Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Part 5 (Peduli?)


..."Menjagamu adalah tanggung jawab ku. Kalalaian ku adalah kesalahan terbesar bagiku."...


...~ Barra Alman Pratama ~...


...•••...


Barra membaringkan tubuhnya di kasur empuknya dengan tatapan kosong. Barra membuka handphonenya ingin mengirim pesan ke seseorang.


[Gue tunggu di Cafe Sharfaraz jam 9 malam.]


Setelah mengirim pesan tersebut Barra bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Barra sudah berada di Cafe tersebut menunggu kedatangan seseorang. Sambil menunggu seseorang tersebut datang Barra memesan Cokelat dingin sebagai teman duduknya.


"Hai Bro. Sorry gue lama." Ujar seseorang yang baru saja datang dan duduk dihadapan Barra.


"Hemm, langsung aja."


"Hari ini kabarnya baik, sudah ada kemajuan Bro."


"Oke lu terus pantau dia. Kabari apapun yang bersangkutan dengan dirinya."


"Siap Bro."


Barra pulang cukup larut malam, setelah dari Cafe ia melanjutkan pergi ke salah satu tempat balap. Kali ini Barra hanya menonton saja, tidak ada lawan untuknya pada malam ini.


"Dari mana aja kamu?" tegur Aji saat Barra memasuki rumahnya.


"Papa belum tidur."


"Saya tanya kamu dari mana?!" bentak Aji dengan suara tinggi.


"Barra abis nongkrong sama teman, Pa."


"Wah, hebat ya kamu. Pulang pergi seenaknya aja. Udah merasa paling berkuasa di rumah ini?"


"Belum Pa."


"Sekarang masuk kamar, sebelum saya membuat lebih ke kamu."


Barra tidak menjawab ucapan Papanya, ia meninggalkan Papanya begitu saja. Barra sebenarnya sudah muak dengan sikap perlakuan Papanya, Papanya yang selalu mengatur kehidupan Al.


Barra tidak akan menjadi anak berandalan seperti ini, jika Papanya tidak menekankan Barra harus seperti apa yang ia mau. Barra sudah pernah untuk melawan Papanya, tetapi ia masih ingat, ia memiliki Mama yang membutuhkannya.


***


Pagi ini Barra sudah berangkat ke sekolah seperti biasa. Tiga hari diskors tidak membuat dirinya menyesal, Barra tidak akan berkelahi jika dirinya tidak disenggol terlebih dulu.


Barra termasuk anak yang pintar, namun karena pertemanan dan pergaulannya membuat Barra menjadi anak yang nakal, ditambah lagi hubungan ia dengan Papanya yang kurang baik.


Seperti biasa Barra pagi ini aman menjemput Azqila. Ya walaupun Azqila sudah menolaknya, tapi Barra akan tetap pada pendiriannya.


"Qil, sarapan dulu, yuk." ajak Barra.


"Gue udah sarapan."


"Gue belum, kita berhenti dulu, ya."


"Terserah."


Barra berhenti di pinggir jalan saat melihat ada warung bubur ayam. Barra memesan satu porsi bubur ayam hanya untuknya karena Azqila tidak mau.


"Qil, mau coba ga?" tawar Barra memberi sesendok bubur ayam tersebut.


"Ga."


"Dikit aja, cobain deh. Enak tau."


"Ga mau Barra." tolak Azqila.


"Sedikit aja aaaa," rayu Barra dengan sesendok bubur ke mulut Azqila.


"Gimana?" tanya Barra saat Azqila menerima suapan dari Barra.


"Enak."


"Mau lagi? Gue pesan satu lagi ya."


"Ga usah Barra, gue juga udah kenyang."


"Oke deh, kita kongsi aja aja. Sini biar gue suapin."


Azqila mulai merasakan sikap beda dari Barra. Namun, itu tidak membuat Azqila langsung jatuh hati. Ia hanya kagum oleh sikap Barra yang ternyata memiliki sikap yang lembut.


"Makasih," ujar Azqila saat turn dari motor Barra.


"Tumben bilang makasih."


"Ya gue ga mau aja dibilang orang yang ga tau berterimakasih."


"Iya deh iya, yaudah sana masuk kelas." usir Barra.


"Lu ga masuk?" tanya Azqila.


"Ada urusan sebentar."


Azqila pergi ke kelasnya, sampainya dikelas ia melihat Jihan yang sudah senyam senyum melihat handphonenya.


"Lang, tukar tempat duduk yuk," pinta Azqila.


"Iya, gue ga mau duduk disamping orang gila," sindir Azqila.


"Lu ngatain gue gila Qil?" tanya Jihan.


"Iya, emang iya kan. Lu lama-lama beneran gila Han, kalo gini terus."


"Tapi gue masih waras kok, gue masih ingat sama lu, sama Mama Papa gue, masih ingat sama pelajaran hari ini, masih ingat bapak jual bat...."


"Gue bilang lu gila, Han bukan amnesia." potong Azqila.


"Iya iya maaf, lu sini dong jangan pisah duduk sama gue."


"Ogah, entar gue ketularan gila lagi kayak lu."


"Udah samping gue lu Han. Tambah lagi dibelakang gue sih Barra yang ga kalah gilanya sama lu, lama lama gue bakal ikutan gila dekat sama lu pada," batin Azqila.


"Azqila, sini dong. Gue mau cerita sama lu," rayu Jihan.


"Iya deh iya."


Jam pelajaran sudah dimulai tapi Barra belum juga masuk kelas membuat Azqila penasaran kemana Barra pergi.


Azqila pun mencoba mengirim pesan kepada Barra menanyakan dimana Barra berada.


[Gue diruang BK Qil. Gue ga papa kok.]


[Cieee, nyariin gue ya. Cieee ada yang khawatir.]


"Dih apaan sih nih orang, siapa juga yang khawatir." omel Azqila.


"Azqila" panggi Bu Rizka


"Iya Bu."


"Tolong keruangan saya, ambilkan buku matematika di meja saya." pinta Bu Rizka.


"Baik Bu."


Azqila keluar dari kelas, di pertengahan jalan ia melihat Barra dan Dimas sedang berlari mengelilingi lapangan sekolah. Azqila berpikir mungkin ini tambahan hukuman mereka karena berantam kemarin.


Azqila melanjutkan langkahnya menuju ruangan Bu Rizka, setelah mengambil buku yang diminta Bu Rizka, Azqila pergi ke kantin untuk membeli minum.


Barra melihat Azqila yang berjalan ke arahnya, hal itu membuat Barra tersenyum gembira, Barra berlari ke arah Azqila.


"Ngapain?" tanya Barra.


"Nih," Azqila memberi sebotol air mineral dingin.


"Makasih, kok bisa keluar?" tanya Barra sambil meminum air pemberian Azqila.


"Ambil buku, yaudah gue ke kelas, nanti ditunggui Bu Rizka."


"Semangat belajarnya Qilqil," teriak Barra saat Azqila sudah mulai menjauh.


Kini Azqila dan Jihan berada di kantin untuk memanjakan perutnya. Setelah belajar matematika yang membutuhkan tenaga dan otak yang kuat.


"Han, lu katanya mau cerita. Cerita apa?" tanya Azqila di tengah makannya.


"Duh, gimana ya Qil, gue juga bingung mau ceritanya gimana."


"Jangan sampai kuah bakso ini ke muka lu ya Han."


"Iiiihhh, serem banget sih lu Qil. Jadi tuh gini, gebetan virtual gue pingin ketemuan sama gue, tapi gue bingung Qil," jelas Jihan.


"Yang buat lu bingung apaan?"


"Gue takut kalo dia ga sesuai dengan ekspektasi gue, kalo dia om-om gimana dong."


"Dih, kayak lu sesuai ekspektasi dia aja."


"Azqila ma, lu tuh harusnya kasih solusi ke gue gitu."


"Gue juga bingung mau kasih lu solusi apaan, Han. Ya kalo lu penasaran yaudah temui dia."


"Kalo dia om-om gimana?"


"Ya itu udah resikonya. Tapi, bolehlah buat uang jajan." celutuk Azqila dengan menggoda Jihan.


"Ihhh Azqila, lu kira gue cewek apaan suka sama om-om."


"Ya kali kan lu kurang uang jajan. Asal ga dia aja yang kabur saat lihat lu ntar, siap-siap bakal di ghosting lu."


"Ga tau mau, pokoknya lu harus bantu gue. Lu harus make over gue secantik mungkin."


"Novel keluaran terbaru.'


"Iya deh iya. Lu mah gitu ada aja imbalannya."


"Iya dong."


Maaf ya guys kalo ceritanya masih berantakan dan typo berserakan. Kalian boleh ngasih saran dan kritik kok buat cerita aku ✨


See you guys ❤️


Tunggu part selanjutnya ya 🥰