
Dokter Elizabeth baru saja selesai memasangkan infus pada Rachel saat Mahavir memasuki kamarnya. Mahavir langsung terkejut melihat botol cairan steril yang berada di tangan kanan dokter Elizabeth yang diangkatnya dengan tinggi itu.
"Sorry can you help me hang this higher?" (*maaf bisakah anda membantuku menggantung ini lebih tinggi?) Pinta dokter Elizabeth begitu melihat Mahavir melangkah masuk ke kamar.
Mahavir sedikit mengernyit, namun dengan cepat menghampiri dan mengambil alih botol steril yang berisi cairan kristaloid dari tangan dokter Elizabeth itu lalu tanpa pikir panjang langsung menyematkannya pada sela besi lampu tidur modern yang tergantung dari langit-langit dan menjulur kebawah di atas nakas tempat tidurnya. Sebuah tempat gantung botol infus dadakan yang membuat dokter Elizabeth sedikit tersenyum tipis.
"Is my wife's condition so bad that she has to be given intravenous fluids?" (*Apakah kondisi istri saya sangat buruk sehingga dia harus diberikan cairan infus?) tanya Mahavir dengan begitu cemas, seraya netranya bergerak mengamati cairan dari dalam botol itu yang mengalir melewati selang kecil dan masuk kedalam pembuluh darah istrinya.
"Your wife's blood pressure is very low, and she is a little dehydrated, because she is so weak that I gave her fluids." (*Tekanan darah istri Anda sangat rendah, dan dia sedikit dehidrasi, karena dia sangat lemah sehingga saya memberikan cairan padanya.) terang dokter Elizabeth seraya mengisi alat suntiknya dengan cairan Vitamin dari botol kecil dan menyuntikkannya ke botol cairan infus Rachel, hingga sedetik kemudian cairan infus itu berubah warna menjadi merah muda. "it's just a vitamin, you don't have to worry like that." (*ini hanya vitamin, anda tidak usah khawatir seperti itu.) lanjut dokter Elizabeth karena Mahavir terus menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Mahavir mengusap wajahnya dengan kedua tangannya lalu berusaha tersenyum di depan dokter Elizabeth. "But she's fine right? does she need to be hospital?" (*tapi dia baik-baik saja kan? apakah dia perlu dirawat di rumah sakit?)
Dokter Elizabeth menggeleng pelan dan tersenyum lalu menepuk bahu Mahavir, "She is fine, now she's just asleep. And.....congratulations looks like your wife is pregnant." (*Dia baik-baik saja, sekarang dia hanya tertidur. Dan selamat sepertinya istrimu sedang mengandung.)
Mahavir mengangkat kedua alisnya, memandangi wajah dokter wanita paruh baya di sampingnya seakan meminta penjelasan. Dokter Elizabeth hanya mengangguk sambil tersenyum, membuat raut wajah Mahavir yang tadinya dipenuhi rasa kekhawatiran berubah seketika menjadi berbinar-binar. "Really? Is it true?"
Dokter Elizabeth kembali tersenyum, "For more details you check your wife to a Obstetricians and gynecologist." (*Untuk lebih jelasnya anda periksakan istri anda ke dokter kandungan.)
Mahavir mengangguk cepat dengan wajah sumringahnya, lalu duduk di pinggir tempat tidurnya sambil memandangi wajah istrinya. Tangannya terangkat mengusap kening Rachel hingga ke pucuk kepalanya dengan penuh kasih, sesaat melupakan masalah yang sebelumnya terjadi. Ia kemudian membungkukkan badannya setengah menindih tubuh Rachel, dan mengecup berkali-kali kening Rachel lalu membelai-belai pipi istrinya itu dengan lembut.
Dokter Elizabeth menggeleng pelan sambil mengulas senyum melihat tingkah putra penerus darah keluarga Alister yang sudah dilayaninya selama puluhan tahun. Ia pun menunduk hormat lalu beranjak keluar dari kamar itu untuk memberi privasi pada pasangan tersebut. Dokter Elizabeth terus melangkahkan kakinya menuju ruang santai yang masih berada di lantai yang sama dan duduk menunggu disana hingga cairan infus Nyonya Muda keluarga Alister itu habis.
Kebahagiaan begitu menyelimuti Mahavir mendengar kabar bahwa istrinya sudah mengandung darah dagingnya, hingga tanpa sadar dia mengecupi seluruh permukaan wajah istrinya. Setiap inchi dari wajah cantik yang masih terlihat pucat itu. Hingga kegiatannya itu mengusik lelapnya tidur Rachel.
Rachel sedikit mengernyit, kemudian kedua kelopak matanya perlahan-lahan terbuka. Mata yang masih terlihat sembab itu memicing lalu mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan silau cahaya yang masuk ke matanya hingga akhirnya terbuka sempurna. Namun kedua matanya kembali terpejam saat netranya menangkap wajah Mahavir yang berada tepat di atas wajahnya. Bulir bening kembali terjatuh dari celah sudut matanya.
"Sayang....." Panggilnya dengan lembut, mengusap lembut kedua sudut mata Rachel lalu meraih satu tangan Rachel lainnya dan mengecup punggung tangannya. "Bagaimana perasaanmu saat ini? Apa ada yang kamu butuhkan?" Lanjutnya penuh perhatian dengan satu tangannya lagi yang terus membelai pipi Rachel.
Bukannya menjawab pertanyaan Mahavir, malah isakan tangis tertahan yang terdengar dari Rachel, membuat airmata semakin tumpah ruah keluar dari kedua matanya yang masih saja terpejam.
Jangan seperti ini Vir.... aku tidak sanggup menghadapimu yang selalu bersikap seperti ini padaku.....
"Sayang.... Ada apa denganmu? Tolong katakan padaku, jangan diam seperti ini. Ini sangat menyiksaku...dan juga menyiksa dirimu sendiri." Menggenggam erat tangan Rachel dengan kedua tangannya, sementara netranya terus menerus memandangi istrinya. "Apa ayahku mengatakan sesuatu yang menyakitimu?"
Tak ada jawaban sedikitpun dari Rachel, wanita itu masih saja membungkam mulutnya, hanya suara tangisannya yang semakin terdengar pilu dan menyayat. Membuat Mahavir ikut terluka dan meneteskan airmatanya. "Sayang... Kumohon, bicaralah... Katakan apa salahku padamu?" Tanyanya lagi seraya menempelkan keningnya pada kening Rachel, hingga hembusan nafasnya begitu terasa di permukaan kulit wajah Rachel. Bahkan airmata laki-laki itu ikut menetes membasahi pipi istrinya itu.
"Katakan sayang....apa salahku padamu?" Ulangnya.
Rachel menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangisannya, melihat itu Mahavir malah menempelkan bibirnya pada bibir Rachel dan mencecapinya dengan lembut, membasahi permukaan kulit bibir yang kering itu dan terus menciuminya. Tapi bukannya terdiam dan terbuai dengan ciuman Mahavir, tangisan Rachel malah semakin pecah hingga dadanya terlihat naik turun dengan ritme yang begitu cepat dan terlihat sesak.
Mahavir terkejut, dengan cepat ia mengangkat wajah dan tubuhnya. "Sayang....? Ada apa denganmu?" Memegangi kedua bahu Rachel yang bergetar hebat. "Tenanglah sayang, tenangkan dirimu...aku tak akan melakukannya lagi. Jadi tenanglah..."
Rachel tetap membungkam mulutnya, diam seribu bahasa. Rachel mencoba membalikkan tubuhnya ke sisi kiri untuk menghindari Mahavir yang terduduk di sisi kanannya, namun sesuatu yang terpasang di punggung tangan kanannya menghentikan pergerakannya. Kedua matanya akhirnya kembali terbuka untuk melihat sesuatu yang menempel di punggung tangannya yang terasa begitu perih. Bola mata Rachel terlihat bergerak-gerak memandangi tangannya lalu mendongakkan kepalanya mengikuti selang kecil yang tersambung dengan botol steril yang tergantung tinggi didekatnya.
"Itu hanya Vitamin, agar kamu tidak lemas lagi." Ucap Mahavir, menyadari sorotan mata Rachel yang seakan bertanya-tanya dengan keadaannya. Mahavir mengusap kedua matanya lalu kembali memegang tangan Rachel dengan kedua tangannya. "Aku punya kabar gembira buatmu sayang, buat kita..." Lanjutnya lagi kemudian mengelus lembut lengan Rachel dengan binar bahagia walaupun di matanya masih terlihat sisa-sisa airmatanya.
Rachel tak menggubrisnya, ia masih berusaha membalikkan tubuhnya untuk menghindari Mahavir.
"Rachel..." Panggilnya sedikit tegas hingga rahangnya terlihat sedikit mengeras. Ia menghela nafas panjang dan kembali membuat Rachel berbaring terlentang menghadapnya dan menahan pergerakan istrinya itu dengan memegangi kedua bahunya.
"Sayang... Jangan pancing amarahku. Kesabaranku juga ada batasnya...dan aku tak ingin menyakitimu..."
Rachel terkesiap dan mematung di posisinya. ia kembali memejamkan matanya, begitu enggan melihat wajah Mahavir. "Kumohon...biarkan aku sendiri saat ini." Ucapnya pada akhirnya.
Mahavir menghela nafas panjang berkali-kali hingga akhirnya menarik kedua tangannya dari bahu Rachel dan bangkit berdiri. "Baiklah bila kamu masih belum mau bicara padaku. Aku akan keluar dan bersabar menunggu penjelasanmu. Istirahatlah... Dokter Elizabeth yang akan menemanimu sementara disini." Ujarnya, memperbaiki selimut yang membalut tubuh Rachel lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
Di ambang pintu, Mahavir masih sempat berbalik sekilas dan tersenyum getir melihat istrinya yang begitu tak ingin melihat wajahnya. Ia kembali menghela nafas panjang lalu menutup pintu dengan perlahan. Mahavir melangkah ke ruang santai dimana dokter Elizabeth terduduk dan meminta dokter wanita itu untuk kembali masuk ke kamarnya dan menemani istrinya.
Malam semakin larut, suhu sudah menurun ke 5°C, membuat udara dingin semakin menusuk. Mahavir membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan satu tangannya dijadikan pengganjal kepalanya dan satu tangannya lagi terangkat menutupi matanya. Tubuhnya begitu lelah setelah aktivitas panjangnya yang tiada henti sepanjang hari ini, tapi apa yang dialaminya malam ini membuat matanya begitu sulit untuk terpejam. Lama ia larut dalam pikirannya hingga akhirnya tertidur juga.
Pukul 02.00 dini hari, Stuart baru keluar dari ruang kerja. Ia sudah mengamati rekaman CCTV tiap menit keadaan yang terjadi di setiap sudut ruangan yang ada di penthouse selama seminggu ini, termasuk kejadian siang tadi dimana Nyonya Muda-nya terlihat mengobrak-abrik ruang kerja suaminya sendiri.
Stuart menggerutukkan giginya rapat-rapat, menahan amarah karena Bik Inah yang ditugaskan di penthouse malah tidak memberikan laporan apa-apa. Setidaknya, bila Bik Inah melaporkan semuanya sore tadi maka Stuart bisa langsung menanganinya dan semua kejadian malam ini akan bisa dihindari.
Dengan langkah panjangnya, Stuart sudah berada di lantai dua dan hendak melaporkan apa yang dilihatnya kepada Tuan Mudanya, namun urung dilakukannya begitu melihat tuan Muda-nya tertidur dan meringkuk di atas sofa dengan keadaan yang membuat hatinya terenyuh. Selama sembilan tahun lebih selalu bersama Mahavir disetiap saat, membuat Stuart menganggap Tuan Muda-nya itu seperti adiknya sendiri. Stuart mengambil selimut baru dari kamar yang dulunya ditempati Risya kemudian menyelimuti Mahavir. Setelahnya ia duduk di salah satu sofa single yang berada di dekat Mahavir. Menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada, serta kedua mata yang terus mengamati Tuan Muda-nya yang terlelap.
* * *
Sepeninggal Stuart dan dokter Elizabeth, Mahavir menyibukkan diri di pantry membuatkan Rachel sarapan bubur.
Desahan pelan lolos dari mulut Mahavir tatkala mengingat perkataan dokter Elizabeth sebelum pulang tadi yang menjelaskan bahwa perasaan wanita yang sedang hamil itu sensitif dan labil, ia akan mudah marah atau menangis tanpa sebab. Untuk itu Mahavir diminta agar lebih bersabar, jangan sampai membuat istrinya depresi karena akan berbahaya bagi janin yang dikandungnya. Karena itu pula Mahavir mengira kalau amarah istrinya itu bisa jadi karena pengaruh hormon kehamilannya.
Mahavir membuyarkan lamunannya begitu bubur yang di masaknya sudah meletup-letup, dengan cepat ia mematikan kompor dan memindahkan bubur itu ke mangkok lalu membawanya ke kamar dimana Rachel masih terlelap dibalik selimut.
Rachel sedikit mengernyit dan langsung terbangun begitu Mahavir meletakkan bubur buatannya di atas nakas. Aroma dari bubur itu membuat perutnya tiba-tiba bergejolak.
"Hoekk...." Bergegas Rachel berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan saja.
Menyadari penyebab mualnya Rachel, Mahavir segera mengangkat kembali mangkok bubur itu dan membawanya kembali ke pantry lalu menggantinya dengan buah.
Rachel masih berada di kamar mandi saat Mahavir sudah kembali lagi ke kamar dengan beberapa buah segar yang dibawanya. Mahavir meletakkan buah itu di atas meja lalu menghampiri Rachel untuk membantunya. Namun lagi-lagi Rachel mendorongnya dan tak mau menerima bantuannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi kemarin? Kenapa kamu bersikap seperti ini?" Tanyanya dengan frustasi sambil mengikuti langkah Rachel keluar dari kamar mandi.
"Sayang bicaralah....sampai kapan kamu akan seperti ini?" Tanyanya lagi.
Rachel berbalik dan memandangi Mahavir dengan penuh amarah. "Sampai kamu mau jujur padaku." Ucapnya dengan suara bergetar.
Mahavir menaikkan kedua alisnya, tidak mengerti arah pembicaraan Rachel. "Jujur apa sayang? Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu."
"Kamu masih mau berpura-pura tidak tahu?"
Mahavir mengusap wajahnya dengan kasar, pikirannya tiba-tiba kosong dan tidak dapat mencerna maksud perkataan Rachel.
"MAU SAMPAI KAPAN AKU MEMBERIMU KESEMPATAN UNTUK JUJUR?" teriak Rachel dengan suara yang sudah parau di sertai tangisan.
Mahavir terdiam tapi dengan sorot mata yang tampak kebingungan.
"DASAR PENGECUT!!!" Umpatnya lalu berbalik dan hendak melangkah keluar dari kamar, tapi langkahnya terhenti karena Mahavir tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku sayang kalau aku punya salah padamu, tapi aku betul-betul tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan." Ucapnya sambil mengecup tengkuk Rachel dan menghirup aroma tubuh istrinya dalam-dalam.
Rachel memberontak dan melepaskan pelukan itu, ia kembali berbalik menghadap Mahavir dan mendorongnya menjauh. Tapi Mahavir bertahan ditempatnya dan malah menarik pinggang Rachel agar merapat padanya.
"Sampai kapan kamu akan membohongi ku, hah? Sampai kapan?" Tanyanya sambil memukuli dada Mahavir. Isak tangisnya kembali pecah.
"Sayang...."
"Jangan memanggilku sayang...Aku membencimu Vir, sangat-sangat membencimu."
"Sayang..."
"Aku bilang jangan memanggilku sayang!" Marahnya lalu mendorong Mahavir dengan keras.
Rachel Kembali menatapnya dengan tajam, kemudian akhirnya bertanya sekali lagi untuk terakhir kalinya. "Aku tanya sekali lagi, kamu mau jujur atau tidak?"
Mahavir terdiam beberapa saat, ia menatap manik Rachel untuk mencari jawaban, sementara otaknya bekerja dengan cepat menelaah maksud istrinya itu. Hingga akhirnya mulutnya terbuka, "Apa kamu sudah ta...."
PLAK.....' Satu tamparan kembali mendarat ke pipi Mahavir.
"Ya, aku sudah tahu semuanya, brengsek!"
Mahavir menggeleng lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Sayang, aku bisa menjelaskan semuanya." Ucapnya berusaha memeluk Rachel, tapi Rachel semakin mundur dan menjauhinya.
"Apa kamu sudah puas menipu dan mempermainkanku....., Dirman???"
* * *