
Rachel mematut penampilan tubuh polosnya di depan cermin. Mengusap lembut perutnya yang dirasakannya sudah sedikit menonjol. Tampak di beberapa bagian tubuhnya sudah sedikit lebih berisi dan bagian areola-nya menjadi lebih gelap dan lebih besar. Tampak pula garis gelap yang mulai muncul membentang dari tengah perutnya hingga kebawah tulang kemal*annya.
Walau begitu binar bahagia sangat jelas terpancar dari wajahnya yang mulai nampak chubby. Suatu anugerah luar biasa ia bisa merasakan kehamilan kembali setelah kecerobohannya yang tak bisa menjaga kehamilan sebelumnya.
Kata dokter yang memeriksanya, keadaan janinnya sangat sehat. Mungkin karena ia rutin mengkonsumsi makanan sehat serta vitamin dan susu kehamilan. Walaupun sesungguhnya tiap kali ia melihat makanan ia sangat merasa tak berselera untuk makan. Begitu berat rasanya walau hanya sekedar mencicipi makanan tersebut. Tapi biarpun begitu ia tetap memaksakan diri untuk selalu menghabiskan makanannya. Ia selalu mengingatkan dirinya untuk tak bersikap egois. Ada janin kecil di perutnya yang membutuhkan nutrisi. Ia tak ingin lagi kehilangan. Untuk itu, kehamilannya saat ini ia akan mati-matian menjaganya.
Usia kandungannya sudah memasuki minggu ke tiga belas. Itu berarti kurang lebih sekitar tiga bulan. Dan selama itu pula ia terus memupuk rindu di dalam hatinya. Kerinduan akan sosok laki-laki yang semakin membuat hatinya menjerit sakit tiap kali mengingatnya.
Senyum cantiknya tiba-tiba terulas merasakan sesuatu yang berdenyut di dalam perutnya. Buru-buru di alihkannya pikiran sedih sesaatnya, lalu diusapnya kembali perutnya dengan kedua tangannya sembari mengajak janinnya berbicara.
"Hai sayang...." Sapanya dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.
"Kamu pasti nyari-nyari daddy yah?"
"Iyya, Mommy juga sama sayang..."
"Tapi kita yang sabar yah, daddy-nya mungkin masih sakit. Tapi Mommy yakin sebentar lagi dia pasti akan berkumpul bersama kita lagi." Ujarnya tersenyum satir.
"Sekarang kita doakan daddy-nya yah sayang....semoga dia disana baik-baik saja."
"Kamu juga baik-baik di dalam sana yah, bantu Mommy menjalani ini semua. Kuatkan Mommy. Kamu satu-satunya penyemangat Mommy saat ini......" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Because you are the new world of mommy. Mommy loves you so much...." Lirihnya sendu dengan setetes airmata yang lolos terjatuh dari sudut matanya. Dengan cepat disekanya ujung matanya, mendongak dan mengerjapkan mata berulangkali guna menghalau airmata yang memaksa ingin keluar. Menelan ludahnya berkali-kali dan kembali mengembangkan senyumnya. Dirasakannya kembali kedutan dari dalam perutnya, mungkin respon bayinya atas perkataannya.
Tak ingin larut dalam kesedihan, bergegas Rachel berpakaian dengan cepat. Kali ini ia tak lagi berpakaian seperti sebelum-sebelumnya yang selalu terkesan seksi dan glamor. Ia mulai membiasakan memakai Dress sederhana yang terasa nyaman di tubuhnya dengan tambahan coat rajut tebal berbahan wol kualitas tinggi. Tak ada lagi heels tinggi yang menunjang penampilan kaki jenjangnya, hanya ada flat shoes yang nampak ringan di kakinya.
Merry yang menyambut kedatangannya di lokasi Fashion Runway pun dibuatnya terkesiap melihat penampilan barunya. Tak ada lagi kesan perfeksionis nan elegan, namun berganti gaya simple nan girly dengan rambut yang digerai bebas ke bawah.
Terlihat manis dan ceria dari luar, tapi tidak dengan apa yang di dalamnya.
Hari ini adalah hari pagelaran fashion show Rachel yang diadakannya di salah satu hotel berbintang yang berlokasi di daerah Westminster Borough.
Salju masih turun perlahan, namun tak lagi intens. Dinginnya udara yang berembus tak menyurutkan langkah Rachel melanjutkan semua persiapan pertunjukan busananya.
Fashion show nya itu berlangsung dengan sukses. Beberapa media fashion terkemuka ikut meliput acara tersebut. Begitu pula stasiun TV BBC News Channel yang secara khusus menayangkan acaranya.
Rachel tersenyum semringah menerima buket bunga dari Modelnya. Menghirup dalam aroma bunga tersebut seraya berucap di dalam hatinya,
Vir.....terima kasih selama ini kamu selalu berada di balik kesuksesanku. Dan kesuksesan acaraku kali ini kupersembahkan untukmu... Sebagai bukti bahwa kamu telah berhasil membawaku mencapai impianku selama ini...
I love you Vir...
And i miss u very much...
Di dekapnya buket bunga tersebut seraya tersenyum lembut ke arah kamera.
***
Sementara nun jauh di Manhattan, New York-Amerika sana. Tepatnya di ruang perawatan highclass Rumah sakit bertaraf internasional, Mahavir berbaring setengah terduduk dengan lemas tanpa ada semangat dalam hidupnya. Matanya berkaca. Ia masih didera perang batin yang sangat berkecamuk dengan begitu dahsyatnya di ruang hatinya.
Beberapa menit yang lalu ia baru saja menyaksikan secara virtual pertunjukan Runway yang dilaksanakan oleh istrinya itu di London melalui situs BBC News Channel. Sebuah Runway yang cukup menyita perhatian para penggiat Mode dan mengundang applaus karena busana-busana rancangannya yang sangat mendetail dan mempunyai ciri khas khusus yang tak dimiliki oleh desainer kebanyakan. Istrinya itu ternyata sudah bisa sukses tanpa bantuan darinya sama sekali.
Entah saat ini ia harus ikut gembira atas kesuksesan wanita yang masih berstatus istrinya itu atau malah sebaliknya. Harusnya ia senang melihat kesuksesan wanita itu, harusnya ia berbangga diri dengan kenyataan itu. Harusnya ia bersyukur karena wanita itu tampak baik-baik saja. Namun tak tahu mengapa ada rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Dilihatnya Rachel tampak sangat cantik dalam balutan dress baby doll berbahan ceruti berwarna peach cerah dibawah lutut, sangat kontras dengan gayanya selama ini. Mungkinkah ini salah satu perubahan yang dilakukannya setelah berpisah darinya?
Wanita cantik itu berjalan anggun di atas panggung catwalk dan menerima buket bunga dari para model, terlihat mengurai senyumnya dengan begitu lepas tanpa beban. Begitu sangat bercahaya. Mahavir juga bisa melihat tubuh wanita itu yang nampaknya sedikit berisi dari kali terakhir ia melihatnya.
Nuraninya meminta untuk tidak mempercayai semua itu. Nuraninya terus meminta untuk bertahan pada pendirian kerasnya selama ini. Tapi semua informasi yang diterimanya dari informan ayahnya beberapa hari belakangan ini sanggup mematahkan kepercayaannya yang mulai memudar. Wanita itu sanggup berkeliling kota London mengurus keperluan Fashion show nya tapi sama sekali tak bisa menyempatkan diri mengunjunginya.
Selama ini impian dan keinginannya hanyalah menyunting gadis yang selama ini melekat kuat dalam pikiran dan lubuk hatinya. Gadis itu telah berhasil dipersuntingnya, sempat pula berhasil memiliki utuh tubuhnya. Tapi ia juga tidak bisa memungkiri, kalau sampai detik ini ia sendiri belum bisa mengetahui isi hati wanita itu seperti apa. Ia baru sekali mendengar penuturan isi hatinya sesaat sebelum kejadian naas yang menimpa mereka.
Apa menjalani impianmu itu jauh lebih penting daripada diriku?
Aku menunggu kehadiranmu disini, apa begitu sulit bagimu untuk mengunjungiku?
Mahavir mendesah pelan. Merasakan kekecewaan dan ketakutan yang luar biasa. Kecewa akan sikap wanita itu yang ternyata memang bisa tampil di hadapan media tanpa beban. Juga rasa takut bila seandainya apa yang ayahnya katakan memang benar adanya.
Kepercayaan dirinya pun semakin terkikis mengingat keadaannya saat ini yang juga tak bisa berbuat apa-apa.
Sayang....Apa betul kamu sudah melupakanku? Apa janjimu saat itu hanya bualan semata? Apa betul sampai detik ini aku belum menjadi apa-apa bagimu?
Apa kamu bahagia tanpa diriku?
Mahavir menatap hampa langit-langit ruang perawatannya. Mengingat saat-saat dimana wanita itu berusaha lari darinya. Tetes demi tetes cairan bening terjatuh dari kedua matanya.
Hannah yang duduk disofa tak jauh dari tempatnya berbaring hanya bisa menghela napas berulang kali melihat keadaan laki-laki yang selalu lemah bila dihadapkan dengan sosok wanita bernama Rachel. Entah apa yang wanita itu lakukan sehingga bisa membuat laki-laki itu sampai terpuruk seperti itu. Sudah bertahun-tahun ia melihat perjuangan sahabatnya itu dalam mendekati Rachel dan hanya sakit hati yang dialaminya hingga kini.
Hannah tahu cinta laki-laki itu tak ada untuknya sedikitpun. Tapi melihat keadaannya sekarang, Hannah tak lagi ingin tinggal diam menyaksikan laki-laki yang dicintainya itu menderita. Mungkin terdengar jahat, tapi dengan keadaan Mahavir saat ini serta permintaan dari Ayahnya, Hannah akan bertekad menjauhkan Mahavir dari istrinya dan pelan-pelan merebut hatinya.
"Sudahlah Vir...., jangan membuat dirimu tampak menyedihkan."
"Aku memang menyedihkan sejak dulu..." Lirihnya berucap dengan suara tertahan di tenggorokannya. Kemudian menoleh menghadap Hannah dan memandanginya dengan mata penuh permohonan.
"Hannah, apa aku bisa minta tolong padamu?"
"Want to contact her?" Tanyanya balik menerka. Wanita itu sudah bisa menduga permintaan lelaki itu.
"Hmmm"
"For what?"
"Aku ingin bicara langsung padanya. Aku tak bisa hanya tinggal diam seperti ini. Aku ingin mendengar apa alasan darinya. Aku ingin mempercayainya."
"Lalu?" Tanya Hannah penuh penekanan. "Kalau ternyata memang dia tak mengharapkanmu? Apa yang akan kamu lakukan?"
Mahavir terdiam. Memejamkan mata dan menelan ludahnya susah payah. "Setidaknya tak ada salah paham diantara kami." Lirihnya berucap dengan mata yang masih terpejam.
"Ternyata kamu memang laki-laki yang sangat bodoh, Vir! Apa kamu harus menurunkan harga dirimu serendah itu? Sebenarnya apa yang kamu lihat darinya? Sadarlah Vir. Sudah cukup kamu tersakiti olehnya."
"Diamlah!" Membuka mata dan menatap tajam wanita di depannya. "Kamu tak tahu apapun tentang kami...!!" Tambahnya.
Hannah mendesah pelan, menatap miris Mahavir. "I really don't know your story with her. But I know that she will only always hurt you...."
(aku memang tak mengetahui kisahmu bersamanya. tapi aku tahu kalau dia hanya akan selalu menyakitimu)
"Kalau tak mau membantu. Jangan menjelek-jelekan dia di hadapanku. Aku lelah, ingin beristirahat." Usirnya sembari memalingkan wajah dari Hannah.
"Bukan tak mau, tapi ponselku di sita oleh pengawal di depan. Semua orang yang masuk kesini tak boleh membawa ponsel."
"Kamu sama saja seperti ayahku!"
Hannah memutar bola matanya jengah dengan sikap Mahavir padanya. Tapi ia sama sekali tak sakit hati karena sudah terbiasa dengan sikap dingin laki-laki itu.
"Apa bed nya mau aku turunkan?" Tanyanya sembari turun dari brankar dan meraih tuas pengontrol.
"Tak usah. Tapi tolong buka ikatan ini." Pintanya dengan sorot mata menunjuk pergelangan tangannya yang masih terikat.
"Maaf, aku tak bisa membukanya. Paman melarangku."
"Apa kamu pikir aku bisa beristirahat nyaman dengan keadaan terikat seperti ini?"
Hannah terdiam sesaat. Nampak menimbang-nimbang permintaan lelaki itu.
"Kamu pikir aku akan melakukan apa sampai harus diikat seperti ini?"
"Tapi....." Hannah memandangi keseluruhan keadaan Mahavir. "Baiklah aku buka, tapi tolong bekerja samalah untuk tak membuatku susah."
Mahavir hanya mengangguk pelan. Begitu ikatan tangannya terlepas ia langsung memejamkan matanya. Cukup lama ia tampak tertidur sampai akhirnya ia bangun dan memanggil Hannah. Meminta tolong pada wanita itu untuk membelikannya makanan di kantin rumah sakit karena merasa lapar. Tadinya Hannah curiga akan sikap Mahavir, tapi suara perut laki-laki itu yang bergemuruh membuatnya terkekeh dan mempercayai laki-laki itu.
Setelah Hannah betul-betul meninggalkan ruangannya, Mahavir menekan tombol Nurse call yang ada di kepala bed brankarnya. Sedetik kemudian seorang perawat berlari masuk ke ruangannya.
"sorry I just want to ask for help brought to the orthopedic poly. I made an appointment with the doctor there." (maaf saya hanya ingin meminta bantuan dibawa ke poli ortopedi. Saya membuat janji dengan dokter di sana.)
Perawat itu mengernyit heran. "sorry but you can't go anywhere. Let the doctor come here later." (maaf tapi anda belum boleh kemana-mana. biar dokter nya nanti yang kemari.)
Mahavir mengulas senyumnya mencoba meyakinkan perawat itu. "I have made an appointment with him. You can call the doctor if you don't believe me." (aku sudah buat janji dengannya. anda bisa menghubungi dokter tersebut kalau tak percaya.)
Perawat berkulit hitam itu tampak ragu-ragu namun akhirnya mengangguk. Perawat itu kembali keluar dan kembali lagi masuk sambil mendorong kursi roda. Seorang pengawal yang berjaga di depan pintu menahan Mahavir saat akan keluar dari ruangannya, dan Mahavir akhirnya memintanya untuk ikut mengawalnya kalau tak percaya.
Ketiganya lalu menyusuri koridor panjang rumah sakit menuju lift untuk turun ke ruang poly ortopedi. Tapi beberapa meter sebelum mencapai lift Mahavir meminta pengawal itu untuk mengambil hasil foto rontgen tulang punggungnya yang tertinggal.
Sebelum masuk ke dalam lift, Mahavir menjatuhkan cincin kawinnya dengan sengaja. Lalu sesaat sebelum pintu lift menutup ia meminta perawat itu untuk mengambilkan cincinnya yang terjatuh. Begitu perawat itu membungkuk meraih cincinnya, pintu lift pun menutup dan membawa Mahavir seorang diri di dalamnya.
Mahavir turun langsung ke lantai dasar. Mendorong kursi rodanya dengan susah payah melewati koridor yang sepi. Saat melintasi ruang penyimpanan medis, Mahavir langsung mengganti kursi rodanya dengan tongkat kayu. Melepas penyangga tulang leher di lehernya dan kembali melanjutkan langkahnya.
Beberapa kali ia terjatuh karena tak terbiasa menggunakan tongkat, namun ia terus berusaha untuk kabur dari tempat itu. Langkahnya akhirnya terhenti begitu melihat telepon yang berada di atas meja counter Nurse station. Dengan sedikit berakting, Mahavir akhirnya diperbolehkan memakai telepon itu.
Buru-buru Mahavir menghubungi nomor ponsel Rachel, namun berkali-kali mencoba tak jua terhubung. Begitupun dengan nomor telepon di penthouse-nya. Mahavir berfikir sejenak lalu mencoba menghubungi Rey. Tapi sama saja, karena panggilannya tak juga tersambung, Mahavir sadar kalau waktu di Indonesia saat ini sudah masuk dini hari. Kemungkinan Rey sudah terlelap di balik selimut tebalnya di kamar hotel Alister seperti kebiasaannya selama ini. Kembali Mahavir mengulang menghubungi ponsel istrinya berkali-kali, sampai akhirnya ia melihat Hannah berlari ke arahnya.
Mahavir melempar begitu saja gagang telepon dari tangannya lalu bergegas pergi dengan langkah tertatih-tatih. Mengabaikan rasa nyeri yang semakin mencekam di tulang belakangnya. Ia terus berusaha berlari sampai akhirnya penglihatannya mengabur dan tubuhnya ambruk ke lantai.
Samar-samar Mahavir melihat Hannah menjerit histeris memeluknya.
***