
Selepas Raya dan Bryan pergi, Mahavir pun masuk kedalam kamarnya. Di lihatnya Rachel tengah tertidur dengan lelapnya, sejenak dia terduduk memandangi Rachel. Kedua tangannya memijat pelipis nya dengan pelan, mencoba menetralkan pikirannya. Kemudian dengan perlahan dia turut membaringkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Rachel.
Kedua matanya kini memandangi wajah damai Rachel. Wajah cantik yang sudah terpatrit di dalam hatinya sejak 15 tahun yang lalu. Mau dia bersikap dingin, angkuh ataupun sombong, wajah itu akan terus terbayang dalam ingatan dan pikirannya.
Perlahan tangan Mahavir bergerak ingin membelai pipi perempuan itu tapi urung dia lakukan, dan akhirnya menarik kembali tangannya. Kata-kata Raya kembali terngiang-ngiang dalam pikiran nya. Sedetik pun tak ada niat dalam hati nya untuk menyakiti perempuan yang ada di hadapannya saat ini.
Awalnya dia mengira dengan berada dekat dengan Rachel akan mengobati kerinduannya selama ini, tapi entah mengapa semakin lama dia semakin serakah dan menginginkan lebih. Keberadaan Rachel yang terpampang nyata di hadapannya justru semakin menguatkan rasa rindu dalam hatinya. Merindukan cinta yang tak tahu kapan akan terbalaskan.
Cinta yang teramat besar hingga mampu membuat dirinya nekat membohongi dan menipu Rachel. Salahkah cintanya itu? Cinta teramat dalam yang membuat hatinya semakin jatuh terpelosok ke dalam lembah yang begitu gelap. Cinta yang membuat dirinya terombang-ambing selama bertahun-tahun.
Mahavir menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
Menyebutkan nama Rachel berulang-ulang dari kedua bibirnya.
"Rachel........... "
"Apa yang harus kulakukan padamu??"
"Apa yang akan kamu lakukan saat mengetahui diriku yang sebenarnya? Akankah kamu membuangku?"
Lirihnya dengan pelan. Tanpa sadar bulir bening jatuh di sudut matanya.
Tangannya bergerak mengusap ujung matanya tapi entah mengapa bulir bening itu seakan tak mau berhenti. Diangkatnya lengannya hingga menutupi seluruh matanya. Kedua bahunya bergetar hebat mencoba menahan tangisnya.
"Aku mencintaimu...!!Sungguh....Sangat...sangat mencintaimu....."
"Maafkan aku yang menipumu......." Lirih Mahavir penuh penyesalan. Terisak dalam diamnya. Hingga tidak menyadari pergerakan dari Rachel.
"Virr....???" Suara Rachel tiba-tiba menyadarkan Mahavir. Dengan cepat Mahavir mengusap kedua matanya dan menenangkan dirinya.
"Astaga... Dia tidak mendengar perkataan ku barusan kan??" Guman Mahavir dalam hatinya.
"Virr....??" Rachel mengguncang pelan bahu Mahavir. "Gimana Raya? Sudah ketemu?"
"Sepertinya dia tidak mendengarnya...!! Syukurlah..." Ucap Batin Mahavir kembali, Sembari berpura-pura tertidur.
"Vir...." Kembali Rachel mengguncang bahu Mahavir.
"Hemmm....." Mahavir berpura-pura menggeliat dan membuka matanya perlahan.
"Raya dimana?"
"Di kamarnya..." Mahavir menjawab dengan suara sedikit serak seraya menormalkan intonasi suaranya.
"Astaga..Kenapa tidak membangunkan ku?" Guman Rachel, bangun dari tidurnya. "Aku kembali ke kamarku yah..." Lanjutnya berusaha turun dari tempat tidur. Tapi sebelum menurunkan kakinya, Mahavir langsung menarik tangan Rachel hingga membuat nya kembali terbaring.
"Sudah mau dini hari, dia pasti sudah tidur. Kamu hanya akan menggangu nya." Ujar Mahavir berusaha menahan Rachel. "Kamu sudah terlanjur disini, tidurlah disini...menemaniku...
Please....."
Rachel terdiam sejenak memandangi Mahavir.
"Baiklah...." Ucap Rachel, kembali berbaring dan memposisikan dirinya menyamping menghadap Mahavir. Mata mereka kini saling bertemu. Kilat manik mata Mahavir seakan menembus manik mata Rachel, yang entah mengapa Rachel dapat merasakan sorot kegelisahan dalam manik mata berwarna hazel itu. "Ada apa?" Tanya Rachel penuh selidik.
DEG...jantung Mahavir berdetak tak karuan "Apa dia mendengar perkataan ku yang tadi??"
"Hmm??" Mahavir berpura-pura tidak mengerti.
Mahavir mengerutkan keningnya dan kembali bertanya. "Apa?"
Rachel menggeleng pelan dan tersenyum tipis. "Ah mungkin perasaan ku saja..." Batin Rachel.
Sejenak mereka kembali terdiam dan hanya saling pandang, hingga tangan Mahavir bergerak maju, menyibak anak-anak rambut yang menutupi sebagian wajah Rachel dan menyelipkan nya ke belakang telinga Rachel.
"Apa aku bisa memelukmu??" Pinta Mahavir.
Rachel mengerutkan keningnya. "Peluk saja kan?"
"Hmmm...." Mahavir langsung meraih pinggang Rachel dan menariknya mendekat ke dalam dada bidangnya. Mendekap tubuh perempuan itu dengan eratnya.
"Hmpp..i...Ini terlalu rapat... Aku susah bernafas." Rachel menepuk-nepuk punggung Mahavir.
"Maaf...maaf..." Mahavir lalu merenggangkan sedikit pelukannya. Rachel yang terengah-engah langsung menarik nafas panjang, berusaha memasukkan oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-paru nya.
"Kamu mau membunuhku yah?" Dengus Rachel dengan kesalnya.
"Maaf....." Mahavir membelai-belai rambut Rachel dan mengecup pucuk kepalanya.
Rachel menangkap ada sesuatu yang aneh pada diri Mahavir. Biasanya di suasana seperti ini, laki-laki itu akan mengambil kesempatan untuk menciumnya. Tapi kali ini tidak, laki-laki itu seakan terhanyut dengan pikiran nya sendiri.
"Vir...."
"Hmmm??"
"Virr..."
"Tidurlah...jangan pikir macam-macam! Aku hanya akan memelukmu." Mahavir berucap dengan memejamkan kedua matanya. Hingga tak lama kemudian mulai terdengar dengkuran halusnya.
Rachel mendongakkan kepalanya, menatap dalam-dalam wajah Mahavir. Merasakan hembusan nafasnya yang teratur.
Rachel tertegun memandangi wajah Mahavir. Laki-laki yang lain begitu tergila-gila padanya dan mungkin akan mengambil kesempatan bila ada cela sedikit saja, apalagi dalam situasi dan keadaan seperti saat ini. Tapi Mahavir berbeda, seberapa besar pun kesempatan yang ada dia bisa menahan diri dan masih berada dalam batasnya. Padahal dia bisa saja melakukan sesuka hatinya, mengingat dia sudah sah di mata Agama dan hukum sebagai seorang suami.
Hal itu membuat Mahavir semakin menjadi misterius...
"Siapakah kamu yang sebenarnya?? Bisakah aku mempercayai mu? Apa aku boleh menjatuhkan hatiku padamu??" Lirihnya.
Rachel Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Mahavir. Aroma yang selalu bisa membuatnya merasa tenang. Perlahan kesadarannya pun menghilang dan melabuhkannya ke alam mimpi.
* * *
Matahari mulai mengintip dari peraduan di ujung timur. Sayup-sayup suara alam menyapa hingga menembus alam mimpi. Rachel menggeliat perlahan, berusaha menyatukan jiwa dan raganya untuk kembali ke alam sadarnya.
Kedua matanya perlahan terbuka, dan mendapati dirinya tengah memeluk dengan eratnya tubuh Mahavir yang tertidur bersamanya. Rachel pun mengerjapkan kedua matanya, lalu memutar pandangan melihat suasana kamar. Hingga tersadar kalau semalam dia tertidur di kamar itu dan Mahavir betul-betul hanya memeluknya sepanjang tidurnya.
"Vir....." Panggil Rachel dengan lembut, sembari mengguncang pelan bahu Mahavir.
"Virr....." Panggil nya sekali lagi.
"Hmmm...." Mahavir menggeliat pelan tanpa membuka kedua matanya.
"Sudah pagi..."
"Hmmm, aku masih ngantuk...!" Ujar Mahavir.
"Ya sudah, aku ke kamar Raya dulu yah...! Tas dan perlengkapanku ada disana." Ujar Rachel lalu meninggalkan kamar Mahavir menuju kamar Raya. Pagi itu hanya Rachel yang terbangun dengan cepat karena yang lainnya baru tertidur saat dini hari.
"Bryan??" Tegur Rachel saat melihat Bryan yang meringkuk tertidur pada sofa yang menghalangi di depan pintu jalan masuk ke kamar Raya.
"Hei, apa yang kamu lakukan disini?" Rachel mengguncang keras tubuh Bryan hingga membuatnya terbangun. Meski belum tersadar sepenuhnya.
"Apaan sih? Masih Ngantuk kak!!" Bryan menepis tangan Rachel dan hendak tertidur kembali. Tapi dengan cepat Rachel menarik kemeja Bryan.
"Semalam aku jatuh kak!" Jawab Bryan dengan santainya.
Rachel memicingkan matanya dan menatap heran pada wajah Bryan. "Jatuh? Kok bekasnya seperti itu?" Batin Rachel.
"Yah sudah sana lanjut tidur di kamar Vir saja!"
"Hemmm...." Bryan bangkit dan melangkahkan kakinya.
"Hei!!"
"Apa lagi sih kak?" Bryan berbalik dengan kesalnya.
"Pindahkan dulu sofa ini!"
"Cih...!!!!" Dengus Bryan, lalu mendorong sofa yang di gunakan nya tadi ketempat nya semula.
"Sudahkan? Gak ada lagi?" Tanya Bryan memastikan.
"Iya! Sana..." Usir Rachel lalu masuk ke kamar Raya dan menghempas tubuhnya ke atas kasur disamping Raya.
"Hei dokter malas, kok masih tidur?" Ujar Rachel sambil menggelitik pinggang Raya. Tapi Raya tak bergeming. "Hei... Tukang molor..." Lanjut Rachel mengganggu tidur Raya.
"Bryan... Jangan ganggu deh...!" Guman Raya mengira Bryan yang mengganggu tidurnya.
"What? Bryan?" Pekik Rachel. Berfikir sejenak lalu kembali mengguncang tubuh Raya. "Hei.. Kenapa nama adikku kamu sebut-sebut?"
"Rachel?" Raya terbangun dan terkejut. "Mana Bryan?"
"Hei..?? Apa yang sudah aku lewatkan semalam hah?" Goda Rachel menggelitik pinggang Raya.
"Hehe..Apa sih? Gak ada apa-apa juga..!" Raya menjawab sedikit terkekeh karena geli akan gelitikan dari Rachel. "Sudah lepasin ini dulu. Geli tahu!!"
"So, kenapa sepagi ini kamu mencari Bryan?"
"Nanti saja tanyanya, aku masih ngantuk!" tangan Raya bergerak meraba-raba nakas yang berada di samping tempat tidur dan mengambil ponselnya. "Masih jam tujuh juga." Raya berucap setelah menengok jam di ponselnya.
"Raya...." Panggil Rachel.
Raya menarik tangan Rachel mendekat ke arahnya. Dan memeluknya dengan erat. "Ayo tidur lagi."
"Raya.....!!!"
"Ok, ok, aku bangun!!" Raya mendengus kesal tapi pada akhirnya terbangun juga.
Setelah bersiap-siap, Rachel dan Raya turun ke lantai dasar. Disana telah ada Aretha yang sedang mempersiapkan sarapan pagi.
"Morning honey...." Sapa Aretha dengan senyum khasnya.
"Morning to..." Jawab Rachel dan Raya bersamaan.
"Yang lain mana?" Aretha menengok ke belakang Rachel dan Raya.
"Masih pada Molor..." Jawab Raya, berjalan menghampiri Aretha dan membantunya menyiapkan sarapan. "Hari ini kita ngapain?"
"Terserah kalian, kita bisa surfing, kayaking, atau mau berperahu keliling pulau juga bisa." Jawab Aretha.
"Kita nungguin cowok-cowok nya aja dulu..." Rachel berjalan menuju dapur, membuat secangkir kopi hangat dan menaruhnya ke nampan. "Aku bawain Vir dulu yah..!" Ucapnya lalu berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Raya hanya mengangguk pelan dan menatap sendu punggung Rachel hingga menghilang dari hadapan nya. Entah apa yang terjadi kalau kamu tahu identitas suami mu itu Rachel....lirih batin Raya lalu mendesah pelan.
"PAK!!" Tepukan hangat dari Aretha mendarat di lengan Raya. "Apa sih, masih pagi-pagi sudah melamun begitu?"
"Hah? Oh.. Gak!" Raya gelagapan sambil cengar cengir dan kembali menata sarapan di meja.
Rachel yang berjalan di Koridor lantai dua, tiba-tiba langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Dirga.
"Hai... Rachel." sapa Dirga.
"Hai.." Rachel membalas sapaan dengan memasang senyum tipis dan berjalan melewati Dirga. Tapi dengan lincahnya Dirga menahan dengan memegang lengan Rachel.
Rachel langsung melotot tajam melirik ke arah tangan Dirga yang memegang lengannya.
Dirga melepaskan pegangannya lalu menyeringai nakal. Kedua matanya menatap dalam. Mengagumi kecantikan wajah Rachel, wajah yang semakin memukau saat manik matanya menyorot dengan tajamnya. Leher putih jenjang, hidung mancung yang mendengus, dan bibir yang terlihat mencibir justru terlihat semakin menggoda di mata Dirga.
"Kamu tambah cantik saja...." Goda Dirga, mengedipkan satu matanya kepada satu-satunya wanita yang sangat sulit ditaklukkannya.
Rachel mengernyitkan kesua alisnya. Bingung. Laki-laki di hadapannya ini sangat membuat nya ilfeel.
"Kamu belum juga mengingat ku?" Lanjutnya, memandangi Rachel dengan penuh tatapan mesumnya.
Rachel mengangkat kedua bahunya. "Memang kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Rachel datar.
"Wahhh... Ternyata sifatmu belum berubah sama sekali yah? Masih dingin."
Rachel mengerutkan keningnya, semakin bingung dengan arah pembicaraan laki-laki di hadapan nya. "Maaf, aku mau bawa kopi ini. Nanti keburu dingin." Rachel melangkah, berjalan melewati celah yang ada. Tapi Dirga mencegat dan memenjarakan tubuh Rachel ke dinding, hingga kopi yang dibawa Rachel sedikit tertumpah.
"Hei apa yang kamu lakukan?"
"Aku sangat sedih bila kamu tidak mengingat ku...." Dirga menggerakkan tangannya, ingin mengelus pipi Rachel. Tapi belum sampai tangan nya mendarat di pipi Rachel, tangannya tiba-tiba di cekal oleh seseorang dari arah belakang.
"Vir...." Rachel langsung mendorong Dirga dan berlari ke belakang Mahavir.
"Rachel bawa kopi itu ke kamar, sekalian bangunkan Bryan." Perintah Mahavir. Wajah nya terlihat menggelap dengan rahang yang mengeras. Tangannya masih memegang tangan Dirga dengan kasar.
"Aku tidak apa-apa, jangan buat keributan." Bisik Rachel ke telinga Mahavir lalu beranjak dari tempat itu.
Selepas Rachel pergi, Mahavir semakin mengeratkan cengkraman nya. Tangan satunya sudah terkepal sempurna hingga terlihat buku-buku tangannya memutih.
"Slow man...!!" Ujar Dirga "I'm just kidding...! Istri mu itu kenalan ku dulu. Aku hanya bercanda."
Mahavir mencoba menahan diri, lalu melempar kasar tangan Dirman. Dia bisa saja langsung menghajar laki-laki brengsek di hadapannya ini, tapi dia masih punya akal sehat.
"Jangan sekali-kali kamu berani menyentuhnya lagi." Ancamannya lalu mendorong Dirga hingga terbentur ke dinding dan meninggalkannya.
"Kasar amat...." Guman Dirga mengusap pergelangan tangannya yang terlihat memerah akibat cengkraman tangan Mahavir.
Mahavir yang masih sempat mendengar ucapan Dirga sudah tidak menghiraukan nya lagi. Dia masih berusaha keras untuk tidak terbawa emosi.
Mahavir berjalan menuju kamar Rey sambil menghubungi seseorang lewat ponselnya. Dia punya rencana tersendiri untuk membalas segala perbuatan Dirga dulu.
"Tunggu saja apa yang akan kamu alami besok!!" Lirih Mahavir, menyeringai licik.
* * *
Happy Reading,
peluk cium dari Author 🤗😘