Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 80.Terungkap.


Sejak meninggalkan Star Productions house, Rachel terus terdiam memikirkan perkataan dari Sam. Bukannya ia tak mengerti akan maksud dari perkataan Sam itu, hanya saja ia tak sanggup menerima bila pemikiran Sam dan kecurigaannya benar terbukti. Tidak, bahkan untuk kemungkinan terkecil pun Rachel tak mau menduga-duga.


Sepanjang perjalanan balik ke kantornya itu, Rachel terus mengalihkan pandangannya ke samping pada kaca jendela mobil, namun tatapannya itu terlihat kosong sambil terus menggigiti ujung jempolnya. Kebiasaan yang refleks akan dilakukannya bila hatinya sedang kalut ataupun dalam keadaan panik.


Stuart yang sedang terduduk di balik kemudi pun hanya didengarkannya dengan lamat-lamat.


"Mrs. Alister?" Panggilnya, karena tak ada respon dari Rachel atas apa yang di bicarakannya. Namun Rachel masih bergeming diposisinya.


"Mrs.Aliter?" Panggilnya lagi dengan suara baritonnya yang berat.


Rachel tersentak dari lamunannya dan langsung menoleh memandangi Stuart. "Hmm yah, ada apa Mr. Stuart?"


"Apa semuanya berjalan lancar tadi?"


"Ah iya, semuanya berjalan lancar."


"Lalu mengapa Mrs. Alister terlihat kalut seperti ini?" Tanya Stuart menyelidik. Ia curiga ada sesuatu yang tak beres yang telah terjadi pada Nyonya Muda-nya itu. Karena wanita itu langsung badmood setelah keluar dari gedung tadi. "Anda tahu kan kalau saya bisa mencari tahunya sendiri walaupun anda tak mau mengatakannya?"


"Itu cuma perasaan anda saja. Tak ada apa-apa, Semuanya lancar. Aku hanya lelah sekaligus merasa lega setelah semuanya selesai." Ujar Rachel beralasan sembari merilekskan otot leher agar alasannya lebih meyakinkan.


Stuart mengangkat satu alisnya, memandangi Rachel dari pantulan cermin selama beberapa detik, lalu mengangguk pelan tanda menerima alasan Nyonya Muda-nya itu. Ia pun menyunggingkan senyumnya lalu kembali membahas apa yang dibicarakannya tadi. "Saya sudah mengurus semuanya, anda sisa bersiap-siap seperlunya saja."


"Bersiap-siap?" Rachel menautkan kedua alisnya, memandangi Stuart dengan tatapan tak mengerti. "Bersiap-siap kemana?" Tanyanya ulang.


"Ahhh...berarti sedari tadi aku bicara seorang diri yah..." Ucap Stuart dengan kembali menyunggingkan senyumnya.


"Ah maaf, tadi aku kurang menyimak. Bisa diulang tadi anda sedang membahas apa?"


"Presdir akan kembali berangkat ke Amerika malam nanti. Kebetulan jadwal anda kedepannya sudah kosong, Tuan Muda juga sudah menyelesaikan pekerjaannya dan sudah lolos dari pengawasan Presdir, jadi besok anda dan Tuan Muda sudah bisa pergi Honeymoon. Saya sudah mengatur semuanya sesuai permintaan Tuan Muda. Kalian akan keliling Eropa. Jadi anda sisa bersiap-siap saja malam ini." Ujar Stuart bersemangat.


"Oh begitu...." Rachel menjawab dengan datar tanpa terlihat antusias sama sekali. Ia kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke samping, menatap jauh keluar sana menembus kaca jendela mobil. Rachel begitu ingin menanyakan pada Stuart perihal apa yang Sam katakan tadi, tapi Rachel sangat menyadari kalau pria Skotlandia itu takkan mau menceritakan yang sebenarnya.


Rachel mendesah pelan diikuti helaan nafas panjangnya. Kepalanya mendadak pusing dan pening. Rencana Honeymoon itu kini sudah tak ada lagi dalam pikirannya.


Kembali Stuart mengamati ekspresi Nyonya Muda-nya dari pantulan cermin yang tak sesuai dengan ekspektasinya. Tadinya dia pikir wanita itu akan berbinar-binar begitu mendengar kejutan honeymoon-nya. Tapi sayang, tebakannya meleset. Nyonya Muda-nya ini memang susah ditebak isi hatinya.


Pantas saja Tuan Muda begitu stress bila ada masalah dengan wanita ini,


benar-benar membutuhkan kesabaran extra....


Stuart bermonolog sendiri dalam hatinya, Saat akan kembali berucap, tiba-tiba ponselnya berdering. Terlihat nama Presdir dalam layar ponselnya. Dengan cepat ia menerima panggilan telepon itu. Stuart hanya berucap 'Yes Sir' lalu mengakhiri sambungan tersebut, kemudian menoleh ke belakang, "Malam ini Presdir mengundang anda makan malam di Alister hotel sebelum beliau berangkat ke Amerika." Ucapnya, lalu kembali berbalik ke depan.


"Makan malam denganku? Hanya berdua?"


"Tenang saja Mrs Alister, Tuan Muda juga akan ada disana."


"Ohh...." Rachel menghela nafas lega. Kemudian berucap dengan sedikit ragu. "Mmmm....Mahavir itu putra satu-satunya Tuan James? Apa Tuan James tak mempunyai anak lainnya?" Tanyanya sambil mengamati wajah Stuart dari pantulan cermin depan.


Stuart sedikit mengernyit, "Maksud anda?"


"Mmmm... Maksudku, apa Mahavir itu putra kandungnya?"


Stuart terkekeh pelan. Speechless dengan pertanyaan aneh wanita itu. "Apa anda tak bisa melihat bola mata yang sama pada keduanya?"


"Ah...betul juga." Rachel berucap lirih kemudian terdiam, merutuki pertanyaan bodohnya barusan.


"Saya tak tahu apa maksud dari pertanyaan anda Nyonya Muda. Tapi, memang hanya tuan muda satu-satunya putra dari Tuan James Alister. Selama hidupnya, Tuan James hanya mempunyai satu orang istri yang sangat dicintainya, dan belum bisa tergantikan dengan wanita manapun. Tuan James adalah sosok pria yang setia seumur hidupnya, dan mungkin sifatnya itulah yang kini menurun kepada Tuan Muda yang hanya bisa melihat anda seorang sebagai wanitanya." Pujinya, namun Rachel tak merasa tersentuh sama sekali dengan pujian tersebut.


"Kata Vir, ibunya meninggal sejak ia berusia 5 tahun, dan sempat tinggal di panti asuhan. Dan baru bertemu ayahnya setelah dewasa. Apa....." Rachel langsung menggantung ucapannya saat tersadar dengan apa yang di ucapnya barusan.


Astaga, kenapa aku baru menyadarinya sekarang?


Bukankah cerita hidup mereka hampir sama?


"Apa yang ingin anda tanyakan tadi?"


"Ah, tidak. Tidak jadi." Mengatupkan kedua bibirnya lalu kembali melihat kearah kaca jendela samping.


Stuart tersenyum tipis dan kembali melajukan kendaraan dengan tenang mengantarkan Rachel kembali ke kantornya. Sementara Rachel di kursi penumpang belakang terus berusaha menyatukan puzzle ingatan yang sedikit lagi terbentuk sempurna.


* * * *


Sesampainya di kantor Rachel buru-buru masuk ke ruangannya. Membuka laptopnya dan menyalakannya. Sejenak Rachel memandangi Flashdisk yang berada dalam genggaman tangannya yang bahkan sudah terlihat bergetar sebelum melihat isi dari Flashdisk tersebut. Rachel menghela nafas panjang sebanyak tiga kali untuk mempersiapkan hatinya, lalu menyambungkan flashdisk tersebut pada laptopnya.


Jari-jarinya yang bahkan sudah gemetaran kini langsung berselancar diikuti bola matanya yang terus bergerak-gerak menelisik tampilan layar, membuka semua file-file foto dari Sam.


Mungkin karena Sam sudah mengetahui tujuan Rachel meminta foto-fotonya, maka file yang di salinnya pun semuanya berisikan gambar-gambar yang hanya memuat sosok Dirman secara tak sengaja.


Semakin jauh jari-jari Rachel bergerak, semakin banyak hal yang membuka matanya. Tubuhnya semakin menegang seiiring dengan kenyataan yang dilihatnya. Kedua matanya memanas, degup jantungnya semakin berdetak tak karuan dengan perasaan yang ia sendiri tak tahu menafsirkannya.


Foto-foto Sam memang berfokus pada bangunan-bangunan kampus dan pemandangan sekitar, tapi secara kebetulan juga menampilkan sosok pemuda yang selalu menggunakan hodie dan bersembunyi di balik dinding bangunan itu. Dengan pandangan yang terlihat serius memperhatikan apa yang ada di depannya hingga tak sadar kalau dirinya tertangkap kamera. Dilihat dari sudut pengambilan foto tersebut, dapat Rachel yakini kalau sosok itu pasti mengamati dirinya saat berjalan melewati koridor kampus dari jauh.


Hal yang membuat Rachel semakin tercengang dimana ada satu foto yang berfokus pada jalan raya disekitar kampus, namun juga memperlihatkan Stuart sedang duduk bersama dengan Dirman di kafe terbuka di seberang jalan.


Rachel membekap mulutnya dan semakin syok begitu memperbesar dan mengamati foto-foto tersebut secara seksama. Begitu jelas terlihat perubahan sosok pemuda itu dari tampilan foto yang satu dengan foto lainnya. Yah, perubahan sosok Dirman yang semakin mirip dengan suaminya.


Rachel menutup laptopnya lalu membenamkan wajahnya ke atas tangannya yang terlipat di atas meja kerjanya, kemudian menangis sejadi-jadinya.


Kamu jahat Vir.... Kamu jahat....


Hatinya sakit, hatinya hancur, dan tidak tahu harus mempercayai yang mana. Apakah ia harus mempercayai suaminya yang berkali-kali meyakinkannya atau dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Kepalanya semakin pening dan terasa berputar-putar. Saat akan bangkit dari kursi kerjanya, penglihatan tiba-tiba menggelap diikuti kesadaran dirinya yang tiba-tiba menghilang. Rachel ambruk dan terjatuh ke lantai.


Saat ia tersadar, yang langsung di tangkap oleh kedua matanya adalah sosok Merry yang terlihat begitu panik sambil memegang ponsel hendak menghubungi seseorang. Rachel buru-buru bangun dan menarik ponsel Merry.


"who are you calling?" (*Siapa yang kamu telepon?) tanyanya dengan suara lemah dan bergetar, nyaris tak kedengaran.


"your husband Miss Rachel..." (Suami anda nona Rachel.)


"Please, don't tell him...." (Kumohon jangan memberitahunya)


Merry menautkan alisnya dan masih menatap Rachel dengan cemas.


"Ah, I don't want to worry him..." (Ah, aku tak ingin membuatnya khawatir.) ucap Rachel beralasan.


"But....." (Tapi...)


Rachel tersenyum lalu menyentuh tangan Merry, "I'm Fine. I'm just tired. Don't worry." (Aku tak apa, aku hanya lelah. Jangan khawatir.)


Merry mengangguk pelan kemudian mengambilkan air minum untuk Rachel. Rachel menerimanya dan langsung meneguknya hingga tandas. Setelah merasakan perasaannya sudah membaik, Rachel meminta Merry untuk mengantarnya pulang.


* * *


Rachel berjalan memasuki Penthouse dengan langkah gontai. Kepalanya masih terasa pening dan melihat keadaan rumah yang seakan berputar-putar dalam pandangannya. Karena tak kuat lagi melangkah naik ke lantai atas dimana kamarnya berada, ia pun akhirnya menghempas tubuhnya berbaring di atas sofa ruang keluarga dan memejamkan kedua matanya.


Namun sekelebat ingatannya saat bercumbu dengan Mahavir di sofa itu membuatnya mendadak mual dan merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia pun bergegas bangkit dan berlari ke pantry lalu memuntahkan isi perutnya ke wastafel pantry itu.


Bik Inah yang mendengar dari lantai dua saat bersih-bersih langsung datang menghampirinya dengan langkah yang tergopoh-gopoh.


"Astaga Nyonya Muda, anda sakit yah?" Bik Inah bertanya sembari memijit pelan tengkuk Rachel dan mengusap punggungnya.


"Aku hanya pusing Bik. Apa Bik Inah punya obat sakit kepala?"


"Sepertinya ada di kotak obat di ruang kerja Tuan Muda." Ucap Bik Inah, kemudian berbalik hendak ke ruang kerja.


"Ruang kerja?" Rachel mengernyit dan teringat dengan perkataan Risya mengenai saputangan yang katanya miliknya. Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk mencari tahu lagi di sana. "Ah, biar saya yang mengambilnya sendiri." Ucapnya lagi setelah berkumur dan membilas wajahnya dengan air kran.


"Tapi Nyonya Muda, apa sebaiknya Nyonya Muda periksa ke dokter? Atau saya panggilkan dokter keluarga saja kemari?" Tanyanya masih dengan ekspresi cemasnya.


Rachel mengulas senyum dan menggeleng pelan, "Aku tak apa-apa Bik, hanya telat makan dan mungkin kurang tidur."


"Kalau begitu setidaknya Tuan Muda harus mengetahui keadaan anda saat ini." Ucap Bik Inah sambil meraih gagang telepon yang tergantung di dinding pantry.


Rachel langsung menarik gagang telepon dari tangan Bik Inah. "Jangan, jangan memberitahunya. Aku.. Aku tak mau membuatnya khawatir."


Bik Inah hanya mengangguk dan memandangi wajah Nyonya Muda-nya dengan tatapan bingungnya.


"Aku tak apa Bik, Bik inah lanjutkan saja pekerjaan Bik Inah tadi." Perintahnya.


"Tapi...."


"Bik...Aku tak suka bicara dua kali." Ucapnya dengan tegas, membuat Bik Inah langsung beranjak tanpa mengucapkan lagi sepatah kata.


Setelah melihat Bik Inah menghilang dari anak tangga menuju lantai atas, Rachel pun langsung masuk ke ruang kerja Mahavir. Di dalam ruang kerja itu Rachel langsung memeriksa semua berkas-berkas yang ada di atas meja, kemudian membuka laci satu persatu dan mengobrak-abrik isinya. Dari semua laci, hanya satu laci di bagian sisi kanan meja yang terkunci rapat dan tak bisa dibukanya.


Kedua tangannya pun terangkat dan mencengkram kepalanya dengan kuat karena tak menemukan apapun juga yang bisa meyakinkannya. Rachel yang frustasi dan tanpa sadar langsung menghambur semua yang ada di atas meja hingga terhempas ke lantai. Tak terkecuali vas kristal yang tergeletak di atas rak buku juga menjadi korban amarahnya.


PRANGGG......


Suara nyaring vas kristal yang jatuh dan terhempas pada kerasnya lantai marmer menggema dan memekakan telinganya. Refleks Rachel menyusut kebawah, berjongkok dan menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangannya. Traumanya tiba-tiba muncul dan membuatnya syok.


Bik Inah yang mendengar suara nyaring kaca yang pecah kembali muncul dengan wajah paniknya. Bik Inah mengira Nyonya Muda-nya itu kenapa-kenapa, namun begitu melihat Rachel yang histeris sambil berjongkok wajahnya juga mendadak pias dan tak tahu akan berbuat apa. Bik Inah tertegun selama beberapa detik hingga kemudian menghampiri Rachel, menarik tubuh Rachel agar bangkit berdiri kemudian duduk di kursi kerja Mahavir. Setelahnya Bik Inah segera berlari kembali ke pantry dan membuatkan teh hangat dengan campuran lemon dan memberikannya pada Rachel.


Setelah perasaan Rachel tenang dan membaik, Bik Inah pun membantu Rachel ke kamarnya dan membaringkan tubuh lemah Rachel ke atas tempat tidurnya.


"Bik...." Panggilnya saat Bik Inah hendak keluar dari kamarnya.


"Yah, Nyonya Muda...." Kembali menghampiri Rachel, merapatkan selimut dan mengusap lembut kening Rachel seperti anaknya sendiri.


"Bik Inah, tolong bereskan ruangan tadi seperti semula, dan tolong jangan katakan apapun pada Tuan Mahavir." Pintanya diikuti isakan tangisnya.


Bik Inah tertegun sejenak hingga kemudian Rachel meraih tangannya dan membuat sisi keibuannya bangkit.


"Bik, jangan laporkan kejadian hari ini." Pintanya lagi dengan memelas.


Bik Inah akhirnya mengangguk dan tersenyum tipis. "Baik Nyonya, saya tak akan berkata apa-apa pada Tuan Muda. Tapi saya tak bisa berbohong saat Mr. Stuart melihat CCTV rumah ini dan menanyakan hal itu pada saya."


...Aku lupa kalau ada CCTV di tiap sudut tempat ini....


"Ah iya, tak apa Bik."


"Dan tolong jangan sakiti diri anda sendiri. Kalau ada apa-apa, Bik Inah siap membantu, termasuk bila Nyonya membutuhkan teman bicara." Ujar Bik Inah. Usianya yang sudah tak lagi muda dan pengalamannya selama ini, serta apa yang sudah dilihatnya tadi membuatnya mengerti akan adanya trauma mendalam yang ada pada Nyonya Muda-nya itu.


Setelah Rachel memejamkan matanya dan mulai terlelap, Bik Inah pun keluar dari kamar Rachel dan langsung bergegas membereskan ruang kerja Mahavir kembali seperti sedia kala, kecuali vas kristal yang pecah tadi.


* * *