Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 101.Awal kebencian padanya...


Karena permintaan Rachel pada daddy-nya, akhirnya anak laki-laki yang dikenalnya di panti asuhan itu dapat ikut bersekolah di sekolahnya. Dari cerita yang di dengarnya dari sang daddy, Rachel mengetahui kalau anak itu sangat bahagia bisa kembali bersekolah.


Pikiran positif gadis belia itu tak membuatnya bisa mengira kalau tempat itu bukanlah tempat seharusnya anak itu berada. Rachel hanya melihat dari sisi dirinya, dan sama sekali tidak melihat dari sisi anak itu. Yang dia tahu hanyalah anak laki-laki itu bisa kembali bersekolah seperti dirinya. Karena Rachel tak pernah memilih dan melihat teman dari penampilannya saja, maka Rachel pikir semua orang juga akan berfikir sama sepertinya. Tapi ia salah besar.


Anak laki-laki itu yang muncul di hari pertamanya sekolah dengan penampilan yang sangat berbanding jauh dengan seluruh anak di sekolah itu langsung mencuri perhatian. Penampilan dekilnya membuat seluruh mata melihat jijik padanya. Tak ada satu siswa pun yang mau mendekat dan berteman dengannya. Bahkan anak itu langsung menerima bully-an di hari pertamanya.


Rachel pikir mungkin anak itu di bully karena seragamnya yang berbeda. Sehingga sepulang sekolah Rachel langsung memecahkan celengannya, mengambil seluruh isinya dan membawanya ke tata usaha sekolah keesokan harinya. Tanpa sepengetahuan daddy-nya, Rachel membelikan anak laki-laki itu seragam sekolah lengkap seperti anak-anak lainnya dan meminta Pak Maman, supir daddy-nya yang saat itu masih terbilang masih muda untuk menitipkan seragam itu di panti dan mengatakan kalau itu pemberian dari sekolah.


Senyum Rachel terbit tatkala melihat anak laki-laki yang belum dia ketahui namanya itu masuk sekolah menggunakan seragam yang diam-diam telah dibelinya.


Tapi biarpun begitu masih ada anak yang usil mengganggunya. Saat anak laki-laki itu berjalan di koridor sekolah, salah satu anak lainnya menjulurkan kakinya tepat ketika anak laki-laki itu hendak melangkah. Membuat anak laki-laki itu jatuh terjerembab ke lantai.


Kejadian itu terjadi tepat di depan kedua mata Rachel. Melihat itu Rachel pun segera membantu anak itu berdiri.


"Hei, kalian tidak boleh seperti itu padanya. Jangan mengganggunya terus, atau akan ku laporkan sikap kalian itu." Ucap Rachel saat itu.


Dan sejak saat itu, Rachel selalu membantu anak laki-laki itu setiap kali di bully. Rachel pun tak segan-segan melaporkan semua anak yang kedapatan membully-nya. Hingga beberapa anak sering mengganggu anak itu dengan sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Rachel. Rachel pun berfikir anak itu sudah tak di bully lagi.


Namun suatu hari Rachel mendengar suara tangisan seseorang dari arah tembok belakang. Rachel melangkah mengendap-endap dan menemukan seorang anak laki-laki sedang meringkuk menutupi wajahnya di kedua lututnya. Sedang menangis dengan tersedu-sedu.


"Heii..cowok kok nangis??" Tegurnya. Sedikit membungkuk ke depan anak yang duduk di lantai itu.


Anak laki-laki itu sontak mengangkat wajahnya dan terlihat terkejut melihat sosok gadis yang di depannya.


Rachel tersenyum, lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sapu tangan berwarna pink bermotif princess. "Nih.. Lap air mata nya" Ucapnya lembut, menyodorkan sapu tangannya dan ikut duduk di samping anak itu.


Anak laki-laki itu menerima saputangan itu dengan canggung, lalu segera mengusap airmata yang tersisa di kedua pipinya.


"Mereka mengganggumu lagi?"


Anak laki-laki itu menunduk. Diam membisu.


"Kamu disini mau belajar kan? Jadi jangan dimasukkan ke hati semua perkataan anak-anak itu, anggap mereka itu cuma angin." Rachel terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke dinding tepat di sisi anak itu dan menatap kosong ke langit biru. "Jangan buat aku menyesal karena telah membuatmu berada di sini." Lanjutnya, lalu menoleh memandangi anak laki-laki itu. Anak itu hanya memandangi Rachel dengan tatapan bingung. Tak memahami maksud perkataan gadis itu.


"Kamu tak akan sukses kalau mendengarkan semua perkataan-perkataan buruk mereka. Lawan mereka. Jangan biarkan mereka menghinamu lagi. Disini tempat kita menimba ilmu. Kita semua mempunyai hak yang sama. Jadi belajarlah lebih rajin lagi. Buktikan kalau mereka tidak lebih baik darimu. Berusahalah kejar semua keinginanmu yang terpendam. Berusahalah jadi anak yang pandai hingga kelak menjadi orang yang sukses."


Anak laki-laki itu tertegun memandangi Rachel yang masih menatap ke arah langit. Mengamati wajah cantik dengan hati seputih malaikat, sangat begitu bersinar di mata anak laki-laki itu.


"Mmm...ka...ka...kalau..kalau suatu saat aku bisa jadi orang yang sukses, kamu mau berteman denganku?" Tanyanya ragu-ragu dan menahan malu.


Rachel menoleh ke arahnya, dengan cepat anak itu memalingkan wajahnya bersembunyi. "Bukannya kita sudah berteman?"


Anak laki-laki itu menunduk dan tersenyum canggung sambil menggaruk pelipisnya karena salah tingkah.


Melihat anak itu yang terlihat malu-malu, Rachel menahan senyumnya.


"Aku akan dengan senang hati menunggu kesuksesanmu. Saat itu terjadi jangan lupakan aku yah? cari aku dan datanglah padaku." Ucap Rachel yang membuat anak laki-laki itu mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatapnya dengan lekat. Rachel mengulas senyum, senyum yang teramat manis di mata anak laki-laki itu. Anak laki-laki itu merona melihat senyum Rachel. Namun terlihat jelas kalau perkataan Rachel membuat semangatnya bangkit.


"Oh iya, sepedanya kamu pakai saja. Aku dengar katanya kamu mau mengembalikannya. Kenapa?"


"Mm.. Itu.. Katanya itu sepeda mahal." lirihnya, nyaris tak kedengaran.


"Astaga, sepeda itu sudah tak pernah ku pakai, aku sudah punya sepeda baru. Kalau kamu mengembalikannya, lalu mau naik apa ke sekolah? Nanti bisa terlambat kalau jalan kaki."


"Ta... Tapi..."


"Sudah, pakai saja. Anggap aku meminjamkannya padamu. Suatu hari nanti, kamu bisa menggantinya dengan memboncengiku berkeliling. Kalau bisa kita bersepeda keliling dunia hingga ke Inggris." Rachel tertawa renyah, membuat kedua matanya menyipit hingga bola matanya tak terlihat, membuat tawanya itu juga menular pada anak laki-laki di sampingnya.


Melihat anak itu sudah kembali ceria, Rachel pun bangkit berdiri dan menepuk-nepuk rok seragamnya. "Masih mau disini?"


Anak laki-laki itu mengangguk tanpa berucap dan mengubah posisi duduknya menjadi bersila di lantai. Dan saat itu barulah Rachel mengetahui nama anak itu dari nametag yang terpasang di seragam kemejanya.


'Dirman. M.' Rachel membaca nametag itu dan terus mengulang-ulang agar tersimpan di memorinya. Namamu akan aku ingat selamanya... Dirman M.


Kembali Rachel mengulas senyum kemudian mengelus puncak kepala Anak bernama Dirman itu. "Semangat..!!" Ucapnya lalu melangkah meninggalkan Dirman yang bersemu merah sambil mengusap-usap kepalanya bekas usapan tangan gadis belia yang selama ini membuatnya berdebar-debar.


Sejak saat itu Dirman mulai belajar dengan sungguh-sungguh. Dia sudah bertekad untuk menjadi orang pandai. IQ nya yang di atas rata-rata membuatnya bisa menerima pelajaran dengan sangat lancar.


Penaikan kelas berikutnya Dirman bisa membuktikan dirinya dengan masuk dalam peringkat sepuluh. Mendengar itu, Rachel begitu gembira, hingga ia begitu antusias untuk memberitahukannya pada daddy-nya.


"DADDY...." Teriak Rachel membuka pintu ruang kerja daddy-nya. Ia berlari kecil menghampiri daddy-nya yang terduduk di sofa dan langsung menjatuhkan tubuhnya dipangkuan orang tuanya itu.


"Ada kabar apa sampai sesenang ini?" Tanya Pak Wijaya sambil mengusap sayang rambut belakang putrinya.


"Daddy masih ingat sama anak yang daddy masukkan ke sekolah itu?"


"Mmmm... yang anak asuhan Ibu Mirna yah?"


Rachel mengangguk dalam senyumnya. "Dia ternyata masuk peringkat sepuluh. Hebat kan dad?"


"Wah hebat.., ternyata dia belajar dengan sungguh-sungguh. Tapi putri daddy lebih hebat karena bisa membuatnya bersekolah lagi."


Rachel merona dan tersenyum bangga. "Thank you daddy..." Memeluk dan mengecup pipi kanan daddy-nya. "Makanya daddy beri dia hadiah, agar lebih semangat lagi."


Rachel mengangguk mantap.


"Hadiah apa yang harus daddy berikan padanya?"


"Daddy bisa mengundangnya ke sini? Dia pasti senang karena belum pernah masuk ke dalam rumah seperti rumah kita."


Pak Wijaya tertawa kecil, masih mengusap lembut kepala putrinya. "Boleh, daddy akan mengundangnya kemari dan meminta mommy memasak makanan yang paling enak. Lalu apa lagi?"


"Mmmm...itu...Apa daddy tak bisa mengadopsinya? Biar dia bisa tinggal bersama kita. Rachel menyukainya dad. Dia anak yang lucu dan menyenangkan.


"Are you sure?" (Kamu yakin)


"I'm sure daddy....Rachel kasihan padanya yang dijauhin sama teman-teman. Dia gak punya teman di sekolah. Kalau tinggal bersama kita pasti dia tak akan kesepian."


"Okey, nanti daddy bicara padanya."


"Thankyou daddy, Rachel love daddy..." girangnya dan kembali mengecup pipi daddy-nya.


"Love you more dear..."


Pak Wijaya pun akhirnya melaksanakan permintaan putrinya. Beliau mengundang Dirman berkunjung ke kediamannya yang begitu luas lagi megah.


Diam-diam Rachel mengintip Dirman yang terkagum-kagum dengan rumahnya dari balik dinding. Karena saat itu Rachel ada kelas balet, Rachel pun tak dapat ikut makan bersama Dirman. Dipikirnya, Dirman akan menerima untuk bisa tinggal di rumahnya sehingga akan ada banyak kesempatan untuk makan bersama.


Namun saat mendengar kalau Dirman menolak kesempatan itu, Rachel jadi kecewa. Dirman meminta diberi pekerjaan daripada menerima begitu saja pemberian Pak Wijaya. Ia lebih memilih untuk menjadi tukang bersih-bersih di rumah besarnya dibanding menjadi anggota keluarganya. Rachel sempat protes pada daddy-nya dan Pak Wijaya berkata kalau ia menghargai keinginan anak itu. Justru daddy-nya malah bangga dengan Dirman yang selalu rendah hati dan pekerja keras.


Padahal Rachel berharap Dirman tak lagi di rendahkan oleh teman sekolahnya. Tapi kini teman-temannya malah mengatai Dirman tukang kebun. Rachel tak bisa lagi mengelak dari cemohan teman-temannya karena memang begitu kenyataannya.


Karena kesal Rachel pun malas bertemu dengan Dirman baik di sekolah maupun di rumahnya. Saat Dirman datang di rumahnya pun, Rachel akan berdiam diri di kamar.


Hari-hari pun berlalu, Rachel sudah tak pernah bertemu dengan Dirman disekolahan. Bak hilang di telan bumi. Rachel mengira Dirman marah karena sudah menghindarinya.


Yang Rachel tak ketahui, bahwa Dirman mulai tekun belajar. Sejak mendapat pujian dari Pak Wijaya, Dirman semakin bertekad menjadi anak yang pandai. Ia sudah tak lagi terpengaruh oleh bully-an teman-temannya, apapun cacian teman-temannya dianggapnya angin lalu. Dirman lebih banyak menghabiskan waktunya bersembunyi di balik buku-buku di dalam perpustakaan. Baik saat jam istirahat maupun saat pulang sekolah. Dan baru pulang saat gerbang sekolah akan ditutup di sore hari.


Dan akhirnya Dirman bisa lulus sekolah Menengah pertama dengan nilai yang sangat memuaskan. Ia pun akhirnya mendapat beasiswa untuk lanjut ke SMA Langdon internasional School yang bangunannya masih satu kawasan dengan SMP sebelumnya.


Di SMA itu Dirman akhirnya mempunyai seorang kawan yang semakin akrab dengannya.


Diam-diam Rachel mencuri-curi mengamati perubahan sikap Dirman yang sudah terlihat ceria dan percaya diri. Awalnya Rachel ikut gembira dengan perubahan itu. Apalagi sudah ada anak lain yang mau berteman dengannya


Keakraban Dirman dengan seorang anak laki-laki bernama Reynold membuat dunia Dirman tak lagi sepi, Dirman banyak mempelajari hal baru bersama teman sebaya sesama laki-laki. Keduanya jadi lebih sering menghabiskan waktu bersama dimanapun dan kapanpun juga, hingga tak sadar kalau sikapnya itu malah membuat seorang gadis merasa terabaikan.


Rachel pikir, Dirman masih marah padanya dan sudah tidak membutuhkan dirinya lagi, hingga Rachel pun semakin menjauh.


Dalam kekecewaan itu, Rachel malah setiap saat mendengar daddy-nya selalu memuji-muji Dirman, begitupun dengan mommy-nya. Bahkan adik kecilnya yang sudah banyak bicara pun hanya ingin bermain bersama Dirman. Rachel bahkan sudah jarang bermain dengan adiknya sendiri karena sikap Dirman yang terlihat posesif pada adiknya.


Dirman sukses membuat semua orang dirumahnya terpikat padanya.


Rachel menjadi jengah. Seolah seluruh perhatian keluarganya kini beralih pada Dirman. Begitupun di sekolah. Karena Dirman selalu meraih penghargaan, guru-guru pun terus memujinya. Rachel yang sebelumnya selalu mendapat pujian kini beralih ke Dirman. Perlahan-lahan Dirman menggeser semua posisinya. Mengambil semua yang Rachel miliki.


Lambat laun Rachel merasa semakin kesepian, rasa kesepiannya itu di lampiaskannya dengan membuka diri dan bergaul dengan banyak teman.


Di mata Rachel, Dirman sudah sangat berubah. Dirman yang tadinya sangat pendiam tumbuh menjadi pemuda yang percaya diri, berani dan sudah banyak bicara. Dirman bahkan sudah berani terang-terangan menggodanya. Menyatakan cinta padanya. Membuntutinya kemanapun Rachel berada bak anak ayam yang mengekori induknya. Rachel menjadi risih karenanya, apalagi kelakuan Dirman membuat Rachel diledek oleh teman-temannya. Dirman yang sudah kebal dengan bully-an, sudah tak menghiraukan itu semua, tapi berbeda dengan Rachel. Semakin lama Rachel menjadi muak pada Dirman. Hingga akhirnya Rachel mulai bersikap dingin.


Kebencian Rachel semakin hari semakin besar dari hari ke hari, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun. Hingga di tahun terakhir di SMA, Dirman malah sekelas dengannya, dan semakin ikut campur dalam urusan pribadinya. Setiap kali ada pemuda dari sekolah itu maupun dari sekolah luar yang tertarik dan dekat dengannya, Dirman akan mengacaukan semuanya. Saat Rachel sembunyi-sembunyi ingin hangout bersama teman-teman lelakinya, Dirman selalu sukses menggagalkannya. Dirman bahkan melaporkan semua itu pada Pak Wijaya. Membuat Rachel berkali-kali mendapat teguran dari daddy-nya. Membuat hubungannya dengan daddy-nya menjadi renggang. Rachel sudah tak lagi bisa bermanja-manja dengan daddy-nya, dan itu semua karena ulah Dirman. Dirman, Dirman, dan Dirman...!!


Itulah awal kebencian Rachel pada laki-laki bernama Dirman. Laki-laki yang semakin masuk dalam kehidupannya. Yang sebenarnya Rachel sendirilah yang membawanya masuk ke dalam kehidupannya.


Flashback off...


Rachel membuka kedua matanya. Suara derit pintu terbuka menarik alam pikirannya dari ingatan bayang-bayang masa lalu. Pelan-pelan Rachel membalik tubuhnya. Sahabat beserta adiknya muncul dari pintu yang terbuka itu.


"Bryan.... Kapan datang? Bagaimana kuliahmu?" tanyanya dengan intonasi yang begitu lemah.


Bryan tak menjawab, ia langsung menghampiri Rachel dan duduk di pinggiran brankar kakaknya. Sementara Raya hanya berdiri di sisi brankar.


Rachel menatap sayu adiknya. Ia bisa melihat sisa-sisa tangisan pada mata adiknya itu. Rachel sangat mengenalnya. Ketimbang dirinya, Bryan jauh lebih menyayangi Mahavir. Diraihnya tangan Bryan lalu diggenggamnya.


"Bryan... Maafkan kakak....." Lirihnya dengan sekuat tenaga menahan tangisnya.


Bryan mengangguk pelan sembari mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Sama-sama mencoba menahan tangis.


"Kakak sudah bersalah, kakak menyesal. Kakak...kakak membuatnya meninggalkan kita." Lirihnya semakin berusaha kuat menahan tangis. "Maafkan kakak, Bryan...." Lanjutnya. Dan tangisnya pun kembali pecah.


Buru-buru Bryan memeluk tubuh kakaknya yang bergetar karena tangisnya. "Sudahlah kak, tak usah menyalahkan diri seperti itu. Aku mengerti situasi kakak. Aku juga bersalah pada kakak. Jangan seperti ini. Kak Vir pasti tak mau kakak seperti ini. Dia akan kembali. Cepat atau lambat, kak Vir pasti akan kembali."


Raya yang berada di tengah-tengah mereka ikut menitikkan airmatanya. Perlahan-lahan Raya melangkah mundur dan keluar dari sana. Memberikan waktu pada kakak beradik itu untuk saling menghibur.


* * *