
Tiba-tiba tempat itu menjadi hening. Qing Ruo terdiam dengan pikirannya yang sedang menunggu tanggapan Jin Kong, sedang Jin Kong terdiam dengan pikirannya yang juga sedang mencari cara untuk mengutarakan pendapatnya.
" Patriark, mohon tanyakan keterlibatan Tian muda Qing Ruo, apakah sebagai pelindung atau justru sebaliknya, sebagai orang yang akan menghancurkan klan itu," ucap seorang tetua, berbicara pada Jin Kong melalui telepati.
" Tetua benar," ucap Jin Kong yang akhirnya merasa terbantu.
" Tuan muda, lalu bagaimana dengan keterlibatan Anda?"
" Patriark, aku berhutang janji pada pelayan Yin Sha, Yin Wu dan Yin Huo," jawab Qing Ruo dengan tenang.
" Itu berati keterlibatan tuan muda akan membantu klan tersebut?"
" Benar, tapi tidak secara keseluruhan," jawab Qing Ruo dengan tenang.
" Apakah selain untuk membantu, to annkuda juga akan menghancurkan klan itu?"
" Benar," jawab Qing Ruo.
" Jika demikian, apa rencana tuan muda?"
" Aku hanya ingin menayakan kesanggupan patriark. Apakah benar-benar ingin terlibat atau tidak. Jika ingin terlibat, mari kita bekerjasama, tetapi jika tidak, maka jangan sekali-sekali mendatangi kawasan itu," ucap Qing Ruo dengan tajam.
Kata-kata Qing Ruo sekali lagi membuat tempat itu menjadi hening.
" Silakan patriark diskusikan dengan para tetua klan. Aku akan menunggu," ucap Qing Ruo sambil menuangkan minuman pada gelasnya, lalu menyesap minuman itu dengan santai.
" Baik, tuan muda," ucap Jin Kong lalu mulai berdiskusi pada rombonganya melalui telepati.
" Para tetua, aku tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Apa pendapat kalian mengenai hal ini?" Menatap para tetua tersebut dengan serius.
" Patriark, pemuda ini bukanlah orang yang mudah di hadapi. Aku khawatir di kemudian hari ini akan menjadi bumerang bagi kita."
" Namun kehadirannya adalah angin segar yang dapat membantu kita untuk membalas hutang darah Sebelumnya," ucap tetua lainnya berpendapat.
" Tapi patriark, bagaimana kita bisa bekerjasama dengan orang yang telah membunuh para murid klan kita," ucap tetua lain menimpali.
" Benar-benar pilihan yang sulit. Bekerjasama dengannya membuatku merasa ngeri, namun jika kita menolak terlibat, dominasi kita di daerah Yin akan hilang, karena setelah dia menguasai tempat itu, kita tidak akan pernah lagi memiliki ruang untuk menginjakkan kaki di wilayah yang kaya dengan sumber daya tersebut," ucap Jin Kong dengan serius.
Di hadapan kelompok yang sedang berdiskusi tersebut, Qing Ruo dan Hu Yan Lan juga berbincang-bincang santai.
" Penguasa aku yakin mereka tidak akan menolak," ucap Hu Yan Lan berbicara melalui telepati, menatap Qing Ruo dengan kagum yang tidak menyangka Qing Ruo akan menggunakan kekuatan klan tersebut.
" Tidak heran dari awal langsung menunjukan identitasnya sebagai pemilik dua darah kuno dan penguasa hutan gelap. Intimidasi kekuatan benar-benar mempengaruhi Jin Kong dan rombongannya." Hu Yan Lan membatin menatap Qing Ruo dengan takjub.
" Aku rasa juga demikian. Jika mereka menolak kerjasama ini, maka mereka akan kehilangan cengkramannya," ucap Qing Ruo dengan santai.
" Namun penguasa, apa yang membuat mereka masih ragu dan belum terlibat pada kekacauan ini?"
" Aku akan menanyakan hal ini secara langsung pada mereka, tapi tunggu hingga mereka selesai berdiskusi."
" Baik penguasa."
Di hadapan Qing Ruo dan Hu Yan Lan. Jin Kong dan rombongan akhirnya mengambil keputusan.
" Tuan muda Qing Ruo, kami setuju," ucapnya pelan.
" Baik patriark, terima kasih. Aku Qing Ruo akan mengingat perjanjian ini. Aku ingin kerjasama ini berjalan dengan adil, tidak ada yang akan dirugikan dan diuntungkan secara sepihak. Segala peluh yang dikeluarkan dan darah yang dikorbankan harus dibayar dengan pantas," ucapnya dengan serius.
" Baik, tuan muda, kami juga berharap demikian," ucap Jin Kong dengan hormat.
" Baik, sebelum membahas rencana, aku ingin menanyakan alasan, mengapa patriark masih belum berani bergerak?" tanya Qing Ruo dengan serius.
" Tuan muda, sebagai klan kuno, Shen Yin pernah mendominasi seluruh kawasan gerbang es hitam ini. Dan kami curiga, huru-hara yang mereka lakukan, merupakan tindakan yang di sengaja untuk membiarkan musuh memancing di air yang keruh," jawab Jin Kong menjelaskan.
Qing Ruo menganggukan kepalanya.
" Patriark, aku mendapatkan informasi dari sumber yang valid bahwa huru-hara ini murni karena masalah internal klan yang benar-benar kacau, namun mengenai keberadaan yang abadi, apakah patriark tahu mengenai hal itu?"
Jin Kong terdiam, lalu menggeleng kepalanya.
" Mengenai hal itu, kami juga benar-benar tidak tahu. Tuan muda, mengenai sosok yang abadi, apa rencana Anda?"
Qing Ruo menanggukkan kepalanya.
" Masalah itu serahkan padaku, karena kebetulan sekali aku akan pergi ke klan Yin," jawab Qing Ruo dengan tenang.
" Tuan muda, mata-mata kami telah melaporkan bahwa pihak klan telah menutup kawasan itu."
" Patriark, ternyata tuan muda Qing Ruo dari awal telah mengawasi klan Yin. Ternyata kita kalah langkah," ucap seorang tetua berbicara pada Jin Kong.
" Benar," ucap Jin Kong merasa malu.
" Tuan muda Qing Ruo, lalu apa rencana kita selanjutnya?"
" Persiapankan pasukan. Setelah aku selesai melakukan penyelidikan. Aku akan mengirim informasi serta menjelaskan strategi selanjutnya," ucap Qing Ruo dengan tenang.
" Baik, tuan muda," ucap Jin Kong dengan hormat.
" Baik, karena aku akan melanjutkan perjalanan. Silakan patriark dan rombongan kembali ke klan," ucapnya sambil memberikan cincin penyimpanan pada Jin Kong.
" Tuan muda, ini...?"
" Tanda pertemanan. Mohon diterima," ucapnya memaksa.
" Baik tuan muda, terima kasih."
" Patriark, para tetua, aku pergi dulu," ucap Qing Ruo menangkupkan tangannya dengan hormat.
Setelah Jin Kong berdiri dari tempatnya, Qing Ruo lalu menarik keberadaan cakram emas langit Ling ke dalam kehampaan.
" Swhus...." pedang Xue Luo dengan balutan petir hitam keemasan yang menyambar-nyambar, muncul di tempat itu, yang secara perlahan memperlebar bilahnya, membuat Jin Kong dan rombongannya hanya bisa terdiam.
" Patriark, tetua, kami pergi dulu," ucap Qing Ruo sekali lagi, sambil membawa Hu Yan Lan menaiki bilah pedang tersebut.
" Baik tuan muda, segera kabari kami," ucap Jin Kong sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Baik," ucap Qing Ruo, lalu bergerak meninggalkan tempat itu dengan perlahan.
" Swhus....." Pedang tersebut tiba-tiba melesat seperti kilatan cahaya, lenyap dari pandangan Jin Kong dan rombongannya.
" Patriark, dia benar-benar memiliki dua darah dewa kuno," ucap para pemuda tersebut dengan serius.
" Apakah kalian pikir ada orang lain yang berani menggunakan nama klan kuno itu dengan sembarangan? Shen Guoshi Qing tidak pernah mentolerir hal itu." Dengan nada kesal.
" Baik, patriark," jawab para pemuda itu dengan ketakutan.
" Statusnya sebagai tuan muda hutan gelap, sudah membuat kita harus berhati-hati padanya. Alasanku mengingatkan kalian untuk bertindak hati-hati adalah untuk menghindari masalah seperti ini," ucapnya dengan tegas.
" Baik patriark..."
" Baik, mari kita kembali." Sambil mengibaskan tangannya.
" Swhus...." Piringan perak raksasa yang melepaskan cahaya biru muncul dari kehampaan, lalu satu persatu menaiki piringan cakram perak tersebut.
Setelah semua orang berada di atas piringan perak tersebut, tiba-tiba cahaya biru muncul berbentuk kubah kecil dan melindungi mereka yang ada di atasnya, lalu bergerak dengan perlahan.
" Swhuss...." Melesat seperti kilatan cahaya dan menghilang dari tempat itu.
****
Di tempat lain.
" Swhuss.... Swhus...." kilatan cahaya hitam keemasan terus melesat membelah awan, bergerak meninggalkan kawasan gunung Ping Xie.
" Penguasa," ucap Hu Yan Lan dengan ragu.
" Bicaralah," ucap Qing Ruo dengan tenang.
" Apakah ini tidak terlalu menarik perhatian?"
" Tenanglah," ucap Qing Ruo lalu memperlambat pergerakannya.
" Swhus...." sosok elang perak muncul di tempat itu.
" Penguasa," ucap Ying Yin dengan hormat.
" Bergerak menuju klan Yin," ucap Qing Ruo dengan tenang, sambil menyimpan pedang Xue Luo, lalu membawa Hu Yan Lan bergerak ke atas punggung elang perak tersebut.
" Baik penguasa...."
Setelah memastikan Qing Ruo dan Hu Yan Lan benar-benar sudah berada di atas punggungnya, Ying Yin lalu bergerak meninggalkan tempat itu.
" Swhus...." sosoknya melesat dengan cepat.