
Seminggu sudah lamanya Rachel dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan fatal yang dialaminya bersama Mahavir. Kecelakaan yang pada akhirnya membuat ia berpisah dengan laki-laki itu.
Kadang Rachel berharap kalau ia saja yang terbaring koma saat itu. Terkadang pula Rachel berharap kalau seandainya saja malam itu ia tak memaksa untuk ke rumah orang tuanya. Atau mungkin seandainya saja ia tak pulang ke Indonesia hingga Mahavir tak perlu datang menyusulnya. Seandainya saja ia tak keguguran hingga membuatnya hilang semangat. Seandainya saja waktu itu ia tak ke hotel menjemput Mahavir. Seandainya saja ia cepat menyadari perasaannya pada Mahavir. Seandainya ia tak mengetahui saja identitas laki-laki itu. Dan seandainya, seandainya lainnya yang menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Tapi Rachel sadari sebesar apapun menyesalinya, semuanya tak akan pernah bisa kembali. Yang dapat dilakukannya saat ini hanya merajut kesabaran, menanti kabar dari Mahavir. Berharap keajaiban datang pada suaminya itu hingga laki-laki itu dapat kembali datang padanya.
Hari ini Rachel sudah kembali ke kediaman orangtuanya setelah rumah sakit memperbolehkannya untuk pulang. Keadaannya sudah membaik, tubuhnya sudah kembali pulih dan sehat seperti sebelumnya. Hanya saja semua orang yang mengenalinya tahu bagaimana keadaan hatinya saat ini. Senyumnya setiap saat terpancar di hadapan semua orang, namun senyum indah yang sarat penuh luka.
Satu hal yang Rachel syukuri saat ini, karena semua orang berusaha keras menghiburnya. Membuatnya tak pernah kesepian sedikitpun. Baik Raya, Rey dan Risya ikut mengantarnya pulang tadi, yang saat ini ketiganya masih betah bergabung bersama keluarganya.
Risya, Raya dan Lily sedang di Dapur membantu Ny Amitha menyiapkan makan malam, sementara Rachel, Bryan, Rey dan Pak Wijaya duduk di ruang keluarga. Rachel mengamati ke tiga laki-laki berbeda usia itu bermain catur. Bryan dan Rey melawan Pak Wijaya sendiri namun sudah dua kali permainan Pak Wijaya yang menjadi pemenangnya.
"Sudah ah, seratus kalipun pasti daddy yang menang." Ujar Bryan melempar pion terakhirnya.
"Yah, ngambek..." Ujar Rachel meledek Bryan. Bryan balas mendengus menatap Rachel.
"Jadi anak muda kok malas berfikir." Ucap Pak Wijaya sedikit terkekeh sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Saya kurang begitu paham bermain catur paman." Rey menyengir malu. Mengumpulkan bidak catur dan membereskannya.
"Coba ganti permainan dad, sekarang lawan Bryan dan kak Rey main PS. Kita lihat apa daddy masih bisa mengalahkan kami atau tidak." Tantang Bryan, yang terduduk di atas karpet dengan dagu yang menopang di atas meja berbahan jati.
"Itu sih maunya kamu!" Rachel melempar bantal kursi ke arah Bryan. Namun dengan tanggap Bryan menangkap dan balas melemparnya.
"Hei.. Hei.. Daddy ada disini dan kalian bersikap seperti ini? Gak malu dengan Rey?"
"Kak Rachel duluan kan dad...!"
"Kamu juga. Kan tak perlu membalas kakakmu juga."
Rachel tertawa mengejek, meledek Bryan di belakang Pak Wijaya. Memeluk Daddy-nya itu dari belakang dengan manja.
Bryan mendengus kesal. "Bela aja terus putri kesayangan daddy itu."
Rey hanya terkekeh melihat kelakuan adik kakak itu.
"Bryan bagaimana kuliahmu?"
"Lancar dad, hanya tugasnya yang selalu menumpuk."
"Lalu kapan kamu kembali?"
"Mungkin seminggu lagi. Oh iya, kak Rachel belum mau kembali ke London? Sekalian kita sama-sama kak Lily baliknya."
Rachel hanya mengangguk pelan merespon pertanyaan adiknya.
"Mungkin disana kita bisa mencari tahu kabar kak Vir dari hotel Alister. Bisa saja Mr. Stuart sudah kembali kesana."
"Yang kudengar Mr. Stuart masih ada di Amerika." Ujar Rey.
"Belum ada informasi apapun?" Tanya Rachel.
Rey menggeleng. "Sepertinya Presdir menutup semua akses yang menyangkut Mahavir. Aku sudah coba berbagai cara tapi tak mendapat hasil apapun."
"Yah, nomor Daddy saja di blokir sama si James itu." Imbuh Pak Wijaya dengan menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
Rachel menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Kepalanya di jatuhkannya ke pundak daddy-nya. Terlihat gurat kekecewaan di wajahnya.
Rey bisa melihat ekspresi kecewa Rachel. Dengan cepat Rey berucap. "Tapi saya akan tetap berusaha mencari tahu paman. Setidaknya saya akan mencoba meretas hotel di Amerika, dan mencari tahu kabar Mahavir."
"Tak perlu bertindak terlalu jauh. Nanti kamu malah terkena masalah dengan pekerjaanmu."
"Yah mungkin akan mendapat sekedar hukuman atau apapun itu. Tapi saya yakin kalau Ayah Mahavir tak akan bertindak jauh pada saya. Dia mengenal saya sebagai sahabat satu-satunya putranya. Dan saya akan menggunakan alasan itu untuk mencari tahu."
"Makasih Rey..." Rachel menepuk pelan bahu Rey. "Oh, iya Rey. Kamu pernah ke makam ibu Mahavir?"
"Iya, aku pernah kesana beberapa kali bersama Mahavir. Kenapa?"
"Aku juga pernah sekali kesana tapi aku masih belum ingat jalan kesana. Apa kamu bisa mengantarku kesana?"
"Kamu mau apa ke sana?" Tanya Pak Wijaya heran pada Rachel.
"Hanya ingin menyapa ibunya."
"Kapan kamu mau kesana?" Tanya Rey.
"Besok bisa?"
"Bisa, tapi apa kamu sudah bisa bepergian jauh?"
"Iya nak, jangan terlalu memaksakan."
"Aku baik-baik saja Dad. Besok pagi yah Rey?"
"Oke. Hanya kita berdua?"
"Bryan mau ikut?" Tanya Rachel, melempar pandang pada adiknya.
"Aku banyak tugas yang mau kukerjakan kak. Ajak kak Lily saja."
"Entar aku tanyakan Lily." Ujar Rachel. Rey hanya mengangguk.
"Kak Rey, lulusan manajemen kan?" Tanya Bryan.
"Iya. Aku juga sempat mendapat pendidikan tambahan dari Mr. Stuart bersama Mahavir. Kenapa?"
"Ada beberapa tugas ku yang tidak ku mengerti."
"Mau aku bantu kerjakan?"
Bryan menggeleng dan mengurai senyum. "Aku hanya minta di jelaskan sedikit."
"Bisa, yang mana tugasnya?"
"Ada banyak sih. Ikut aku ke kamarku saja bisa?"
Rey tersenyum dan menepuk punggung Bryan. "Oke little Boy... Ayo."
"Hei, itukan panggilan kak Dirman padaku dulu." Ujar Bryan bangkit berdiri bersama Rey.
"Iya, Dirman.... Eh, maksudku Mahavir dulu sering bercerita padaku tentangmu. Kamu adalah little boy-nya katanya."
"Kak Vir cerita apalagi tentangku?"
"Banyak, termasuk waktu kamu masih sering mengompol."
"Astaga, masa kak Vir cerita itu juga?"
Tanpa sadar kedua laki-laki itu terus saling mengobrol seru hingga sampai di kamar Bryan. Membuat keduanya semakin akrab.
"Memang mereka akrab yah?" Tanya Pak Wijaya pada Rachel begitu Bryan dan Rey sudah beranjak dari hadapan mereka.
"Gak juga. Mereka malah rival, Dad."
"Maksudnya?"
"Dokter itu..." Rachel menunjuk menggunakan sorot matanya ke arah Raya yang sibuk memasak bersama Lily di dapur. Terlihat pula Risya membuat banyak kekacauan yang membuat Ny Amitha menggeleng-gelengkan kepala.
"Keduanya suka sama..."
Belum selesai ucapan Pak Wijaya, Rachel langsung mengangguk cepat.
"Terus? Dokter itu pilih yang mana?" Tanya Pak Wijaya sedikit berbisik pada putrinya.
"Entahlah dad. Hubungan ketiganya sedikit rumit. Daddy lihat gadis kecil yang itu?"
Pak Wijaya mengikuti arah pandang Rachel. "Adiknya Rey?"
Rachel mengangguk pelan.
"Kenapa dengannya?"
"Lah, jadi Bryan juga suka dua perempuan sekaligus?" Pekik Pak Wijaya masih setengah berbisik. "Dan pacarnya juga suka dua laki-laki sekaligus?"
"Sepertinya begitu dad..."
"Astaga, benar-benar anak jaman sekarang."
"Menurut Daddy, Bryan cocok bersama Raya atau Risya?"
Kembali pak Wijaya memandangi gadis belia yang kini terlihat menjatuhkan beberapa peralatan dapur. Membuat suara yang begitu gaduh dan bising disana. Kedua sudut bibir Pak Wijaya refleks tertarik mengulas senyum melihat kelakuan gadis itu.
"Sepertinya gadis kecil itu bakalan cocok dengan Mommy-mu. Dia bisa membuat Mommy-mu tertawa ceria dan stress secara bersamaan." Ujarnya setengah terkekeh.
"Kita sependapat, Dad..."
"Tapi daddy gak mau mencampuri urusan asmaranya. Yang mana pilihannya, daddy akan mendukungnya selagi wanita itu orang yang baik untuknya."
"Lalu kenapa Daddy ikut campur denganku dan Mahavir?"
"Kenapa? Masih marah sama daddy?" Tanyanya sembari mengusap lembut rambut Rachel. "Kan daddy sudah bilang alasannya."
Rachel mengulas senyumnya, memeluk manja daddy-nya itu. "Rachel bersyukur daddy memaksa Rachel menikahinya. Rachel mencintainya dad, sangat mencintainya. Dia laki-laki kedua setelah daddy yang mencintai dan menyayangi Rachel dengan tulus."
"Lalu adikmu, laki-laki yang ke berapa?"
"Ah, dia tak masuk hitungan. Dia lebih menyayangi Vir daripada kakaknya sendiri."
Kembali Pak Wijaya tertawa mendengar penuturan putrinya itu.
"Lagi bahas apa nih serius begitu?" Tanya Ny Amitha tiba-tiba. Dibelakangnya menyusul Risya.
"Rahasia.." Ujar Pak Wijaya dengan tersenyum dan merangkul putrinya.
"Kak Rachel manja juga yah ternyata." Celetuk Risya menggoda Rachel.
"Kenapa Ris? Mau dimanja daddy juga?"
"Gak kok kak, Risya cuma bercanda." Ucapnya menyengir malu lalu mendudukkan tubuhnya di sofa sebelah Rachel. Namun Rachel malah menarik gadis itu duduk di tengah-tengah antara dirinya dan Pak Wijaya. Membuat kedua pipi Risya bersemu merah.
"Bryan mana Uncle?" Tanya Lily yang kini berjalan ke arah Pak Wijaya bersama Raya.
"Di atas sedang mengerjakan tugasnya bersama Rey." Jawab Pak Wijaya yang kini tengah bercanda bersama Risya.
"Oh, tolong panggilkan Bryan di kamarnya, Lily." Ujar Ny Amitha.
"Lily mau ke toilet dulu aunty. Bisa minta tolong Raya saja." Ujar Lily lalu berlari kecil ke toilet di lantai bawah.
"Bisa nak Raya?"
Raya mengangguk dan langsung melanjutkan langkahnya. Menaiki anak tangga hingga berjalan menuju kamar Bryan.
Tanpa mengetuk pintu, Raya langsung membukanya dan terkejut mendapati Rey yang juga hendak membuka pintu.
"Cari Bryan?"
Raya mengangguk dan mengalihkan pandangannya.
"Masuklah... Dia di toilet." Rey mundur dan memiringkan tubuhnya. Mempersilahkan Raya masuk ke kamar Bryan itu.
"Kamu mau....ke...mana?" Tanya Raya melihat Rey malah melangkah keluar.
"Hah, ma..mau turun." Jawabnya dengan canggung.
"Kamu bisa tetap disini."
"Ah, tidak apa. Mungkin kamu mau bicara berdua dengan anak muda itu." Ujar Rey sembari mengusap tengkuknya.
"Aku tidak mau bicara apapun. Aku hanya disuruh memanggilnya untuk turun. Lagian tidak enak kalau kami hanya berdua di kamar." Raya meneruskan langkahnya memasuki kamar Bryan dan mengamati keseluruhan kamar yang begitu rapi khas kamar anak muda.
"Ohh..." Ucap Rey singkat dan kembali melangkah masuk.
"Sedang bikin apa dengan Bryan?"
"Hah?" Rey menggaruk pelan pelipisnya. "Hanya menjelaskan sedikit masalah pelajarannya." Ujarnya menunjuk MacBook dan beberapa buku Bryan yang ada di atas tempat tidur.
Raya menjatuhkan tubuhnya terduduk di tepian tempat tidur, meraih buku-buku Bryan dan membukanya. "Rapi juga tulisan anak itu.." Ujarnya membalik-balik setiap halaman. Hingga sampai di sampul belakang, Raya terpekik dan meringis melihat jarinya tertusuk staples yang sedikit terbuka pada sudut sampul buku yang dipegangnya.
Karena terkejut melihat Raya yang meringis tiba-tiba, Rey melangkah cepat hendak melihat keadaan jari Raya. Hingga tidak memperhatikan tumpukan buku-buku tebal Oxford yang tergeletak di lantai. Kaki Rey menabrak buku itu, membuat keseimbangannya hilang hingga terjatuh menindih Raya yang terduduk di tepian tempat tidur. Bibir Rey malah mendarat sempurna di bibir Raya.
Hening. Seakan waktu terhenti saat itu juga. Keduanya terdiam beberapa saat dalam posisi seperti itu. Hanya mata mereka yang saling beradu pandang.
Bersamaan itu, Bryan keluar dari toilet. Pupil mata Bryan sontak melebar melihat pemandangan di hadapannya. Bryan mengurungkan niatnya untuk keluar dari sana, dan akhirnya kembali masuk lalu menutup pintu toilet dengan begitu pelan. Ada sesuatu yang berdenyut di dalam hatinya melihat keadaan itu. Rasa sesak, panas dan nyeri bercampur menjadi satu. Namun Bryan tidak bisa berbuat apapun. Sebisa mungkin Bryan meredam perasaan cemburunya. Ia sadar kalau kedua orang itu sebenarnya saling suka, dan ini menjadi kesempatan buat keduanya untuk bisa saling dekat. Bryan meluruhkan tubuhnya, berjongkok dan bersandar di dinding toiletnya yang dingin. Menunggu saat yang tepat untuk keluar dari dalam sana.
Sementara di luar toilet itu, Rey yang menyadari keadaan itu segera bangkit berdiri. Raya pun segera mengangkat tubuhnya terduduk kembali di tepian tempat tidur dengan raut wajah yang masih terkejut.
"Ma...maaf...aku tak sengaja. Tadi...tadi..."
"A..aku mengerti. To...tolong sampaikan Bryan untuk turun." Ucap Raya sama terbatanya dengan Rey, bangkit berdiri lalu dengan setengah berlari keluar dari kamar Bryan sembari menutup bibirnya dengan punggung tangannya.
Rey mengulas senyumnya. Tersipu malu mengingat kejadian beberapa detik yang lalu. Saking bahagianya Rey langsung menghempas tubuhnya di ranjang Bryan dengan jari-jari yang terus mengusap bibirnya. Hingga sepersekian detik selanjutnya Rey langsung mengingat Bryan. Dengan cepat Rey bangkit dan melangkah ke depan toilet kamar itu.
"Bryan, keluarlah. Raya sudah tak ada." Panggilnya. Rey sadar kalau anak muda itu melihat kejadian tadi dan malah memilih untuk bersembunyi.
Pintu toilet itu terbuka perlahan dan memunculkan wajah pemuda dengan senyum terpaksanya.
"Maaf, tadi aku tak sengaja..."
"Tak apa. It's okay..." Ucap Bryan menepuk pelan pundak Rey dimana tubuhnya lebih tinggi dari sahabat kakaknya itu.
"Kamu tak marah?"
"Aku sudah bilang akan melepasnya bila dia memang menyukaimu kan? Kak Raya itu jelas-jelas menyukaimu. Tinggal bagaimana caranya kamu bisa membuatnya menyadari perasaannya sendiri dan membuatnya memutuskanku."
Rey tersenyum lalu merangkul pundak Bryan.
"Terima kasih. Apa ada lagi yang mau aku bantu kerjakan?"
"Bisa mengerjakan semua tugasku?"
"Bisa. Semuanya kan?" Ujar Rey meraih MacBook Bryan.
Bryan terkekeh lalu menarik lengan Rey. "Aku bercanda. Ayo, kudengar kita dipanggil turun. Kak Rey tak lapar?"
"Lapar sih, dari tadi malah." Jawab Rey melangkahkan kakinya berjalan beriringan dengan Bryan. "Selain pelajaran apa lagi yang bisa kubantu?"
"Oh, iya. Risya bisa menginap tidak?"
"Di rumahmu ini?"
"Iya, dimana lagi? Masa di hutan."
"Boleh saja kalau anaknya juga mau."
"Dia masih liburkan? Boleh disini sampai aku berangkat kembali ke London?"
Rey memicingkan matanya, menyikut perut Bryan. "Hei, kamu mengincar adikku?"
"Tidak boleh?"
"Dia masih kecil, tunggu tiga tahun lagi."
"Boleh?"
"Kalau kamu sudah lulus dengan predikat terbaik. Aku sendiri yang akan menikahkan kalian kalau kamu memang serius."
"Okay. My new Brother...! Aku pegang kata-katamu."
* * *