Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 29.Perjalanan ke Pulau.


"Rey, kamu sudah panggil orang hotel untuk kesini ambil mobil?"


"Iyya, dia sudah dijalan!! Tahu begitu tadi kita minta diantar sopir saja."


"Kan tidak kepikiran." Jawab Mahavir santai sambil memainkan ponselnya. "Ini tempatnya tidak salah?"


"Sudah benar, nih sesuai titik Share location dari Bryan kan?" Tanya Rey mencoba memastikan.


Mahavir memperlihatkan chat dari Bryan pada Rey.


"Sudah betul kok!"


"Tapi kenapa mereka belum sampai-sampai juga?" Kening Mahavir mulai berkerut. Pandangannya fokus ke arah jalan masuk dermaga dengan konsep Butterfly Cruise Port yang sayap-sayap nya dipenuhi beberapa yacht pribadi.


"Tunggu saja...!" Pinta Rey pada Mahavir yang tidak sabaran. "Mungkin jalanan macet."


Tidak berapa lama dari kejauhan terlihat dua wanita dan satu orang laki-laki berjalan mendekat. Mereka adalah Rachel, Raya dan Bryan.


"Katanya kita cuma bertiga?" Tanya Raya ketika melihat Mahavir dan Rey yang cengar-cengir melihat kedatangan mereka.


"Entahlah, pasti ada orang yang sudah melapor." Rachel melirik Bryan dengan kesal. Bryan berpura-pura tak mendengar lalu berjalan mendahului dua wanita yang sedang menggunjingkannya begitu menangkap sosok kakak iparnya.


Mahavir menghampiri Bryan dan mengambil tas jinjingan Rachel yang dibawakan boleh Bryan dan menuntun mereka menuju ke sebuah yacht.


"Kok lama? Aku sudah menunggu dari tadi." Tanya Mahavir pada Bryan.


"Tadi kelamaan bujukin kak Raya buat..."


"Kelamaan karena Bryan di tahan oleh calon mertuanya dulu." Potong Rachel sedikit tertawa kecil menggoda adiknya.


"Calon mertua?" Tanya Mahavir berbarengan dengan Rey.


"Iyya, sepertinya mama Raya ngebet mau jodohin Bryan dengan Raya." Ujar Rachel yang kemudian di tarik oleh Raya.


Rey dan Mahavir saling pandang, dan saling bicara dengan bahasa mata mereka.


"Jangan nyebar gosip deh!" Bisik Raya pada Rachel. Rachel hanya tersenyum lebar sambil berusaha naik keatas yacht.


"Sudah tidak marah?" Tanya Mahavir melihat senyum lebar Rachel yang terkembang.


"Tau...!!" Raut wajah Rachel berubah dingin.


"Marah nya di skip dulu yah.., banyak orang!!" Bisik Mahavir ke telinga Rachel. Rachel hanya mengangguk sembari naik ke atas yacht dipegangi oleh Mahavir.


"Eeh.. Rachel bantuin dong!" Pinta Raya yang sedikit kesulitan naik ke yacht. Dengan tanggap Rey dan Bryan mengulurkan tangan mereka ke hadapan Raya membuat Raya menatap keduanya bergantian.


Rey melirik Bryan dengan tajam, membuat Bryan menarik tangannya dan berbalik lalu melangkah kedalam yacht. Ketika Raya akan menerima tangan Rey, tiba-tiba ponsel Rey berdering hingga akhirnya Rachel yang menarik dan membantu Raya.


"Boss, orang hotel sudah sampai. Aku bawain kunci mobil dulu. Ini mobilnya mau diantar kemana?"


"Ke hotel saja, biar kalau kita pulang suruh mereka antar kesini lagi." Perintah Mahavir.


Setelah Rey kembali lagi, yacht pun kini bergerak membelah lautan menuju pulau tempat Aretha menunggu mereka.


Rachel duduk bersama Raya disisi kanan, Mahavir dan Rey disisi kiri dalam badan yacht. Sementara Bryan duduk diluar, diatas yacht dan tengah asyik memotret pemandangan laut.


Rachel dan Raya asyik memandangi pemandangan yang tersaji, rambut serta dress mereka beterbangan karena semilir angin yang menerpa mereka. Membuat penampilan keduanya terlihat seksi dan indah dipandang mata. Berkali-kali Mahavir dan Rey berusaha keras menelan saliva mereka karena melihat penampilan dua wanita cantik yang ada dihadapannya.


Saat Raya bangkit dan berjalan ke toilet, Mahavir dengan lincahnya berpindah tempat ke sisi Rachel lalu melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Rachel. Rachel sempat terkejut, tapi akhirnya dia membiarkan tangan itu karena terlena dengan indahnya panorama yang dilihatnya. Melihat tangannya tak ditepis membuat Mahavir menarik tubuh Rachel hingga bersandar pada dadanya dan semakin mengeratkan pelukannya. Rey yang melihat hanya bisa geleng-geleng kepala dan memalingkan wajah melihat birunya laut.


Raya yang baru kembali dari toilet mendapati Mahavir yang mengambil tempatnya. "Loh.. Itu kan tempat dudu..." Belum selesai bicara Raya di tarik oleh Rey.


"Duduk disini saja." Pinta Rey. "Jangan gangguin pengantin baru." Bisik Rey kemudian.


Raya mengerucutkan bibirnya dan akhirnya pasrah duduk disamping Rey. Dua jomblo itu pada akhirnya harus melihat keromantisan pasangan di depannya. Membuat Rey dan Raya jadi semakin canggung dengan mode Blush-On.


"Aku ke depan saja deh..." Ucap Raya dengan sedikit berbisik lalu bangkit dari duduknya, jiwa jomblo nya seakan meronta-ronta menyaksikan keromantisan sahabatnya. Sebenarnya inilah alasan mengapa tadi dia tidak ingin ikut. Dia tahu kedua sahabat nya mempunyai pasangan sementara dirinya seorang jomblo sejati. Ikut mereka hanya akan membuatnya menjadi obat nyamuk.


"Mau kemana? Disini saja." Rey menahan tangan Raya dengan pelan, tapi karena guncangan ombak yang sedikit menghentak membuat tubuh Raya terjatuh dan terduduk dalam pangkuan Rey. Sejenak mereka saling pandang, lalu masing-masing canggung dan langsung memperbaiki posisi duduk mereka saling menjauh dengan jarak sekitar satu meter diantaranya.


"Maaf" Ucap Raya dan Rey bersamaan. Hingga akhirnya mereka saling tersenyum. Senyum manis pertama yang diperlihatkan Raya kepada Rey.


Rey perlahan menggeser tubuhnya mendekat dengan Raya. Raya yang memang sudah berada di pojok sudah tidak bisa bergerak kala Rey sudah menempel disampingnya.


"Ada apa dekat-dekat?"


"Aku hanya ingin bicara, mungkin ada salah paham diantara kita."


"Salah paham??"


Rey menatap kedua mata Raya lekat, kemudian menarik tangan Raya. Ketika Rey hendak berbicara, Bryan tiba-tiba muncul dan mendapati keromantisan dari dua pasangan yang ada di hadapannya. Refleks Bryan berbalik dan kembali berjalan ke tempat semula, tak ingin mengganggu kegiatan orang-orang itu.


"Bryan, tunggu...." Panggil Raya, bangkit dari duduknya dan menyusul Bryan.


Mahavir menggerakkan kepalanya ke arah tempat Raya menghilang. "Kejar sana!" Begitulah kira-kira bahasa mata dari Mahavir. Rey mengangguk cepat dan menyusul Raya dan Bryan naik ke atas badan yacht.


"Kenapa dengan mereka?" Tanya Rachel yang bingung dengan kelakuan mereka.


"Apa kamu tidak bisa melihat nya?"


"Apa??"


"Rey itu suka dengan Raya dari dulu, bahkan sejak dari SMA dulu katanya."


"Oh, ya??? Pantas dia tadi terkejut mendengar Raya bakal dijodohin sama Bryan."


"Jadi itu betul?" Tanya Mahavir.


"Sepertinya mama Raya yang kepincut dengan Bryan. Kalau Raya kan sudah menganggap Bryan seperti adik."


"Bagaimana kalau Bryan dan Raya saling suka? Bagaimana menurut mu?"


Rachel berbalik menatap Mahavir. "Tidak mungkin!!" Ucapnya, Tersenyum manis dengan wajah yang dibuat menggemaskan.


Mahavir ikut tersenyum dan mencoba menahan diri. Tangannya kanannya bergerak memperbaiki anak-anak rambut Rachel yang beterbangan sementara tangan kirinya masih melingkar di pinggang Rachel. "Kamu sudah tidak marah kan?"


"Asal jangan seperti itu lagi." Rachel berbalik memunggungi Mahavir, mencoba menyembunyikan rona malu di kedua pipinya.


Dengan cepat Mahavir kembali menarik tubuh Rachel dan mendekapnya, lalu menjatuhkan kepalanya ke bahu Rachel. "Kamu tidak suka?" Bisik Mahavir ke telinga Rachel.


"Apanya?"


"Dicium seperti itu?"


"Ehmm...Bu.. bukan ti.. tidak suka, cuma aku tidak siap." Rachel berucap dengan terbata-bata.


"I...i.Itu terlalu liar." Lanjutnya dengan polos.


"Ciuman sebenarnya yah seperti itu sayang." Mahavir mengusap pucuk kepala Rachel. "Itu pertama kalinya kamu berciuman seperti itu?" Lanjutnya lagi, yang dia sendiri tahu kalau itu merupakan ciuman pertama Rachel.


Rachel tertunduk, pipinya semakin merah merona.


"Kalau aku mengulanginya sekarang, apa kamu siap?" Kembali Mahavir berbisik ke telinga Rachel, membuat jantung Rachel semakin berdetak kencang hingga menembus pendengaran Mahavir.


"Diam mu kuanggap persetujuan."


Jantung Rachel semakin berdetak tak karuan. Ingin berkata tidak tapi jauh di lubuk hatinya mengiyakan. Pelan-pelan tangan Mahavir semakin menarik tubuhnya dan mengangkatnya kedalam pangkuan Mahavir.


"Na.. Nanti ada yang lihat...."


"Mereka tidak akan kemari. Mereka semua orang yang peka." Mahavir berucap sembari jempolnya bergerak mengusap bibir ranum Rachel, lalu mengecupnya sekilas.


Kedua mata mereka bertemu. Bola mata bening berwarna Hazel milik Mahavir membuat Rachel terpaku. Sebaliknya, Rona wajah Rachel yang tersipu malu membuat Mahavir semakin berhasrat.


Tangan Mahavir bergerak memegangi tengkuk Rachel kemudian menyatukan bibir nya ke bibir Rachel. Mengulum bibir merah nan ranum milik Rachel dengan lembut secara bergantian. Berlama-lama menghisap rasa manis yang ada disana.


"Buka mulutmu sayang....dan balas ciuman ku......" Pinta Mahavir di sela-sela ciumannya.


Tangan kiri Mahavir semakin mengeratkan pelukannya ke pinggang Rachel. Sementara tangan kanannya masih berada di tengkuk kepala Rachel. Menahan kepala Rachel agar tidak bergerak.


Kedua tangan Rachel yang kini berada di dada bidang Mahavir semakin meremas kaos yang dikenakan oleh Mahavir. Perlahan dia membuka mulut nya untuk memberi akses lebih kepada Mahavir, tapi karena terkejut Rachel tidak sengaja menggigit lidah Mahavir.


"Awww, sakit sayang." Mahavir meringis kesakitan.


"Ma.. Maaf"


Mahavir tersenyum lalu menarik kepala Rachel bersandar di dadanya. "Tidak apa-apa." Ucapnya sambil mengusap usap kepala Rachel.


Rachel yang berada dalam dekapan Mahavir merasakan kehangatan dan kedamaian. Aroma parfume yang ada pada tubuh Mahavir melambungkan kesadarannya. Hingga membuatnya tertidur dengan lelapnya.


Saat melihat Rachel tertidur dengan lelapnya, muncul ide gila di benak Mahavir dan melakukan sesuatu yang mungkin akan membuat Rachel kembali kesal padanya.


"Nah... dengan begini dia tidak akan berani memaki bikini saat di pulau nanti."


Mahavir tersenyum puas melihat hasil kerjanya.


dan kembali mendekap tubuh Rachel dengan erat.


* * *


Mohon dukungannya..please like, komen dan Vote untuk membuat kk Author semakin rajin Up nya🙏🤗😍


Happy Reading, peluk cium dari Author... 🤗😘