Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 73.Perasaanku...


Sepulang dari Queen Elizabeth Hall siang tadi, Bryan membawa Risya mengelilingi beberapa icon kota London. Mengunjungi Gedung parlemen, Big ben, Tower Bridge, dan yang terakhir saat ini London Eye.


Risya tak henti-hentinya terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya dari balik kaca kapsul London eye, berkali-kali pula ia meminta Bryan mengambil potretnya dari berbagai sudut.


Padahal di dalam kapsul dipenuhi sekitar 15 orang, namun Risya seakan tidak menghiraukannya.


"Kak Bry makasih yah sudah bawa Risya jalan-jalan seharian ini, dan bawa Risya ke sini juga." Ucapnya, melompat dan memeluk Bryan saking girangnya.


Bryan sempat tersentak saat dipeluk Risya, seakan ada listrik yang menyengat tubuhnya. Padahal ini bukan kali pertama gadis belia itu memeluknya. Kedua pipi Bryan memerah menahan sesuatu dari lubuk hatinya yang bahkan baru dirasakannya untuk pertama kalinya.


"Ck... Sekalinya dibawa jalan baru mau dekat-dekat. Padahal sebelumnya dia yang larang dekat-dekat. Dari tadi diam terus, ditanya apa jawabnya apa." Tukas Bryan mencoba menyembunyikan rasa berdebarnya.


"Iisshhh.... Bawel." Mendorong pelan Bryan namun mengulas senyumnya. "Maaf deh... Risya kan cuma malu sama kak Bry. Bagaimanapun kan Risya cewek dan kak Bry cowok."


Bryan tersenyum lalu mengacak pucuk kepala Risya. "Tak apa, aku ngerti kok."


"Kak Bry tau gak?"


"Hmm?" Mengangkat kedua alisnya. "Gak tahu..."


"Iiishh..." menepuk bahu Bryan. "Kak Bry itu kakak terbaik yang Risya kenal selain dari kakak-kakak kandung Risya." Ujarnya sembari memandangi wajah Bryan dengan tersenyum-senyum, membuat Bryan semakin kelimpungan dengan jantungnya yang seakan ingin melompat dari tempatnya. Bahkan sentuhan jari Risya yang memegang lengannya saja mampu membuat darahnya berdesir. "Kak Bry jangan pernah lupakan Risya yah?" Lanjutnya dengan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.


"Kak Bry kok diam? Kak Bry tidak bakalan lupa dengan Risya kan?"


Bryan menelan ludahnya lalu mengusap tengkuknya saking salah tingkahnya.


"Kak Bry...!!"


"Hmmmm...kalau kamu tak mau dilupakan, kamu harus membuat patungmu di Madame Tussauds sana." Ketus Bryan, saking salah tingkahnya ia tak tahu harus bilang apa.


"Ihhh..." Memicingkan matanya lalu melirik kesal Bryan diiringi tangannya yang memukul bahu Bryan.


Bryan balas melirik sinis. "Memangnya kamu siapa hah? Minta diingat terus?"


"Ya udah, Risya juga bakalan lupain kak Bry." Melipat kedua tangannya di depan dada lalu menjauhi Bryan.


"Ihh, ngambekk..." Bryan menyunggingkan senyumnya sambil mencolek pipi Risya.


"Siapa juga yang ngambek. Sana jauh, gak usah sentuh-sentuh Risya." Mendorong dada Bryan menjauh.


"Kalau gak mau dilupain yah jadi pacarku saja..."


Risya menoleh, melirik sinis Bryan, menyunggingkan senyum miring dan mendesis.


"Nyesel loh kalau nolak orang ganteng begini."


"Ihh ogah, emangnya Risya Pepacor."


"Hah?? Pepacor? Apaan tuh?"


"Perebut pacar orang!"


"Astaga, kirain apa." Ucapnya dengan tertawa lepas.


"Ssttt, kak Bry diliatin orang-orang tuh." Menunjuk sekelilingnya dengan sorot matanya.


Bryan mengikuti arah pandang Risya dan langsung mengatupkan kedua bibirnya.


Kak Bry itu serius gak sih dengan kak Diraya? Kalau cuma setengah hati, kembalikan kak Diraya pada kakak Rey."


"Yah seriuslah..."


Kembali Risya melirik sinis dan mencibir Bryan.


"Kak Diraya gak cocok dengan kak Bry."


"Lalu yang cocok siapa?"


"Tau..."


"Kalau aku mengembalikan kak Raya pada Rey, apa imbalan buatku?"


Risya mengangkat kedua alisnya dan membulatkan kedua matanya. "Kak Bry minta apa?" Tanyanya sambil menarik turunkan kedua alisnya.


Bryan menunduk dan mendekatkan wajahnya memandangi Risya lekat-lekat.


Cium aku sekarang juga....Pinta Bryan, namun hanya terucap di hatinya.


"Kak Bry minta apa?" Kembali bertanya karena Bryan hanya terdiam memandanginya.


Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghalau pikiran kotornya.


"Kalau aku melakukannya, kamu mau berjanji mengabulkan permintaanku?"


"Baiklah, Risya janji. Tapi permintaan kak Bry apa?"


"Ingat kamu sudah berjanji. Janjimu sudah tidak bisa ditarik lagi."


"Iya, tapi permintaan kak Bry apa?"


"Untuk saat ini belum ada, nanti aku akan bilang kalau sudah memikirkannya."


"Yah, asalkan kak Bry gak minta cium aja sama Risya." Ujar Risya asal.


Bryan menoleh dan menatap Risya dalam-dalam. Tangannya bergerak mengusap tengkuknya. Nih bocah cenayang yah? Tau aja kalau mau minta itu.....batin Bryan menggerutu.


"Memangnya kenapa kalau minta cium?" Tanya Bryan menggoda Risya.


"Ciuman pertama Risya harus dengan pacar yang Risya sayangi kelak. Atau kalau bisa, Risya akan bertahan dan memberikan ciuman pertama Risya dengan calon suami masa depan Risya."


Mendengar celotehan Risya, Bryan mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat, mencoba menahan senyum dan tawanya. Karena tanpa sepengetahuan Risya, ia telah mencuri ciuman pertama Risya.


"Kenapa reaksi kak Bry seperti itu?"


"Ti.. Tidak..." Berusaha merubah mimik wajahnya dengan cepat.


"Jadi kapan kak Bry akan menelpon kak Rey?"


"Yah, kapan-kapan..."


"Ih, kak Bry kan sudah janji...!"


"Iya bawel."


"Maaf yah, kalau Risya memaksa. Tapi kak Bry juga tidak cocok dengan cewek yang jauh lebih tua. Nanti dia udah nenek, eh kak Bry-nya masih muda. Kan gak lucu?"


"Berarti aku harus cari yang lebih muda dong."


"Yah terserah kak Bry."


Bryan mengulum senyumnya, sementara Risya terus-menerus mencibir Bryan hingga kapsul yang mereka tumpangi kembali ke bawah.


"Kemana lagi kak Bry?" Tanya Risya saat mereka sudah kembali ke dalam mobil.


"Sudah malam, kita makan malam dulu baru pulang." Ujarnya sembari memakaikan seatbelt pada Risya, lalu menyalakan mesin mobil dan melajukannya.


"Wahh dimana? Tumben hari ini kak Bry gak kere."


"Ck, ini pakai uang kak Vir. Kita juga makannya diundang kak Vir. Kalau tidak ditraktir juga, kita langsung pulang dan makan di rumah saja."


"Ishh.. Emang dasarnya aja kak Bry pelit."


"Ngomong lagi aku cium nih."


"Wekk" Menjulurkan lidahnya lalu berpaling menghadap jendela. Bryan kembali tersenyum-senyum sambil fokus mengemudi.


* * *


Angin malam berhembus semakin dingin menusuk sendi, namun rasa dingin itu sama sekali tidak membuat Rachel bergidik. Justru yang dirasakannya saat ini panas yang membakar dalam dadanya.


Kedua bola matanya terasa panas, menatap laki-laki di hadapannya dengan intens. dadanya bergemuruh seiring tubuhnya yang ikut bergetar. Sementara satu tangannya yang ada di bawah meja meremas kuat terusan dress-nya.


Dirman....???


Batin Rachel menduga-duga, namun ia dengan cepat menggeleng dan menghalau pemikirannya.


Tidak...tidak... Itu tak mungkin...


Pasti itu hanya kebetulan...


"Sayang? Ada apa?" Tanya Mahavir, menyadari ekspresi wajah Rachel yang memucat dan menegang.


Siapa dirimu yang sesungguhnya sayang....???


Batin Rachel terus bertanya-tanya. Hatinya tak tenang. Sementara Kedua matanya berusaha menahan sesuatu di pelupuk matanya agar tidak terjatuh.


Mahavir mengkerutkan dahinya, keheranan melihat aksi diam istrinya itu. "Sayang??" Meletakkan buku menu ke atas meja lalu menggeser duduknya hingga menempel di samping Rachel. Ketika tangannya bergerak untuk menyentuh Rachel, istrinya itu malah menjauhkan diri. "Ada apa?" Tanyanya penasaran.


"Aku.. Aku ke toilet dulu." Rachel beralasan, ia segera memasukkan ponselnya ke balik saku coat-nya, kemudian bangkit berdiri dan hendak melangkah. Tapi tangan Mahavir yang menarik tangannya menahan langkahnya.


"Kamu tak apa-apa kan sayang?" Memandangi wajah Rachel dengan seksama. "Perlu aku temani?"


Rachel menggeleng pelan dan lemah, seakan tak punya kekuatan hanya untuk sekedar menggelengkan kepalanya. "Aku...aku Baik-baik saja." Ucapnya seraya menarik tangannya lalu langsung melangkahkan kakinya keluar dari iglo dan masuk ke dalam bangunan utama restoran itu. Meninggalkan Mahavir terduduk dengan memandangi punggungnya yang menjauh.


Setelah menanyakan letak keberadaan toilet pada salah satu pelayan, Rachel langsung bergegas ke toilet dan mengurung dirinya di dalam salah satu bilik yang ada.


Di dalam sana, Rachel langsung terduduk di closet dengan kedua tangan yang menumpu di lututnya sambil meremas kuat kepalanya. Tetesan bening dari sudut matanya yang sudah tertahan sedari tadi mulai melesat berjatuhan membasahi kedua pipinya.


Tidak.. Tidak.. Ini hanya praduga ku...


Sangat tidak mungkin kalau mereka orang yang sama...


Keduanya bagaikan langit dan bumi...


Jelas ini tak mungkin... Mereka hanya mirip..


Iya... Pasti hanya mirip seperti yang pernah dikatakan oleh..........


Raya.....???


Tiba-tiba Rachel teringat perkataan Raya. Ia pun mencoba menyatukan ingatannya tentang bagaimana Raya berusaha membuatnya melihat kemiripan Dirman dengan Mahavir.


Apa Raya tahu sesuatu?


Dengan cepat Rachel mengusap kedua pipinya yang basah lalu keluar dari bilik toilet dan menghubungi Raya yang jauh di sana.


Bunyi ketukan sepatu hak Rachel yang menghentak lantai marmer terdengar menggema mengisi keheningan ruang toilet yang sepi itu. Ia terus melangkahkan kakinya mondar mandir tak tenang sambil menggigiti ujung jempolnya tanpa sadar saking gusarnya karena panggilannya tidak tersambung sama sekali. Rachel menghela nafas panjang, kembali ia ingin mengulang panggilannya, hingga detik selanjutnya ia pun tersadar.


Astaga di sana kan sudah tengah malam menjelang dini hari, pasti Raya sedang tidur.


Lagipula....


biarpun dia tahu sesuatu dia pasti akan membungkam mulutnya rapat-rapat.


Tak hilang akal, ia kemudian menelfon Kimmy. Rachel merasa harus mencari tahu lebih lanjut, jangan sampai kecurigaannya yang tak mendasar malah membuatnya menuduh Mahavir.


Tidak, itu tak boleh terjadi. Suaminya itu orang yang berbeda, laki-laki yang tulus mencintainya, laki-laki yang sangat menyayanginya.


Rachel menguatkan hatinya, ia terus menerus mensugesti dirinya sendiri, tapi di satu sisi hatinya yang lain malah mematahkan sugesti-nya sendiri,


Lalu Dirman?


Bukankah Dirman juga sangat mencintainya..


Bahkan dengan gilanya?


Lalu perbedaannya apa?


"Argghhh..." Rachel meluapkan emosinya dengan memukul meja wastafel toilet saking frustasinya. Ia bahkan tak lagi merasakan sakit pada tangannya walaupun telapak tangannya sudah memerah karena menghantam meja wastafel yang berlapis keramik marmer.


Ia menggigit bibir bawahnya dengan keras untuk menahan agar tangisannya tidak pecah. Ia tak boleh lemah, tak boleh menjadi rapuh dengan sesuatu yang belum pasti kebenarannya.


Tubuhnya pun di sandarkannya ke dinding toilet, tangan kirinya yang masih memerah terangkat memijit pelipisnya dengan kasar. Sementara tangan kanannya tak henti-hentinya menghubungi nomor Kimmy.


"Hallooo....." Jawab di ujung sana dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kim, Sorry ganggu...." Ucapnya dengan suara sedikit bergetar.


"Rachel?? What happen, dini hari gini nelfon?"


"Sorry, Sorry, aku mau memastikan sesuatu."


"Apa tak bisa dibicarakan besok? Kamu tahu sekarang jam berapa disini?"


"Kamu tak di London?"


"Sepertinya aku sudah pernah bilang kalau aku mau ke Korea deh..."


"Sorry Kim, aku lupa."


"Ya sudah, ada apa?"


"Itu.....Foto pemuda berkacamata dan berambut geriting yang kamu kirimkan padaku, apa...apa kamu punya foto lainnya yang lebih jelas? Sapatahu kamu pernah lihat fotonya yang tidak menggunakan syal atau berkacamata?"


"Kamu kenal dengannya?"


"Kim, please... Jawab saja dulu pertanyaanku!"


"Sorry Ra, aku tak punya foto lainnya di ponselku. Mungkin kalau di album koleksi foto-foto Sam ada. Tapi itu ada di rumah Sam. Dan saat ini tak ada orang dirumah itu. Sam ada pemotretan di Cambridge."


"Kapan kalian kembali ke London?"


"Sekitar dua minggu lagi aku pulang, kalau Sam dari Cambridge akan langsung ke Liverpool."


"Apa tak bisa kamu percepat?"


"Sorry Ra...! Tapi apa itu sangat mendesak?"


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Sorry kalau kesannya aku memaksa. Tapi ini sangat penting."


"Tak apa, aku akan membantu sebisaku. Entar aku tanyakan pada Sam, siapa tahu file di laptopnya masih ada."


"Thanks dear, sorry sudah ganggu tidurnya."


"It's okay...." Ucap Kimmy di ujung sana.


Dan Rachel pun mengakhiri pembicaraan via telepon itu dan kembali memasukkan ponselnya ke balik saku coat-nya. Lalu menyusutkan tubuhnya berjongkok di depan wastafel karena merasakan kedua lututnya yang masih gemetar.


"Kak Rachel?"


Rachel mendongak dan terkejut melihat Risya. Dengan cepat ia bangkit berdiri dan memperbaiki penampilannya.


"Kak Rachel kenapa?"


"Ah, kakak tidak kenapa-kenapa, tadi hanya mules sedikit." Ucapnya lalu menghela nafas berkali-kali. Pandangannya lurus mematut bayangan dirinya di dalam cermin kemudian menyalakan kran wastafel, membasuh kedua tangannya dan memperbaiki riasan wajahnya. "Kamu gak masuk ke toilet?"


"Ah, tidak kak. Risya tadi disuruh sama kak Vir buat lihat keadaan kakak." Ucap Risya, memandangi Rachel dengan intens, kemudian dengan ragu-ragu bertanya. "Kak.. Kak Rachel habis nangis yah?"


"Ah, gak kok Ris. Ini karena kakak udah ngantuk soalnya kurang tidur." Terangnya sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.


Risya mengangguk pelan namun masih dengan pandangan yang tak lepas pada wajah Rachel.


"Yuk, kembali ke luar." Ajaknya lalu merangkul bahu Risya menuju kembali ke iglo.


Sesampainya di depan iglo, Mahavir yang menunggunya di pintu langsung menarik Rachel dan merangkulnya. Sementara Risya langsung menghampiri Bryan yang sudah duduk di dalam iglo.


"Kamu tidak kenapa-kenapa kan?" Tanya Mahavir sambil memandangi wajah Rachel. "Kenapa dengan wajahmu?"


"Aku baik-baik saja. Aku hanya lelah dan mengantuk." Ujarnya dengan berusaha melepas rangkulan Mahavir.


Mahavir menatap manik mata Rachel yang sayu, mencoba mencari jawaban disana namun Rachel seolah mengalihkan pandangannya dan berusaha menjauh darinya. Tapi semakin Rachel berusaha ia semakin merapatkan rangkulannya dan tidak memberi celah pada Rachel untuk bergerak. "Apa kita pulang saja?" Bisiknya.


"Tidak perlu, kasian Bryan dan Risya kalau ditinggal." Ucapnya dengan memalingkan wajahnya ke samping.


Mahavir menghela nafas, lalu mendekap Rachel dari belakang dan mengecup pipinya sekilas."Ya sudah, ayo masuk ke dalam. Makanannya sudah aku pesankan. Sebentar lagi datang." Ucapnya sembari mendorong Rachel masuk ke dalam iglo.


Beberapa menit kemudian pesanan mereka pun datang. Mereka lalu menikmati santapan malamnya sambil mendengar celotehan Risya yang sesekali bahkan berselisih dengan Bryan.


Mahavir kadang ikut terkekeh namun pandangannya selalu fokus pada Rachel yang terlihat lemas dan tak bergairah. Walaupun Rachel memasang senyumnya, namun Mahavir menyadari ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya itu. 15 tahun ia mengenal wanita itu, dan ia tak bisa dibohongi hanya dengan topeng senyumnya.


Sayang.... Ada apa lagi dengan dirimu?


Tak bisakah kamu membuat hatiku ini tenang memikirkanmu???


Kumohon jangan pernah berubah sikap padaku...


Tak bisakah kamu menjaga....


Perasaanku....??


* * *