Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 99.Antara Rey dan Bryan


Rey mendorong kedua bahu Raya hingga punggung dokter cantik itu menempel sempurna pada daun pintu. Memandangi kedua manik matanya lekat-lekat seakan mencoba menyelami isi hati gadis itu, namun Raya yang bersikap menantang dan tidak berkedip sedikitpun membuat jantung Rey semakin berdegup tak karuan. Iblis-iblis dalam pikiran Rey pun terus menggoda, membuat Rey dengan beraninya semakin merapatkan diri pada Raya. Wajah Rey perlahan-lahan kian mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa centi saja.


"Ma.. Mau apa kamu?" Raya terkesiap, hembusan nafas Rey kini begitu terasa di permukaan kulitnya. Ini kali pertamanya ia begitu dekat dengan Rey. Kedua hidung mereka bahkan sudah nyaris bersentuhan. Membuat Raya bisa menghirup aroma nafas bercampur aroma obat yang baru saja di oleskannya di sudut bibir laki-laki itu.


"Menurutmu dengan posisiku ini, aku akan berbuat apa?" Rey berucap setengah berbisik dan dengan nada sedikit sensual, sukses membuat Raya mematung di posisinya.


Keduanya terdiam membisu selama beberapa detik, hanya degupan jantung keduanya yang terdengar saling berkejaran. Hingga akhirnya Rey memiringkan wajahnya dan semakin mendekat dengan mata yang berfokus pada bibir Raya.


Dalam keadaan seperti itu pikiran Raya tiba-tiba blank dan malah memejamkan matanya. Melihat itu, Rey tersenyum tipis. Saat ini kedua hidung mereka telah bersentuhan dan saling merasakan hembusan nafas masing-masing. Namun Rey menghentikan gerakannya tepat ketika jarak antara bibirnya dan bibir Raya hanya tersisa satu sentimeter.


Satu detik....


Dua detik....


Tiga detik....


Karena tidak merasakan sentuhan apapun pada kedua bibirnya, dan hembusan nafas Rey yang kian menjauh, Raya pun membuka kedua matanya dan langsung di sambut senyuman lembut dari laki-laki berlesung pipi di hadapannya. Laki-laki yang sebenarnya begitu tampan dan manis, plus ditunjang dengan tubuh proporsional dan atletis. Hanya saja Raya tak pernah mau mengakui itu semua.


"Kenapa tidak menghindariku?" Rey menatap Raya dengan intens, raut wajahnya berubah serius. Membuat Raya terpaku. "Kenapa tidak melawanku saat aku hendak menciummu?" Tanyanya menuntut jawaban.


Raya refleks mengalihkan pandangannya lalu mendorong tubuh laki-laki itu menjauh beberapa centi ke depan.


"Sa.. Sana... Ja..jangan dekat-dekat." Ucapnya terbata-bata. Wajahnya kini begitu memerah dan merona malu. "Ja... Jangan geer, aku bukannya tak ingin menghindar. Hanya saja, hanya saja.... Aarrgghhhh... Bodoh!!" Kembali mendorong Rey dengan kasar lalu berbalik menghadap pintu. "Lebih baik aku keluar menemui pacarku." Lanjutnya mengalihkan kegugupannya dan menarik handle pintu.


Rey tersenyum samar, lalu kembali menarik lengan Raya dan mendorong pintu yang baru akan terbuka agar kembali tertutup.


"Sudah ku bilang jangan pegang-pegang!!" Menepis tangan Rey dari lengannya dengan kasar. "Apa lagi?"


"Ya atau tidak?"


"Apanya?"


"Kesempatan. Aku masih punya kesempatan atau tidak?"


"Aku sudah punya pacar!" Pekiknya dengan kening yang berkerut-kerut.


"Itu bukan jawabannya. Bukan itu yang kutanyakan."


Raya menghela nafas kasar. "Jawaban yang seperti apa yang kamu harapkan??" Tanyanya yang seperti sebuah pernyataan. Menatap kesal Rey lalu menarik kembali handle pintu dan membukanya.


Kembali Rey maju dan menahan pintu. "Untuk yang terakhir kalinya. Apa tak ada harapan untukku sama sekali?"


Raya melirik sekilas. "Jangan mengejarku lagi....!!" Ucapnya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Rey.


Rey menatap punggung Raya hingga menghilang dari pandangannya sambil mengumpat dalam hati. Shittt...!!! Seandainya saja bibirku tidak terluka dan teroles obat, pasti sudah ku lum*t habis bibirmu itu dan tak akan kubiarkan kamu lolos begitu saja...! Gumamnya lalu berjalan mengikuti arah langkah Raya tadi menuju ruang perawatan Rachel.


Di depan kamar perawatan itu, Raya menyapa Bryan dengan canggung. Bisa dibilang selama beberapa bulan belakangan ini mereka jarang berkomunikasi karena kesibukan masing-masing. Dan melihat pemuda tampan setengah bule itu saat ini berada di hadapannya membuat Raya salah tingkah.


Rindu itu memang ada dalam hatinya, hanya saja setiap perasaan itu hadir Raya selalu merasa geli dengan dirinya sendiri yang tak habis pikir bisa berpacaran dengan anak remaja. Seringkali pula Raya berniat untuk memutuskan hubungan yang tak masuk akal itu. Tapi saat melihat pemuda tampan dengan style cuek terkesan cool namun penuh perhatian di depannya saat ini, membuat hatinya sedikit goyah. Entahlah, sampai saat ini Raya masih bingung dengan apa yang dia rasakan pada pemuda itu.


Raya dan Bryan saling berpandangan selama beberapa saat hingga suara deheman dari Lily menghentikan aksi tatap-menatap itu.


"Eh, ini kak Lily... Kakak sepupu perempuan yang pernah ku ceritakan padamu. Dan kak Lily ini..."


"Raya kan? Right?" Ucap Lily menyela Bryan. Tersenyum ramah seraya menjulurkan tangan kanannya.


Raya mengulas senyum dan menjabat tangan Lily. "Iya, aku Diraya."


"Bryan sudah banyak cerita tentangmu."


Raya sedikit mengernyit, melirik Bryan sekilas dan kembali memandangi gadis cantik blasteran Inggris yang lebih muda lima tahun darinya. "Oh yah...Cerita apa aja?" Tanyanya berbasa-basi.


"He just said that he was very impressed with you. he said you are a beautiful doctor" (Dia hanya bilang kalau sangat kagum denganmu. katanya kamu dokter yang cantik.) Ucap Lily yang membuat Bryan melotot padanya dan tersipu malu di hadapan Raya.


Namun ekspresi Bryan berubah saat menangkap sosok Rey yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Hai Bryan." Sapa Rey berbasa-basi. Membuat kedua pasang mata lainnya ikut tertuju padanya. Tak terkecuali Raya, namun Raya sebisa mungkin untuk bersikap normal. "Gimana kuliahmu?"


"Lumayan. Tugasnya selalu banyak dan harus pandai-pandai mengatur waktu."


Rey terkekeh pelan. "Yah, Mahavir juga dulu mengeluh seperti itu..." Ucapnya kemudian terdiam sesaat karena kembali teringat Mahavir. Begitupun dengan Bryan yang langsung menunduk lemah dengan raut wajah yang berubah sendu.


Lily pun ikut bersedih. Sementara Raya diam-diam mengamati dua laki-laki di hadapannya. Satunya laki-laki yang tampak dewasa dengan kemeja yang lengannya digulung hingga ke siku dan dipadukan dengan celana bahan, sementara laki-laki satunya tampak begitu keren walau hanya dengan menggunakan kaos oblong dipadukan jaket hoodie dan celana jeans. Dua laki-laki dengan ketampanan masing-masing itu sukses membuat jantungnya kelimpungan.


"Oh, iya. Sekarang cuti atau izin?" Tanya Rey mengalihkan suasana yang sempat hening.


"Kebetulan tiga hari lagi akan masuk liburan musim dingin. Jadi aku ada kelonggaran meminta izin lebih cepat dengan catatan tugas harus masuk semua."


"Yah begitulah anak Oxford. Kadang liburan pun harus di isi dengan mengerjakan banyak tugas."


Bryan mengangguk menyetujui ucapan Rey.


Rey tersenyum lalu pandangannya mengarah ke pintu kamar Rachel. "Eh, gimana keadaan Rachel? Apa dia sudah tenang?"


"Yah begitulah...kak Rachel minta waktu untuk sendiri....."


"Setidaknya, kita harus bisa menghiburnya. Disamping itu aku akan berusaha keras mencari kabar Mahavir untuknya." Ujar Rey yang membuat Bryan bangkit berdiri dan langsung memeluknya.


"Tolong cari tahu kabar Mahavir kak..." Ucap Bryan dengan bersungguh-sungguh dan penuh keputus asaan.


Rey yang sempat terkejut dengan tindakan Bryan yang tiba-tiba, langsung tersenyum dan menepuk pelan punggung pemuda itu. "Kak? Barusan kamu memanggilku kak? Aku tidak salah dengar kan? Apa matahari terbit dari barat yah?"


Bryan yang baru tersadar langsung melepaskan pelukannya dan mengusap tengkuknya saking salah tingkahnya. "Mmm.. Itu hanya refleks saja..." Ucapnya yang langsung mengundang tawa Lily.


Rey yang tadi hanya fokus pada Bryan, kini menoleh dan memandangi keberadaan gadis blasteran berkulit putih di samping Raya. Gadis dengan rambut panjang sedikit bergelombang berwarna cokelat kemerahan, tergerai dengan indahnya hingga ke punggung dan bola mata berwarna cokelat bening persis seperti bola mata Rachel dan Bryan. Mengingatkan Rey akan sosok artis Julie Estelle.


Menyadari arah pandang Rey dan Lily yang sama-sama saling pandang satu sama lain, Bryan pun memperkenalkan mereka. "Dia Lily, kakak sepupu ku dari London." Ucapnya pada Rey.


"Oh, Hai Lily. I'm Reynold. Mahavir and Rachel friend." Rey mengulurkan tangannya di depan Lily dengan senyum lebarnya. Memperlihatkan dua lesung pipinya yang dalam. Melihat senyuman yang mengembang di bibir tipis Rey itu, Raya kembali teringat kejadian beberapa menit yang lalu di ruangannya. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan dan langsung memalingkan pandangannya.


"Oh, Hai..." Lily berdiri dari duduknya dan menjabat tangan Rey. "Tak usah kaku begitu. Aku bisa bahasa Indonesia. Yah, walaupun kadang campur aduk begitu."


"Tapi bahasa Indonesia-mu lancar kok..."


"Terima kasih pujiannya. Emmm.... Tapi, itu wajahmu kenapa?"


"Ah, ini hanya oleh-oleh sekaligus hukuman dari atasan..."


"Karena Kak Vir?" Tebak Bryan, Rey hanya mengangguk.


Lily hanya membulatkan mulutnya tanpa bersuara, sembari mengamati keseluruhan wajah Rey. "Kamu pernah ke London? Sepertinya aku tidak asing dengan wajahmu." Lily sedikit mengernyit mengingat-ingat.


"Kak Lily, dia itu kakaknya Risya." Ucap Bryan.


"Oh yah? Pantas saja. Kalian begitu mirip. Rindu deh sama anak itu."


"Iya, Bryan pernah membawanya ke rumah. Granny kami sangat menyukai adikmu. Your little sister is very sweet anda cute..."


"Astaga, aku baru dengar ada yang memuji kelakuannya. Di rumah itu dia selalu bikin ulah, satu rumah dibikin pusing. Anaknya tidak bisa diam."


"Justru karena itu kami menyukainya."


"Bagaimana kabarnya?" Tanya Bryan yang langsung mendapat lirikan mata dari Lily.


"Aku tak tahu belakang ini dia bagaimana, soalnya seminggu aku tidak pulang ke rumah dan nginap di hotel karena sibuk menjelang akhir tahun. Apalagi dua hari ini aku berjaga disini. Kalau aku bertemu dengannya, nanti aku sampaikan."


"Sekalian ajak kemari saja kalau sempat."


"Iya, nanti aku ajak kemari. Dia juga belum tahu kalau Rachel ada disini. Oh iya, paman dan bibi mana?"


"Mereka sudah pulang. Kami bergantian menjaga kak Rachel. Besok baru datang lagi." Ucap Bryan sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie-nya.


"Kalau begitu aku juga harus balik."


"Mmm... Ka..ka..." Bryan terdiam sesaat dan menggaruk pelipisnya. "Mm...Kak Rey sudah mau pulang?" tanyanya dengan ragu-ragu.


Rey tersenyum dan menepuk pelan bahu Bryan. "Kalau sempat aku akan datang lagi besok untuk melihat keadaan Rachel. Selama Mahavir tak ada disini, aku akan menjaganya untuk Mahavir."


"Terima kasih. Semoga kak Rey bisa mendapat kabar Kak Vir secepatnya."


Rey mengangguk pelan. "Akan aku usahakan. Oh iya, Aku mau singgah ke kantin dulu. Habis kena tamparan tadi tenagaku langsung terkuras. Kalian sudah makan?" Tanya Rey sambil memandangi Bryan, Raya dan Lily bergantian.


"Aku tidak nafsu makan saat ini..." Jawab Bryan.


"Aku masih kenyang." Jawab Raya.


Lily terdiam beberapa saat. Memandangi Bryan dan Raya bergantian. Mengamati interaksi keduanya yang tampak begitu canggung sedari tadi. Sepertinya mereka butuh waktu berdua. Guman batin Lily.


"Eh, Rey aku ikut. "Looks like I need to eat and drink something"...(Sepertinya aku butuh makan dan minum sesuatu) Ucapnya lalu meraih Slingbag-nya dari atas kursi. "Bryan, tak apa kutinggal sebentar?"


"Tak apa kak Lily, jangan khawatir. Ada kak Raya juga disini."


"Ok, aku tak akan lama." Ucapnya lalu mensejajari langkah Rey.


Keduanya pun berjalan beriringan dan tampak bercakap-cakap dengan akrabnya. Semua itu tak lepas dari pandangan Raya. Netranya masih saja terus memandangi punggung Rey yang semakin menjauh hingga menghilang di balik tembok rumah sakit. Entah mengapa seperti ada yang berdenyut di hatinya melihat kedekatan Rey dengan wanita lain.


"...ya..ya..." Sayup-sayup suara Bryan menarik Raya dari lamunannya.


"Hah? Apa?" Raya tersentak saat menyadari kalau sudah mengabaikan Bryan. "Kamu bilang apa tadi?"


Bryan menggeleng pelan dan mengulas senyum. Bryan tahu kalau sedari tadi pacarnya itu hanya berfokus menatap Rey, namun masih berpura-pura cuek pada laki-laki itu.


"Maaf, tadi aku banyak pikiran. Tadi kamu bilang apa?" Ulangnya.


"Aku merindukan Aya." Menarik tangan Raya dan menggenggamnya. "Maaf kemarin-kemarin aku sibuk dan tidak sempat menelfonmu."


"Tak apa. Aku juga sibuk."


"Bagaimana kabarmu selama ini?" Tanyanya sembari menatap manik mata Raya dengan lekat.


"Baik, seperti yang kami lihat. Kalau kamu?"


"Baik juga..." Jawabnya, lalu keduanya kembali terdiam selama beberapa saat.


"Astaga..." Raya terkekeh pelan.


Bryan mengernyit bingung melihat Raya tertawa kecil.


"Kok kita jadi garing gini sih?" Tanya Raya dengan menahan tawanya.


Bryan menyengir malu. "Iya yah..." Ucapnya sembari mengusap tengkuknya.


"Berapa lama disini?"


"Semingguan mungkin. Atau bisa lebih. Liburku hanya dua minggu."


"Oh....."


"Mmmm... Bagaimana soal mama mu yang ingin kita bertunangan? Apa dia masih membahasnya?"


"Yah, Kadang-kadang."


"Mmmm.... Aya terbebani dengan hal itu?"


"Maksudnya?"


"Apa Aya masih menyukaiku? Apa masih mau serius denganku?"


Raya menarik tangannya dari genggaman Bryan. Mengalihkan pandangannya dan menggigiti bibir bawahnya.


"Apa Aya masih ragu?"


"Ah, tidak. Bukan begitu. Aku hanya...hanya merasa malu."


"Karena umur kita yang terpaut jauh?"


Raya mengangguk pelan, masih menggigiti bibir bawahnya.


"Sudah berapa kali aku bilang kalau aku tak mempermasalahkan hal itu. Sampai kapan kita akan terus membahas hal itu."


"Tapi....."


"Apa karena ada hal lain?"


"Hah?" Raya menoleh dan menatap Bryan yang duduk di sampingnya.


"Aku mau Aya bisa jujur dengan perasaan Aya sendiri. Jangan merasa tak enak padaku."


Kembali Raya memandang ke depan, menatap kosong ke arah pintu kamar perawatan Rachel. "Sepertinya tak baik kita membahas itu di tempat ini."


Bryan hanya mengangguk tanpa berucap.


"Aku ingin melihat dan mengecek kondisi Rachel dulu." Ucap Raya lalu berdiri dari duduknya. "Kamu tak masuk?"


"Tapi katanya dia mau sendiri."


"Ian....Perempuan itu terkadang berkata seperti itu, tapi kenyataannya mereka hanya butuh dimengerti dan ingin dihibur. Ayo, masuk dan hibur kakakmu." Ucap Raya lalu menarik paksa Bryan agar ikut bersamanya.


* * *