Sang Penguasa

Sang Penguasa
68. Memasuki Makam.


Pada saat Qing Ruo dan Heian Bai sedang berbicara, tiba-tiba Lei Di menghentikan pasukannya. Memeriksa  tempat yang di lewati tersebut dengan kesadaran dewanya secara seksama.


Tiba-tiba sorot matanya menatap ke arah tempat Qing Ruo dan rombongannya.


Di balik mantra perisai ilusi.


Qing Ruo dan rombongannya yang dapat melihat tindakan Lei Di, bersikap siaga.


" Sepertinya Dia merasakan kehadiran kita," ucap Hua Zun.


" Tetua benar, lagi pula  sebagai pendekar semi abadi tingkat lima, kemampuan untuk merasakan kehadiran aura asing cukup kuat." ucap Murong Jianyu.


" Menghindar!" ucap Qing Ruo tiba-tiba, saat dari arah depan, Lei Di melemparkan tombak emas yang ada di tangannya.


" Swhus...." Tombak itu menembus kehampaan, lalu kembali lagi ke tangannya.


" Perasaanku saja," ucap Lei Di, lalu menarik kesadaran dewanya, memimpin rombongan itu bergerak pergi.


Dari balik mantra formasi ilusi, Murong Jianyu dan Hua Zhen terdiam menahan nafasnya saat tombak emas itu hampir mengenai tubuh mereka. Namun Heian Bai, Dalu Rong, Hua Thong dan Hua Zun menatap Qing Ruo dengan kagum. Sebelumnya mereka mengira akan terjadi ledakan, yang akan memberi tahu keberadaan mereka, namun tombak emas itu seperti menembus angin.


" Mantra formasi ilusi tingkat tinggi. Bahkan bisa menyatu dengan kehampaan..." Hua Zun membantin.  


Setelah Lei Di dan pasukannya benar-benar pergi, Qing Ruo lalu memimpin rombongan bergerak meninggalkan tempat itu.


Setelah bergerak sepanjang waktu, akhirnya Qing Ruo kembali menghentikan pergerakan.


" Saudara, ada apa?" tanya Heian Bai penasaran, karena tidak merasakan kehadiran aura  apapun di tempat itu.


Qing Ruo menunjuk ke bawah, pada tempat yang terlihat kosong sama sekali.


" Saudara, aku tidak melihat apapun," ucap Heian Bai penasaran.


" Tunggu sebentar," ucap Qing Ruo meminta rombongan itu untuk menunggu di atas langit.


" Swhuss...." tubuhnya melesat dari langit, memasuki perisai mantra formasi ilusi yang dibuat oleh Huo Mingzhi dan Huo Zhaodau, yang sedang beristirahat di dalamnya.


Tindakan Qing Ruo itu sekali lagi mengejutkan Heian Bai dan rombongannya.


" Mantra formasi ilusi lagi," ucap Hua Zun.


" Benar," ucap Hua Thong.


" Apakah Itu berarti penguasa muda Qing Ruo sudah menugaskan orang-orangnya?" ucap Hua Thong.


" Aku tidak yakin, tapi kemungkinan bisa saja," jawab Hua Zun berbincang-bincang santai, sambil menunggu Qing Ruo yang masih belum kembali.


****


Di dalam perisai mantra formasi ilusi.


Kedatangan Qing Ruo disambut oleh Huo Mingzhi dan rombongannya dengan penuh semangat.


" Bagaimana kabar kalian?" tanya Qing Ruo, menatap Huo Mingzhi dan rombongannya dengan hangat.


" Baik penguasa...."


" Baik, terima kasih. Waktunya kalian untuk beristirahat dan memulihkan diri." Sambil membuka gerbang dimensi dunia jiwa.


" Baik penguasa..." Tanpa menyanggah keinginan Qing Ruo, terlebih lagi saat mereka melihat kelompok asing yang datang bersama Qing Ruo yang sedang berada di atas langit.


Setelah Huo Mingzhi, Zhoudau, Thou Thou dan rombongannya masuk ke dalam dunia jiwa, Qing Ruo lalu memanggil Hua Zhen beserta rombongannya.


****


Di atas langit. Hua Zhen dan rombongan yang sedang berbincang-bincang santai tiba-tiba mendapat panggilan dari Qing Ruo.


" Jenderal, kita semua di minta untuk turun."


" Swhus... swhus.... " Tubuh mereka melewati perisai ilusi. Betapa terkejutnya mereka saat melihat tempat itu ternyata di penuhi  batu-batu raksasa yang bertaburan di  berbagai tempat.


" Saudara Ruo," ucap Heian Bai sambil menghampiri Qing Ruo yang berdiri di hadapan batu raksasa yang lebih besar  dari batu yang lainnya.


" Apakah saudara merasakan sesuatu di tempat ini?" tanya Qing Ruo, membuat mereka semua terdiam dan mengedarkan kesadaran dewanya.


" Aura kekuatan gelap, tapi ini sangat kecil dan tipis. Jika sekali lewat, aku bahkan tidak dapat merasakan kehadirannya," ucap Hua Zun


" Saudara Hua Thong benar. Aku bahkan hampir tidak merasakannya." Menatap Qing Ruo dengan ragu.


" Itu karena benda ini berada di tempat yang dalam dan tersegel," ucap Qing Ruo dengan yakin, sambil menunjuk baru besar yang ada di hadapannya.


" Saudara Ruo benar. Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Dalu Rong.


" Sesuatu yang berharga biasanya menyimpan bahaya besar. Benda ini juga di cari oleh klan Yin, secara langsung juga terhubung dengan mereka. Selain itu,  kita juga berada di dalam wilayah pengawasan pasukan jubah emas," ucap Qing Ruo dengan serius membuat  mereka semua yang ada di tempat itu terdiam.


" Tetua Zun, tetua Thong, apa pendapat tetua..." ucap Qing Ruo menatap kedua tetua dari klan Hua tersebut.


" Jika demikian, kita harus membagi tugas. Aku dan tetua Zun akan berjaga.  kalian berlima bertugas mencari benda tersebut, bagaimana..." ucap Hua Thong.


" Baik," jawab Qing Ruo meminta mereka untuk segera bersiap-siap.


" Mari kita mulai," ucap Heian Bai  sambil mengeluarkan sebilah pedang emas dari dalam cincin penyimpanannya. Setelah memastikan tetua Hua Zun dan Hua Thong telah menyegel seluruh kawasan itu, Heian Bai lalu menebas bongkahan batu raksasa tersebut.


" Swhus...." tebasan pedang emas itu membelah batu raksasa, bersamaan dengan suara ledakan yang sangat dahsyat.


" Brark..." Batu itu terbelah menjadi dua. Namun tidak lama berselang, bongkahan batu raksasa yang telah terbelah itu, tiba-tiba utuh kembali.


" Apa," ucap mereka terkejut.


" Apakah saudara Ruo melihatnya dan merasakannya?" tanya Dalu Rong pada Qing Ruo yang berada di sisinya, aura kegelapan yang begitu kentara keluar dari lubang besar yang berada di bawah batu besar tersebut.


Qing Ruo menganggukan kepalanya, sambil memeriksa batu tersebut dengan seksama.


" Ini adalah pintu makam, satu tebasan lagi akan menghancurkan lorong dan semua benda yang ada di dalamnya," ucap Qing Ruo.


" Saudara Ruo, apa yang harus kita lakukan?" tanya Heian Bai kebingungan.


" Mari kita coba dulu," ucap Qing Ruo sambil membuat segel tangan.


" Swhus cakram emas, sebesar telapak tangan orang dewasa  muncul, menempel pada batu dan mengaktifkan segel yang ada di dalamnya.


" Apa!" Hua Zhen dan rombongannya membatin, memincingkan matanya dengan seksama.


" Saudara Bai, apakah saudara tahu tanda yang dibuat oleh saudara Ruo?" Tanya Dalu Rong berbicara melalui telepati, sambil menatap Qing Ruo yang mulai bekerja, membuka susunan segel mantra formasi yang terdapat di dalam batu besar tersebut.


" Shen Guoshi Ling. Tapi bagaimana mungkin.." jawab Heian Bai penasaran. Bahkan Murong Jianyu yang sebelumnya terdiam kini juga merasa terpancing untuk berbicara.


" Saudara Bai, saudara Rong, bukan itu adalah formasi dewa kuno..." berbicara melalui telepati.


" Benar. Itu adalah cakram emas, Shen Guoshi Ling. Berdasarkan catatan kuno, hanya mereka yang memiliki darah emas murni dewa Ling yang dapat melakukan, " jawab Dalu Rong, membuat Jianyu terdiam.


" Penguasa muda memiliki begitu banyak rahasia." batinnya takjub.


Di sisi lain. Hua Zhen yang telah melihat lencana penguasa muda Klan Luo dari tangan Qing Ruo kini semakin terkejut.


" Shen Guoshi Ling. Bukankah Klan dewa kuno itu telah lama menghilang..." Menatap keterkejutan di wajah Dalu Rong dan rombongannya.


" Sekarang!" Ucap Qing Ruo mengejutkan mereka, saat batu besar itu bergeser dari tempatnya.


" Swhuss...." Ledakan aura hitam yang sangat kuat menyapu wajah mereka, membuat Hua Zhen bergidik.


" Bergerak," ucap Dalu Rong dan Heian Bai memimpin rombongan, bergerak memasuki lubang dengan lebar hingga delapan meter tersebut, sambil mengeluarkan perisai emas, disusul oleh Hua Zhen, Qing Ruo, dan Murong Jianyu.