
Rachel terduduk di sebuah sofa putih di dalam ruang privat bagian dari Ballroom Calister Hotel, ruangan yang telah dipenuhi dengan bunga hias yang lebih di dominasi oleh white Rose. Gadis itu terlihat sangat cantik dan tampak menawan dalam balutan Wedding Dress berwarna putih nan elegan.
Di ruangan itu Rachel tak sendiri, dia ditemani oleh Ny Amitha, wanita paruh baya yang tampak tak kalah jauh cantiknya. Dia tengah asyik merapikan tudung pengantin yang menghiasi kepala putri kesayangannya.
"Tok... Tok.. Tok..."
Suara ketukan pintu terdengar, Ny Amitha bangkit dan berjalan lalu menarik handle pintu dan membukanya. Terdengar dia bercakap-cakap dengan seseorang kemudian berbalik kembali ke arah putrinya berada.
"Seseorang yang sangat penting ingin bertemu denganmu."
"Siapa?"
"Kamu akan tahu kalau sudah bertemu." Ujar Ny Amitha kemudian meninggalkan Rachel sendiri diruangan itu.
Tidak begitu lama, pintu kembali terbuka dari luar. Langkah-langkah kaki panjang terdengar menghampiri, hingga tepat berhenti dihadapannya. Seorang pria paruh baya yang sangat berkelas dengan tubuh tinggi dan tegap berbalut jas dengan jenis Double breasted berwarna hitam legam. Di pintu tempatnya masuk menunggu empat orang pria, satu orang tampak seperti sekretaris pribadinya dan yang tiga orang terlihat seperti pengawalnya. Dia mengayunkan tangannya ke arah empat orang itu, kemudian empat orang itu membungkuk memberi hormat lalu keluar ruangan dan menutup pintu dengan rapat.
Rachel menelisik penampilan pria paruh baya itu, mencoba mengingat wajahnya. Kedua matanya yang berkilat berwarna Hazel langsung mengingatkan Rachel dengan Mahavir. Bola mata yang sama tapi dengan sorot yang sangat berbeda. Kalau Mahavir selalu memperlihatkan kelembutan dari bening mata Hazel nya, berbeda dengan orang yang berhadapan dengannya saat ini. Sorot matanya lebih tegas dan dingin terlihat mengintimidasi.
"Mrs Rachel, Right?" Tanyanya memperjelas. Rachel menganggukkan kepalanya.
"Ternyata kamu sudah tumbuh menjadi wanita cantik dan berkelas." Pujinya. "Perkenalkan aku Ayah dari Mahavir." Lanjutnya dengan Bahasa Indonesia yang masih kaku.
Rachel menundukkan kepala memberi hormat.
"Bisa bicara sebentar?" Izinnya lalu memposisikan tubuhnya terduduk di sofa single sebelah Rachel.
"I.. Iyya" Rachel menjawab dengan menunduk enggan menatap mata yang memandangi nya dengan tajam.
"Sebelumnya aku mengucapkan selamat atas pernikahan kalian, maaf aku sebagai orang tua tunggal Mahavir tidak sempat hadir dalam pernikahan kalian."
"Tidak apa-apa, Terima kasih...." Rachel menjawab dengan sesopan mungkin.
Mr. James Alister memandangi Rachel dengan seksama, hingga membuat Rachel sedikit gelagapan. "Dia orang yang sangat tegas dan dingin....." Ucapan Mahavir tiba-tiba terlintas dalam pikirannya.
"Apa kamu mencintai Mahavir?" Tanyanya dengan tiba-tiba, hingga membuat pupil mata Rachel melebar saking terkejutnya mendapat pertanyaan seperti itu.
"Eemmm I.. Itu......" Tenggorokan Rachel terasa tercekat, tidak tahu bagaimana menjawabnya.
"Aku harap, walaupun kamu belum mencintainya kamu bisa memahaminya walaupun sedikit." Ucap Mr Alister dengan penekanan dalam kata-katanya.
DEG....
Jantung Rachel mendadak terasa aneh, secara spontan dia mendongakkan kepalanya dan menatap Ayah Mahavir dengan intens.
"Sejujurnya aku kurang setuju kamu menikah dengan Mahavir."
Rachel tertegun dengan perkataan Mr.Alister, kedua tangannya menggenggam erat gaun pengantin yang dikenakannya.
"Maaf, tapi putra anda yang tiba-tiba datang melamarku. Dia yang membuatku terpaksa menikah dengannya. Aku baru mengenalnya, tapi aku akan berusaha."
"Don't say you will, but must!!!" Tegas Mr. Alister.
"Bukannya aku tidak menyukaimu! Tidak ada alasan bagiku untuk membencimu, terlebih lagi karena kamu anak dari sahabat ku. Aku hanya tidak ingin melihat Putra ku satu-satunya tersakiti. Sudah berkali-kali aku menjodohkan nya dengan Putri dari kenalanku, tapi dia tidak pernah menerimanya. Sebesar apapun usaha ku padanya, tapi di hatinya hanya ada dirimu, dia begitu sangat mencintaimu!"
Kembali Rachel menurunkan pandangan nya, pikiran nya berkelabat mengingat perkataan daddy nya yang mengatakan dia mengenal baik keluarga Mahavir.
"Jadi ternyata Ayah Mahavir bersahabat dengan daddy... Apa karena itu daddy memaksaku menikah?.....tapi kenapa perkataan Ayah Mahavir justru seperti ini?? Sebenarnya sejauh apa Mahavir mengenalku? Bagaimana pria itu bisa sampai tergila-gila padaku? Kenapa dirinya begitu penuh dengan misteri?" Batin Rachel bertanya-tanya.
"Aku akan berusaha! Aku baru mengenal putra paman, jadi aku butuh waktu untuk mengenal putra paman lebih jauh lagi." Rachel memberanikan diri berbicara, Masih dengan kepala tertunduk.
Mr James Alister memandangi Rachel yang tertunduk, "Hahhh.....sebenarnya ini bukan kesalahan mu, bukan juga kesalahan Mahavir yang terlampau menyukaimu.... Keadaanlah yang membuat kalian seperti ini.....aku hanya tidak ingin Mahavir mengalami seperti yang kualami dulu....ditinggalkan oleh seorang wanita yang begitu disayangi. Sungguh menyedihkan!!! Batin Mr. Alister.
"Kamu bisa panggil aku Ayah. Bagaimanapun kamu sudah masuk ke dalam keluarga Alister." Kali ini suara Mr Alister terdengar melunak.
Rachel mengangkat pandangannya kemudian mengangguk pelan.
"Aku cuma berpesan, apapun yang terjadi kedepannya... Jangan pernah menyakiti hatinya, jangan pernah berniat untuk meninggalkannya. Bila itu terjadi, aku akan turun tangan. Menyesal pun kamu tidak akan bertemu lagi dengannya!!" Kecam Mr Alister menutup pembicaraannya. Sebab dari arah pintu Mahavir telah menampakkan dirinya.
"Ternyata Ayah berada disini!" Ujar Mahavir menghampiri dengan senyum ramahnya.
"I'm curious to see your beautiful wife." Ujar Mr Alister dengan sedikit memperlihatkan senyum tipisnya, tapi masih dengan sorot mata yang mengintimidasi Rachel.
"My wife is really beautiful, i am lucky to marry her." Puji Mahavir didepan istrinya.
Tapi pujiannya itu sama sekali tidak membuat istrinya terpana, wanita itu bahkan masih menunduk dengan tangan yang masih dingin dan sedikit gemetar yang disembunyikan di balik gaunnya.
Rachel masih terdiam, hingga tidak lagi mempedulikan pembicaraan Ayah dan anak dihadapannya. Pikirannya melayang jauh berusaha mencerna perkataan mertuanya.
".... Chel....Rachel......???"
Suara Mahavir menyadarkan Rachel dari lamunannya.
"Eh, mana Ayahmu?" Rachel mengernyitkan alisnya, mengedarkan pandangannya kemudian menatap bingung karena dihadapannya hanya ada Mahavir.
Lagi-lagi Mahavir tersenyum, "Apa yang kamu pikirkan? Bahkan ayahku keluar dari ruangan inipun tak kamu sadari! Apa kamu baik-baik saja?"
Mahavir lalu duduk di samping Rachel kemudian menggenggam kedua tangan wanita itu.
"Hari ini kamu sangat cantik." Mahavir kembali memuji istrinya tapi wanita itu hanya bersikap datar dan memberikan senyum tipis.
Mahavir mengecup punggung tangan Rachel secara bergantian lalu menggerakkan tangannya meraih dagu wanita itu, "Apa aku boleh menciummu?" pintanya
Mata mereka saling beradu. Rachel menatap kedua mata Mahavir, sorot mata yang memancarkan kelembutan sangat kontras dengan cara Ayahnya memandang dirinya.
"Tak ada jawaban berarti boleh..."
Rachel tersadar, sejenak tadi dia larut dan terhanyut dalam tatapan hangat Mahavir.
"Kamu mau merusak make-up ku?" Rachel bertanya balik dengan sorotan tajam membuat Mahavir tersenyum karena gemasnya melihat ekspresi wajah istrinya yang melotot itu.
"Makanya jangan gugup seperti itu!" ujar Mahavir, lalu kembali menggenggam kedua tangan wanita itu. "kemana Rachel yang selama ini selalu tampil percaya diri?"
Rachel hanya merengut dengan alis yang tertekuk.
Beberapa karyawan hotel berpakaian rapi, dengan bunga yang disematkan pada blazer nya masuk dan memberi kode kepada Mahavir, lalu berjalan menuju pintu lebar yang menghubungkan ruang itu dengan ballroom hotel.
"Apa kamu sudah siap? Sepertinya sudah waktunya kita ke keluar."
Mahavir bangkit dari duduknya, kemudian mengulurkan tangannya kehadapan Rachel. Rachel meraih uluran tangan itu.
Pintu terbuka secara perlahan, didepan pintu telah menunggu beberapa gadis yang sedang melakukan tarian penjemputan. Disamping kiri pintu tampak Raya dengan cantik nya menggunakan dress ala bridesmaid, sementara di samping kanan pintu ada Bryan dengan setelan jas yang sangat rapi. Menjemput mereka dengan senyuman yang terkembang dengan lebarnya.
Mereka berdua berjalan beriringan, tangan Rachel melingkar di lengan Mahavir, sementara tangan satunya memegang erat buket bunga lily of the valley yang sangat cantik.
Dengan iringan musik lagu dari Shane filan berjudul Beautifull White, mereka terus melangkahkan kaki memasuki ballroom hotel yang menggabungkan seni klasik dan modern untuk sentuhan desain interiornya. Hal itu terlihat jelas dari gaya ballroomnya yang mewah dan indah.
Ballroom hotel yang seluas 2.700 meter persegi dan memiliki akses lobby terpisah dari hotel, mampu menampung hingga 3.000 tamu.
Beberapa tamu penting tampak memenuhi ballroom itu dengan penampilan yang memukau.
Setelah proses pembukaan selesai, Satu persatu para tamu itu berjalan menghampiri Rachel dan Mahavir untuk memberikan selamat.
Rachel memasang ekspresi datar, pikiran nya masih berkelabat mengingat peringatan yang telah diberikan oleh Ayah Mahavir. Sesekali dia melirik pria yang berdiri disampingnya, memerhatikannya dengan seksama. Begitu banyak misteri yang Rachel rasakan dari pria yang terlihat sangat bahagia itu.
Mahavir yang teramat peka menyadari hal itu, dia kemudian mendekatkan kepalanya ke telinga Rachel. "Aku tidak akan segan-segan menciummu ditempat ini kalau kamu terus memerhatikan ku seperti itu." Ucap Mahavir dengan berbisik.
"Tersenyumlah...sayang." Lanjutnya lagi, kemudian mengedipkan satu matanya.
Dengan terpaksa Rachel memperlihatkan senyum palsunya, senyuman yang terkesan dingin. Hingga seorang wanita yang dikenalinya berdiri dihadapannya membuat raut muka Rachel berubah seketika.
"Bu Mirna..." Sapa Rachel kepada ibu kepala Panti Asuhan.
"Selamat ya nak... semoga kalian selalu langgeng dan cepat di karuniai anak-anak yang cerdas." ucap Bu Mirna sembari mengulurkan tangannya bersalaman bergantian dengan Rachel dan Mahavir.
Mahavir terlihat menundukkan kepala nya di hadapan Bu Mirna, matanya berkaca-kaca. Ingin rasanya Mahavir menjatuhkan tubuhnya memeluk wanita yang ada di hadapannya, wanita yang telah merawat dan membesarkannya.
Bu Mirna menggeleng pelan, memberikan tanda agar Mahavir bisa menahan diri. Dia menepuk-nepuk punggung tangan pria itu untuk menenangkannya. Menyadari sudut mata Rachel yang melirik ke arahnya, cepat-cepat Bu Mirna melepaskan tangannya dan meninggalkan mereka berdua.
"Kamu mengenal Bu Mirna?" Bisik Rachel
"Siapa?"
"Yang barusan tadi, yang....." ucapan Rachel terputus oleh seorang wanita muda yang langsung menarik tangannya.
"Congratulations honey....." Ucap wanita itu memberikan selamat sembari memeluk Rachel.
"ARETHA...!!!!" panggil Rachel dengan riangnya karena bertemu dengan salah satu sahabatnya.
"Duhh... Aku ingin bicara banyak denganmu Rachel, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat." Ujar Aretha memandangi orang-orang yang antri untuk bersalaman di belakangnya
Rachel mengangguk mengerti dan tersenyum.
"Oh iyya, ini tunanganku!" Aretha memperkenalkan pria yang berada disampingnya. Pria itu mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Rachel secara singkat.
"Besok kita ketemuan yah dengan anak-anak yang lain. Aku akan menghubungi Raya." Ujar Aretha kembali memeluk tubuh Rachel.
"Ok!" Rachel menjawab singkat. Kemudian Aretha dan pasangan nya berlalu dari hadapan Rachel dan Mahavir.
Sementara tanpa disadari oleh Rachel, ekspresi wajah Mahavir berubah seketika, terdengar suara gertakan giginya yang membuat rahangnya mengeras. Tangannya mengepal dengan keras mencoba menahan diri, bahkan membuat tamu yang bersalaman dengannya terkejut akibat genggaman tangannya yang kuat saat bersalaman.
Kedua Mata Mahavir mengekor kepergian Aretha dan pasangannya. Bukan karena Aretha, tapi lebih kepada pria yang bersamanya. Dia mengenal pria itu, pria yang menjadi sumber masalah 10 tahun yang lalu. Ya, hanya Mahavir satu-satunya orang yang mengetahui kebejatan orang itu.
"Akhirnya aku menemukanmu!!! Aku akan membuat perhitungan denganmu!!" Geram Mahavir dalam hatinya.
* * *
Terima kasih kepada Readers yang masih setia membaca karya pertamaku ini dan mengikuti kisah mereka 🙏🥰 Mohon maaf bila masih saja ada kekurangan. Author akan sangat menghargai dan berterima kasih bila kiranya kalian mau meninggalkan jejak berupa Like, komen, Vote ataupun koin untuk Author🥰😍😘 Salam sayang dari Author untuk kalian🤗🙏
* * *