
Hari masih pagi, sekitar pukul sepuluh. Mentari telah memancarkan sinar dengan hangatnya memberikan suasana cerah di pagi hari ini.
Porsche hitam yang dikendarai oleh Mahavir dan Rachel terlihat baru saja meluncur keluar dari kompleks perumahan mewah.
Mahavir yang tengah mengemudi terlihat beberapa kali bersungut-sungut kesal. Bagaimana tidak, dia telah membayangkan perjalanan hari ini bakalan menjadi perjalanan yang romantis. Tapi pada kenyataan nya dia malah nampak seperti seorang supir yang mengantar majikannya.
Berkali-kali mata Mahavir melirik naik ke cermin mobil melihat pantulan penampakan istrinya.
Istri cantik nya itu dengan santainya duduk manis di kursi penumpang belakang sambil mendengarkan musik melalui earphone tanpa sama sekali mempedulikan Mahavir yang tengah menyetir. Sesekali wanita itu bahkan terdengar bernyanyi...
Love me like you do...
Lo.. Lo...love me like you do...
Touh me like you do...
To... To.. Touch me like you do...
What do you waiting for...
Sang suami hanya mampu meracau dalam hati
"Touch me like you do.... Apanya!! Baru dicium pipinya saja udah gemetaran." Batin Mahavir, kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Diam-diam Rachel tersenyum-senyum puas dengan kelakuan nya, sedari tadi dia memang sengaja membuat Mahavir kesal. Setiap kali dia mendapati mata pria itu sedang melihat nya dari pantulan cermin, dengan segera pula dia membuang mukanya.
Takkan kubiarkan kamu berbuat seenaknya lagi padaku!!!" Batin Rachel.
Rachel mengamati beberapa pertokoan disepanjang jalan, kemudian meminta Mahavir berhenti tepat di depan sebuah Toko Bunga.
"Mau apa?" Tanya Mahavir menyusul Rachel yang sudah lebih dulu masuk ke Toko Bunga.
"Beli Bunga!!"
"Untuk siapa?"
"Tidak mungkin kan aku datang dengan tangan kosong menemui ibumu."
"Tidak perlu" Ucap Mahavir
"Biarpun aku tidak menyukai anaknya yang nyebelin bukan main, aku tetap harus bersikap sopan pada orang tua nya kan!!" Ujar Rachel seenaknya membuat Mahavir mendengus kesal. "Ibu mu suka bunga apa?" Tanya Rachel lagi.
Mahavir memilih beberapa tangkai bunga Anyelir
"Dia suka yang ini" Ucap Mahavir menawarkan.
Rachel hanya terpaku memandang bunga-bunga yang Mahavir pilih itu. Mahavir kemudian menyadari ekspresi Rachel yang tiba-tiba terdiam.
"Kenapa?"
"Tidak, Aku hanya tidak suka dengan jenis bunga yang kamu pilih."
"Kenapa? Bunga Ini cantik!"
"Tapi aku tidak suka"
"Ini jenis bunga yang memiliki arti loh...., Anyelir itu melambangkan cinta jangka panjang!! Bunga Anyelir yang berwarna merah melambangkan cinta dan kasih sayang, Anyelir merah muda melambangkan rasa syukur dan Anyelir putih melambangkan cinta murni dan harapan yang baik." Ujar Mahavir menjelaskan.
"Sepertinya kamu sudah bisa membuka toko bunga!" Ucap Rachel menyindir Mahavir. "Aku cuma tidak suka karena punya pengalaman buruk saat seseorang memberiku buket bunga seperti itu"
Mahavir tertegun mendengar perkataan Rachel, dia sendiri tahu betul kalau mungkin dirinya lah yang Rachel maksud.
"Siapa dia???pengalaman buruk seperti apa?" tanya Mahavir berpura-pura tidak tahu.
"Sudahlah itu tidak penting, bahkan bayangan nya saja tidak ingin aku ingat!!" Ucap Rachel membuat hati Mahavir serasa diiris sembilu. Perih!!!
Akhirnya Rachel memilih Bunga Mawar berwarna putih.
"Apa sebaiknya kita singgah membeli beberapa buah atau sesuatu?" Tanya Rachel sesaat setelah dia kembali duduk di kursi penumpang belakang dan Buket bunga mawar nya dia letakkan di kursi depan menemani Mahavir.
"Dia tidak akan memakannya." Jawab Mahavir dengan sedikit ketus.
"Ohhww..." Ucap Rachel kemudian mengatupkan bibirnya, lalu memakai earphone nya kembali dan tak bersuara lagi.
Porsche hitam itu kini terlihat gagah menembus tiap jalan yang di lewatinya. Melaju dengan santainya dari jalan raya yang lebar dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit dan hingar bingar kemacetan pagi. hingga menyusup masuk ke jalan-jalan berliku melewati beberapa bukit dengan pemandangan persawahan yang tersusun dengan rapinya.
"Woow...,look the view....!! Amazing!!" Ucap Rachel berbinar-binar menikmati pemandangan yang tersaji yang selama ini tidak pernah dia jumpai dalam hidupnya. Memang pernah beberapa kali dia melihat pemandangan Sawah yang bersusun rapi layaknya seperti anak tangga itu tapi hanya dari gambar di sebuah buku ataupun majalah.
"Masih jauh?" Tanya Rachel kemudian.
"Sebentar lagi." Jawab Mahavir melirik Rachel yang terlihat antusias dari pantulan cermin.
"Ohhww...." Ucap Rachel yang sedari tadi hanya menghadap ke kaca jendela mobil. "Kamu pernah tinggal disini? Sepertinya kamu sangat mengenal jalan ini dengan baik." Tanya nya lagi
Mahavir terdiam sejenak,
"Tidak pernah, aku juga baru beberapa kali kesini itupun saat aku sudah dewasa."
"Apa hubungan ibu dan ayahmu tidak...." Belum selesai Rachel bertanya lagi, Porsche hitam itu kini telah berhenti di kawasan tanah lapang dengan beberapa gundukan tanah dan batu nisan, serta banyak pohon-pohon kamboja di sekitarnya. Ya, area pemakaman!!
Rachel sedikit terperangah..
"Katanya kita mau bertemu ibumu....??" Ucap Rachel saat keluar dari mobil.
"Iya, ibuku beristirahat di sini" Jawab Mahavir datar, sambil meraih buket bunga mawar putih di kursi sebelahnya. "Tepatnya di atas bukit kecil itu" Lanjut Mahavir sambil menunjuk.
"Jadi ibumu sudah...... " Ucapan Rachel terhenti.
"Kenapa?"
Rachel tidak menjawabnya, dia masih terlihat syok...
"Kamu kecewa??" tanya Mahavir
"Bukan kecewa, tapi kenapa tidak bilang dari awal...??"
Mahavir tidak menjawab pertanyaan Rachel, kekesalan masih memenuhi ruang hatinya. Mahavir terus berjalan ke depan meninggalkan Rachel yang masih berusaha mencerna keadaan.
"Tapi Vir... " Panggil Rachel, pandangan Rachel mengarah pada jalanan yang terlihat mendaki dengan bebatuan yang tidak rata.
"Virr...tunggu!!"
"VIIIIRRRR....!!!! Teriak Rachel lagi tapi tak dihiraukan oleh Mahavir yang sudah jauh beberapa meter dari nya.
Karena kesal nya Rachel membuka High heels nya kemudian melemparkan nya ke arah Mahavir dan sukses mengenai punggung nya.
"AUUWW" Teriak Mahavir kesakitan lalu berbalik melihat Rachel.
"Kamu maunya apa??"
Mahavir kemudian memindai Rachel dari atas kepala hingga kebawah kaki. Istrinya itu mengenakan dress dari bahan brukat halus diatas lutut di padukan high heels kurang lebih setinggi sembilan centi lengkap dengan tas selempang kecil menghiasi bahunya.
Mahavir menepuk keningnya, tidak menyadari akan hal itu. Salahnya juga yang tidak memberitahukan dari awal. Pria itupun kembali berjalan menuju Rachel lalu berjongkok membelakangi Rachel.
"Naiklah! Biar ku gendong sampai ke sana."
"Are you kidding me??"
"Terus mau bagaimana?" Ucap Mahavir berdiri kembali, dan kebingungan,"Apa sih maunya wanita ini?" ucap batin Mahavir.
Mahavir kemudian melepas sepatu sneakers nya. "Kalau begitu pakai ini"
"Lalu kamu pakai apa?" tanya Rachel.
"Nyeker!!!" Ucap Mahavir ketus, kemudian jongkok kembali membantu Rachel memakai sneakers nya. Setelah itu dia mengambil heels Rachel dan menentangnya di tangan kiri bersama buket bunga mawar putih tadi. sementara tangan kanannya memegangi Rachel yang berjalan dengan menyeret-nyeret sepatu nya yang kebesaran.
"Jalannya pelan-pelan" Ucap Mahavir
"Makanya kamu juga jangan terlalu cepat" Ujar Rachel kesusahan mengejar langkah Mahavir, kemudian berhenti sesaat.
"Apa lagi?"
"Tunggu tas ku jatuh!!" Jawab Rachel cengengesan.
"Ya sudah, sini gantungkan di leherku!!" Perintah Mahavir
"Kenapa barang-barang wanita itu bikin rempong begini!!!" Batin Mahavir ketus.
Rachel tersenyum dibelakang melihat penampilan suaminya itu. Dia lihat nya Mahavir dari atas ke bawah,
"Ternyata suamiku ini orang yang perhatian..."
Batin Rachel.
"Aku boleh tanya?" Ucap Rachel sambil melangkahkan kakinya satu persatu kedepan.
"Apa?" Jawab Mahavir masih sedikit ketus.
"Hubungan orang tuamu tidak baik ya?"
Mahavir terdiam sejenak,
"Karena suatu hal mereka terpisah saat aku masih dalam kandungan."
Rachel sedikit tersentak, "Ibumu sudah lama meninggal?"
"Waktu usiaku masih 5 tahun"
"Jadi sejak itu kamu ikut ayah mu ke London?"
"Tidak, aku bertemu Ayah ku saat sudah berusia 18 tahun. Setelah ibuku meninggal aku sempat dirawat di panti asuhan."
Rachel lagi-lagi tersentak dengan cerita hidup Mahavir. Dia sama sekali tidak menyangka kehidupan suaminya itu begitu memprihatinkan.
"Mau tanya apa lagi?"
"Tidak...tidak ada lagi, cukup!!!" Ucap Rachel berusaha untuk tidak mengorek luka lama Mahavir yang mungkin akan membuat nya bersedih.
Setelah mendaki sedikit dan melewati beberapa makam lain, akhirnya mereka kini berhadapan dengan makam ibu Mahavir.
Mahavir terlihat mengambil posisi berjongkok disamping gundukan tanah yang telah terbungkus rapi oleh rumput hias kemudian memanjatkan beberapa doa dan mulai memperkenalkan istrinya.
Rachel yang memang sebelum nya tidak pernah berziarah makam hanya dapat mengikuti Mahavir, berjongkok dan berdoa.
Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan disaat Rachel dan Mahavir baru akan beranjak dari pusara ibunya.
Matahari yang tadinya bersinar cerah seakan lari bersembunyi ke peraduannya, bergantikan awan hitam yang mulai memenuhi pemandangan langit, disusul kilatan cahaya dan gemuruh petir.
Dengan cepat Rachel dan Mahavir berlarian meninggal kan tempat itu. Langkah-langkah kaki Rachel dan Mahavir seakan berkejaran dengan tetesan hujan yang jatuh menimpa tubuh mereka.
Akhirnya mereka berhasil kembali ke dalam mobil dengan tubuh setengah basah. Nafas mereka masih saling memburu akibat berlari.
Mahavir memandangi Rachel yang mungkin tidak sadar ikut duduk dikursi depan,
"Aku kira kamu sudah tidak mau duduk di samping ku" Ucap Mahavir mendengus.
"Tidak boleh???"
"Aku kan hanya supir bagimu!!"
"Ihhh... Ngambek!!"
"Ehh...Kakimu tidak sakit??" tanya Rachel ketika melihat kaki mahavir yang terlihat kotor karena berlari tanpa alas kaki.
"Gak papa" Jawab Mahavir sambil menepuk-nepuk kedua kakinya mencoba menghilangkan tanah yang menempel, sementara matanya tak berkedip memandangi istrinya itu.
Rachel menyampirkan rambutnya kesamping kiri dan mengeringkannya dengan tisu membuat leher jenjang putihnya dan punggung mulusnya terekspos jelas di pandangan Mahavir. Leher Putih mulus dengan rambut-rambut halus yang menghiasinya.
DEG... DEG... DEG...
Seketika jantung Mahavir mulai berdetak tidak karuan.
Mahavir menurunkan pandangan nya ke tubuh istrinya itu. Pahanya yang putih mulus begitu terekspos bebas, sementara pakaiannya yang basah akibat terkena guyuran hujan terlihat menjadi transparan, sehingga memperlihatkan pakaian dalam wanita itu dengan jelas. Bahkan lekukan-lekukan dadanya itu pun begitu menonjol dengan jelasnya.
Sukses membuat aliran darah Mahavir mendadak terasa panas.
"Sial..!!! Kenapa justru dalam keadaan seperti ini dia malah duduk didepan??" Batin Mahavir.
Mahavir menghela nafas panjang kemudian mengusap wajah nya yang basah mencoba menghalau pikiran kotor yang membelenggu dirinya. Dengan cepat dia menghidupkan mesin mobil lalu meninggalkan area pekuburan itu.
Pandangannya terus dia fokuskan lurus kedepan tanpa berbalik sama sekali ke arah istrinya itu.
Rachel hanya menatap heran tingkah laku Mahavir yang susah ditebak.
"Aku duduk dibelakang dia kesal....
Giliran sudah kembali kedepan malah dicuekin...
Maunya apa sih...??" Batin Rachel.
* * *
~Terima Kasih sudah membaca 🙏 jangan lupa like, vote dan komen yaa 🤗🤗 Supaya Author juga semangat nulisnya... 🥰🥰
* * *