
Jari jemari jenjang yang masih tampak pucat perlahan-lahan memberikan sinyal pergerakan, dua detik kemudian diikuti oleh bola mata yang bergerak-gerak di bawah kelopak mata yang masih terpejam. Mata itu mengerjap pelan berkali-kali guna menyesuaikan silau cahaya yang menembus netra-nya, bersamaan dengan usahanya untuk meraih kesadaran sepenuhnya.
Menyadari pergerakan itu, Ny Amitha yang terduduk di samping brankar dengan cepat menekan tombol nurse call. Seulas senyum samar serta airmata syukur jatuh begitu saja dari sudut mata wanita paruh baya itu begitu melihat sang putri sudah mulai membuka kedua matanya.
Tidak lama kemudian seorang dokter wanita bersama dua perawat datang dengan setengah berlari. Dokter itu mengeluarkan penlight dari kantong snelli-nya dan menyorotkan cahaya dari ujung penlight itu ke arah pupil mata Rachel, memeriksa kemungkinan dampak kecelakaan serta operasi yang telah dilakukan padanya. Begitu pupil mata itu merespon, senyum pun terulas di bibir sang dokter.
Setelah memeriksa beberapa bagian vital tubuh lainnya, dokter dan para perawat pun undur diri dan beranjak dari ruang perawatan yang bernuansa soft green dengan wallpaper motif floral disepanjang dinding ruangan itu.
Sejenak pandangan Rachel mengedar mengamati ruangan itu dan terhenti tepat di depan wajah sang mommy yang memandanginya dengan tersenyum dalam tangisnya.
"Mom...." Lirihnya dengan suara yang begitu serak lagi lemah.
"Iya sayang. Ini mommy nak. Kamu butuh apa? Mau minum?" Tanyanya sembari mengusap lembut lengan Rachel yang memar kebiruan.
Rachel menggeleng pelan lalu kembali memejamkan matanya. Mencoba mengembalikan keseluruhan ingatannya. Semenit, dua menit, hingga begitu kepingan ingatannya menyatu, sontak ia memaksakan dirinya terbangun dari pembaringannya.
"Vir... Vir... Mana, Mom? Di mana dia? Dimana vir??" Tanyanya seraya berusaha untuk turun dari brankar-nya, meski penglihatannya masih berputar.
"Tenang sayang, tenang! Kamu baru sadar." Ucap Ny Amitha berusaha menahan kedua bahu Rachel agar tetap berada di brankar-nya.
"VIR..., DIMANA DIA? DIA BAIK-BAIK SAJA KAN?" Teriaknya menuntut jawaban.
"Iya sayang, dia baik-baik saja. Kita akan menemuinya nanti. Saat ini kamu masih belum pulih." Ny Amitha memeluk Rachel dengan erat. ia sendiri berusaha tegar di depan sang putri.
"TIDAK, AKU HARUS MELIHATNYA MOM.... !!AKU HARUS MELIHATNYA SEKARANG JUGA. KUMOHON BAWA AKU MELIHATNYA, KUMOHON..... " Teriaknya histeris dalam pelukan Ny Amitha diiringi isakan tangisnya.
Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka, Pak Wijaya masuk dengan tergopoh-gopoh karena terkejut mendengar suara teriakan dari luar.
"Kamu sudah sadar nak?" Sapanya dan langsung ikut memeluk Rachel beserta Ny Amitha sekaligus.
Rachel melepaskan pelukan keduanya, menarik kedua tangan Pak Wijaya dan menatap kedua bola mata berwarna cokelat milik daddy-nya itu. "Dad...Vir baik-baik saja kan?" Tanyanya, namun Pak Wijaya tak sanggup menjawabnya. Ia kembali menarik dan memeluk putrinya.
"Aku ingin melihatnya, Dad...! Aku ingin melihatnya... Bawa aku melihatnya....." Pintanya dengan nada yang begitu rendah dan tangis yang terdengar begitu pilu.
Ny Amitha menggeleng pelan dan menatap nanar suaminya. Namun Pak Wijaya mengangguk menanggapi tatapan istrinya itu.
"Iya nak, daddy akan membawamu melihatnya. Kamu bisa berjalan? Mau Daddy gendong? Atau Daddy ambilkan kursi rodanya dulu...?"
"Tak perlu dad, aku bisa berjalan. Aku baik-baik saja. Bawa aku secepatnya melihatnya."
Pak Wijaya segera mengambil alih tubuh Rachel dan memapahnya turun dari brankar. Ny Amitha memalingkan wajahnya, mengusap airmatanya yang berjatuhan lalu mendorong besi penyangga botol infus Rachel, mengikuti langkah Pak Wijaya yang menuntun Rachel berjalan menuju ruang ICU.
Dari ujung koridor Rachel sudah dapat melihat beberapa orang laki-laki asing tengah berjaga di depan sebuah ruangan berdinding kaca. Di depan ruangan itu pula terduduk Rey seorang diri pada kursi besi dengan pandangan lurus ke depan. Sedangkan Raya sendiri sudah kembali bekerja di bagian lain dari rumah sakit itu.
Rachel menguatkan dirinya dan mempercepat langkahnya walau tertatih-tatih dalam dekapan Pak Wijaya. Jantungnya seketika berdetak cepat kala menangkap suasana yang sedikit mencekam di depan sana, terutama raut wajah mereka semua yang tampak begitu sayu. Penuh kepedihan.
"Dad...aku bisa sendiri..." Di lepaskannya dirinya dari dekapan sang daddy dan mengambil alih tiang besi infusnya dari sang Mommy lalu mendorongnya dan melangkah perlahan ke arah Rey. Pak Wijaya menarik Ny Amitha ke pelukannya yang hanya sanggup terdiam dan mengamati putrinya sambil menahan tangisnya.
"Rachel...." Rey bangkit berdiri begitu ekor matanya melihat Rachel mendekat ke arahnya.
"Mana Vir...?" Tanyanya. Rey hanya menunjuk dengan sorot matanya ke depan, dimana terdapat kaca lebar untuk memudahkan melihat ke dalam ruangan khusus dimana Mahavir terbaring dalam tidur lelapnya.
Rachel berbalik perlahan dan melangkah mendekat ke dinding kaca ruangan itu. Pupil matanya melebar, tangan kirinya terangkat membekap mulutnya yang terkejut melihat tampilan di dalam ruangan steril di depannya. Kepalanya menggeleng tak percaya dan kedua lututnya seketika lemas, tak sanggup menopang tubuhnya untuk sekedar berdiri di tempat. Rachel sedikit terhuyung ke samping karena pandangannya tiba-tiba berubah gelap, beruntung Rey yang berada di belakangnya sigap menahan tubuhnya dan membawanya untuk duduk.
Pak Wijaya dan Ny Amitha segera menghampiri Rachel dan hendak membawanya kembali ke ruang perawatannya.
"Sayang, kamu belum pulih benar. Istirahatlah dulu, kita bisa kembali melihatnya saat kamu sudah benar-benar pulih." Bujuk Ny Amitha, namun Rachel menepis pelan tangannya.
"Aku baik-baik saja, Mom. Aku mau disini, aku masih ingin memastikannya." Ucapnya lalu beralih memandangi Rey.
Rachel menarik kemeja depan Rey hingga tertarik mendekat padanya. "Rey... Itu.. Itu bukan dia kan? Itu bukan dia kan? Jawab aku Rey! Yang di dalam sana bukan Mahavir kan? Bukan dia kan?" Lirihnya dengan suara tercekat. Airmatanya kembali meluncur membasahi wajahnya.
Rey menundukkan kepalanya, mulutnya terkatup rapat dengan mata yang berkaca-kaca.
"REY..!! JAWAB AKU REY...! ITU BUKAN DIA KAN?" Teriaknya seraya menjatuhkan tubuhnya ke dada Rey dan menangis sejadi-jadinya di sana sambil memukuli lengan kokoh laki-laki itu.
"Rachel... Jangan seperti ini. Kamu harus kuat untuknya. Dia akan sedih melihatmu seperti ini." Bujuk Rey sembari mengelus pelan punggung Rachel yang berbalut setelan rumah sakit.
"Itu benar nak..., Mahavir pasti tak ingin melihatmu seperti ini." Ucap pula Pak Wijaya yang ikut duduk di sisi putrinya. Sementara Ny Amitha hanya mampu terdiam dalam tangisnya.
Rachel melepaskan diri dari dekapan Rey, sedikit mondorong laki-laki itu dan kembali memandangi wajahnya. "Apa... apa aku bisa masuk melihatnya ke dalam?"
Rey menggeleng pelan. "Kita hanya bisa melihatnya dari sini..." Jawabnya dengan pandangan menerawang ke arah kaca.
Rachel menarik nafas dalam-dalam. Mengusap airmatanya. Menormalkan pernafasannya lalu perlahan bangkit berdiri.
"Nak... Biar daddy bantu yah..." Pak Wijaya ikut bangkit berdiri dan memegangi lengan Rachel.
Rachel menggeleng, menolak bantuan daddy-nya lalu mendorong tiang besi infusnya beriringan dengan langkahnya. Mendekat hingga menempel pada kaca dinding pembatas ruangan Intensive Care di depannya.
Rachel memejamkan matanya tak kuasa melihat itu semua, airmatanya terus saja berjatuhan tanpa dapat dibendungnya. Begitu sakit dan perih hatinya melihat semua itu. Bagaikan di iris-iris sembilu yang tak kasat mata. Dan yang paling membuatnya merasa terpukul, karena semua itu disebabkan oleh dirinya. Dialah penyebab semua kemalangan laki-laki itu.
"Vir.... Maafkan aku, ini semua karena diriku.... Maafkan aku sayang....." Lirihnya sembari mengusap permukaan kaca di depannya, seolah-olah ia sedang mengusap lembut lengan laki-laki itu.
"Vir... Bertahanlah... Kumohon, bertahanlah untuk diriku...."
***
Dua hari sudah terlewati, selama itu pula Rachel tak pernah lepas mengamati Mahavir dari balik kaca. Bertahan berdiri berlama-lama di depan dinding kaca ruangan Mahavir. Bila lelah Rachel akan duduk di kursi yang ada di sana, dan bila ia tertidur di kursi barulah Pak Wijaya ataupun Rey mengangkatnya kembali ke ruang perawatannya. Namun bila ia terbangun, ia akan kembali lagi ke sana. Mengabaikan pandangan para pengawal yang berjaga dan mengabaikan semua rasa yang ada pada tubuhnya, baik itu rasa sakit, lelah maupun rasa laparnya. Ny Amitha dan Raya-lah yang seringkali membujuknya untuk makan walau sekedar dua tiga sendok.
Saat inipun Rachel masih betah berdiam diri di hadapan dinding kaca itu selama seharian penuh. Terus mengamati keadaan Mahavir di dalam sana yang sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan terbangun dari tidurnya.
Raya dan Rey hanya bisa mengamati dari belakang, sementara Pak Wijaya dan Ny Amitha terduduk sedikit menjauh di kursi sayap kanan ruangan itu.
".. Chel...sudah malam, kamu juga perlu beristirahat...." Bujuk Raya yang sudah melangkah maju menghampirinya.
"Aku masih ingin disini Ra..." Ucapnya, menoleh ke arah Raya dan tersenyum penuh luka. "Pleaseee... Aku tidak bisa kalau tidak melihatnya walau sedetikpun..."
Raya berbalik ke arah Ny Amitha dan Pak Wijaya seakan meminta petunjuknya. Pak Wijaya dan Ny Amitha hanya memberikan gestur tubuh dengan mengangguk pelan. Seakan mengerti maksud dari dua orang tua itu, Raya mengangguk pasrah lalu kembali ke belakang dan mengajak Rey untuk ikut duduk bersamanya di kursi besi.
Sejenak suasana menjadi hening, hanya suara dari mesin monitor dari dalam ruangan Mahavir yang terdengar sampai ke luar. Rachel pun masih betah berdiri di depan sana.
Hingga derap langkah kaki bersepatu pentofel dari beberapa orang pria asing berpakaian rapi dan beberapa dokter mengalihkan perhatian mereka semua.
Para dokter asing dan tiga dokter senior pemegang kekuasaan dari rumah sakit tersebut, termasuk Dr Manaf yang merupakan papa Raya, dengan berbagai peralatan medisnya langsung masuk ke dalam ruang ICU Mahavir dikawal oleh beberapa orang pengawal. Sementara sebagian pengawal lainnya bersama seseorang yang terlihat seperti pemimpin mereka melangkah mendekat.
Para pengawal yang berdiri rapi di setiap sudut ruangan itu mendadak pucat, tak terkecuali laki-laki bernama Hans. Begitupun dengan Rey yang refleks berdiri. Hans melangkah cepat menyambut kedatangan para laki-laki asing yang baru datang itu. Dia menunduk hormat di depan seorang laki-laki bertubuh tinggi, besar lagi tegap, menggunakan setelan jas berwarna cokelat gelap. Sekilas penampilannya mirip Stuart, tapi mereka orang yang berbeda. Rachel pernah melihat orang itu sekali, bersama Tuan James saat masuk ke ruang tunggu ballroom hotel sebelum acara pesta pernikahannya di gelar. Mata birunya menatap tajam Hans seakan ingin memakannya hidup-hidup. Dan sedetik kemudian,
BUKKK... BUKK.... BUKKK...
Laki-laki itu memukul Hans tepat di perutnya berkali-kali. Bukannya melawan atau mengeluh, Hans malah semakin membungkuk memberi hormat walau masih meringis kesakitan. Pandangan laki-laki itu lalu beralih pada Rey. Seakan menyadarinya, Rey melangkah menghampiri dan menunduk di depan orang itu.
PLAKKK...
Satu tamparan keras laki-laki itu hadiahkan di pipi Rey, membuat Rey terhuyung dan terhempas ke lantai. Sudut bibirnya robek dan mengalirkan darah segar. Dengan paniknya Raya berlari menghampiri Rey dan membantunya untuk berdiri.
"It's a request from Mr.James!" (Itu adalah titipan dari Tuan James) Serunya lalu melangkah menghampiri Pak Wijaya dan Ny Amitha yang duduk sedikit jauh di sayap kanan ruangan itu. Sedikit menunduk hormat, orang itu pun terlibat pembicaraan serius dengan Pak Wijaya.
Rachel yang masih tidak mengerti situasi yang terjadi hanya terdiam mengamati, antara Mahavir yang di kerumuni para dokter, sekelompok para pengawal, Rey yang di papah oleh Raya serta Daddy dan Mommy-nya yang saat ini berbicara bersama laki-laki asing itu.
Pak Wijaya terlihat pucat dan memandangi Rachel dengan raut wajah yang tak bisa dimengerti oleh Rachel. Pak Wijaya akhirnya terlihat mengangguk dengan terpaksa pada laki-laki itu. Setelah anggukan itu, laki-laki asing itu pun menghampiri Rachel.
"Good night Mrs. Alister. I'm Albert Forrer, Mr. James's secretary." (Selamat malam Nyonya Alister. Saya Albert Forrer, sekretaris Tuan James.) sapanya, memperkenalkan diri sembari menunduk hormat pada Rachel.
"I'm sorry that I have to say this. With a heavy heart we will take Mr Mahavir. This is a direct order from Mr. James. I hope you can understand and not complicate the situation." (Maaf saya harus mengatakan ini. Dengan berat hati kami akan membawa Tuan Mahavir. Ini adalah perintah langsung dari Mr James. Saya harap Anda dapat memahami dan tidak memperumit situasi) ungkapnya menjelaskan. Bersamaan dengan itu Rachel melihat brankar Mahavir yang sudah di dorong keluar dari ruang ICU bersama beberapa peralatan medis.
Rachel serta merta menggeleng dan berlari menahan brankar Mahavir. "NO...!! PLEASE DON'T.... DON'T BRING HIM AWAY....!!" (Tidak. Tolong jangan, jangan bawa dia pergi) teriaknya memeluk erat tubuh Mahavir.
Para dokter dan pengawal menghentikan pergerakannya, terdiam menunggu petunjuk dari Mr Forrer.
Mr Forrer menghampiri Rachel. "Sorry Mrs. Alister...!" Ucapnya sopan dengan menunduk hormat, sebelum akhirnya menarik Rachel dari Mahavir.
"LET ME GO!!" (Lepaskan aku) teriaknya menepis tangan Mr. forrer dan mendorongnya dengan kasar. Tetap berkeras menahan Mahavir.
Rey dan Raya hanya dapat mematung di tempat tak tahu akan berbuat apa.
Pak Wijaya meminta waktu pada Mr. Forrer untuk menenangkan dan membujuk Rachel. Mr Forrer pun mengangguk dan memberi sedikit ruang.
Pak Wijaya melangkah mendekat. Mengusap lembut punggung putrinya. "Nak, ini demi kebaikan Mahavir. Disana dia akan di tangani dengan lebih baik. Tekhnologi medis disana lebih baik dari sini." Bujuknya.
"Iya, sayang..." Imbuh Ny Amitha dengan menahan tangisnya.
"Tidak, aku tidak mengizinkannya. Kenapa kalian begitu jahat? Kalian yang membuatku menikahinya, kenapa sekarang kalian sendiri yang menginginkanku untuk melepaskannya?"
* * *
**Happy Reading 🤗
Siapa disini yang mewek bacanya?
Semoga tulisanku ini bisa menghibur semuanya...
peluk cium dari othor.... 😘🤗🥰**