Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 63. Raya dan Risya.


Hari baru kembali menyapa. Pagi yang cerah dengan matahari yang bersinar lebih terang dari biasanya. Sama sekali tak menampakkan bekas-bekas hujan deras semalam. Seakan hujan malam tadi memang diperuntukkan Mahavir dan Rachel untuk memadu kasih.


Awan biru sudah bergelayut manja di atas langit. Angin sepoi-sepoi berembus pelan menerbangkan dedaunan kering berwarna oranye ke beberapa arah. Aliran air sepanjang sungai Thames nampak mengalir dengan syahdu hingga bermuara ke laut utara. Kapal pesiar yang membawa Mahavir dan Rachel berlabuh semalaman kini telah kembali ke tempat semula.


Dari dalam kabin kapal itu, tepatnya di atas pembaringan, Mahavir mengusap lembut pipi sang kesayangan yang masih saja bergelung manja di balik selimut tebalnya. Namun sang pemilik pipi nan mulus itu belum bergeming sedikitpun.


"Sayang....." Mahavir mengecup-ngecup kecil setiap inci wajah Rachel untuk mengganggu tidur lelapnya. "My sleeping beauty..... Wake up......" Lanjutnya masih dengan mengecup ringan.


Cukup lama Mahavir mencoba membangunkan Rachel, namun wanita itu seakan tak terganggu sedikitpun. Mahavir mengulas senyum, Sepertinya putri tidur harus dibangunkan dengan cara yang ada di cerita dongeng, batinnya. Lalu menyambar bibir Rachel dan menciuminya dengan rakus. Menggigit-gigit kecil disana agar sang pemilik bibir merasa terganggu. Dan... Berhasil. Akhirnya Rachel menggeliat manja diikuti dengan kelopak mata yang terbuka dengan perlahan.


"Vir....aku masih lelah." Gumannya dengan wajah kusut dan menggerutu, diiringi suara khas bangun tidur. Tangannya bergerak mendorong bibir Mahavir yang masih menempel di wajahnya. Kemudian kedua matanya kembali terpejam.


"Wake up my sleeping beauty....." kembali Mahavir membangunkannya, ia mengelus lembut punggung Rachel yang masih polos dibawah selimut. Rachel hanya menggelinjang pelan menerima usapan itu. "Sayang kamu lupa hari ini ada acara apaan?" Mahavir mengingatkan.


Kening Rachel terlihat saling bertaut, mencoba mengingat serta mengembalikan kesadarannya. Hingga sepersekian detik kemudian ia langsung terbangun dan terlihat panik.


"Jam berapa sekarang?"


"Baru jam 8 pagi. Sudah 30 menit lamanya aku membangunkanmu, tapi kamu tidak juga terbangun."


"Memangnya siapa yang membuatku begini?"


"Iya, iya, karena ulahku." Mahavir terkekeh lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah sofa. "Kamu mandi dulu sana, baru kita sarapan. Setelah itu kita pulang ke Penthouse dulu."


Rachel mengedarkan pandangannya, di atas meja sudah tersedia sarapan untuk mereka. Sementara di atas sofa terdapat beberapa paperbag. Mahavir meraih salah satu paperbag itu lalu memberikannya pada Rachel.


"Ini baju gantimu....aku menyuruh Stuart membawakan kita baju ganti tadi."


Tanpa bersuara, Rachel meraih paperbag itu dan melihat isinya. Satu set pakaian wanita lengkap dengan dalaman. Pandangan Rachel pun beralih mengamati Mahavir yang kini berdiri di hadapannya. Mahavir sudah tampak rapi dengan kemeja berwarna abu terang serta celana panjang bahan berwarna abu gelap. Rachel menatap penampilan Mahavir lamat-lamat hingga ingatan panas semalam kembali terlintas dalam pikirannya. Membuat wajahnya seketika merah merona.


Mahavir membungkuk dan menangkup kedua pipi yang memerah itu. "Memikirkan apa?" Tanyanya, kemudian tersenyum lembut.


"Ah, ti...tidak" Menggeleng dengan cepat lalu menepis kedua tangan Mahavir. "Aku mandi dulu." Ucapnya lagi lalu merapatkan selimutnya membungkus tubuh polosnya dan berniat beranjak dari tempat tidur. Namun baru selangkah, Rachel kembali terduduk dengan wajah meringis menahan sakit.


"Kenapa?" Mahavir mengerutkan keningnya.


"Ah tidak apa-apa." kembali berdiri dan melangkahkan kakinya, namun baru dua langkah ia terhuyung ke samping. Dengan cepat Mahavir memapahnya.


"Masih sakit?" Mahavir bertanya dengan mata yang menyorot ke bagian pribadi istrinya.


Rachel mengangguk pelan. "Sedikit."


Tanpa bertanya lagi, Mahavir langsung mengangkat Rachel dan menurunkannya di ambang pintu kamar mandi.


"Mau aku bantu mandinya?" Mahavir menawarkan bantuan melihat raut wajah Rachel yang terlihat meringis kesakitan.


"Aku bisa sendiri." ucapnya dengan rona malu dan senyum terpaksa, lalu menutup pintu kamar mandi setelah melempar keluar selimut tebal yang digunakannya.


Mahavir mengusap tengkuknya, seulas senyum kembali mengembang di wajah Mahavir melihat sikap malu-malu dari sang istri. Ia meraih selimut yang Rachel lempar barusan lalu berjalan mengelilingi kasur yang menjadi saksi cintanya semalam, melepaskan alas kasur berwarna soft blue yang terdapat beberapa bercak darah dari istrinya, lalu menyimpan sprei itu kedalam paperbag yang lebih besar. Ia tak ingin ada orang lain yang melihat ataupun menyentuh benda itu. Lucu memang, namun begitulah bukti betapa besar rasa sayangnya pada Rachel. Ia ingin dirinya sendiri yang membersihkan bekas dan aib dari istrinya.


Suara gemerisik air shower dari kamar mandi terdengar terhenti, dan beberapa detik kemudian Rachel keluar dengan menggunakan Bathrobe serta handuk kecil yang melilit di atas kepalanya berwarna soft blue yang senada dengan nuansa kabin itu. Kaki jenjangnya melangkah menuju sofa dengan tertatih-tatih menahan rasa nyeri di pusat tubuhnya dan meraih paperbag berisi pakaian ganti untuknya, kemudian hendak masuk kembali kedalam kamar mandi.


Namun Mahavir tiba-tiba menariknya hingga ia terjerembab dan terduduk di pangkuan Mahavir.


"Vir, aku mau berpakaian dulu." Berusaha bangkit, tapi tangan kiri Mahavir langsung merangkul pinggangnya dan menahan tubuhnya.


Mahavir mengusap lembut pipi Rachel lalu mengecupnya. "Maaf, aku membuatmu merasakan sakit seperti itu."


Rachel mengatupkan kedua bibirnya, seulas senyum malu-malu terbentuk di bibir itu. Ia pun menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu di ceruk leher Mahavir. "Sekarang sudah mendingan." lirihnya pelan namun masih bisa tertangkap di telinga Mahavir.


Mahavir tersenyum, memeluk gemas tubuh istrinya. Kembali pikiran liarnya bangkit dan memenuhi kepalanya, dengan cepat Mahavir melepaskan pelukannya dan berfokus ke makanan yang sudah tersaji di atas meja.


"Ayo sarapan dulu. Kalau dingin sudah tidak enak. Kamu harus kembali mengisi tenaga yang sudah terkuras banyak semalam." Tanpa menunggu respon dari Rachel, Mahavir langsung menyuapkan makanan ke mulut Rachel. "Aaa..." Ucapnya menyuruh Rachel membuka mulut. Namun Rachel hanya menggeleng.


"Kalau mulutnya tidak terbuka, mulutku yang akan membukanya."


Rachel hanya mampu membulatkan kedua matanya, hingga akhirnya membuka mulutnya dengan terpaksa.


"Kunyah makanannya sayang, kalau tidak aku akan menyuapimu menggunakan bibirku." Ancamnya lagi, lalu kembali memasukkan secara bergantian menu yang ada di atas meja kedalam mulut Rachel.


"Vir... Cukup. Aku kenyang." Rachel meraih segelas susu lalu meneguknya.


Melihat bekas susu yang menempel di permukaan bibir Rachel membuat Mahavir dengan lincah langsung membersihkannya. Rachel tersentak karena Mahavir membersihkannya menggunakan ujung lidahnya, dan dengan santainya Mahavir kembali menyuapi Rachel tanpa mempedulikan irama jantung Rachel yang sudah berdendang ria tak karuan.


Suapan demi suapan terus saja menghampiri bibirnya. Rachel menggeleng namun Mahavir masih ngotot memasukkan makanan lagi ke dalam mulut Rachel.


"Makan yang banyak. Hari ini kamu pasti sibuk dan bakalan melewatkan makan siang lagi." Lanjutnya lagi, masih dengan tangan yang fokus menyendokkan makanan. Rachel hanya pasrah menerima tindakan Mahavir yang tidak dapat ditolaknya. Mahavir pun menyuapi Rachel dan dirinya sendiri secara bergantian hingga seluruh menu sarapan sehat yang ada dihadapan mereka tandas tak bersisa.


Setelah Rachel berpakaian, Mahavir dan Rachel pun meninggalkan kapal pesiar itu dengan diantar oleh Stuart kembali ke Penthouse mereka.


* * * *


Sementara di Penthouse,


Bryan dan Risya masih bergelung manja di atas karpet berbulu nan tebal. Selimut yang tadinya menyelimuti tubuh keduanya sudah tergulung ke pinggiran karpet, dan satu bantal yang tadinya juga digunakan berdua kini telah berada dalam pelukan Bryan. Bryan tidur meringkuk membelakangi Risya, sementara posisi tidur Risya sudah berputar 180 derajat. Satu kakinya berada di leher Bryan sementara satu kakinya lagi di atas perut Bryan.


Dengkuran halus masih terdengar dari keduanya. Hingga suara dering telepon menembus indera pendengaran Risya dan membuatnya sedikit tersadar. Ya, sedikit tersadar karena kedua matanya masih terpejam. Tangan Risya bergerak meraba-raba permukaan karpet mencari ponsel yang berdering. Dengan sedikit memicingkan mata, Risya langsung mengusap logo berwarna hijau dan menerima sambungan telepon itu.


"Halo...?" Ucap Risya dengan suara masih serak.


"Halo...?" Kembali Risya menyapa karena tak ada suara dari ujung sana.


Selama beberapa detik menunggu akhirnya terdengar suara lembut bertanya dari ujung sambungan itu.


"Halo, ini siapa?" Tanya Raya diujung sana.


"Kamu siapa?" Risya bertanya balik.


"Ini Lily yah? kakak sepupu Bryan?" Raya menerka-nerka.


"Lily? Bukan...bukan." Risya refleks menggeleng seakan orang yang ditemaninya berbicara ada di hadapannya.


"Kalau begitu apanya Bryan?"


"Bryan? Ahh.... Ini Risya calon istri masa depannya kak Bry." Jawab Risya asal, masih dengan mata tertutup.


"Risya?"


"Iya si cantik Risya, ini siapa?"


"Oh Risya, adik Rey yah? Bryan nya ada?"


"Bryan??" Risya mengernyit, bingung kenapa orang itu terus mencari-cari Bryan. Lalu perlahan kedua matanya terbuka, sedikit memicing melihat layar ponsel. Di sana tertulis "my sweetheart." Risya langsung tersadar kalau ia telah salah mengira ponsel itu miliknya. Dan Risya juga tersadar bahwa suara lembut itu adalah suara pacar Bryan.


"Halo.... Bryan nya ada?" Tanyanya lagi karena Risya terdiam.


"Oh, ada-ada. Tunggu." Risya langsung membangunkan Bryan dengan cara bar-bar nya. Ia menarik kakinya yang tadi berada diatas perut Bryan lalu menghentakkan kakinya itu menendang bokong Bryan. Bryan hanya terdorong sejauh beberapa centi namun tak jua terbangun. "Kak Bry, bangun... Dicariin sama sweetheart-nya." Panggilnya.


"Bryan nya masih tidur yah?"


"Iya kak. Tunggu yah, Risya bangunin kak Bry-nya dulu." Risya kembali menendang bokong Bryan, namun Bryan hanya menggeliat. Dia baru tertidur jam 3 subuh, sehingga membuat rasa kantuknya betul-betul tak bisa diajak kerja sama.


"Eh.. Ris.. Ris... Kalau Bryan nya masih tidur gak usah dibangunin. Kasihan."


"Gak papa?"


"Iyya gak papa. Btw kok ponsel Bryan ada sama kamu?"


"Oh, ini tadi Risya sangka ponsel Risya yang berdering. Soalnya nada panggilnya sama. Semalam Risya keasyikan main game bareng kak Bry, sampai-sampai Risya tertidur bareng kak Bry."


"Tertidur? Berdua? Di kamar?"


"Memangnya Rachel kemana?"


"Kak Rachel semalam tidak pulang katanya pergi sama kak Vir."


"Oh begitu. Okey Risya.. Tolong sampaikan saja ke Bryan kalau tadi Aya nelfon yah..."


"Oh iya kak. Kakak pacarnya kak Bry yah?"


"Hmmm... sepertinya begitu." ucap Raya diujung sana diiringi dengan suara kekehan.


"Maaf kak,...tadi Risya cuma bercanda bilang calon istri masa depan kak Bry."


"Ah tak apa Ris, kakak tahu kok. Oke yah...Salam kenal Risya..."


"Ah iya kak. Salam kenal juga." Ujar Risya menutup panggilan itu lalu melempar ponsel Bryan ke sembarang arah. Dia menengok ke kanan dan kiri mencari bantalnya, namun yang dicari berada dalam pelukan Bryan.


Risya menghela nafas kasar lalu menarik bantalnya dengan kasar. Kemudian kembali tidur di samping Bryan. Saat Risya sudah kembali terlelap, Bryan meraba-raba mencari bantalnya. Dan tanpa disadarinya kepalanya terus bergerak dan menyusup naik ke bantal Risya. Dan keadaan kini berbalik, gilirannya lagi yang menjadikan Risya sebagai guling.


* * * *


Mahavir dan Rachel kini berjalan berdampingan memasuki penthouse mereka. Mahavir merangkul Rachel dan menuntunnya berjalan perlahan dengan mesranya diikuti dengan suara-suara kecupan yang Mahavir ciptakan. Stuart sang asisten Mahavir setia mengawal mereka dibelakang, ikut melangkahkan kakinya satu persatu ke depan dengan lambatnya sambil membuang pandangannya ke sembarang arah. Saat memasuki ruang dapur, Stuart menghela nafas lega lalu menghampiri tuannya.


"Maaf Tuan Muda, ini?" Stuart mengangkat tangannya yang menjinjing beberapa paperbag.


"Ah, berikan padaku. Kamu menunggu di ruang kerja saja." Mahavir meraih paperbag itu lalu kembali melangkahkan kaki bersama Rachel masuk lebih dalam ke Penthouse.


Stuart menunduk sopan lalu berjalan menuju ruang kerja.


Di dapur sudah ada Bik inah mengerjakan tugasnya menyediakan sarapan untuk penghuni Penthouse mewah itu. Namun ia terlonjak kaget melihat majikannya muncul dari arah pintu luar.


"Eh, Tuan Muda dan Nyonya muda. Bibik kira belum bangun." Ujar Bik inah sembari membungkukkan badan memberi hormat.


"Kami menginap di luar." Mahavir menjawab sembari melanjutkan langkahnya menuju ruang cuci dan meletakkan beberapa paperbag berisikan pakaian kotor dan sprei yang dibawanya tadi.


"Bik, Bryan dan Risya sudah bangun belum?" Tanya Rachel sembari membuka wedges-nya, kemudian menentengnya. Kedua kakinya yang masih lemas tidak sanggup lagi memakai sepatu berhak.


"Maaf Nyonya, saya belum sempat menengok ke atas. Sepertinya mereka masih tidur."


"Oh, Biar saya saja yang membangunkan mereka. Kami berdua sudah sarapan tadi, jadi Bik Inah siapkan untuk Bryan dan Risya saja."


"Baik Nyonya Muda."


"Bik, paperbag yang saya bawa tadi jangan disentuh yah! Biar saya yang bersihkan." Mahavir yang baru keluar dari ruang cuci langsung mengingatkan.


Bik Inah mengangguk dengan tatapan bingung. Namun langsung menunduk memberi hormat dan kembali melakukan tugasnya. Mahavir dan Rachel pun lanjut melangkah naik ke lantai atas.


"Memangnya paperbag tadi isinya apa Vir? Itukan hanya pakaian kotor. Kamu mau mencucinya?"


"Kamu mau tahu itu apaan?"


"Memang apaan?"


Mahavir menyunggingkan senyum nakalnya lalu berbisik ke telinga Rachel, yang sukses membuat wajah Rachel memerah.


"Kamu tidak sadar yah?" Mahavir menggoda istrinya yang berusaha menahan malu.


"Jangan dibahas lagi. Biar aku yang membersihkannya." Rachel memekik lalu berjalan cepat walau terlihat masih tertatih-tatih menuju kamarnya.


"Sayang pelan-pelan jalannya....." Teriak Mahavir menggoda Rachel, yang langsung mendapat pelototan tajam dari sang istri.


Mahavir menahan senyumnya melihat Rachel yang berjalan tidak seperti biasanya. Sedikit tidak tega melihat keadaan istrinya itu, namun ia juga tak menyesali perbuatannya. Luapan kegembiraan dan keharuan masih tercetak jelas di raut wajahnya.


Rachel meneruskan langkahnya walau berat, namun langkahnya terhenti saat berada di ruang santai. Pemandangan yang ada di bawah sana membuatnya terkejut sekaligus mengundang tawa. Mahavir yang menyusul dibelakangnya juga ikut terkejut.


"Itu adik Rey?" Tanya Mahavir. Melihat sosok gadis belia yang masih tertidur.


"Sssttt, jangan ribut. Aku mau memotret mereka dulu." Rachel berbisik, ia meletakkan wedges-nya di lantai lalu mengambil ponselnya dari dalam tas tangannya. Dengan mengendap-endap Rachel menghampiri Bryan dan Risya yang saling berpelukan satu sama lain lalu mengambil potret mereka beberapa kali.


"Mereka memang seakrab itu?"


Rachel menggeleng, "Kalau mereka sudah bangun kamu baru bisa melihatnya. Ini pemandangan langka." Menahan tawa lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas tangannya.


"Hmmmm...." Rachel berdehem keras sambil menendang kecil kaki Bryan. Namun keduanya belum merespon. Rachel kembali menendang kaki Bryan sedikit lebih kasar. Dan akhirnya Bryan tersentak dan mendorong Risya menjauh.


Keduanya terbangun dengan wajah kebingungan.


"Asyik yah berduaan saat kakak tidak ada dirumah?"


"Berduaan?" Tanya Risya dan Bryan serempak.


Rachel menahan senyum lalu kembali mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto mereka tadi. Membuat keduanya melotot dan saling mendorong.


"Ih kak Bry meluk-meluk Risya yah?"


"Enak saja, kamu yang meluk-meluk aku."


"Foto itu buktinya!"


"Buka matamu lebar-lebar, Lihat lebih jelas lagi. Kamu juga meluk aku."


"Pokoknya kak Bry yang salah!"


"Kamu!"


Keduanya terus saling tuduh, Rachel menepuk keningnya sementara Mahavir menggeleng menahan tawa.


"kamu lihat sendiri kan? Bagaimana keakraban mereka?" Bisik Rachel di telinga Mahavir.


Mahavir berbisik balik. "Sepertinya mereka berjodoh."


"Aku juga berfikir seperti itu, seandainya saja aku tidak mengingat Raya." Kembali berbisik.


"Sudah, tak usah mengurusi mereka. Kamu masih perlu istirahat sebentar, sebelum beraktivitas kembali." Mahavir berbisik sembari menarik Rachel dan membawanya masuk kedalam kamar.


Kedua remaja di luar sana masih saja terdengar berdebat dan saling tak mau kalah.


* * *


Happy Reading All.... 🥰


Terimakasih buat yang masih saja setia disini. Jangan lupa beri like dan tinggalkan komen kalian. Agar kk Author juga tahu kalau ada yang membaca karya Author yang masih jauh dari kata sempurna ini🙏


Peluk cium dari kk Author.... 🤗😘🥰😍


Thankyou


Kansahamnida


xie xie


Arigatōgozaimashita


khop khun


Merci


Gracias


❤❤❤