Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 31.Di Villa (2)


Seakan mendapat teguran yang tidak dimengerti nya dari Rey dan Bryan, Raya akhirnya terdiam. Matanya berputar mencari tahu apa yang salah dari perkataannya.


"Oh, iya! Bagaimana kalian bisa saling mengenal? Apa kalian dijodohkan?" Tanya Aretha, penasaran melihat kecanggungan diantara Rachel dan Mahavir.


Rachel berbalik ke samping, melihat Mahavir kemudian tersenyum. "Apa kita dijodohkan?" Melempar pertanyaan ke Mahavir karena dia sendiri bingung menjawab pertanyaan dari Aretha.


Mahavir yang sedari tadi menunduk menyantap makanannya dalam diam langsung mendongakkan kepalanya. Tangannya bergerak meraih tangan Rachel kemudian menggenggam nya. "Mungkin bisa dibilang begitu..." Jawab Mahavir dengan tenang.


Mereka yang mendengarkan langsung mengernyitkan keningnya, penasaran.


"Sebenarnya Ayahku dan Ayah Rachel berteman baik, aku mengetahui Rachel dari cerita Ayahnya saat Ayahnya mengunjungi Ayahku di London. Sejak saat itu aku penasaran dan mencari tahu segala sesuatu tentang wanita ini." Mahavir berucap sambil memandangi Rachel lalu mengecup punggung tangannya.


"Oh, ya? Kamu tidak cerita soal itu!" Ucap Rachel terkaget.


Rey dan Bryan yang mengetahui kisah sebenarnya membungkam mulut mereka rapat-rapat.


"Woww... Berarti bisa dibilang anda yang mengejar-ngejar Rachel yah??" Tanya Dirga sembari menatap Rachel dengan lekat.


Mahavir yang tahu arti tatapan nakal Dirga langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Rachel kemudian menarik tubuh Rachel mendekat padanya.


"Honey... Sudah tugas cowok kan yang mengejar-ngejar seorang cewek!" Seru Aretha sambil menyikut mesra pinggang Dirga.


"Awww, sakit sayang..." Ucap Dirga dengan nada dibuat-buat tapi matanya tidak berhenti menatap Rachel dan Mahavir bergantian.


"Aku masih ingat saat SMA dulu, Rachel kita ini dari dulu sudah jadi jadi gadis populer loh, bahkan dikejar-kejar oleh anak dari sekolah lain. Beruntung sekali sekarang anda bisa mendapatkan Rachel loh....." Ujar Raya menimpali dengan santainya dan kembali mendapat pelototan dari Rey dan Bryan. Raya kembali menggaruk kepalanya bingung. "Kali ini salah apalagi??" Pikir Raya, lalu mengerucutkan kedua bibirnya.


"Oh, iyya betul itu... Sampai-sampai dulu ada fans beratnya loh." Sambung Aretha. Sejenak berfikir kemudian kembali berucap. "Dirman, namanya Dirm... Mmm." Ucapan Aretha terhenti karena mulut nya langsung dibekap oleh Raya.


Rachel yang sempat mendengar langsung menunduk, mencoba menguatkan dirinya mendengar nama itu.


"Jangan Bahas Dirman didepan Rachel." Bisik Raya ditelinga Aretha memperingatkan.


"Oh, Dirman yang kuper dan culun itu ya? Yang rambutnya geriting dan berkacamata tebal." Ucap Dirga memperjelas. Membuat Raya menepuk jidatnya. Sementara Rey dan Bryan mengusap wajahnya bersamaan.


"Iyya, Dirman yang itu. Istri mu ini dulu dikejar-kejar oleh Laki-laki bernama Dirman loh, laki-laki cacingan yang tidak tahu diri." Ejek Aretha sembari tertawa kecil menjelaskan kepada Mahavir.


"Hei... Jangan menghinanya, dia sahabat ku!" Seru Rey.


"Sorry, sorry.. Tapi memang kenyataan loh. Rachel itu sangat membencinya!! Dia begitu tidak tahu diri, sudah dibiayai oleh keluarga Rachel malah berusaha mengambil semua posisi dan kedudukan Rachel." Ucap Aretha sambil menyilang kan kedua tangannya dihadapan dadanya. "Sudah jelek, kampungan, miskin, tidak tahu diri pula." Lanjut Aretha tanpa filter di mulutnya.


"Oh Dirman yang itu, Dia kan sempat pindah ke sekolah ku. Ku dengar dia hampir memperkosa seorang gadis dari sekolah kalian kan?" Lanjut Dirga memperjelas.


"Gadis dari sekolahku?.... Apakah gosip dulu itu benar?" Tanya Aretha pada Dirga lalu beralih memandangi Rachel. "Berarti gadis itu......."


Sekali lagi Raya membekap mulut Aretha. Rey dan Bryan berjaga-jaga, jangan sampai Mahavir kelepasan.


Mendengar itu Rachel menggigit bibir bawahnya dengan keras. Mahavir yang melihat itu semakin mengeratkan rangkulannya ke tubuh Rachel. Sementara Rahangnya terlihat mengeras, dia mengepal keras tangannya mencoba menahan amarahnya.


"Maaf!! Apa bisa kalian tidak membahas masa lalu istri ku, sepertinya dia kurang nyaman dengan itu." Tegas Mahavir membuat yang lainnya terdiam.


"Ah maaf, aku tidak tahu. Rachel maaf yah....!" Ucap Aretha lalu menyikut Dirga menyuruhnya untuk ikut meminta maaf.


Setelah itu mereka semua menyelesaikan makan malam mereka dalam keheningan. Hanya terdengar dentingan pisau dan garpu yang saling beradu di atas piring.


Selepas makan malam, mereka melanjutkan obrolan santai. Kali ini mereka hanya membahas tentang kegiatan dan kesibukan mereka masing-masing. Aretha yang berada dalam rangkulan Dirga memonopoli pembicaraan, bercerita tentang kesuksesan bisnis berliannya dan kehidupan sosialitanya.


Bryan yang berada diluar zona pembicaraan memilih berpindah tempat dan duduk bersandar pada kursi santai yang berada di samping kolam renang sambil berkutat dengan memainkan game online di ponselnya. Sementara Mahavir sejak setelah makan dia tidak bicara apa-apa lagi, seolah terjebak dengan pikirannya sendiri.


Malam semakin larut, semilir angin pantai yang berhembus semakin terasa dingin.


"Baiklah kita sudahi malam ini, besok kita lanjut lagi yah..." Ujar Aretha bangkit dari duduknya bersama Dirga.


"Retha, ayo bergabung tidur dengan kami." Ujar Raya mengajak Aretha bergabung dikamar bersama Rachel.


"Iyya...Kapan lagi kita bisa berkumpul bertiga seperti ini" Tambah Rachel.


"Gimana yah..." Aretha bergelayut manja pada lengan Dirga sambil berbisik-bisik dengan Dirga.


"Sorry honey... Tunangan ku ini susah tidur kalau gak dikelonin dulu."


"Oh, Okey..okey, kalian istirahat duluan sana." Ujar Rachel yang sudah mengerti dengan gaya pacaran Aretha.


Selepas Aretha dan Dirga pergi, Raya berbisik pelan "Mereka sudah tidur bersama?"


"Hush.. Jangan campuri urusan mereka. Kamu masih polos belum mengerti!! Ayo kita juga kembali ke kamar." Ujar Rachel sambil menarik Raya berjalan menuju kamar mereka.


Mahavir dan Rey juga berjalan menyusul dibelakang Rachel dan Raya. Meninggalkan Bryan yang katanya belum mengantuk dan masih ingin bermain game.


"Rachel ini gak apa-apa kita sekamar? Suami mu tidak keberatan?" Bisik Raya ke telinga Rachel saat melihat ekspresi Mahavir yang menyusul dibelakangnya dan terlihat kesal.


"Iyya, tidak apa-apa. Memangnya kamu mau tidur sendirian?"


"Ya tidak maulah!! Sebagai satu-satunya wanita yang masih suci di villa ini, kamu harus menjaga ku dengan baik." Bisik Raya.


"Suci? Memangnya kamu aja! Aku juga masih segel yah...." Bisik Rachel sambil mengibaskan rambutnya.


"APA??" Teriak Raya tidak percaya membuat Mahavir dan Rey yang berada di belakang mereka ikut terkejut. Dengan cepat Raya menarik Rachel masuk kekamar dan menutup pintu dengan rapat.


"Jangan lupa kunci pintunya." Ucap Mahavir mengingatkan dari luar pintu. Raya mengindahkan perintah itu dengan memutar kunci yang berada di bawah handle pintu.


"Ayo, sekarang jelaskan...."


"Jelaskan apa?"


"Yang tadi kamu bilang."


"Ahh, sudahlah... Aku gerah. Aku mandi dulu!" Seru Rachel lalu membuka tas jinjingan nya dan mengambil kimono handuknya.


"Ya udah. Kamu berutang penjelasan padaku." Ujar Raya lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur sambil memainkan ponselnya.


Baru beberapa menit di dalam kamar mandi, tiba-tiba terdengar teriakan dari Rachel. Sontak membuat Raya terkejut dan melompat turun dari tempat tidur.


"Rachel kamu kenapa?" Tanya Raya menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"BRUKK"


"Kamu kenapa?" Tanya Raya sekali lagi, matanya mengamati Rachel dari atas hingga kebawah.


"Aku ke kamar Mahavir dulu." Rachel mengikat keras ikatan tali kimono handuknya lalu melangkah keluar menuju kamar Mahavir.


Raya berdiri di depan pintu dengan mulut menganga kebingungan menatap punggung Rachel yang menjauh dari pandangannya. Rey yang baru saja akan masuk ke kamar nya sempat mendengar keributan dari arah kamar Rachel dan Raya, Rey pun langsung menghampiri Raya.


"Ada apa?" Tanya Rey


"Gak tahu!" Jawab Raya lalu berbalik hendak masuk kembali kedalam kamarnya. Tapi tiba-tiba Rey menahan tangannya.


"Apa kamu lelah?" Rey menjeda perkataannya dan menatap kedua mata Raya dengan intens, "Bisa bicara sebentar?"


Raya menepis tangan Rey dan melangkah masuk ke kamarnya. tapi Rey menyusulnya dan kembali menarik tangannya.


"Please....." Rey memohon dengan kesungguhan hati.


Raya menarik nafas panjang dan menghembuskan nya secara perlahan.


"Baiklah...." Ucap Raya lalu menutup pintu kamarnya "Bicaralah.."


"Em.. Sebaiknya kita bicara di luar saja, aku merasa kurang nyaman bicara dikamar berdua denganmu. Aku takut tidak bisa menahan diri." Ujar Rey.


Wajah Raya memerah mendengar penjelasan Rey. Dengan cepat dia membuka pintu dan berjalan keluar. "Baiklah ayo bicara diluar."


Rey dan Raya pun berjalan menuju kolam renang. Disana Rey melihat Bryan yang masih asyik bermain game, hingga akhirnya Rey menarik tangan Raya dan mengajaknya berjalan-jalan di bibir pantai. Raya menurut tanpa banyak bertanya.


Bryan yang sempat melihat Raya dan Rey berjalan bergandengan merasakan ada aliran panas di hatinya. Entah mengapa hatinya merasa kesal melihat mereka berjalan berdua.


Bryan pun bangkit dari duduk nya lalu berjalan menuju kamarnya. Moodnya bermain game sudah hilang entah kemana.


Sementara di kamar Mahavir, Rachel yang tiba-tiba menerobos masuk saat Mahavir sedang membuka kaos dibuat terkejut. Rachel langsung menghujani pukulan bertubi-tubi ke tubuh Mahavir yang bertelanjang dada.


"Hei.. Hei.. Ada apa?" Mahavir berusaha menangkis pukulan Rachel yang membabi buta.


Tapi Rachel yang terlihat emosi tidak bergeming dan tetap menghujaninya dengan pukulan hingga tubuh Mahavir terdorong dan terjatuh di atas kasur. Rachel yang emosinya sudah meluap-luap tidak sadar kalau sudah duduk diatas tubuh Mahavir dan masih berusaha keras memukuli wajah Mahavir.


"Auw.. Auw sakit... Auw, sayang ada apa ini?" Tanya Mahavir sambil menutupi kepalanya dari pukulan Rachel.


"Ini.. Ini apa??" Rachel menyingkap sebagian kimono handuknya dan memperlihatkan tanda yang dibuat oleh Mahavir


GLEK


Mahavir menelan saliva nya, melihat pemandangan di atasnya. Terlihat jelas bahwa saat ini Rachel sudah tidak memakai dalaman.


"Kapan kamu melakukan ini?" Kembali Rachel memukuli dada Mahavir.


"Berhenti dulu pukulnya baru aku jelasin." Pinta Mahavir lalu memegang kedua tangan Rachel.


"Baiklah aku berhenti, coba jelaskan apa ini?" Rachel menarik tangannya lalu menunjuk totol-totol merah pada leher bawah dan area dadanya. "Bagaimana kamu membuat ini?"


Mahavir tersenyum lalu mengangkat tubuhnya sampai posisi terduduk, hingga membuat Rachel terjungkal ke belakang. Tapi dengan cepat Kedua tangan Mahavir menahan dan menangkap tubuh Rachel sementara Kimono handuknya tersingkap hingga memperlihatkan kedua pundaknya yang mulus.


"Ceklek"


Disaat yang bersamaan pintu kamar terbuka dan terlihat Bryan yang berdiri mematung.


"Ma... Maaf... A.. A.. Aku sa.. Salah.. Masuk kamar.." Bryan berucap dengan terbata-bata dengan wajah yang memerah. Dengan cepat Bryan berbalik dan menutup pintu.


"HARUSNYA KALIAN MENGUNCI PINTUNYA DULU!!" Teriak Bryan dari luar pintu, kemudian terdengar langkah kakinya yang mulai menjauh.


Saat itu juga Rachel baru menyadari posisi tubuhnya yang ambigu. Membuatnya malu dan jadi salah tingkah dengan wajah yang merah merona. "Astaga apa yang kulakukan...."


Wajah Rachel yang terlihat menggemaskan membuat Mahavir berusaha kuat untuk menahan hasratnya. Mahavir lalu menarik kimono handuk Rachel yang tersingkap dan memperbaikinya. Menutup bagian tubuh Rachel yang terlihat dengan rapat. Agar otaknya tidak travelling kemana-mana.


"Maaf... Aku sengaja membuat tanda itu agar kamu tidak bisa memakai bikini didepan pria lain." Ucap Mahavir lalu memeluk tubuh Rachel yang masih terduduk dalam pangkuan nya.


"Kenapa harus melakukan ini, kamu kan bisa melarang ku saja!"


"Kalau aku larang kamu akan mendengarkan?"


Rachel mengernyitkan keningnya, kemudian menggeleng.


"Karena itu aku melakukannya. Dengan begitu kamu tidak akan berani memperlihatkan tubuhmu pada orang lain.


"Kapan kamu melakukan nya? Dimana dan bagaimana caranya?"


"Siang tadi, saat kamu tertidur dalam pangkuanku, dan... Kalau caranya...." Mahavir terdiam sejenak, "Kamu betulan mau tahu bagaimana cara ku melakukannya?"


Rachel terdiam. Astaga gila!! Kenapa aku bertanya begitu...!! Gerutu batin Rachel. Wajah nya semakin memerah, Yang mampu dia lakukan hanya menggelengkan kepalanya.


Mahavir tersenyum lalu mengecup kening Rachel dan kembali memeluknya. "Kamu tidak apa-apa?"


"Apanya?"


"Tadi, tentang obrolan mereka...tentang masa lalumu..." Ucap Mahavir sambil mengusap-usap pelan rambut Rachel.


"Tidak.. Aku tidak akan memasukkan nya ke hati."


"Baguslah... Jangan lagi memikirkan hal itu. Jangan bersedih dan jangan memendam nya. Ingat kalau sekarang aku ada bersamamu..."


"Hmm..." Rachel mengangguk.


"Baiklah...Sampai kapan kamu akan tetap duduk di pangkuan ku? Sedikit lagi aku sudah tidak bisa menahan diri...."


Mendengar ucapan Mahavir dengan cepat Rachel berdiri dan mendorong tubuh Mahavir menjauh.


Mahavir tertawa kecil. "Beristirahatlah, dan jangan lupa kunci pintu kamarmu." Ucapnya lalu mengecup pipi Rachel sekilas.


Sepeninggal Rachel, Mahavir langsung masuk kekamar mandi, membuka kran shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


* * *