Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 54.Manis tapi absurd.


Rachel melangkahkan kakinya memasuki unit Penthouse nya, seharian ini kerjaannya cukup padat. Mulai dari memeriksa ulang kembali kualitas rancangannya, kesiapan para model yang akan menampilkan busananya, hingga me-mainting networking agar label miliknya lebih dikenal oleh pasar di luar dan tentunya buyers dunia.


Sebagai seorang wanita perfeksionis, Rachel ingin segalanya harus bisa sempurna apalagi exhibition kali ini bertaraf internasional. Walaupun labelnya sudah cukup diminati oleh beberapa aktris dari negeri tempatnya sekarang berpijak, tapi Rachel tidak akan berhenti disitu, dia akan menggunakan segala kesempatan yang ada untuk bisa lebih melebarkan label atas namanya ke dunia yang lebih luas. Walaupun cukup menguras waktu dan tenaganya, tapi Rachel merasa bahagia karena ini merupakan cita-citanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00, Suhu udara sudah semakin sejuk, namun rasa lengket semakin menggerogoti tubuh Rachel yang sudah beraktivitas seharian ini. Ia pun semakin melangkahkan kakinya memasuki Penthouse, melewati ruang tamu berdesain modern lalu ruang keluarga yang bersambung dengan ruang makan serta dapur. Di dapur Bik inah terlihat sedang menyiapkan makan malam.


"Bik inah, Bryan sudah datang belum?" Berhenti sebentar menanyakan adiknya.


"Oh sudah Nyonya. Baru saja, hanya selang beberapa menit dari Nyonya. Tadi sama gadis cantik langsung naik ke atas."


"Oh, itu tamu tuan Mahavir."


"Oh, kirain pacarnya Tuan Muda Bryan." Berucap ragu-ragu, lalu menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


Rachel mengulum senyum menerka isi kepala dari pelayan itu. "Aku mau mandi dulu, Bik inah panggil mereka kalau makan malam sudah selesai."


"Baik Nyonya." Menunduk hormat.


Rachel mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai dua. Saat akan memasuki kamarnya, Rachel melihat Bryan terduduk sendiri pada sofa di balkon rooftop. Ia pun menghampirinya.


"Bryan, ngapain kamu disini? Dingin, nanti kamu masuk angin."


"Memang mau mendinginkan kepala kak."


"Kenapa lagi? Pasti soal Raya?"


Mendesah pelan. "Dia ngambek karena aku lupa meneleponnya seharian."


"Jangan dipikirkan, dia memang seperti itu. Besok juga sudah baik lagi."


"Semoga saja."


"Gimana dengan orang yang dijemput?"


"Lagi di kamar, mungkin lagi mandi."


"Katanya seorang gadis, cantik gak?"


"Manis sih, tapi kelakuannya sedikit absurd." Ujar Bryan terkekeh-kekeh mengingat tingkah laku Risya saat bersamanya tadi.


"Hush, jangan mengejek begitu. Nanti kamu malah jatuh cinta dengannya..."


"Ihh, amit-amit! bocah SMP gitu. Gak lah! Orang pacarku lebih cantik juga, dokter lagi."


"Iya, iya.. Terserah kamu deh. Kakak mau mandi dulu. Kalau si manis tapi absurd itu keluar ajak makan malam duluan."


Bryan mengangguk tanpa bicara. Pandangannya beralih melihat pemandangan kota yang berkerlap-kerlip. Rachel menepuk pelan bahu Bryan, lalu melanjutkan langkahnya kembali memasuki kamarnya.


Rachel menanggalkan semua pakaiannya ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Ia menengok melihat layar ponsel dan mengulum senyum melihat nama sang penelepon.


"Ada apa lagi?" Tanya Rachel, seharian ini sudah berkali-kali Mahavir menghubunginya.


"Sudah sampai?"


"Iyya, baru saja."


"Lagi bikin apa?"


"Lagi buka baju, mau mandi." Ujar Rachel jujur. Namun sambungan telepon itu langsung terputus. Dan dalam hitungan detik sambungan itu berganti jadi panggilan Video. Rachel geleng-geleng kepala, menahan senyum dan mematikan panggilan video itu. Namun tidak lama ponselnya kembali berbunyi.


"Kenapa panggilan Video ku tak diangkat?" Tanya Mahavir dengan nada kecewa.


"Memangnya mau lihat apa pakai video call segala?"


"Yang sedang dibuka."


"Astaga Vir...! Tambah lama kamu tambah mesum saja. Sudah yah, aku gerah. Mau mandi dulu."


"Kan mesumnya cuma sama kamu." Terdenger suara kekehan selama beberapa detik.


"Telfonnya ku tutup nih..."


"Eh, Sayang tunggu, tunggu..."


"Apa lagi?"


"Kamu tidak suka ya kalau ku telfon?"


"Vir... Kamu nelfon nya dalam sehari sudah puluhan kali. Memangnya di situ tidak ada kerjaan lain?" Tanya Rachel sambil memijat-mijat pelipisnya.


"Sekarang sudah tak ada."


"Sudah makan malam?"


"Barusan selesai, makanya aku telfon kamu, biar jadi hidangan penutup." Kembali terkekeh.


"Hah? Dasar aneh!" Seru Rachel, tertawa kecil karena dianggap dessert oleh suaminya.


"Kalau begitu kamu istirahat sana."


"Belum ngantuk. Aku masih mau bicara sama kamu."


"Virr...jangan manja! Aku mau mandi, belum makan malam juga."


"Astaga jam segini belum makan malam?"


"Kalau kamu masih nelfon terus, jadinya aku gak makan-makan ini."


"Ok, ok, sayang. Oh iya, adik Rey sudah datang?" Tanyanya kemudian.


"Sudah, tapi aku belum bertemu dengannya."


"Oh baiklah, aku hubungi Rey dulu."


"Iyya..." Ucap Rachel singkat.


"Miss you sayang...Muuaccchhh."


Rachel tersenyum geli, "Sudah ya..!"


"Bagianku mana?"


"Apanya?" Pura-pura tak mengerti.


"Ya sudah, biar aku saja.. Mmmuaacchh... Mmmuaachhh... Mmmuaachhh... Mmmuaachhh.."


Rachel kembali menahan tawa sambil menggeleng-geleng, "Aku tutup yah..." Ucapnya tanpa menunggu jawaban Mahavir, lalu menutup sambungan teleponnya. Kembali tersenyum geli menatap ponselnya lalu beranjak masuk ke Bathroom dan membersihkan diri.


Sementara di luar kamar, Risya yang baru saja keluar kamar langsung menghampiri Bryan yang duduk termenung.


"Wah view nya bagus ya kak?"


Bryan yang terkejut langsung menoleh dan melihat Risya sudah berdiri disampingnya sambil cengar-cengir. Lalu kemudian gadis itu mendekat ke pagar balkon.


"Kak yang itu London Eye yah?" Menunjuk wahana berbentuk bulat dengan lampu berwarna merah yang terlihat jelas dari kejauhan.


"Iya" Menjawab singkat.


"Wah kerennya, Kak ajak Risya kesana dong."


"Iyya besok-besok, kalau sempat."


"Itu yang dibawahnya sungai Thames yah?"


"Iyya"


" Iyya"


"Kalau London Bridge yang mana kak?


"Itu terletak antara Borough High Street di Southwark dan King William Street"


"London Bridge dan Tower Bridge itu sama atau beda kak?


Bryan melirik dan mendengus kesal, "Beda dan sama." Jawab Bryan asal.


Risya mengangkat kedua alisnya dengan tangan yang terangkat menggaruk kepalanya. "Beda dan sama? Maksudnya apa?" Lirihnya mencoba berfikir selama beberapa detik, hingga kemudian kembali berucap. "Ajak Risya kesana juga yah kak!"


"Kalau sempat"


"Oh iya Kak Bry, kalau Museum Madame Tussauds dimana? Jauh gak? Katanya museum Sherlock Holmes berdekatan dengan Madame Tussauds, Ajak aku kesana juga yah?"


Bryan menghela nafas kesal. "iyya..."


Risya berbalik melihat Bryan, tertawa kecil melihat wajah kesalnya lalu menghampiri dan duduk di sampingnya.


"Kalau tempat syuting Harry Potter itu dimana kak?"


"Di Oxford."


"Jauh gak?"


"Lumayan."


"Kita bisa kesana?" mencondongkan wajahnya ke hadapan Bryan.


Bryan sedikit terkejut saat wajah Risya mendekat padanya, dengan cepat ia mendorong pelan bahu Risya. "Kejauhan." ucapnya.


"Yah.... Padahal Risya penasaran mau lihat bangunan yang seperti kastil-kastil kerajaan. Kapan lagi yah Risya bisa ke London." ujarnya dengan wajah kecewa lalu bersandar pada sandaran sofa.


"Liat nanti aja, kalau sempat."


kembali memajukan tubuhnya dan mengangkat jari kelingkingnya. "Janji ya kak?"


"Gak janji juga. Aku bilang kalau sempat."


Risya merengut kesal. "Kalau gak sempat ke istana Buckingham saja yah?"


Bryan semakin kesal. "Hmmm"


"Kalau taman bunga ada gak kak?"


"Cari di Go*gle."


"Iihh.. Kak Bry, aku serius nanya."


Bryan terdiam mencoba bersabar.


"Kak kalau ke Oxford naik bus atau kereta?"


Kembali Bryan menghela nafas saking kesalnya.


"Bisa keduanya"


"Kak kalau......"


"Hei kamu itu keturunan Beo yah? Gak bisa diam sebentar saja?"


"Kak Bry kok gitu. Risya nangis lagi nih...."


Kembali Bryan menghela nafas berkali-kali. Seharian ini sepertinya kesabarannya sedang diuji. Ia pun bangkit dari duduknya. "Ayo, kita turun makan malam. Sebentar lagi juga kak Rachel keluar, kita tunggu di bawah saja."


"Kak Rachel?" Ikut bangkit dari duduknya.


"Iyya" Melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang selasar lalu berjalan ke arah tangga yang menghubungkan ke lantai bawah. Risya terdiam mengikuti dibelakang, karena pandangannya kembali menjelajah mengamati interior mewah Penthouse itu.


* * *


Setelah beberapa menit berlalu Rachel pun keluar dari kamarnya dengan perasaan yang lebih fresh, tubuhnya sudah terasa segar dan wangi dalam balutan terusan santai berwarna Lavender. Kakinya menuntunnya menuruni anak tangga yang berdesain modern dengan kaca tebal sebagai dinding pengamannya.


Langkahnya terus membawanya menuju ruang makan yang langsung terhubung dengan dapur yang keseluruhan kabinetnya berwarna putih. ia pun mengedarkan pandangannya mencari sosok tamu kecil yang katanya manis dan absurd.


Di ruang makan itu sudah ada Bryan yang duduk manis sedang menatap ponselnya dengan wajah tertekuk, sementara dilihatnya seorang gadis belia dengan rambut yang diikat menjadi satu menggunakan sweater pink berbahan baby terry dipadukan celana pendek berwarna putih sedang terlihat sibuk melakukan sesuatu di dapur yang tampaknya membuat Bik inah terlihat tidak Nyaman.


"Jadi yang ini adik Rey?" Sapa Rachel, membuat Risya langsung berbalik dan melihat wanita cantik yang menyebut namanya.


Risya tertegun sejenak, seakan terhipnotis melihat Rachel. Namun beberapa detik kemudian ia berlari dan memeluk Rachel. Bryan yang menyaksikan kelakuan gadis itu hanya tersenyum geli lalu kembali fokus ke ponselnya.


"Astaga ini kak Rachel yah?" Melepaskan pelukannya lalu mengamati wajah cantik Rachel.


Rachel sedikit terheran-heran, "Kamu mengenalku?"


Risya mengangguk-angguk antusias. "Perkenalkan kak, Namaku Risya." Mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Rachel dengan penuh semangat. "Aku fans beratnya kakak. Kakak anak Prof. Wijaya kan? Pemilik Langdon School tempat Risya sekolah?"


"Iya..Aku anak pertama, yang sana anak kedua." Menunjuk ke Bryan yang masih fokus menatap ponselnya.


Risya menoleh melihat Bryan, lalu kembali melihat Rachel. "Astaga, Risya beruntung sekali, dari dulu Risya pengen liat kakak dari dekat. Risya datang loh di pesta pernikahan kakak. Waktu itu Risya dan teman-teman yang menarikan tarian penjemputan saat kakak masuk ke ballroom."


"Oh, ya? Berarti kamu pandai menari yah?"


"Lumayan bisa. Waktu itu Kak Rachel cantik banget, kayak Princess. Sekarang juga cantik." Ujar Risya memuja.


"Astaga, justru kamu yang cantik sekali sayang, manis lagi..." Mencubit gemas pipi Risya, lalu menggandeng tangan Risya dan duduk berdampingan di ruang makan.


Risya tersenyum-senyum dengan pipi merona, bahagia mendapat pujian dari seorang wanita cantik.


Bik inah pun kini sudah menyiapkan makanan ke atas meja. Tak lupa pula beberapa buah yang sudah di kupas dan di bentuk-bentuk menyerupai hewan hasil tangan dari Risya.


Bryan melirik piring yang baru saja diletakkan oleh Bik Inah lewat ekor matanya, penasaran dengan tampilan buah di piring itu membuat Bryan meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia mencomot sepotong apel berbentuk kelinci menggunakan garpu lalu memandangi apel itu.


"Itu aku yang bentuk kak." Ujar Risya yang seakan melihat pertanyaan dari wajah Bryan. Bryan hanya menaikkan satu alisnya, tersenyum tipis lalu memakan satu potong apel berbentuk unik itu sekaligus tanpa berbicara sepatah katapun. Risya terus mengamati Bryan. Ia masih mencoba mengenali wajah yang menurutnya pernah dia lihat sebelumnya.


"Oh iya, Risya berapa lama disini?" Tanya Rachel menghamburkan ingatan Risya, sembari meletakkan piring berisi daging iga sapi dan beberapa potongan kentang di hadapan Risya.


"Kurang tahu kak Rachel, katanya sampai London Fashion Week selesai. Karena ada beberapa panitia yang ikut serta dalam event itu. sebelumnya sih rencananya hanya tiga hari. Begitu sudah tampil, malamnya langsung pulang. Tapi panitia di jakarta malah lupa membuka email dan melihat ulang jadwal, yang ternyata jadwalnya tiba-tiba diundur selama beberapa hari. Karena sudah terlanjur beli tiket, terpaksa kami semua berangkat. Hitung-hitung jadi liburan." Tertawa kecil sejenak lalu kembali berceloteh. "Tadinya kalau tak ada yang jemput Risya, Risya bakalan ikut sama teman Risya ke rumah keluarganya. Teman-teman Risya rata-rata punya keluarga disini. Hanya Risya yang sebatang kara di negeri ini. Untungnya kak Rey punya kenalan di sini. Uppsss!" Menutup mulutnya dan tersenyum malu, lalu meralat perkataannya. "Salah, maksudnya Boss nya kak Rey." Tertawa cekikikan.


"Astaga sayang, anggap kami ini keluargamu. Jangan sungkan-sungkan pada kami. Kakakmu Rey itu sudah seperti saudara bagi kami." Terang Rachel, mengelus lembut punggung Risya.


"Makasih kak Rachel." Berucap manja lalu menunduk dan seketika kedua matanya berbinar takjub melihat tampilan makanannya. "Kak makanannya bisa Risya foto dulu?" Melihat Rachel dan Bryan bergantian dengan memasang senyum termanis.


Rachel mengangguk dan tersenyum. "Iya silahkan, mau gabung dengan ini?" Mendorong Salad bef Salmon miliknya.


"Boleh, boleh kak." Menarik piring Rachel dan menatanya. Lalu berdiri dan memotret dengan berbagai sudut.


Bryan menunduk menahan senyumnya, Sementara di bawah meja tak henti-hentinya kaki Rachel menginjak kakinya, melarangnya untuk tertawa.


Setelah aksi Risya yang dianggap absurd oleh Bryan itu, mereka pun makan dengan lahap sambil sesekali mendengar Risya yang kembali berceloteh mengisi keheningan.


Dari ruang makan, mereka lanjut mengobrol ringan di ruang keluarga sambil menatap pemandangan kota yang terlihat megah dengan titik-titik cahaya lampu yang terlihat seperti bintang-bintang yang bertaburan.


* * *


Happy Reading All...❤


Terima kasih masih setia disini... 🙏🥰


pleaseee jangan lupa beri like 👍, kalau bisa tinggalkan komen, dan lebih bagus lagi kalau ada Vote nya...😍🥰


peluk cium dari Author 🤗😘