Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 52.Bryan Vs Rey


Hai.. Hai... ada yang nungguin gak??


Author mo curhat dikit nih....


kok Like nya makin sepi aja nih???


pleaseeee bantu like nya dong, kan tinggal di tekan doang tanda👍


kalau bisa tinggalkan komen kalian, dan lebih bagus lagi kalau ada vote nya 😍😍


kalau like nya sepi gini, Author bakal ngambek loh..


dan gak mau Up lagi.....


hehhehe...


bercanda... bercanda✌peace.


kalau gitu happy Reading yah.....🥰😘


* * * *


Bryan sedang bermain basket bersama dua saudari sepupunya di halaman samping rumah, saat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam keluaran Aston Martin yang tidak asing baginya kini berhenti tepat di depan rumah Granny-nya.


Dari mobil mewah itu keluarlah Stuart yang berpakaian jas lengkap. Tubuhnya tegap dengan pandangan lurus ke depan, melangkah dengan kaki panjangnya menghampiri ketiga orang yang sempat mematung melihatnya.


"Sore tuan Bryan...." Sapa Stuart dengan penuh hormat, lalu sedikit menunduk ke arah dua perempuan disamping Bryan.


Anna dan Lily sama-sama mengernyit heran, mengetahui pria asing di depannya bisa berbahasa Indonesia. "Siapa dia Bryan?" Tanya Anna karena penasaran.


"Dia...."


"Saya Stuart. Asisten dari Tuan Mahavir, suami dari nona Rachel." Ucap Stuart menyela Bryan untuk memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat.


"Lily" Menjabat tangan Stuart.


"Anna" Bergantian dengan Lily menjabat tangan Stuart. "Mari silakan masuk."


"Maaf saya hanya sebentar, saya kesini hanya untuk menjemput anda tuan muda Bryan."


Bryan mengangkat kedua alisnya. "Menjemputku?"


"Iya, dari sore tadi Tuan Mahavir menghubungi anda tapi sepertinya ponsel anda tidak aktif."


"Oh, itu.. Ponsel ku lagi di Charger di dalam. Memangnya ada apa?"


"Sore tadi Tuan Mahavir mendadak ke Paris, jadi dia meminta anda kembali ke Penthouse menemani nona Rachel."


"Oh baiklah. Tunggu sebentar, aku ganti kaos dan pamitan dengan Granny dulu, sekalian ambil ponselku." ujar Bryan kemudian langsung berlari masuk ke dalam rumah.


Stuart mengedarkan pandangannya menelisik bangunan rumah Granny yang bergaya Tutor Revival, yang sebagian besar bangunannya berornamen kayu yang kental.


"Tidak masuk ke dalam dulu?" Kembali Anna mempersilahkan. Pandangannya tak berkedip pada laki-laki bermata biru yang terlihat maskulin dengan sebagian dagunya ditumbuhi rambut-rambut halus.


"Tidak, Terima kasih." Jawab Stuart tegas namun penuh kesopanan.


"Hemm" Lily berdehem sambil menyikut Anna yang tampak terhipnotis oleh Stuart, membuat Anna jadi kikuk dan tersenyum canggung. Stuart hanya melirik sekilas dengan ujung bibir yang sedikit tertarik, memperlihatkan senyum samar-samar.


Tidak lama kemudian Bryan pun kembali menghampiri dengan berlari kecil. "Kak Anna, kak Lily, aku pergi dulu. Nanti aku main kesini lagi."


"Iya, salam sama Rachel." Ucap Lily dan Anna serempak. Bryan hanya mengacungkan jempolnya.


"Nona-nona saya juga permisi dulu." Stuart sedikit menunduk dan tersenyum tipis lalu berbalik dan segera masuk ke dalam mobilnya disusul oleh Bryan. Dari kaca spion mobil terlihat sepasang ekor mata Stuart yang diam-diam memandangi dua perempuan yang sudah tampak semakin menjauh dari pandangannya. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi terlihat jelas senyum yang kembali menghiasi wajahnya.


"Berapa lama kak Vir di Paris?" Tanya Bryan, membuat Stuart kembali fokus ke depan.


"Mungkin tiga sampai empat hari." Jawabnya, tangannya bergerak mengambil secarik kertas memo yang ada di saku jasnya. Lalu memberikannya kepada Bryan. "Maaf, Tuan Mahavir meminta anda untuk menghubungi nomor ini."


Bryan mengerutkan keningnya menatap deretan angka-angka yang seperti nomor provider dari Indonesia. "Dia siapa?"


"Katanya anda mengenalnya, dia meminta tolong pada kita untuk menjemput adiknya besok. Tapi sepertinya besok saya sedikit sibuk di hotel menggantikan Tuan Mahavir. Apa anda bisa menjemputnya sendiri di Bandar Udara Heathrow?" Kembali meraih sakunya dan mengambil sebuah kartu. "Dan ini surat izin mengemudi untuk anda. Sebenarnya SIM anda dari Jakarta juga bisa digunakan selama setahun disini, tapi untuk lebih amannya Tuan Mahavir menyuruh saya untuk membuatkan anda driving licence card dari negara ini. Sekarang anda bebas mengendarai salah satu mobil yang ada di dalam garasi Penthouse."


Bryan mengerutkan keningnya hingga alisnya saling tertaut. Terkejut dengan kejutan yang pastinya dari kakak iparnya itu. "Aku sudah bisa bawa mobil? Mobil yang keren-keren itu?" Tanyanya dengan sumringah.


Stuart mengangguk pelan, "Anda bisa menyetir mobil dengan stir yang berada di sebelah kiri kan?"


"Bisalah...aku kan dulu belajar mengemudi disini, itupun kak Vir yang mengajari dulu." Tersenyum-senyum melihat driving licence card yang ada di tangannya. "Tapi masih banyak wilayah yang belum saya tahu rute-rutenya."


"Anda bisa mempelajarinya dari peta yang ada di ruang kerja Tuan Mahavir. Kunci mobilnya juga ada di laci kerja sebelah kanan. Saran saya anda pakai yang berwarna merah, cocok untuk anak muda seperti anda."


"Tak apa saya memakai yang itu? Sepertinya mobil itu sangat mahal..."


"Tuan Mahavir memang sengaja membelinya untuk anda."


"Yang betul? Bukan untuk kak Rachel?"


"Tuan tidak memperbolehkan Nyonya Alister untuk menyetir sendirian."


"Yah, memang sebaiknya seperti itu." Ucapnya diikuti kekehan kecil. "Kak Vir memang the best brother."


Stuart ikut tersenyum melihat aura kegembiraan dari Bryan. "Tapi anda bisakan mengemudi ke Bandar Udara Heathrow? Anda tahu rutenya kan?"


"Iya, aku tahu. Sebelum-sebelumnya kan kalau aku ke London tibanya di bandara Heathrow."


"Baiklah, kalau begitu aku tak perlu khawatirkan?"


"Tenang saja."


"Untuk info lebih lanjutnya anda tinggal menghubungi nomor yang tadi."


"Okay..."


Mobilpun bergerak cepat menuju 55 Upper Ground, London SE1 9EY, dimana Penthouse mewah Mahavir berada. Setelah menurunkan Bryan, Stuart pun kembali melajukan kendaraan kembali ke Alister hotel untuk melanjutkan pekerjaannya yang semakin disibukkan karena adanya event London Fashion Week.


* * *


Tililit...


Ceklek'...


Bryan membuka sandi pintu unit Penthouse kemudian melangkahkan kakinya menapaki lantai marmer berwarna abu tua, memasuki Penthouse mewah yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Di ruang makan tampak kakaknya yang sedang bersiap untuk makan malam.


"Bryan? kirain masih menginap di rumah Granny?"


"Dijemput sama Mr.Stuart, kata kak Vir disuruh temani kakak." Ikut duduk di salah satu kursi di ruang makan, meraih satu buah apel dan langsung menggigitnya.


PLAK'....


Rachel menepuk tangan Bryan, "Cuci tangan dulu sana. Sini aku kupaskan."


"Tanggung, sudah di gigit juga." Menyengir tanpa dosa. Pandangannya kini beralih pada sosok perempuan yang sedang bersih-bersih di belakang Rachel. Bryan pun bertanya pada Rachel dengan sorot matanya.


"Oh dia Bik Inah." Jawab Rachel yang mengerti maksud mata Bryan.


Merasa namanya disebut, Bik inah berbalik dan menunduk sopan. "Saya Bik inah tuan muda, saya yang sekarang akan mempersiapkan segala kebutuhan kalian. Kalau tuan muda membutuhkan sesuatu bisa langsung memberi tahu saya."


"Oh baik Bik Inah. Terima kasih sebelumnya." Bryan tersenyum ramah lalu sedikit berbisik pada kakaknya, "orang Indonesia ya?"


"Iyah..."


Bryan mengangguk-angguk sambil terus mengunyah buah apelnya yang sisa setengah.


"Oh iya, bagaimana kabar Raya?"


"Baik, oh iya dia titip salam sama kakak. Aku lupa sampaikan." Ucapnya dengan mengunyah-ngunyah.


"Iya salam balik, sekali-sekali suruh dia menelepon ku."


"Menelepon ku saja susah apalagi kakak!"


"Bagaimana hubungan kalian? masih lancar?"


"Yah, begitu begitu saja..." Mendesah pelan, lalu menyimpan sisa buah apelnya. "Kak Raya sibuk terus. Dan perbedaan waktu disini dan disana membuat kami masih susah menyesuaikan waktu untuk saling menghubungi."


"Terus bagaimana kalau kamu sudah masuk kuliah? Kalian akan lebih sulit lagi untuk saling menghubungi."


"Setidaknya kalau sudah saling bertukar kabar, aku sudah senang kok kak."


Bryan kembali mendesah pelan. "Aku mau mandi dulu kak, gerah tadi abis main basket." Bangkit dari duduknya.


"Tidak makan malam dulu?"


"Masih kenyang, tadi banyak makan cake buatan kak Anna." Berbalik dan berjalan menuju tangga. Tapi kemudian berbalik kembali. "Kakak tahu siapa adik teman kak Vir yang mau dijemput besok?"


Rachel mengangkat kedua bahunya. "Gak tahu, Vir tidak bilang apa-apa padaku."


"Besok kak Rachel ada waktu? Temani aku menjemputnya."


"Sepertinya besok aku sedikit sibuk."


"Oh, baiklah." Kembali berbalik lalu menapaki tiap anak tangga hingga tak lagi terlihat. Rachel hanya menggeleng-geleng melihat sikap adiknya.


* * *


Bryan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, kedua matanya memandangi langit-langit kamar yang berhiaskan lampu tanam berdesain modern. Pikirannya berlarian memikirkan perkataan Rachel, kakaknya. Di dalam hatinya juga terbersit keraguan. Apakah mereka sanggup menjalani hubungan jarak jauh seperti ini selama tiga tahun kedepan?


Kembali Bryan menghela nafasnya kasar. Ia bangkit dari tidurnya dan mengambil kertas bertuliskan sebuah nomor yang tadi diberikan oleh Stuart. Dengan segera jari-jarinya menekan angka-angka pada ponselnya. Menghubungi nomor itu. Beberapa menit kemudian barulah nomor itu tersambung.


"Siapa sih nelfon malam-malam begini?" Gerutu orang di ujung sana dengan suara serak khas baru bangun tidur, yang dari suaranya terdengar tidak asing di telinga Bryan.


"Maaf, saya dapat nomor anda dari Kak Mahavir. Katanya anda minta tolong untuk menjemput adik anda besok."


"Kamu? Bryan?"


Bryan mengernyit, menjauhkan ponsel dari telinganya lalu menatap layarnya selama beberapa detik kemudian kembali mendekatkan ke telinganya. "Anda Rey? Teman kak Vir? Mantannya kak Raya?"


"Iyyah! Mana Mahavir?"


"Kak Vir tiba-tiba harus ke Paris, jadi dia minta tolong padaku."


"Astaga...! Tau begitu aku saja yang kesana menemaninya." Terdengar berdecak kesal.


"Maksudnya?"


"Kamu belum masuk kuliah?"


"Belum, kenapa?"


"Aku kira kamu sudah masuk asrama. Jadi aku minta tolong dengan Mahavir. Kalau tahu begini aku tidak akan meminta tolong. Aku tidak mungkin membiarkan adikku bersama bocah sepertimu!"


"Memangnya aku kenapa?" Mengernyitkan keningnya bingung. "Aku bukan orang jahat."


"Bukan itu maksudku, aku hanya khawatir kamu kesulitan menjaganya."


"Jangan khawatir, aku janji akan menjaganya dengan baik."


Terdengar suara mendesah pelan. "Baiklah, terpaksa aku minta tolong padamu. Tolong jaga adikku selama disana."


"Iyya"


"Sebagai gantinya aku akan menjaga pacarmu disini. Jadi kita impas."


Kedua mata Bryan membulat, "Jaga mulutmu. Enak saja kalau bicara! Jangan ganggu Rayaku."


"Rayaku...Rayaku! Dasar bocah... Kalian itu belum menikah jadi Raya masih milik bersama. Ingat, sebelum janur kuning melengkung itu berarti aku masih ada kesempatan."


"Cari mati kamu? Awas kalau kamu macam-macam dengannya." Mendengus kesal.


Tiba-tiba terdengar tawa Rey yang menggelegar di ujung sana. "Astaga... Bocah... Bocah.... " Kembali terkekeh.


"Apanya yang lucu?"


"Sorry, sorry..." Mengatur nafas sejenak, terdengar hembusan nafas yang kuat berkali-kali. "Astaga, aku bercanda. Aku tidak akan mengganggunya, aku sudah ikhlas dengan keputusannya. Dia sudah memilihmu. Bertahun-tahun aku seperti orang gila mengejarnya tapi tak pernah berhasil, sementara kamu hanya dalam hitungan hari sudah bisa menaklukkannya. Aku mengaku kalah darimu. Kamu puas kan?"


"Apa aku bisa percaya kata-katamu?"


"Hei bocah, jodoh itu ditangan Tuhan, bukan pada kata-kata ku. Kita belum lihat ujungnya akan seperti apa. Tapi untuk saat ini aku tidak berniat untuk merebutnya darimu. Yah, walaupun kamu telah menikungku dengan tajam. Jadi tenang saja, masih banyak perempuan lain diluar sana. Aku akan berusaha move-on darinya. Aku tidak bisa menyarankan kamu untuk menjaganya karena kalian berjauhan, tapi aku hanya minta kamu jaga hatinya serta hatimu. Jaga komunikasi yang baik dan lancar, itu kunci keberhasilan suatu hubungan." Menggerutu dengan nyaring, lalu terdiam beberapa detik menyadari ucapannya. kemudian terdengar hembusan nafas kasar sekali lagi. "Astaga.... Bicara apa aku ini, masa aku mengajari rivalku."


Bryan terkekeh pelan. "Terima kasih kalau kamu berfikiran seperti itu."


"Sudah, sudah, aku bukan malaikat. Aku juga punya hati. Kamu kira aku bicara begini tidak sakit? Hatiku seperti di iris-iris dan di beri perasan jeruk nipis. Perih!! Tahu kamu!"


"Iya, maaf..." Mengulum senyum tipis, sejenak ada rasa bersalah yang terselip di hatinya. "Aku minta maaf yang sebesar-besarnya."


"Ingat jaga hatinya jangan sampai berpaling, karena kalau Raya sendiri yang datang padaku, itu berarti kamu gagal dan aku akan maju untuk mendapatkannya."


"Tadi katanya sudah move-on, yang benar yang mana?"


"Semuanya benar." Kembali terdengar suara hembusan nafas kasar. "Biar bagaimanapun hatiku itu bukan kaleng-kaleng, bertahun-tahun aku mengejarnya jadi tidak semudah itu juga bagiku untuk langsung bisa melupakannya. Ahh...Sudahlah aku ngantuk" tegasnya menutup pembicaraan dan langsung mematikan sambungan telepon sepihak.


Bryan mengangkat kedua alisnya bingung. Perasaan tujuan dia menelepon bukan untuk ini. Kenapa malah jadi sesi curhat? Kembali Bryan menelepon Rey.


"Astaga, apalagi bocah? Kamu gak tahu kalau disini sudah jam 2 malam?"


"Iya, aku tahu!"


"Kalau sudah tahu kenapa mengganggu lagi?"


"Kamu belum bilang jam berapa adikmu akan tiba disini."


"Ah, betul juga." Terkekeh pelan. "Mungkin sekitar jam 3 sore waktu disana."


"Adikmu itu laki-laki atau perempuan? Berapa usianya?"


"Dia itu gadis kecil. Namanya Risya, dia sedikit unik, agak manja, ceroboh dan teledor. Mungkin kamu akan kewalahan menghadapinya, tapi aku mohon kamu bisa bersikap baik dengannya."


Bryan tertegun selama beberapa detik. Manja? Ceroboh? Teledor? Wah, kerepotan apalagi yang akan kuhadapi.....? Guman Bryan dalam hati. Menghela nafas panjang. "Iya, aku akan bersikap baik padanya. Lalu kirim fotonya padaku."


"Kamu mau apa dengan foto adikku? Jangan macam-macam kamu!"


"Astaga!" Bryan mengusap wajahnya kasar. Kembali menatap layar ponsel dengan kesal. "Bagaimana caranya aku mengenalinya kalau aku tidak mengetahui wajahnya bodoh?"


"Kamu mengataiku bodoh?"


Kembali mengusap wajah, "Astaga kenapa begitu sudah bicara denganmu? Pantas saja kak Raya tidak pernah bisa menyukaimu? Kok bisa yah kamu jadi manager hotel? Itu otak kemana?"


"Eeh bocah ini, mulai tak sopan. Aku lapor sama Mahavir kamu yah."


"Dasar tukang adu."


"Sini kamu kalau berani."


"Kamu yang kesini."


"Kamu..."


"Kamu..."


Hening selama beberapa detik....


Bryan menghela nafas, yang waras yang mengalah. "Jadi ini bagaimana? Adikmu jadi dijemput atau tidak?"


"Yah, jadilah. Kamu mau adikku hilang di negeri orang?"


"Ya makanya kirim fotonya, biar aku bisa tahu orangnya yang mana."


"Tak ada."


"Lah.. Terus?" Mengacak-acak rambutnya kesal.


"Gini aja, kamu nulis di kertas besar-besar 'Makhluk Cantik Sedunia' dia pasti langsung mendatangimu."


"Hah???"


* * * *


Sekedar info, tiap Bab itu Author nulisnya sampai 2000 lebih kata. Author malas bagi dua, biar bacanya juga puas kalau panjang.


Jadi jangan ngambek yah kalau kadang up nya gak tiap hari. 🥰😘🙏


Terima kasih buat yang masih betah disini...


peluk cium dari Author 🤗😘