, namun yang membuatnya terkejut adalah keberhasilan Qing Ruo dalam memenangkan perang di samudera kehampaan abadi.
" Swhus.. swhus...." Hua Zun dan Hua Thong menghampiri mereka dengan wajah heran.
" Jenderal, di mana penguasa muda Qing Ruo?" tanya Hua Zun.
" Tetua Hua Zun, penguasa muda ada di dalam, dan meminta kita untuk bersiap." ucap Murong Jianyu menjelaskan.
Hua Zun dan Hua Thong yang terlihat masih begitu heran hanya bisa menganggukan kepala.
" Baik..." jawab mereka bersamaan.
*****
Di dalam lorong makam.
Setelah menacapkan trisula Naga utara di lantai lorong, Qing Ruo lalu membuat segel ilusi, menyamarkan keberadaan trisula tersebut.
" Semoga berhasil," ucapnya.
" Swhuss...." Semburan air dengan ekstrem muncul dari mata trisula Naga utara dan mulai menggenangi lorong.
Di dalam ruang utama makam.
Hewan buas dan moster serangga raksasa yang sedang berjaga di tempat itu di kejutkan dengan kemunculan air yang mulai menggenangi tempat itu dan membuat merasa risih kalajengking racun, kelabang perak, semut racun dan cacing gurun yang merupakan binatang dengan kekuatan api.
" Swhuss..." Harimau hitam bersayap mengibaskan sayapnya, membuat perisai transparan melindungi tubuh mereka.
" Air ini benar-benar membuatku merasa tidak nyaman," ucap kelabang Perak beracun, yang merupakan mosnter serangga semi abadi tingkat tiga.
" Aku juga demikian. Aku yakin mereka pasti sedang merencanakan sesuatu," ucap Harimau hitam bersayap, yang merupakan hewan buas semi Abadi Tingkat lima.
" Para dewa kepa**t itu, bagaimana cara mereka menemukan tempat ini..." ucap cacing gurun kesal karena saudaranya telah terbunuh.
Dalam waktu singkat, seluruh ruangan makam dan dan lorong itu kini telah di penuhi oleh air, tidak menyisakan sedikitpun ruang, bahkan air itu muncul di depan pintu batu, tempat Heian Bai dan rombongannya yang sedang berjaga.
" Air," ucap Heian Bai terkejut.
" Benar, tapi bagaimana cara penguasa muda melakukannya..." ucap Murong Jianyu heran. Belum sempat keheranan itu hilang, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan sambaran petir berwarna emas kehitaman.
" Petir abadi," ucap Murong Jianyu bergerak mundur meminta Heian Bai dan rombongannya menjaga jarak.
"Ini pasti akan berhasil. Bersiap..." ucap Dalu Rong dengan wajah gembira sambil mengeluarkan tombak emas dari dalam cincin penyimpanannya.
" Baik," jawab Heian Bai dan yang lainnya dengan perasaan berdebar-debar.
***
Di dalam makam.
Kumpulan hewan buas dan monster serangga yang sebelumnya mengira akan menerima serangan es ataupun serangan racun, begitu terkejut saat melihat kemunculan petir abadi yang bergerak menjalar seperti sulur tanaman, menyerang perisai pertahanan yang dibuat oleh harimau hitam sayap.
" Swhuss...." Qing Ruo muncul di hadapan mereka sambil mengeluarkan pedang Xue Luo.
" Slash..." tebasan pedang itu menghancurkan perisai transparan tersebut seketika.
" Bhur...." air dengan kekuatan petir abadi itu menggenangi mereka, membuat kawanan hewan buas dan serangga raksasa itu belingsatan.
" Swhuss... swhus..." Qing Ruo bergerak zig-zag dengan bebas, menghindari terkaman hewan buas tersebut.
" Akhirnya benda ini berguna juga," ucap Qing Ruo menatap gelang giok Naga air, yang dia beli di kota Taiyang saat berada di wilayah timur benua teratai biru sebelumnya.
Gelang giok berwarna putih keemasan itu membentuk selaput tipis yang membantu Qing Ruo dapat berada di dalam air dengan bebas.
Sambaran petir yang muncul di dalam air tanpa henti, membuat kumpulan hewan buas dan monster itu mulai kelelahan, terlebih lagi dengan usaha mereka untuk menyerang Qing Ruo yang terlihat sia-sia.
" Swhus... swhus..." Qing Ruo bergerak dengan bebas sambil melepaskan tembakan pedang Xue Luo yang melepaskan serangan petir yang semakin kuat.
" Swhus...." cacing gurun bergerak meninggalkan tempat itu, lalu di ikuti Harimau hitam bersayap, membuat Qing Ruo kegirangan.
" Aku ingin melihat, berapa lama lagi kalian mampu bertahan..." Menatap tujuh sosok mosnter serangga yang masih belum mau bergerak meninggalkan tempat itu.
" Mati!" Ucap Qing Ruo melepaskan tembakan pedang Xue Luo, menargetkan kalajengking beracun yang berkonsentrasi melawan serangan petir yang sedang menyerang seluruh tubuhnya.
" Swhus...." Pedang Xue Luo menembus punggungnya.
" Sepertinya Dia dengan sengaja melakukannya..." Qing Ruo membatin, saat melihat darah hitam kebiruan yang mengandung racun, mulai bercampur dengan air.
Tidak lama kemudian, " Swhuss...swhus...." Semut racun bergerak meninggalkan tempat itu, di susul oleh ular hitam ekor api, sehingga menyisakan empat ekor kelabang beracun yang masih berada di tempatnya, yang tidak bergerak sedikitpun, melindungi sesuatu yang berada di bawah tubuh mereka.
" Sungguh pelayan yang setia..." Batin Qing Ruo, menatap ke empat kelabang hitam yang masih bertahan, dan membiarkan dirinya terkena sambaran petir dan tebasan pedang Xue Luo.
" Mereka terlihat seperti Jine Han, Jine Se dan Jine Du," ucap Qing Ruo, mengingat ketiga pelayanannya dari klan Jine yang berada di benua teratai biru, membuatnya semakin penasaran dengan benda yang dilindungi keempat kelabang tersebut.
" Swhus...." Qing Ruo menarik pedang Xue Luo dan menghentikan serangan, membuat ke empat kelabang perak beracun itu heran.
" Saudara, Aku Qing Ruo. Meminta kalian menghentikan tindakan bod*h ini, menyerahkanlah..."
" Bod*h? Menyerah? Siapa kamu yang begitu arogan mengatakan hal seperti itu! " Menatap ke arah Qing Ruo dengan aura kebencian dan kemarahan.
" Tentu Saja kalian bodoh, karena melindungi sesuatu sampai harus kehilangan nyawa. Apakah kematian bisa membuat kalian puas dan bangga? Jika iya, maka aku akan melakukannya, tetapi sebelum itu, aku ingin memberi sedikit pandangan." ucap Qing Ruo sambil melepaskan serangan petir ke arah pintu masuk, untuk mengalihkan perhatian Heian dan rombongannya, supaya memiliki waktu berbicara dengan ke empat kelabang hitam tersebut.
" Aku melakukan hal ini karena aku menghormati kesetiaan kalian. Perlu kalian ketahui, selain aku ada banyak orang yang menginginkan benda yang kalian jaga, dan pada akhirnya kalian juga mati, tetapi aku kecewa karena kalian harus mati dengan sia-sia," ucap Qing Ruo.
" Sia-sia? Ini adalah keputusan kami," ucap salah satu dari kelabang perak itu murka.
" Keputusan konyol. Mati sia-sia tanpa melakukan hal apapun, itu benar-benar memalukan. Selain kalian juga terbunuh di tempat ini, benda yang kalian jaga juga akan hilang dan di ambil oleh orang lain. Jika kalian pelayan setia yang rela mati, seharusnya kalian keluar dari tempat ini dan membalas kematian tuan kalian. Dan aku memberikan pilihan itu..." ucap Qing Ruo dengan tegas.
Tiba-tiba salah satu dari kelabang itu menurunkan kewaspadaannya, dan terlihat sedang membawa rombonganya berdiskusi.
***
Di luar mulut makam.
" Dhuar... dhuar..." ledakan dahsyat bergema, menggetarkan perisai ilusi dan segel perlindungan yang dibuat oleh Hua Thong dan Hua Zun.
Di dalam kubah perisai transparan itu, Harimau hitam bersayap, ular hitam ekor api dan Kalajengking gurun sedang di gempur oleh Heian Bai dan rombongannya, sedangkan cacing gurun dan semut racun telah tergeletak di atas tanah dengan tubuh terpotong-potong.
" Bunuh mereka secepat mungkin, karena masih ada empat ekor kelabang Perak beracun yang masih belum keluar," ucap Heian Bai menyemangatinya rombongannya, membuat Hua Thong dan Hua Zun semakin bersemangat, meningkatkan serangannya.
Saat mereka sedang bertempur, tiba- tiba kesadaran dewa mereka merasa kekuatan lain dari dua arah yang berbeda, bergerak mendekati mereka.
" Saudara Heian Bai," ucap Murong Jainyu panik.
" Saudara, urus mayat-mayat itu dan hubungi saudara Ruo..." ucap Heian Bai sambil melepaskan pukulan pada Harimau hitam bersayap.
"Baik," jawab Murong Jainyu sambil menjauh dari pertempuran.
" Saudara, buat jalur pelarian. Biar kami bertiga yang menangani hewan buas ini..." ucap Heian berbicara pada Dalu Rong dan Hua Zhen untuk membuat jalur pelarian.
" Baik," jawab Hua Zhen dan Dalu Rong, bergerak menjauh dari pusat pertempuran.
🙏🙏🙏
Maaf hanya satu bab ya kak. Semoga besok bisa dua bab lagi. terimakasih 🙏🙏🙏.