Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 120.Bersimpuh deminya.


Beranjak dari panggung catwalk menuju belakang stage, Rachel langsung disambut dengan tepukan tangan yang riuh serta sorakan dari para kru tim kerjanya. Begitu juga Merry yang langsung menyambut Rachel dengan pelukan hangat. Wanita itu satu-satunya orang yang mengetahui kerja keras sang fashion desainer, juga bagaimana suasana hatinya saat ini. Rachel pun menerima sambutan mereka dengan suka cita. Walau kedua sudut bibirnya sangat terasa kaku membentuk lengkungan, namun ia terus berusaha mengulaskan senyum yang tak pernah surut sejak acara show-nya berlangsung.


Beberapa perwakilan dari majalah mode pun berbondong-bondong ingin melakukan wawancara singkat, Rachel menemui mereka dan hanya berbicara singkat. Menjawab beberapa pertanyaan yang bersifat umum tentang hasil rancangannya dan menolak media yang menyinggung kehidupan pribadinya. Tapi yang namanya media, tak pernah puas bila tak menemukan berita panas untuk di sebarkan. Terus menerus mengangkat topik mengenai gonjang-ganjing rumah tangganya yang sudah tercium media. Melihat Rachel yang kewalahan, Merry mencoba mengambil alih. Beruntung sebuah panggilan telepon masuk dari Kimmy membuat Rachel memiliki alasan untuk menyingkir dari tempat itu.


Dihelanya nafasnya panjang sebelum akhirnya mengangkat ponselnya. Di ujung sana, suara nyaring Kimmy langsung menyapanya dan memberi ucapan selamat, kemudian lanjut berbicara panjang tanpa jeda.


"Wait, wait..." Sela Rachel, karena perkataan Kimmy yang tak memiliki titik koma sehingga tak tertangkap jelas di pendengarannya.


Terdengar helaan napas sesaat dari seberang sana, kemudian kembali berucap. "Apa kamu tahu sekarang aku ada dimana?" Tanya Kimmy. Terdengar mendramatisir.


Rachel melengkungkan alisnya sesaat. "Bukannya kamu lagi di Paris? Persiapan Paris fashion week-kan?" Terkanya.


Kimmy mendecak kesal. "Oh my god! Ya iyalah, kamu jelas tahu hal itu. Maksudku, sekarang coba tebak aku sedang berada dimana?"


Rachel menggaruk pelipis seraya berfikir. "Apa sedang bersama Karl Lagerfeld? Pimpinan rumah mode Coco Chanel?" Tebaknya.


"Ok, ok, itu juga benar. Tapi ada yang lebih mengejutkan daripada itu." Pancing Kimmy dengan gemas. Rachel hanya terdiam menyimak sembari menatap salju yang kembali turun perlahan-lahan dari balik kaca tebal hotel tempatnya berada. Merasa tak ada tanggapan dari Rachel, kembali Kimmy berucap. "Barusan aku memang sedang meeting bersama pimpinan rumah mode Coco Chanel di hotel tempatnya menginap. Dan kamu tahu? ternyata nama hotel ini 'Langdon Hotel'." Terang Kimmy.


Kembali Rachel mengernyit heran. "Maksudmu nama hotelnya sama dengan nama belakangku?" Tanyanya tak mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu. "Lalu?" Lanjutnya lagi.


"Come On dear!!!" Kembali Kimmy berdecak kesal. "Apa kamu belum paham juga?" Tanyanya lagi yang lagi-lagi juga tak mendapatkan tanggapan.


"Rachel sayang....Hotel ini milik suamimu. Hotel ini berubah nama setelah dibeli oleh Alister group beberapa bulan yang lalu. Itu artinya suamimu-lah yang memberikan nama hotel ini dengan nama keluargamu sebagai bentuk rasa cintanya padamu." Terang Kimmy menjelaskan. "Dan kamu tahu? Barusan aku juga melihat mertuamu disini!" Tambahnya.


Mendengar kalimat terakhir Kimmy itu, punggung Rachel mendadak menegang. "Maksudmu Mr. James Alister?"


"Memangnya mertuamu ada berapa?"


"Are you sure?" Tanya Rachel balik


"I'm sure. Buat apa aku bohong? Mataku ini masih belum rabun." Tegas Kimmy.


"Bukannya kamu beberapa bulan belakangan ini sibuk bolak balik ke hotel alister mencari kabar suamimu? Dan sekarang ayahnya sedang berada disini." Pekik Kimmy antusias. "So, apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?" Tawarnya. Apapun akan dilakukan untuk membantu sahabatnya itu. Tapi beberapa detik terlewat tak ada respon dari ujung sambungannya.


Rachel menggigiti ujung kukunya seraya berfikir cepat. Ini adalah kesempatan buatnya untuk bisa bertemu dengan laki-laki paruh baya yang telah memisahkannya dengan suaminya. Kesempatan buatnya untuk bisa meluluhkannya.


"Apa yang ada dalam pikiranmu?" Tanya Kimmy yang hanya mendengar deru napas Rachel.


"Kim, orang itu masih disana kan?"


"Sepertinya begitu. Aku melihatnya masuk ke lift bersama sekretarisnya. Mungkin menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Atau... Entahlah... Tapi tenang saja, aku akan check-in di hotel ini dan mencoba mencari tahu. Kalau perlu aku akan diam-diam mengikutinya kemanapun."


"Tidak, aku tak mau kamu terlibat dengannya."


"Lalu, apa yang harus aku lakukan untukmu?"


"Aku yang akan kesana. Kamu cukup mengamati pergerakannya saja."


"No...!" Teriak Kimmy di ujung sana. "Kamu sedang mengandung. Terlalu riskan bagimu untuk bepergian."


"Kim, ini satu-satunya kesempatanku. Lagipula penerbangan dari sini ke Paris hanya sejam lebih. Anakku pasti kuat dan bertahan. Ini demi daddy-nya juga."


"Tapi chel.....?"


"Please...Kim, help me this time..." Pinta Rachel, lalu menutup panggilan itu sepihak. Bergegas merapikan barang-barangnya dan beranjak dari sana.


"Miss Rachel?" Tegur Merry yang melihat Rachel begitu terburu-buru. "What happen?"


"I want going to paris now."


Kedua alis Merry terangkat sempurna. "Tonight?"


Rachel mengangguk cepat lalu menjelaskan semuanya. Merry mencoba menahan mengingat keadaan Rachel yang sedang hamil, namun Rachel bersikeras mengingat ini mungkin satu-satunya kesempatan yang ada.


Setelah mengambil paspor dan Visa-nya di Penthouse, Rachel langsung ke bandara dengan diantar oleh Merry. Merry menawarkan diri untuk menemaninya ke Paris, tapi lagi-lagi Rachel menolak dengan halus.


Rachel langsung memesan penerbangan terakhir tujuan kota Paris yang tersisa malam itu. Tanpa menunggu lama, Rachel kini sudah duduk di kursi pesawat.


Sebuah panggilan masuk dari Kimmy kembali terdengar nyaring dari ponselnya. Rachel bergegas menerima dan memberitahukan kalau dia sudah berada di pesawat. Setelah menutup panggilan dari Kimmy tersebut, panggilan lainnya ikut masuk. Sebuah nomor asing dengan kode negara yang juga asing menurutnya. Baru akan menerimanya, informasi dari pramugari yang menggema melalui speaker kabin pesawat membuatnya urung menerima panggilan tersebut. Ia pun akhirnya mengabaikan panggilan masuk tersebut lalu mengubah mode ponselnya pun menjadi mode pesawat dan segera memakai seatbeltnya, karena pesawat sebentar lagi akan lepas landas.


Di usapnya lembut perutnya yang terasa berdenyut-denyut tak tenang. Seolah janinnya itu ingin mengatakan sesuatu padanya. Jantungnya pun berdetak cepat dengan perasaan yang sulit dijabarkannya. Seperti ada perasaan cemas yang berlebih menyesakkan dadanya.


Vir.... Kamu baik-baik saja disana kan?


Semoga ini bukan pertanda sesuatu terjadi padamu...


Kumohon bertahanlah untuk kami...


Ditariknya napas dalam-dalam dengan kuat, lalu dihembuskannya perlahan untuk mengurai kecemasannya.


"Sayang, bantu mommy sekali lagi. Bertahanlah di dalam perut Mommy. Kamu yang kuat di dalam sana yah sayang. Saat ini kita lagi perjalanan untuk bertemu granpa, semoga kita bisa bertemu dengannya." Lirihnya berguman sembari terus mengusap perutnya dengan pandangan menoleh ke jendela. Memandangi jalur pesawat yang terlihat seperti berlari cepat ke belakang, disusul suara gemuruh saat pesawat sudah membelah tumpukan awan tebal yang membentang.


Dari sana Rachel langsung menaiki Taksi menuju alamat yang telah Kimmy berikan.


Sejurus kemudian, sampailah Rachel di depan sebuah bangunan tinggi lagi megah yang letaknya tak jauh dari menara Eiffel yang mendunia. Kedua sudut bibirnya tertarik pelan melihat nama tempat itu yang diambil dari nama belakangnya. Mungkin saja itu adalah salah satu surprise yang Mahavir siapkan untuknya, pikirnya.


Rachel melangkah masuk menuju lobi dimana Kimmy menunggunya. Beberapa lelaki berjas hitam yang sedang berjaga tampak terkejut melihatnya dan langsung memberitahukan informasi itu kepada atasannya melalui earpiece. Rachel menyadari gerak-gerik orang-orang itu dan langsung mengenali mereka lewat simbol keluarga yang tersulam rapi di setiap dasi mereka. Tapi Rachel mengabaikannya dan memilih untuk berpura-pura tak menyadarinya, terus mengayunkan langkahnya memasuki hotel itu.


Namun belum beberapa langkah orang-orang itu langsung mencegatnya, menahannya untuk masuk lebih dalam ke hotel itu.


Dengan penuh amarah, Rachel menghalau orang-orang itu hingga menimbulkan sedikit keributan. Membuat beberapa mata langsung memandangi mereka. Termasuk Kimmy yang sedari tadi duduk menunggu di sofa refleks berlari menghampiri.


"Rachel, ada apa?" Tanya Kimmy menarik pelan lengan Rachel dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya bergerak mendorong tubuh salah satu lelaki berjas hitam yang berdiri tegap menghalangi langkah Rachel.


Rachel tak menanggapi pertanyaan Kimmy, terus berusaha melewati orang-orang yang menghalanginya. Wajahnya sudah memerah dengan napas yang memburu menahan gejolak emosinya.


"Rachel, ingat kamu sedang mengandung. Jangan seperti ini." Kimmy mengingatkan seraya menarik Rachel menjauh dari orang-orang itu.


Ekspresi wajah Rachel sudah tak karuan. Airmatanya mulai terjatuh membasahi pipinya. Tubuhnya bergetar hebat.


"Kim, aku harus bertemu dengannya. Aku harus meluruskan segala kesalahpahaman ini. Ini satu-satunya kesempatanku." Tukasnya tanpa menghiraukan semua mata yang memandanginya. Diantara mereka ada yang mengenalinya sebagai seorang fashion desainer terkenal yang baru saja tampil dalam siaran BBC di London. Bahkan tampak pula rekan sesama desainer, kebetulan memang sebagian besar mereka yang sedang menginap di hotel tersebut merupakan orang-orang yang bersiap untuk event Paris fashion week layaknya Kimmy.


Kimmy menarik Rachel ke dalam pelukannya. Namun Rachel mendorong Kimmy. Sama sekali tak ingin menyerah begitu saja.


Kembali Rachel berusaha untuk melewati para pengawal itu, mengatakan kalau statusnya masih sah sebagai istri pemilik hotel tersebut dan hanya ingin bertemu dengan ayah mertuanya, namun tetap sama. Ia tetap ditahan di tempatnya.


Rachel mengedarkan pandangannya. Menyapu setiap sudut dari bangunan berdesain eropa klasik yang mewah itu. Kemudian beralih memandangi orang-orang disekelilingnya yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda.


Di pejamkannya matanya seraya menarik napas panjang. Kemudian perlahan meluruhkan tubuhnya bersimpuh di hadapan para pengawal yang berdiri di hadapannya.


"Oh my god. Rachel, what are you doing?" Teriak Kimmy seraya menarik Rachel untuk berdiri. Tapi Rachel tetap bergeming di posisinya.


"Sorry, Miss Alister, don't be like this." Ucap pula salah seorang pengawal yang amat terkejut dengan aksi wanita itu.


"Please......i just want to meet Mr.James...." Pintanya memohon. Airmatanya semakin luruh membasahi wajahnya.


Kesemua para pengawal itu tak sanggup memenuhi permintaannya, mereka hanya bisa menunduk hormat tanpa berpindah tempat.


"Rachel...." Panggil Kimmy lagi, seraya membujuk Rachel agar mau berdiri.


Rachel menepis tangan Kimmy dari lengannya. Mendongak dan menggeleng pelan pada Kimmy. "Aku akan tetap seperti ini sampai ayah Mahavir bersedia menemuiku...."


"Tapi....." Kimmy menghentikan ucapannya. Netranya berpendar memandang ke sekitarnya. Beberapa blitz kamera secara bergantian menyorot ke arah Rachel. Mengambil potretnya yang berlutut di tengah lobi. Tapi orang yang dipotret sama sekali tak menghiraukannya.



Kini demi Mahavir, Rachel rela merendahkan dirinya. Melepaskan keangkuhannya, melepaskan segala harga diri yang begitu sangat di junjungnya selama ini. Bahkan sanggup melepaskan karirnya yang sukses agar bisa kembali bertemu dengan suaminya, bisa bersatu kembali memperbaiki hubungan yang dulu di rusaknya karena kebodohan serta keegoisannya.


Sungguh saat ini Rachel tak berdaya. Apapun akan dilakukannya hanya demi laki-laki yang dulunya mati-matian di tolaknya. Laki-laki yang menerima semua kebencian yang tak berdasar darinya. Laki-laki yang telah berkali-kali dia sakiti dan hancurkan perasaannya.


Wajah Rachel sudah mulai memucat. Tubuhnya bahkan terlihat gemetaran, tapi tetap keras pada pendiriannya. Tetap bertahan berlutut di tengah-tengah keramaian yang tak henti-hentinya menyorotinya.


Kimmy meringis perih memandangi keadaan sahabatnya. Kembali ingin membujuknya untuk bangkit dari posisinya, sebelum akhirnya suara derap langkah kaki bersepatu pentovel terdengar mendekat. Dari balik tubuh para pengawal, muncul sosok Mr. Forer-sektretaris dari tuan James yang telah membawa paksa Mahavir dari rumah sakit.


Mr. Forer menunduk hormat sebentar pada Rachel, lalu membungkukkan badannya untuk menarik kedua bahu wanita itu untuk bangkit berdiri. Tapi lagi-lagi Rachel menepisnya.


"I won't stand until Mr. James comes to see me!" (Saya tidak akan berdiri sampai Tuan James datang menemui saya)


"Sorry Mrs. Alister, Mr. James just left this hotel." (Maaf Ny.Alister, Tuan James baru saja meninggalkan hotel ini.)


"What do you mean??" (Apa maksudmu?) Tanya Rachel penuh kekecewaan. Wajahnya mendongak dengan tatapan tajam meminta penjelasan.


Merasa tak tega melihat Rachel, akhirnya Mr Forrer menjelaskan kalau Mr.James baru saja meninggalkan hotel dengan menggunakan helikopter. Ayah mertuanya itu mendadak kembali ke Amerika karena terjadi sesuatu pada Mahavir.


Seketika wajah Rachel menegang dan semakin memucat. "WHAT HAPPENED TO MY HUSBAND?" Teriaknya.


Mr. Forrer enggan menjawab dan hanya menunduk hormat. Berbalik dan beranjak dari sana.


"WAITT.....!" Teriak Rachel memanggil Mr. Forrer kembali. Mr Forrer menghentikan langkahnya dan berbalik memandangi Rachel yang nampak sangat kacau. "At least please....tell me where is my husband? please......" Jeritnya memohon dengan frustasi diselingi isakan tangis.


"Please......" Pinta Rachel sekali lagi, begitu amat sangat mengemis agar diberitahukan dimana suaminya berada.


Namun lagi-lagi Mr Forrer hanya menunduk hormat. Meminta Rachel agar sebaiknya kembali saja ke London, karena segala usaha yang dilakukannya hanya akan sia-sia saja. Lalu berbalik sepenuhnya meninggalkan Rachel yang masih bergeming dengan posisi bersimpuhnya. Para pengawal pun menarik diri dan ikut menyusul Mr. Forrer.


Rachel langsung menjatuhkan tubuhnya terduduk ke lantai. Menatap nanar Mr. Forrer yang menjauh hingga betul-betul hilang dari pandangannya. Rasa kecewa yang teramat sangat begitu menghimpit jiwanya. Airmatanya meluncur bebas, berjatuhan membasahi lantai keramik yang begitu mengkilap.


Kimmy ikut duduk di samping Rachel. Menarik tubuh gemetar itu ke dalam pelukannya. Sementara netranya memandang tajam orang-orang di sekitarnya yang memandangi mereka dengan tatapan mengiba.


"What's wrong with you guys? Haven't you ever seen anyone cry, huh?" (Ada apa dengan kalian? apa tak pernah melihat orang menangis, hah?) Teriak Kimmy memperingati orang-orang tersebut. Selang kemudian ia membawa Rachel duduk di sofa yang ada di lobi itu. Salah satu staf hotel menghampiri dan memberi mereka air minum kemasan. Kimmy menerimanya dan langsung meminumkannya pada Rachel yang tampak masih syok.


****