Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 65.Mantan.


Saat pertunjukan show hampir akan berakhir Mahavir terlihat mulai gelisah, menggeliat tak tenang dan tak betah sedikitpun. Bahkan saat fashion show baru saja berakhir, ia langsung beranjak dari tempatnya. Stuart yang ada di sampingnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


Runway hari ini telah berakhir dengan lancar, beberapa orang telah beranjak dari tempatnya.


Namun sebagian juga masih nampak tinggal bercakap-cakap.


"Fashion Show-nya sudah selesaikan?" Bisik Mahavir pada Stuart. Pertanyaan yang sudah kesekian kalinya diucapkan oleh Mahavir. "Apa sesuatu terjadi padanya?"


"Tuan, tenanglah. Nyonya Alister tidak akan kemana. Dia masih sibuk di belakang sana. Sedikit lagi pasti keluar." Stuart menepuk pelan bahu Tuan mudanya, mencoba membuatnya lebih tenang lagi.


Aksi keduanya yang sedikit riuh mengundang sepasang mata yang berdiri tak jauh dari mereka. Orang itupun menghampiri Mahavir dan Stuart.


"Kita ketemu lagi..." Sapanya, mengagetkan Mahavir dan Stuart.


"Kamu..! masih hidup yah?" Tanya Mahavir sedikit ketus pada wanita yang baru menyapanya.


"Hai, Stuart apa kabar?" Ucapnya tanpa mempedulikan kata kasar Mahavir.


"Baik Nona Hannah. Lama tak berjumpa."


"Ada apa dengan Tuan Muda mu ini? Dari tadi kuperhatikan seperti cacing kepanasan."


Stuart tersenyum menahan tawa. "Biasa....."


"Astaga, susah memang kalau sudah bucin akut. Hei Tuan Muda, santai saja." Ucapnya menepuk bahu Mahavir. "Penawaranku yang kemarin masih berlaku loh, bagaimana?"


Mahavir melirik sekilas lalu pandangan kembali lurus kedepan. "Jangan macam-macam."


"Kemarin aku tidak sempat bertemu istrimu. Sebentar kalau bertemu dengannya aku akan menggodanya sedikit. Aku akan membuatnya cemburu, biar ada sedikit perasaan takut kamu direbut orang lain. Sehingga dia akan melengket terus padamu."


"Ck...." Mahavir tersenyum sinis, lebih terlihat mengejek.


"Tak percaya? Mau taruhan? Kalau aku bisa melakukannya, kamu harus mengontrakku sebagai model Utama untuk ambassador Alister hotel, bagaimana?"


"Kalau kamu kalah?"


"Ah tak ada dalam sejarah seorang Hannah Barbara gagal."


Mahavir terkekeh, "percaya diri sekali. Istriku bukan orang yang mudah cemburu buta."


"Deal?"


"Ok, aku akan lihat kerja kerasmu."


"Alaahhh, kalau yang seperti ini kecil. Ok, deal yah. Stuart kamu dengarkan? Segera siapkan surat kontrak untukku yah..." Perintahnya lalu beranjak dari hadapan Stuart dan Mahavir, berjalan menuju sudut lain, hingga menghilang dibalik tembok tebal bernuansa modern.


"Tuan...."


"Buatkan saja, dia akan terus meminta sampai keinginannya terpenuhi."


"Kak Vir, perempuan yang tadi siapa? Artis yah? Cantik sekali..." Risya tiba-tiba muncul dibelakang dan mengagetkan Mahavir.


Mahavir berbalik dan sedikit membungkukkan badannya mendekati Risya. "Cantikan mana dengan Rachel?"


Risya mengengir, "Yah jauh cantikan kak Rachel dong..."


"Pintar!" Mahavir tersenyum puas lalu mengangkat tangannya ke udara, Risya menyambut tangan Mahavir dengan saling tos.


"Bryan bawa Risya jalan dan belikan apapun yang dia mau dengan kartu yang kuberikan padamu."


"Wahhh, kak Vir terbaik. Makasih kak." Risya tersenyum dan menaik turunkan alisnya di depan Bryan.


Bryan tersenyum geli. "Dasar penjilat." ejeknya


BUKK.....


Tangan kanan Risya bergerak memukul keras lengan Bryan, membuat pemuda itu meringis kesakitan.


"Wekk..!" Risya menjulurkan lidahnya meledek Bryan yang hanya mendengus kesal melihatnya. Pandangannya kemudian menunduk memandangi buket bunga cantik yang ada di tangan kirinya. "Kak Rachel mana yah? Nanti bunganya layu sebelum diberikan pada kak Rachel."


"Hei, bodoh. Bunga itu tak akan layu begitu cepat. Tak pernah ada yang kasih bunga yah?"


"Kak Bry mau kasih Risya bunga?"


"Najis, Pacarku saja belum pernah menerima bunga dariku."


"Astaga, Risya lupa..!" Menepuk keningnya beberapa kali. "Kak Bry, tadi pagi ada te....."


"Eh, tuh kak Rachel." Bryan langsung memotong ucapan Risya.


"Mana?" Mengedarkan pandangannya lebih jauh.


"KAK RACHEL" Teriak Risya sambil melambaikan tangan ke arah Rachel di kejauhan yang berjalan keluar dari arah backstage. Rachel membalas lambaian tangan Risya dengan mengibaskan tangannya.


Rachel berjalan pelan namun penuh ke anggunan, beberapa mata memandangi penampilannya yang bahkan mengalahkan beberapa orang-orang terkenal yang ada. Ditambah kalung berlian nan mewah yang melekat di leher jenjangnya, menjadikan beberapa pasang mata dari wanita sosialita tak berkedip sedikitpun. Rachel hanya menyapa sekilas yang dikenalinya kemudian melanjutkan langkahnya menghampiri Mahavir dan lainnya.


Mahavir tersenyum lega melihat keadaan Rachel yang baik-baik saja. ia langsung mengecup kepala Rachel begitu Rachel sudah berdiri dihadapannya.


"Hai, Makasih yah sudah mau datang." mengulas senyum pada semuanya.


"Ini buat kakak. Dari Risya dan kak Bry." Risya memberikan sebuket bunga lily pada Rachel.


Rachel menerima bunga itu dan menghirup aromanya. "Cantik sekali, wangi lagi. Terima kasih yah.."


"Sama-sama Kak Rachel. Risya ju....."


"Kalau begitu kami duluan yah." Bryan langsung menarik Risya yang baru akan berbicara kembali.


"KAMI DULUAN YA KAK.." Teriak Risya yang kini sudah dibawa menjauh oleh Bryan.


"Dasar anak itu. Dia pasti ikut kesini dengan sangat terpaksa." Rachel menggeleng-geleng melihat kelakuan Bryan yang tidak pernah betah di tempat keramaian. "Kamu yang memaksanya ikut?"


"Aku bahkan tidak mengajaknya, sepertinya si imut itu yang memaksanya." Mahavir tersenyum geli mengingat tingkah-tingkah lucu Risya sewaktu di Penthouse tadi. "Di Penthouse jadi ramai yah karena anak itu..."


"Iya, pasti bakalan sepi kalau dia sudah pulang."


Stuart yang sedari tadi terdiam, maju selangkah menghampiri Rachel. "Mrs Alister, selamat show tadi berjalan lancar." Stuart ikut memberikan sebuket bunga aster.


"Wah, Makasih Mr. Stuart." menerima buket itu dan tersenyum. "Kapan anda mempersiapkan ini? Bukankah anda begitu sibuk seharian ini?"


Ucap Rachel melirik Mahavir yang berdiri dengan tangan kosong, mencoba menyindirnya.


"Apa?" Tanya Mahavir yang merasa dipandangi oleh istrinya.


"Kamu tidak membawa sesuatu untukku?"


"Aku masih perlu membawa sesuatu? Aku kira diriku saja sudah cukup." Jawabnya dengan percaya diri.


"Yah, tidak perlu sih." Rachel merengut kesal.


Mahavir langsung merangkul dan mengecup sekilas pipi Rachel. "Lelah? Bagaimana tadi?"


"Lumayan, untung semuanya lancar."


"Tapi..." Mengernyit dan memandangi lekat-lekat raut wajah Rachel.


Rachel mengangkat kedua alisnya. "Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?"


"Kamu terlihat pucat sayang..." Mahavir langsung menarik dan memeriksa keadaan Rachel. "Apa masih sakit?" Bisiknya kemudian. Rachel hanya menggeleng dan tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan Mahavir.


Mahavir menghela nafas lalu mengusap pelan rambut Rachel. "Sudah selesaikan? Bisa pulang sekarang?"


"Iya, Tinggalpun aku tak bisa berbuat apa-apa. Marry dan yang lainnya akan menyelesaikan semuanya dibelakang. Mereka semua kompak mengusirku dari sana."


"Wah, aku harus berterima kasih pada mereka kalau begini." Kembali mengecup pipi Rachel, lalu menuntunnya berjalan. "Stuart, reservasi restoran di hari penutupan runway nanti. Aku ingin mengajak mereka semua makan malam."


"Baik Tuan." Ucap Stuart di belakang mereka lalu segera mengeluarkan ponselnya dari saku dibalik jasnya dan menghubungi salah satu restoran yang ada di kota London.


"Langsung pulang ke Penthouse kan?"


"Iya sayang, kamu harus langsung beristirahat. Kamu terlihat begitu kelelahan." Berjalan sambil mengelus rambut Rachel. "Atau kamu mau kembali ke kapal?" Mahavir mengerling nakal kemudian berbisik. "Kita lanjutkan lagi yang semalam."


Mahavir menyengir malu. "Kamu mau?"


Rachel menggeleng cepat lalu memalingkan wajahnya. Hingga kemudian pandangannya menangkap sosok wanita cantik nan anggun yang tidak asing baginya.


"Vir, tunggu sebentar. Aku mau menyapa dia dulu." Rachel menunjuk ke arah wanita yang dilihatnya, lalu melepas rangkulan Mahavir dan menghampiri wanita itu.


Mahavir melempar pandang pada Stuart, Stuart hanya mengangkat kedua bahunya dengan alis yang terangkat. Seolah tak ingin ikut campur.


"Mrs.Hannah Barbara?" Rachel menyapa wanita cantik itu.


"Oh, Hai Mrs.Rachel..." Hannah balas menyapa seraya memeluk sekilas Rachel. "Lama tak jumpa." Lanjutnya berbasa-basi.


"Iya sudah lama sekali yah."


"Aku lihat karya-karyamu tadi, semakin detail dan patut diacungi jempol, dua jempol malah."


"Terima kasih. Ini semua berkat anda yang sudah mensupportku dari awal. Kalau bukan anda yang menjadi model-ku saat awal launching dulu, mungkin sampai sekarang label milikku tak akan dikenal sampai sejauh ini."


"Tidak, aku hanya membantu sebisanya. Oh iya, tadi ada beberapa koleksimu yang menarik perhatianku. Aku sudah memesannya pada Marry."


"Wah, suatu kebanggaan besar karyaku di gunakan oleh model terkenal seperti anda."


"Tak usah terlalu formal padaku. Kita teman kan?" Menepuk pelan lengan Rachel. Rachel hanya mengulum senyumnya. "Yang itu suamimu kan?" Menunjuk menggunakan sorot matanya ke arah Mahavir yang berjalan mendekat.


"Ah iya, dia sua......" ucapan Rachel terhenti saat Hanna sudah menyapa Mahavir duluan.


"Hai Tuan Muda Alister, lama tak jumpa...." Sapanya berbasa-basi sembari mengulurkan tangan kanannya.


Mahavir melirik sekilas tangan yang menjulur itu lalu menjabatnya dengan malas.


Namun Hanna malah mendekatkan wajahnya ke samping kepala Mahavir dan berbisik. "Istrimu semakin cantik, pantas saja kamu tergila-gila padanya." Ucapnya lalu tertawa kecil dan mengalihkan pandangannya, memandangi wajah Rachel yang terlihat terkejut dan sedikit cemburu, mungkin. Tak habis akal, tanpa mempedulikan tatapan Rachel, Hannah kembali berbisik ke telinga Mahavir. "Sepertinya dia sudah cemburu padaku. Lihat saja, sebelum sampai hitungan ke tiga, dia akan menegurku. Satu... Dua......"


"Kalian saling kenal?" Rachel menyela Hanna yang tengah berbisik pada Mahavir.


Hannah mengulum senyum puas sambil mengedipkan matanya pada Mahavir. Seolah berkata 'benar yang aku katakan kan?'


"Ah maaf Rachel, aku tidak bermaksud...., ah iya kami saling kenal." Hannah kembali tersenyum genit pada Mahavir, membuat Rachel tanpa sadar menarik tangan Mahavir dan bergelayut manja di lengannya.


Mahavir hanya tersenyum tipis dengan kejahilan Hannah. Sejenak Mahavir dan Hannah saling melempar pandang satu sama lain seakan berbicara lewat sorot mata masing-masing.


Melihat interaksi antara Mahavir dan Hannah membuat Rachel tersenyum kecut. Baru kali ini ada wanita yang terlihat akrab dengan suaminya. Ada sedikit rasa tak suka melihat itu, hatinya tiba-tiba terasa diremas-remas. Dengan cepat Rachel mengalihkan perhatian Mahavir. "Sayang, tunggu aku di mobil saja...." Ucapnya yang langsung membuat Mahavir mematung. Untuk pertama kalinya Rachel memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Astaga." Hannah berpura-pura menengok arlojinya. "Aku lupa kalau masih ada urusan di tempat lain. Aku duluan yah Tuan dan Nyonya Alister....senang berjumpa dengan kalian." Ucapnya dengan kembali menjulurkan tangan kanannya menjabat tangan Rachel dan Mahavir bergantian, kemudian buru-buru meninggalkan tempat itu.


"Vir, kamu kenal dimana dengan Nona Hannah?" Tanya Rachel penuh selidik.


"Dia mantanku." Jawab Mahavir tidak sadar, dia masih dalam mode mematung setelah mendengar kata sayang.


Stuart yang mendengar dibelakang hanya mampu menepuk keningnya, mundur selangkah dan berusaha kabur.


"Mantan? Mantan kekasih?" Wajah Rachel mengerut, tak suka dengan apa yang dia dengar. Ia lantas berbalik menatap tajam pada Stuart yang hendak kabur. Namun yang ditatap malah menyengir. Dengan kesal Rachel melepaskan tangan Mahavir dan berjalan meninggalkan dua lelaki yang berdiri mematung.


"Rachel... Sayang, tunggu...." Mahavir tersadar saat Rachel sudah ada beberapa langkah di depan. Dengan cepat ia menyusul dan kembali merangkul Rachel. "Kenapa meninggalkanku sayang."


"Ternyata bertemu mantan kekasih, membuatmu sampai terpesona seperti itu yah?"


"Mantan kekasih?" Mahavir menautkan kedua alisnya.


"Hannah Barbara, bukankah tadi kamu bilang dia mantanmu."


"Astaga kamu salah paham sayang. Dia memang mantan, tapi bukan mantan kekasih. Lebih tepatnya dia mantan tunanganku."


Langkah Rachel terhenti, menghentakkan tangan Mahavir dengan kasar, lalu menatap tajam Mahavir. "Mantan tunangan?"


Menyadari emosi yang terpancar dari wajah Rachel, buru-buru Mahavir mendekap dan menarik Rachel berjalan keluar gedung dan segera masuk ke dalam mobil. Tanpa di perintah Stuart langsung mengemudikan mobil meninggalkan kawasan itu.


Rachel melipat kedua tangannya didepan dada dan memalingkan wajahnya ke jendela mobil.


"Sayang...." Mahavir mengecup-ngecup pundak Rachel. "Kamu cemburu yah?" Tanyanya menahan senyum.


Rachel hanya melirik sekilas lalu menggerakkan bahunya agar Mahavir berhenti mengecupnya.


Tak hilang akal, Mahavir semakin merapatkan tubuhnya menghimpit Rachel yang sudah menempel di pintu mobil. Bibirnya kini menjelajah sebagian wajah Rachel. "Aku senang kalau kamu cemburu seperti ini sayang...." Bisiknya ditelinga Rachel sambil meniup-niupkan nafasnya.


"Jauh-jauh sana." Rachel bergidik geli sambil berusaha mendorong Mahavir. Tapi Mahavir tak bergeming.


"Coba panggil aku sayang sekali lagi." pintanya masih dengan berbisik.


"Suruh saja mantan tunanganmu itu memanggilmu sayang."


"Yang betul? Kamu ikhlas?"


Rachel memutar bola matanya kesal. Namun wajah cemberutnya malah tampak menggemaskan di mata Mahavir. Bukannya membujuk Rachel, Mahavir malah semakin memanas-manasinya.


"Stuart kamu dengarkan barusan, kalau begitu kamu hubungi Hannah dan buat janji dengannya. Sepertinya bukan ide buruk mendengarnya memanggilku sayang."


"KAMU!!!" Rachel menarik dagu Mahavir dan menatap kedua matanya dengan tatapan membunuh. "Awas kalau berani coba-coba..."


"Kan kamu sendiri yang menyuruhku."


"Memangnya apapun yang kusuruh harus kamu kerjakan?"


"Titah dari sang putri adalah keharusan buatku." Jawabnya sambil mengedipkan satu matanya.


Rachel menepuk pelan pipi Mahavir, namun Mahavir menarik tangan itu lalu mengecup punggung tangannya. "Percayalah sayang, hanya kamu yang ada di hatiku selama ini, Hannah itu memang mantan tunangan yang ayahku jodohkan dulu. Tapi kami hanya bertunangan selama beberapa bulan, itupun tidak pernah ada hubungan spesial diantara kami. Dia tahu aku tergila-gila padamu, sedangkan dia terobsesi untuk menjadi model yang sukses dan tak ingin menikah. Beberapa kali Ayahku menjodohkan aku dengan anak dari rekan kerjanya, tapi tak ada satupun yang aku ladeni. Ayahku tahu, kalau posisimu tak pernah bisa tergantikan dengan yang lain. Sehingga Ayahku menyerah dengan sendirinya."


"Lalu kenapa kamu tidak mendekatiku dari dulu?"


"Kamu terlalu bersinar sayang, aku tidak percaya diri."


"Seandainya tak ada insiden di hotel itu, itu berarti kamu hanya akan melihat ku dari jauh terus menerus?"


"Entahlah, mungkin aku akan menculikmu dan menikahimu dengan paksa." Ucapnya setengah terkekeh.


"Aku serius bertanya Vir."


Mahavir tersenyum lalu mengangkat Rachel kedalam pangkuannya.


"Vir lepaskan, malu dilihat Mr.Stuart."


"Stuart apa kamu melihat kami?"


"Tidak tuan, saya hanya melihat jalanan panjang didepan." Stuart dengan cepat menurunkan kaca cermin didepannya.


"Tuh kan, kamu dengar sendiri." Mahavir semakin mengeratkan pelukannya, lalu dengan cepat bibirnya sudah merapat di bibir Rachel.


"Vir..." Rachel menahan wajah Mahavir.


"Stuart tidak akan berani melihat." Ucapnya lalu melanjutkan mengecup bibir Rachel. Rachel ikut terbuai hingga kecupan itu berubah menjadi ciuman panas dan menghasilkan suara-suara aneh yang membuat Stuart panas dingin.


"Saya memang tak bisa melihat kalian di belakang, tapi percayalah saya punya telinga yang bisa mendengar kalian." Ujar Stuart membuat aktivitas pasangan yang tengah bercumbu di kursi belakang terhenti.


"Stuart!!" Panggil Mahavir dengan nada suara penuh jengkel. Kakinya sudah bergerak menendang sandaran jok mobil yang diduduki oleh Stuart.


"Bersabarlah Tuan, sedikit lagi kalian akan sampai di Penthouse kalian." Stuart menahan senyum, berhasil membuat tuan muda nya kesal.


Mahavir ingin memukul Stuart ke depan, namun dengan cepat Rachel menahannya. "Sudah...jangan seperti anak kecil." Ucapnya lalu hendak turun dari pangkuan Mahavir.


"Jangan turun, tetaplah disini." Menarik kepala Rachel agar bersandar di dadanya dan memeluknya dengan erat.


Mobil sedan mewah itu kini melesat dengan cepat membawa mereka kembali ke Penthouse.


* * *


Happy Reading... 🥰🤗


Terima kasih masih meluangkan waktu disini...


Peluk cium dari kk Author 🤗😚😘