
Desau angin laut malam yang berhembus terasa dingin menusuk hingga ke tulang. Dua pasang kaki berjalan santai beriringan diatas lembutnya hamparan pasir berwarna putih.
Raya mensedekapkan kedua tangannya memeluk erat tubuhnya untuk mencoba sedikit menghangatkan dirinya. Menyadari Raya yang terlihat kedinginan, Rey membuka jaket kaos berwarna abu-abu gelapnya.
"Pakai ini...." Rey membalutkan jaketnya ke punggung Raya dari belakang.
"Tidak usah..." Tolak Raya sembari melepaskan jaket yang ada dipunggung nya.
Rey menatap dalam wajah Raya yang terlihat samar-samar dalam penerangan semburat cahaya mentari.
"Apa hal sekecil ini saja tak bisa kamu terima?" Rey berucap dengan nada kecewa, tangannya bergerak membalutkan kembali jaketnya ke punggung Raya.
Raya tertunduk pelan, "Terima kasih...." Ucapnya lalu membiarkan jaket itu membalut seluruh punggungnya. "Bicaralah...!! Apa yang ingin kamu katakan, katakanlah...! Malam ini aku akan mendengarkan."
Raya menghempaskan tubuhnya terduduk pada sebuah bangku yang terbuat dari batang pohon kelapa. Rey ikut duduk disamping nya.
"Waktu itu.... Mengapa kamu memutuskan hubungan kita yang baru berjalan selama tiga hari? Tidakkah kamu merasa itu sangat kejam buatku?" Tanya Rey dengan penuh rasa penasaran.
"Karena.... Karena aku tidak bisa."
"Apa alasannya?"
"Kamu seorang playboy!!" Raya beralasan.
"Aku? Playboy?? Apa buktinya? Bahkan sejak SMA aku sudah menyukaimu, tak pernah ada perempuan selain kamu Ra! seumur hidupku aku cuma pacaran dengan satu orang perempuan, itupun hanya selama tiga hari...!! Entah itu pacaran atau apa! Bahkan selama tiga hari itu kamu tidak pernah mau menatap wajahku..."
"Kamu kira aku polos jadi kamu bisa membohongi ku?"
"Ra... Berbohong apa?"
"Pacar kamu banyak!! Di kampus dulu, setiap hari wanita yang berbeda selalu mendatangimu."
"Hah??" Rey terheran-heran mencoba mengingat-ingat.
"Kamu mau mengelak??"
"Aku betul-betul tidak tahu apa maksud mu Ra! Wanita yang mana? Sumpah!! Aku tidak pernah punya pacar.
"Bahkan ada gosip yang mengatakan kamu itu seorang...."
"Seorang..???" Sambung Rey penasaran.
"Se.. Seorang gi...gi...gigolo!!!" Ucap Raya tergagap-gagap.
Rey mengernyitkan kedua alisnya kemudian tertawa kecil.
"Kenapa tertawa? Lucu?" Tanya Raya kesal.
"Astaga Ra!! Gosip darimana yang kamu dengar itu??" Tanya Rey masih terkekeh. "Dan kamu mempercayai nya?" Lanjutnya.
"Karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Setiap hari ada saja wanita yang mendatangimu, bahkan ada yang sedang hamil. Ada juga yang mengatakan kalau kamu punya seorang anak. Aku pernah melihat mu menggendong seorang anak perempuan kecil"
Rey memijit pelan pelipisnya, mencoba mengingat-ingat. Hingga kemudian Rey menyadarinya dan tersenyum lebar.
"Astaga Ra!! Aku sudah ingat!!" Seru Rey sambil menepuk jidatnya. "Astaga perempuan itu semuanya saudara ku!"
"Kamu pikir aku sebodoh itu? Memangnya sebanyak apa saudara perempuan mu?"
"Sumpah itu semua saudara ku, lebih tepatnya mereka semua itu adalah kakak iparku. Aku ada sembilan bersaudara, delapan laki-laki dan satu perempuan. Aku itu anak ke delapan, dan anak kecil yang kamu lihat itu adalah Adik bungsuku." Ujar Rey kemudian mengambil ponsel yang ada di saku bajunya lalu memperlihatkan foto dirinya bersama anak perempuan yang menjadi wallpapernya. Raya meraih ponsel tersebut dan memperbesar tampilan wajah anak perempuan itu.
"Manisnya...Cantik banget..." Lirih Raya, memandangi layar ponsel Rey.
"Namanya Risya, sekarang usianya sudah 13 tahun kami selisih 15 tahun. Saat melahirkannya, ibuku meninggal dunia." Ujar Rey berkaca-kaca. Dia mendongakkan kepalanya ke atas memandangi langit berbintang, menghela nafas sesaat kemudian melanjutkan perkataannya.
"Sehingga itu aku bersama kakak-kakak ku bergantian menjaganya. Jadi dulu itu setiap hari kakak iparku bergantian datang ke kampus untuk menitipkan kunci rumah padaku, karena mereka yang bergantian membawa dan merawat adik bungsuku saat aku ada jadwal kuliah."
Rey memandangi Raya yang terdiam, lalu menarik ponselnya kembali dari tangan Raya. Membuka galeri ponselnya lalu memilih sebuah foto. "Ini foto keluarga ku, apa perempuan-perempuan itu semua yang kamu lihat?"
Raya memperhatikan dengan seksama, dan dia mengingat wajah-wajah perempuan itu.
Ia langsung mengatupkan kedua bibirnya, sudah tak tahu mau berkata apa lagi. Selama ini dia telah salah paham kepada Rey.
"Ra...Aku ini masih perjaka tinting!! Bahkan sampai sekarang berciuman pun aku tidak pernah!!"
Raya berbalik dan mendongakkan kepalanya menatap Rey dengan terheran-heran. "Apa buktinya?" Tantang Raya.
Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung ingin menjawab apa.
"Tidak ada kan?"
"Bukan tidak ada, tapi bagaimana caranya aku membuktikannya?" Rey mendengus. "Ayo kita menikah, maka akan aku buktikan!!"
"Menikah? Denganmu? Ogah!! Buat apa aku menikah denganmu?"
"Kan kamu minta aku membuktikan keperjakaan ku? Atau bagaimana kalau dimulai dari berciuman dulu?" Canda Rey.
"Jangan melewati batas!!" Ucap Raya lalu menarik tangannya dari genggaman Rey.
"Kenapa? Kamu masih tidak mempercayai ku?"
"Aku percaya."
"Lalu??" Rey mengernyitkan alisnya, bingung.
Raya mendesah pelan. "Baiklah, aku akan jujur padamu!" Seru Raya lalu menyentuh punggung tangan Rey. "Persoalan yang tadi itu hanyalah salah satu alasanku menolakmu." lanjutnya sambil menepuk-nepuk punggung tangan Rey.
Rey menatap bingung kedalam manik mata Raya.
"Dipaksakan bagaimanapun, aku tak punya rasa apa-apa padamu, justru yang kurasakan kepadamu adalah rasa takut."
Wajah Rey mengkerut, tidak mengerti akan maksud dari perkataan Raya.
"Rey, bagaimana menurutmu kalau ada seorang wanita yang tergila-gila padamu terus menguntitmu?"
"Tunggu... tunggu dulu, apa maksudmu?" Tanya Rey.
"Aku tahu kamu diam-diam sering mengamatiku sejak SMA. Kamupun masuk ke kampus yang sama denganku karena mengikutiku kan?"
Rey mengangguk perlahan.
"Kamu tahu, aku begitu merasa lega saat tahu kalau kita beda jurusan. Tapi kemudian kamu malah sering muncul dan terus menempel padaku. Aku pikir, setidaknya kalau aku memberimu satu kesempatan, akan sedikit menghilangkan kegilaan mu, tapi nyatanya kamu malah semakin menjadi. Muncul setiap saat dan menelepon tiap waktu. Sikapmu semakin posesif, membuat ku merasa sangat tidak nyaman. Karena itu aku meminta putus padamu dan diam-diam pindah ke kampus lain."
"Jadi, Selama ini kamu takut padaku?" Tanya Rey dengan perasaan kecewa. Tidak menyangka semua itu.
"Gadis mana yang tidak takut saat ada laki-laki yang terus menguntitnya?" Tanya Raya, berusaha meredam emosinya.
"Maaf, aku tidak menyadari itu semua...! Yang aku lihat hanyalah seorang gadis cantik yang selalu ada dalam pikiran ku. Salahkah bila aku hanya melihatmu seorang? Salahkah bila aku ingin terus dekat denganmu?"
"Tidak akan salah jikalau wanita nya merasa tidak terganggu. Tapi sebaliknya, akan sangat salah kalau hal itu malah membuat sang wanita merasa tidak nyaman!"
Rey menunduk, mencerna semua perkataan Raya. Rey sadar perbuatannya mengejar Raya dulu terlalu berlebihan.
"Rey, awalnya aku senang mengobrol denganmu. Diam-diam aku juga sempat jatuh hati padamu,Tapi....."
"Tapi apa?" Tanya Rey, kedua matanya berbinar-binar mendengar Raya yang pernah jatuh hati padanya.
"Tapi begitu kamu dekat dengan Dirman, aku menjadi kesal. Entah mengapa kamu menjadi menyebalkan. Bahkan semakin hari tingkah lakumu berubah seperti tingkah laku Dirman. Kamu memutus interaksi dengan teman lainnya dan hanya bergaul dengan Dirman seorang."
"Dirman? Apa hubungan Dirman dengan hubungan kita?"
"Ada! karena kedekatan mu pada Dirman aku akhirnya memendam rasa suka ku padamu, kamu menjadi sangat akrab kepada orang yang sangat dijauhi oleh teman-teman satu sekolah. Dirman itu membawa pengaruh buruk buatmu!"
"Raya, jaga mulutmu!!" Maki Rey. "Bukan Dirman yang membawa pengaruh buruk, tapi kamu dan teman-temanmu yang lainnya yang terlalu sombong dan menilai rendah orang-orang yang berada jauh dari level kalian."
"Apa maksud mu?" Raya bangkit dari duduknya dengan emosi.
"Aku pikir kamu itu berbeda dari yang lainnya, ternyata kamu sama saja!"
"REY!!!!" Teriak Raya tidak terima. "Memang benar kan Dirman yang mengajarimu menjadi stalker? Kamu ikut-ikutan mengamati semua gerak-gerik ku seperti dia yang terus menerus menguntit Rachel. Aku tidak pernah menilai orang dari level nya. Aku hanya bicara sesuai faktanya!"
"Ra, Dirman tidak pernah mengajariku menjadi stalker! asal kamu tahu Dirman lebih tulus dalam berteman daripada kalian yang sering membully nya. Seberapa besar pun kalian menghina dan mengejeknya dia tidak pernah merasa dendam.
Kalian mengatai Dirman kotor, jelek, kampungan, culun, miskin, pengemis dia tidak marah sedikit pun, kalian menghujat penampilannya pun dia hanya tersenyum. Lalu apa kesalahannya sampai kalian itu semua membencinya?" Rey berucap dengan nada penuh kelembutan.
"Aku tidak tahu alasan orang lain yang membencinya, tapi Aku pribadi tidak senang karena Dirman itu selalu mengganggu dan menyakiti sahabatku. Bahkan menjadi benalu dalam keluarga Rachel. Kamu tahu tidak seberapa takutnya Rachel saat Dirman terus berusaha mendekatinya, seberapa kesepiannya Rachel karena Dirman menguasai semua kasih sayang keluarganya. Dan seberapa sedihnya Rachel karena Dirman pelan-pelan menggeser posisinya baik di sekolah maupun dirumah?" Ujar Raya meluapkan kekesalannya.
"Sahabat mu itu orang yang tidak tahu diri, Untunglah dia menebus kesalahannya dengan menyelamatkan Rac......"
"RAYA!!!" Bentak Rey memotong perkataan Raya. Membuat Raya tersentak kaget. Emosi Rey tersulut, dia tidak terima sahabatnya disudutkan.
"kamu tidak tahu yang sebenarnya, lebih baik kamu diam saja!!!" lanjut Rey lagi.
Raya terdiam, matanya berkaca-kaca mencoba menahan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya. Baru kali ini ada orang yang membentaknya.
"Kalau kamu menghinaku aku masih terima, kamu menolakku berkali-kali aku juga tidak masalah. Tapi jangan pernah melibatkan Dirman didalamnya, apalagi sampai menyalahkannya atas hal yang tidak pernah dia lakukan."
Raya tertunduk, bibirnya terkatup rapat. Kedua tangannya berada di samping kiri kanan tubuhnya sambil meremas keras Shummer dress yang dia kenakan. Bahunya sudah terlihat bergetar, mencoba menahan gejolak yang ada dalam dadanya.
"Aku baru sadar kalau aku menyukai gadis yang salah!! Terima kasih sudah menyadarkanku!!"
Ucap Rey penuh emosi.
Raya terjatuh lemas, terduduk di atas hamparan pasir. Airmata nya sudah tidak terbendung lagi.
Isak tangisnya pecah saat melihat punggung Rey yang menjauh dari hadapannya.
* * *