Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 34.Ketahuan (2)


Bryan menepuk jidatnya. Mahavir menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Rey mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dalam hati merutuki dirinya terus-menerus. Tiga laki-laki itu terpaku dalam diam.


Raya masih menatap tak percaya. Melihat gelagat ketiga lelaki itu yang hanya bisa pasrah dan terdiam, membuktikan bahwa perkiraan nya tidak melesat.


"Ka.. Kamu Dirman??" Raya menerka dengan wajah memucat, Kakinya melangkah perlahan mendekati Mahavir, sementara matanya memindai tubuh Mahavir dari atas hingga ke bawah berulang-ulang. Sungguh sangat kontras dengan penampilan Dirman yang dulu, bahkan wajah dan kulitnya sangat berbeda.


"I.. Ini.. Benar kamu?" Tanyanya lagi memastikan.


Saat Mahavir mengangguk pelan, Lagi-lagi kedua tangannya bergerak spontan membekap mulutnya. Lutut nya tiba-tiba terasa lemas hingga membuatnya terhuyung. Beruntung Bryan dengan sigap menangkapnya dari belakang hingga dia tidak sampai terjatuh.


Saat ini Raya baru menyadarinya. Filling nya memang tak pernah salah. Sejak awal jumpa Mahavir, dia sudah merasa familiar dengan wajah itu. Lalu bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan....


"Ra.. Rachel tahu??" Lanjut Raya, saat teringat Rachel. Dia pun kemudian melempar pandangannya kepada tiga lelaki yang masih terdiam itu secara bergantian.


Tiga laki-laki itu masih saja membungkam mulut mereka rapat-rapat.


"Ini tidak mungkin, kalian semua bersekongkol membohongi Rachel???" Raya berucap sambil meremas-remas kepalanya, rambutnya kini terlihat acak-acakan, dadanya naik turun menahan gejolak keterkejutan dalam hatinya. Raya tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka. "Kalian tahu bukan kalau ini akan menyakitinya???"


"Tidak, ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" Ujar Mahavir akhirnya membuka suara. "Aku tak pernah berniat menyakitinya, aku tulus menyayangi dan mencintainya."


"Ta.. Tapi ini salah! Kalian sama sekali tidak memikirkan perasaan Rachel. Kalian lihat sendiri bagaimana rapuhnya Rachel saat tahu Dirman itu telah tiada, ba...bagaimana kalau dia tahu kebenaran ini?? Tidak, tidak... membayangkan nya saja aku tak mampu..." teriak Raya dengan histeris.


"Kak Raya, tenang dulu!" Bryan yang masih memegang bahu Raya berusaha menenangkannya.


Raya berbalik dan menatap tajam kepada Bryan. "Kamu sebagai adiknya juga ikut-ikutan? Jangan bilang daddy dan mommy mu juga tahu ini semua?"


"Justru ini semua keinginan dari daddy dan mommy!" Lirih Bryan, tapi masih bisa didengar oleh Raya.


"APA??" Teriak Raya tak percaya.


Akhirnya malam itu juga Raya mengetahui segalanya. Mahavir menceritakan segalanya tentang kehidupannya, Bryan dan Rey pun ikut membantu menjelaskannya. Raya tercengang dengan semua penjelasan yang diterima nya.


Raya menarik nafas panjang untuk memasukkan oksigen yang banyak kedalam paru-paru nya dan menghembuskan dengan perlahan. lalu kembali berucap,


"Baiklah..Aku masih tidak bisa mengerti dengan jalan pikiran kalian semua, bagaimana pun ini salah! Tapi aku berjanji tidak akan mengatakan ini pada Rachel...!" Seru Raya setelah menerima semua penjelasan Mahavir.


"Terima kasih Raya!" Ucap Mahavir.


"Tapi... Aku harap kamu bisa jujur kepada Rachel, akan lebih baik kalau dia tahu dari mulut mu daripada dari orang lain!"


"Hemmm...!" Mahavir mengangguk pelan, sejenak terdiam. Lalu kemudian lanjut berucap, "Sudah ayo masuk, ini sudah tengah malam. Rachel dari tadi mencarimu." Mahavir berbalik lalu berjalan meninggalkan mereka bertiga.


"Vir, tunggu!" Teriak Rey menyusul Mahavir, tapi sebelum itu dia berbalik dan menyampirkan jaketnya ke bahu Raya. "Maafkan aku!" Lirih Rey kepada Raya, lalu berlari menyusul Mahavir.


Raya menatap sendu melihat punggung Rey yang mulai menjauh.


"Ayo kita juga masuk!" Seru Bryan memperbaiki jaket yang tersampir di bahu Raya lalu menarik tangan Raya agar ikut berjalan mengikutinya.


Saat didepan kamar Mahavir, Langkah Bryan dan Raya terhenti melihat Mahavir yang masih berdiri di depan pintu. Sementara Rey langsung berlalu menuju kamarnya, enggan melihat kedekatan Bryan dan Raya.


"Ada apa?"


"Rachel sudah tertidur." Ujar Mahavir sesaat setelah membuka pintu kamarnya.


"Kak Vir aku tidur diluar saja." Bryan langsung masuk mengambil tasnya dengan pelan-pelan lalu keluar dengan cepat.


Tangan Mahavir bergerak menahan lengan Bryan. "Kamu di sini saja, aku akan membangunkan Rachel."


"Tidak usah membangunkannya, biar dia tidur bersamamu saja. Aku belum siap bertemu Rachel malam ini, aku takut keceplosan dan lagi aku masih butuh menenangkan diri dulu." Ujar Raya lalu berbalik melangkah meninggalkan kamar Mahavir, berjalan menuju kamarnya.


Bryan mengikut dibelakang Raya.


"Kamu kenapa mengikuti ku?" Tanya Raya saat menyadari Bryan yang mengekor dibelakangnya.


Bryan melempar tas nya di ujung sofa, lalu menghempas tubuhnya berbaring di sofa panjang yang berada tepat di depan kamar Raya.


"Aku akan tidur disini sekalian berjaga didepan kamar kak Raya!" Ujar Bryan dengan santainya sembari memejamkan kedua matanya.


Raya mengernyitkan alisnya. "Aku tidak apa-apa, aku sudah biasa tidur sendirian. Kamu kembalilah kekamar mu!"


"Ada kak Rachel di kamar kak Mahavir, aku juga tidak mau kekamar Rey. Lebih baik aku disini saja! Sekalian berjaga di depan kamar kak Raya, kak Raya masuk sana, jangan hiraukan aku!"


"Terserah kamu!" Raya memutar bola matanya kesal, lalu masuk kekamar nya dan menutup pintu dengan sedikit keras.


Sepeninggal Raya, Bryan bangun dan mengganti kaosnya yang penuh dengan pasir dengan kemeja yang baru diambilnya dari dalam tas. Setelah itu dia kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi menyamping menghadap pintu kamar Raya.


Tidak berapa lama kemudian, Raya kembali keluar dan menghampiri Bryan.


"Sudah tidur?" Tanya Raya, memandangi wajah Bryan yang banyak memar disana sini, juga sedikit luka di sudut bibirnya.


"Hemm..." Jawab Bryan dengan mata terpejam. Tapi kemudian dirasakannya lengannya tertarik dan mau tidak mau membuatnya terbangun dan mengikuti kemana tangan mulus itu menariknya.


Raya menarik Bryan masuk ke kamarnya, mendorong tubuh Bryan agar terduduk di ujung ranjang lalu menutup pintu dengan rapat. Setelah itu Raya mengambil sesuatu dari dalam tas nya dan kembali menghampiri Bryan yang tertegun memperhatikan nya.


"Awww..!!" Teriak Bryan, meringis kesakitan.



"Sakit bilang nya tidak sakit!!" Gerutu Raya, sembari mengoleskan salep Arnica topikal menggunakan cotton Buds pada luka memar itu. "Kenapa kamu memukul Rey?"


"Aku kira dia mengganggu kak Raya!"


"Iya, tapi kan tidak harus memukul nya! Kamu mau jadi sok jagoan ya?? Haahh...sudahlah, ini juga salahku sih....!!" Gerutu Raya.


"Kak Raya menyukai Rey?"


"Aku? Astaga.. Sudah gila aku kalau menyukai laki-laki macam dia!!" Raya mencibir dengan kesalnya. Bryan pun terdiam mendengar itu.


Wajah Raya kini mendekat, sembari jari-jari lentiknya berpindah ke area bibir Bryan, mengoleskan salep dengan lembutnya.


DEG.. DEG... DEG...


Seketika jantung Bryan berdetak tidak karuan, saat wajah Raya semakin mendekat ke wajahnya, hingga hanya menyisakan jarak beberapa centi dari wajahnya. Bryan memandangi garis wajah Raya yang tampak begitu serius, alisnya tertata rapi tanpa tambahan goresan pensil alis, matanya bulat bersinar dengan bulumata yang lentik serta hidung yang mancung. Pandangan Bryan pun tertahan saat bola matanya sampai di bibir ranum Raya. Bibir dengan warna merah muda yang merekah.


"Sepertinya bibirmu sedikit bengkak." Ucap Raya lalu menggigit bibir bawahnya, sementara jari-jarinya mengusap pelan bibir Bryan. Dengan cepat Bryan memejamkan matanya agar pikiran nya tidak travelling kemana-mana, beberapa kali dia juga menelan saliva nya dengan begitu susah.


"Kenapa? Sakit?" Tanya Raya dengan lembutnya saat melihat Bryan memejamkan matanya. Bryan hanya mengangguk pelan dengan ekspresi seperti menahan sesuatu.


Raya tersenyum gemas melihat ekspresi Bryan itu. Tangan Raya pun lalu bergerak mengacak rambut Bryan. "Terima kasih karena sudah khawatir padaku....." Lanjutnya lalu berjalan kembali menyimpan peralatan medis kedalam tasnya dan mengambil obat pereda nyeri beserta segelas air. Sebagai seorang dokter, Raya memang sering kali membawa beberapa obat-obatan dan peralatan medis darurat bila bepergian jauh.


"Nih, minum dulu biar tidak nyut-nyut saat tidur nanti." Raya menyerahkan sebutir tablet dan segelas air kepada Bryan.


Bryan langsung meminum tablet itu dan meneguk air dalam gelas hingga setengahnya.


"Good Boy!!" Puji Raya dan kembali mengacak rambut pada pucuk kepala Bryan.


Bryan meraih tangan Raya dan menggenggam nya. "Kak Raya menganggapku sebagai apa?"


Bukannya menjawab pertanyaan Bryan, Raya malah fokus melihat punggung dan buku-buku tangan Bryan yang juga memerah. "Astaga, ini juga perlu diobati." Ucap Raya mengelus tangan Bryan.


"Ini tidak sakit! Kakak jawab pertanyaan ku yang tadi."


Raya tersenyum lembut lalu melepaskan tangan Bryan. "Menganggapmu apa?? Ya aku melihat mu seperti Rachel melihatmu..Haa....Hoaammmm!!" Ucapan Raya terhenti karena menguap dengan lebarnya. "Tidurlah...!! aku juga lelah, pikiran ku masih syok atas kejutan yang ku dengar barusan!!!" Serunya dengan menahan kantuk.


Bryan menunduk kecewa, lalu bangkit dan melangkah menuju pintu.


"Mau kemana?"


"Tidur, kak Raya kan menyuruh ku tidur."


"Tidurlah disini, tubuhmu yang tinggi itu tidak cukup kalau meringkuk tidur di sofa."


Bryan mengernyitkan keningnya hingga kedua alisnya bertemu. "Lalu kak Raya dimana?"


"Tempat tidur ini besar, cukup untuk berdua!" Ujar Raya lalu berputar ke sisi ranjang sebelah, menepuk-nepuk bantalnya lalu merebahkan tubuhnya.


"Tidurlah di sebelah situ." Lanjut Raya, menunjuk sisi kasur yang kosong dengan wajahnya. Dia sudah sangat merasa lelah, lelah dengan pikiran yang memenuhi kepalanya.


"KAK RAYA!!!" Teriak Bryan hingga membuat Raya kembali duduk dan memandangi nya.


"Apa lagi?"


"Kak Raya, kita ini tak ada hubungan darah! Aku bukan lagi seorang bocah, aku ini laki-laki normal. Apa kak Raya tidak takut padaku?"


"Aisshh, tadi kamu sendiri yang bilang mau menjaga ku!" Gerutu Raya sambil mengacak rambut nya. Pikiran nya sudah dipenuhi dengan masalah Rachel dan Mahavir, hingga tidak lagi ruang untuk memikirkan yang lainnya. Demi apapun dia sudah sangat mengantuk, dan butuh tidur. Apalagi mengingat saat ini sudah menjelang dini hari. Kedua matanya berulang kali mengerjap-ngerjap menahan kantuk.


Bryan naik ke atas tempat tidur dan mendekati Raya, "Kak Raya lupa dengan kata-kata ku?"


"Apa?" Raya bertanya dengan suara serak dan mata yang mulai terpejam.


"Jangan menganggapku bocah, karena aku bahkan sudah bisa menghamili kak...." Ucapan Bryan terhenti karena tubuh Raya sudah terjatuh ke bahunya. Nafas Raya bahkan terasa di lehernya. "Kak... Kak Raya??" Bryan mengguncang pelan tubuh Raya.


"Hemm..." Raya hanya menggeliat dan semakin merapatkan wajahnya ke dalam leher Bryan.


"Astaga!! Bisa-bisanya kak Raya tidur dalam keadaan dan situasi seperti ini!!!" Desah Bryan,


lalu perlahan menarik tubuh Raya dan membaringkannya. Tapi tiba-tiba kedua tangan Raya melingkar dipinggangnya dan memeluknya, hingga membuat tubuh Bryan ikut terjatuh dan menindih tubuh Raya. Naasnya, bibir mereka saling bertemu. Mata Bryan langsung membulat sempurna, dengan cepat dia melepas tangan Raya dan melompat turun dari ranjang.


"Arrrggghhh... Bisa gila aku!!!" Desah Bryan mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangan.


Setelah menyelimuti tubuh Raya, Bryan mengambil satu bantal dan keluar dari kamar itu menuju ke tempat semula di sofa panjang yang tadi. Bolak-balik, mata Bryan belum juga dapat terpejam. Pandangan nya tertuju pada pintu kamar Raya yang tidak terkunci.


Tanpa pikir panjang lagi, Bryan menggeser sofa panjang itu hingga menempel di depan pintu kamar Raya. "Dengan begini tak ada yang akan masuk ke kamar kak Raya. Aku bisa tidur tenang!!" Guman Bryan dalam hatinya. Lalu kembali berbaring dan memejamkan matanya. Senyum nya terukir mengingat ciuman pertamanya baru saja terjadi tanpa kesengajaan.


* * *