
"Sudah selesai?" Tanya Mahavir saat Rachel berjalan menghampirinya.
"Iyyah, kelamaan yah nunggunya?"
"Iya...aku sudah seperti jemuran kering yang tak diangkat-angkat oleh pemiliknya." Mahavir mendengus kesal namun langsung menarik Rachel kedalam dekapannya. "Aku sangat merindukanmu..." Bisiknya lagi, seakan tak bosan-bosannya mengucapkan kalimat itu.
"Astaga Vir, baru dua hari juga." Melepaskan pelukan Mahavir dengan menahan tawanya. "Jangan manja, disini banyak mata yang melihat." imbuhnya, menunjuk dengan sorot matanya ke sekeliling mereka. Beberapa pasang mata memang tampak sedang memandangi mereka.
"Ck.." Mahavir berdecak kesal lalu buru-buru menarik Rachel berjalan menjauh dari bangunan yang menjadi lokasi Runway esok.
Kedua alis Rachel tampak saling bertautan. Merasa bingung dengan Mahavir yang langsung menariknya berjalan. "Loh, kita mau kemana? Tadi kamu naik apa kesini?"
"Naik mobil."
"Terus mobilnya kemana?"
"Tadi diantar sama Stuart. Tapi aku sudah menyuruh Stuart kembali ke hotel, di hotel sedikit sibuk karena banyak tamu penting dari mancanegara yang akan hadir pada fashion show besok."
"Oh, lalu kita? Pulangnya bagaimana?"
"Kita jalan-jalan sore dulu." Merangkul pinggang ramping Rachel dan menuntunnya berjalan.
Rachel mensejajarkan langkahnya dan menoleh memandangi wajah Mahavir. "Memangnya kamu tidak lelah?"
"Kalau bersamamu aku tak akan lelah." Ucapnya dengan tersenyum lalu mengecup singkat kepala Rachel.
Rachel mengulum senyumnya mendengar gombalan Mahavir. "Lalu kita mau kemana?"
"Ikut saja....aku akan membawamu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Ikut saja..."
"Iya, tapi kemana?"
Mahavir tak menjawab, ia hanya memasang senyum penuh arti, yang membuat Rachel bertanya-tanya. Mereka pun menaiki bus berwarna merah sejauh beberapa ratus meter, lalu turun saat bus berhenti di tempat khusus pemberhentiannya.
Mahavir kemudian mengajak Rachel meneruskan langkahnya menapaki jalur khusus pejalan kaki yang tersedia di sepanjang sisi jalan beraspal. Melewati beberapa bangunan-bangunan dengan model Victoria klasik. Terus melangkah tanpa Rachel ketahui kemana tujuan mereka.
"Vir, kita mau kemana?"
"Diam, dan ikut saja dengan tenang. Nikmati pemandangan menjelang malam ini..."
Lagi-lagi Rachel terdiam dan mengikut. Mahavir menuntunnya menyeberang jalan lalu melewati beberapa blok. Sudah hampir 20 menit mereka berjalan tapi mereka belum juga sampai di tujuan. Seakan laki-laki disampingnya itu sengaja membawanya berkeliling tak tentu arah. Untung saja hari ini ia memakai sepatu bermodel wedges hingga tidak membuatnya kesulitan berjalan jauh.
Langit mulai menghitam, udara sejuk semakin menusuk ke sendi-sendi. Rachel mulai kesal dengan sikap acuh Mahavir.
"Vir, memangnya kita mau kemana? Aku sudah lelah berjalan." Keluhnya.
Mahavir menarik nafas panjang, sedikit kesal dengan tingkah Rachel yang tidak sabaran dan mempercayainya. Hingga ide aneh tiba-tiba terlintas di benaknya.
"Kamu yakin mau tahu aku membawamu kemana?"
"Kan dari tadi aku bertanya..."
"Ke tempat penjagalan hewan!" Jawab Mahavir sarkas.
"Mau apa kesana?"
"Mau menggiling dagingmu, biar bisa ku makan."
Rachel terkekeh dan menepuk tangan Mahavir yang merangkul di pinggulnya. "Jangan bercanda. Tidak lucu..."
"Kamu kira aku bercanda?" Memasang wajah gelap disertai gertakan gigi yang menakutkan. Iris matanya tampak berkilat-kilat memberikan ancaman. Wajahnya kemudian mendekat dan berhenti di telinga Rachel. "Aku akan mencabik-cabik tubuhmu disana" Bisik Mahavir dengan nada dibuat se-menyeramkan mungkin.
Rachel bergidik ngeri lalu pelan-pelan melepas rangkulan tangan Mahavir. "Sebaiknya kita pulang saja deh.. A.. Aku.. Aku sedikit lelah.."
Mahavir tertawa namun dengan ekspresi menyeramkan, lalu kembali memandangi Rachel. "Boleh, lebih bagus malah. Jadi sampai rumah aku bisa langsung memakanmu." Ujar Mahavir dengan menampilkan seringai yang membuat Rachel mendadak pias.
"Hah?... Hmmm..." Rachel tertunduk, melambatkan langkahnya dan sedikit menjaga jarak. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
Mahavir yang berjalan didepan berusaha menahan senyumnya. "Jangan jauh-jauh." Ucapnya lalu menarik tangan Rachel dan merangkul bahunya. Menuntun wanita itu melewati lorong kecil yang diapit oleh bangunan tinggi di kiri kanannya.
Melihat jalan sepi yang mereka lintasi menambah kewaspadaan Rachel. "Emmm... Vir, sepertinya aku kurang enak badan. Sebaiknya kita pulang saja." Berusaha melepaskan rangkulan Mahavir.
"Kamu harus ikut sayang...." Mencengkram kuat bahu Rachel lalu kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Rachel. "Semua sudah dipersiapkan. Sayangkan kalau hidangan utamanya malah tidak ada?" Bisiknya, semakin membuat Rachel gemetar ketakutan.
Ragu-ragu Rachel bertanya. "Vir, Kamu tidak seperti yang di film-film...." menjeda dengan menelan ludahnya, lalu melanjutkan ucapannya. "....yang psikopat begitu kan?"
"Tahu apa kamu tentangku?" melotot tajam Rachel seakan ingin menerkamnya. "Ahh, aku sudah lelah bersikap lembut padamu, sekarang sudah waktunya aku membalasmu." lanjutnya tersenyum sinis.
GLEK'....
Terdengar suara dari kerongkongan Rachel yang berusaha menelan ludahnya kuat-kuat. Kedua kakinya melangkah satu persatu dengan berat.
"Vir, kita pulang saja yah...." Memelas ketakutan.
Mahavir memalingkan wajahnya berusaha menahan tawanya selama beberapa saat, lalu kembali menatap Rachel dengan ekspresi dingin. "Percepat langkahmu, kalau tidak aku akan menggendongmu." Membungkuk ingin mengangkat tubuh Rachel.
"Ja.. Jangan... Aku bisa jalan sendiri." Ucap Rachel terbata-bata sambil menepis tangan Mahavir yang sudah akan menggendongnya.
Saat mereka sampai di taman di pinggiran sungai Thames, Mahavir mengeluarkan pita dari balik longcoat-nya lalu menutup mata Rachel.
"Untuk apa mataku di tutup? Vir, kamu tidak akan macam-macam kan?" Suara Rachel mulai bergetar, keringat dingin mulai nampak berjatuhan membasahi keningnya. Tangannya bergerak menarik pita yang menutupi matanya.
"Aku hanya akan menghukummu sedikit karena tidak pernah mau merindukanku." Kembali menutup mata Rachel, kemudian menarik tangan Rachel untuk kembali melangkah mengikutinya, namun sekali lagi Rachel menipis tangan Mahavir.
"Vir, jangan macam-macam.... Aku akan teriak sekarang..."
Mahavir menghela nafas, "Hanya satu macam, ikut saja..."
"Tapi.... " Kedua tangan Rachel semakin bergetar. Telapak tangannya terasa begitu dingin.
Tidak tega melihat Rachel yang ketakutan, Mahavir mengecup kening Rachel dan berucap dengan lembut. "Percaya padaku..." Ucapnya dengan menggenggam tangan Rachel dan menghangatkannya.
Mahavir pun kembali menuntun Rachel berjalan walaupun terkesan seperti seorang penculik yang memaksa korbannya mengikutinya.
Dengan langkah terseret-seret, Mahavir membawa Rachel menuju Westminster Pier. Lokasi yang berada tepat di seberang London Eye. Dimana sudah ada kapal pesiar kecil yang menunggu mereka sedari tadi.
Dengan mata tertutup Rachel pun di tuntun memasuki kapal itu. Melewati lantai dasar kapal yang tertutup lalu menaiki anak tangga hingga sampai ke atas badan kapal yang terbuka setengahnya.
"Vir kita dimana?" tanya Rachel dengan menggenggam kuat tangan Mahavir. Suara riak air dan pijakan dibawah kakinya yang terasa bergoyang membuatnya mengetahui bahwa ia sedang berada di atas sungai. "Kamu tidak berniat menceburkanku ke Sungai kan?"
Mahavir masih tak menjawab, ia semakin menuntun Rachel ke sisi atas kapal yang sudah dihias dengan berbagai macam bunga, di sana sudah tersedia satu buah meja dengan berbagai hidangan spesial dan beberapa lilin sebagai pemanis serta dua buah kursi yang saling berhadapan di balik meja persegi itu.
Mahavir mendudukkan Rachel pada salah satu kursi lalu pelan-pelan membuka pita yang menutupi kedua mata Rachel.
Rachel sedikit mengerjap-ngerjap. Bulu matanya yang lentik saling bergesekan. Pelan-pelan matanya terbuka dan langsung disambut dengan cahaya dari api lilin. sedikit mengangkat wajahnya, tampak rangkaian berbagai macam bunga yang telah didekor sedemikian cantiknya di sekelilingnya, pandangan matanya pun melebar lebih jauh, membuat netranya menangkap pemandangan sungai panjang yang terlihat indah di malam hari. Lampu-lampu dari bangunan tinggi terlihat membayang dan terpantul di atas permukaan air, layaknya sebuah cermin bagi bangunan-bangunan yang ada di sepanjang sungai itu.
Butiran bening tampak terjatuh dari sudut mata Rachel, airmata ketakutan yang tadi sempat dia bendung di pelupuk matanya kini terjatuh dan mengalir bebas membasahi pipinya karena rasa haru atas kejutan itu.
Melihat air mata Rachel, Mahavir langsung menarik kursi Rachel dan bersimpuh didepannya. "Kenapa menangis sayang?"
Rachel kembali terisak, menatap Mahavir dengan tatapan penuh kekesalan. Sementara kedua tangannya terangkat memukuli dada Mahavir. "Kamu jahat, tadi aku ketakutan setengah mati." Ucapnya masih terus menghujani Mahavir dengan pukulannya.
Mahavir menahan kedua tangan Rachel dengan menggenggamnya, lalu mengecup kedua punggung tangan itu. "Maaf....." Ucapnya lalu kedua tangannya terangkat mengusap airmata yang ada kedua pipi Rachel. "Apa sampai sekarang kamu belum mempercayaiku? Apa kamu pikir aku mampu untuk menyakitimu?"
"Tapi kan...." Rachel menggantung ucapannya dan langsung melingkarkan tangannya ke leher Mahavir, memeluk erat Mahavir yang duduk bersimpuh di depannya. "Aku kan belum terlalu mengenalmu....aku kira kamu seperti yang di film-film."
Mahavir menahan senyumnya, tangannya bergerak mengusap lembut punggung Rachel. "Bodoh, sudah berapa banyak film-film itu merusak otakmu?"
Rachel melepaskan pelukannya lalu mengerucutkan bibirnya. "Kan bisa saja...."
Kembali Mahavir tersenyum menahan tawa, tangan kirinya menggenggam erat tangan Rachel, sementara tangan kanannya terangkat membelai pipi Rachel. Menatap manik mata Rachel dengan tatapan teduhnya. "Ternyata selama ini kamu masih menganggap ku orang asing yah...."
Rachel merasa bersalah, dengan cepat ia menggeleng. "Maaf... Aku....."
CUP'....
Mahavir mengecup bibir Rachel sekilas dan kembali menatapnya. "Tak apa, aku akan membuatmu mempercayaiku...." Kemudian tangan yang membelai pipi Rachel bergerak menyusup ke tengkuk Rachel, dan mengunci pergerakan dari kepala wanita itu. Perlahan namun pasti, wajah Mahavir kembali mendekat ke wajah Rachel hingga bibir mereka saling bertemu dan bertautan. Mencecap kedua bibir merekah Rachel dengan lembut, hingga melesatkan ujung lidahnya masuk menjelajah lebih dalam.
Rachel memejamkan kedua matanya, memberikan akses pada laki-laki yang baru saja menjahilinya. Sementara jari-jemarinya meremas kerah longcoat Mahavir, membuat ciuman itu lebih dalam.
Saat keduanya sudah merasa kehilangan nafas, mereka pun mengakhiri ciuman itu. Mahavir tersenyum dan mengusap bibir Rachel yang masih basah. "Aku punya hadiah untukmu." Ucapnya kemudian bangkit dan berjalan ke belakang Rachel. Meraih kotak kecil dari balik jas yang dikenakannya lalu mengeluarkan isinya.
Rachel tersentak saat sesuatu yang terasa dingin tiba-tiba melingkar di leher jenjangnya. Ia menunduk disertai jarinya yang terangkat memegangi benda yang melingkar dan bersinar dengan indahnya.
Sebuah kalung dengan model sederhana namun berhiaskan batu berlian Ruby, berbentuk buah pear berwarna merah ditengah-tengah dan berlian-berlian kecil berwarna putih di mengelilinginya.
Setelah memakaikan kalung itu, Mahavir kembali kehadapan Rachel dan berlutut didepannya. "Suka?"
Rachel mengangguk pelan dengan seulas senyum terbentuk di kedua bibirnya. Dia masih fokus mengamati benda yang melingkar di lehernya.
"Itu Batu berlian Ruby, sejenis dengan Batu yang ada pada kalung Heart of the Kingdom. Aku memesannya secara khusus pada pengrajin terkenal di Perancis."
"Selesai dalam dua hari?"
"Tidak, aku sudah memesannya saat kita menikah. Kebetulan kemarin saat aku mengeceknya, ternyata sudah selesai."
Rachel memicing matanya dan menatap Mahavir. "Pasti Mahal yah?"
Mahavir tersenyum lalu menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Rachel. "Lain kali percayalah padaku, aku sangat menyayangimu... jangan pernah meragukanku. Nyawaku pun akan aku berikan padamu bila perlu."
Kembali Rachel mengulas senyumnya, tangannya bergerak mengusap dan memainkan anak rambut Mahavir.
Merasakan usapan tangan Rachel membuat Mahavir merasa damai dan semakin menyusupkan kepalanya ke perut Rachel, tangannya pun ikut melingkar memeluk dengan eratnya. Hingga detik berikutnya terdengar suara gemuruh dari perut yang dipeluknya.
"Sayang, suara apa itu?" Goda Mahavir.
Rachel yang menyadari suara itu berasal dari perutnya, dengan cepat mendorong kepala Mahavir menjauh. "I.. Ituuu... Su.. Suara angin..." Ucapnya dengan rona malu di wajahnya. Namun kembali suara gemuruh itu terdengar lagi.
Mahavir tersenyum menahan tawa lalu mengusap perut Rachel. "Kasihan, lapar yah...." Ucapnya seakan menemani perut Rachel berbicara.
Tangan Rachel bergerak menepis tangan Mahavir, wajahnya sudah sangat memerah menahan malu. "Ka.. Kalau sudah tahu sana... Jangan menggoda ku terus...!"
Mahavir pun bangkit dan mendorong maju kursi Rachel hingga menempel pada meja. Ia pun menempati kursinya dan membuka penutup berbahan stainless dari makanan yang tersaji. Dua hidangan Tenderloin steak dengan salad sayuran, beserta beberapa makanan pendamping. Tak ketinggalan pula sebotol Red Wine sebagai pemanis suasana romantis itu.
Mahavir menarik piring di hadapannya lalu meraih pisau dan garpu yang ada disisi kiri dan kanannya. "Kamu pasti tidak makan siang kan tadi?" Terka Mahavir, sambil memotong-motong daging steak menjadi potongan lebih kecil. Setelah itu ia menukar dengan steak yang ada di hadapan Rachel. "Nih, makanlah... Nanti cacingmu kembali bernyanyi." Ledeknya.
Rachel terdiam merengut tanpa berkata-kata. Membuat Mahavir kembali menatapnya.
"Kenapa? Mau disuapin?"
Rachel melototkan matanya lalu meraih garpu dan langsung menusuk steak yang sudah Mahavir potong tadi. "Aku bisa makan sendiri." Jawabnya dengan ketus dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sekilas ia melihat simbol yang terdapat pada beberapa bagian kapal itu, simbol yang sama yang ada pada dua mobil Mahavir dan beberapa barang di Penthouse mereka.
"Vir, simbol apa itu?" Tanyanya sambil menunjuk dengan sorot matanya.
Mahavir mengikuti arah pandangan Rachel. "Oh, itu simbol keluarga Alister."
"Berarti kapal pesiar ini milikmu?"
Mahavir menggeleng dan tersenyum. "Pinjam milik Presdir."
Rachel tersenyum geli lalu kembali mengamati pemandangan sekitar.
Kapal itu berjalan dengan pelannya, membawa mereka menyusuri sungai panjang yang membelah kota London. Ditemani dengan tampilan beberapa tempat dan bangunan-bangunan ikonik di sisi sungai yang tampak berdiri dengan megahnya.
Mahavir menikmati makanannya dengan netra yang tak henti-hentinya memandangi wajah Rachel. Memuja dan mengagumi setiap Inci yang ada pada wajah pujaan hatinya.
Udara semakin dingin, semilir angin semakin kuat berembus. Beberapa tetes hujan tiba-tiba berjatuhan menyentuh permukaan kulit mereka.
Rachel menengadahkan telapak tangannya menangkap tetesan hujan itu. "Kenapa tiba-tiba hujan? Ramalan cuaca hari ini tidak mengatakan kalau akan hujan malam ini."
"Entahlah, mungkin hanya hujan lewat." Ucap Mahavir santai seraya menuangkan Red Wine ke gelas Rachel. Rachel langsung menyambar gelas itu dan menggoyang-goyangkannya selama beberapa saat lalu meneguknya sedikit demi sedikit.
"Kamu suka Wine nya?"
"Hmmm" Mengangguk dan tersenyum. "Rasanya manis..." Kembali menyodorkan gelasnya yang sudah kosong.
Mahavir kembali menuangkan Red Wine ke gelas Rachel tapi dengan porsi yang lebih sedikit dari yang tadi. "Jangan minum terlalu banyak. Aku tidak mau menggendongmu sepulang dari sini."
Rachel terkekeh dan kembali menggoyang-goyangkannya gelas kristal di tangannya. "Kamu juga coba, rasanya enak..."
Mahavir pun menuangkan ke gelasnya sendiri. Belum sempat Mahavir meneguknya, curahan hujan tiba-tiba berjatuhan. Hujan yang tadinya hanya sekedar rintik kecil, berubah menjadi curahan yang cukup deras. Baik Rachel dan Mahavir refleks berlari ke sisi kapal yang beratap. Udara dingin pun semakin kuat menusuk, memaksa keduanya masuk ke dalam badan kapal untuk mencari kehangatan.
Sebuah ruang kabin yang cukup luas menjadi pelarian mereka, sebuah kabin yang lengkap dengan berbagai perabotan mewah. Sepasang sofa berwarna biru laut serta tempat tidur dengan bedcover berwarna senada ikut mengisi ruang kabin itu.
* * * *
Happy Reading.... 🥰