Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 28.Saling Curhat.


Keesokan harinya. Mahavir terduduk lemas dikursi kerjanya di hotel Calister. Wajahnya terlihat kusut, alis tertekuk, dan bibir yang mengerucut. Jempolnya tidak berhenti memainkan sebuah Ballpoint.


Setelah mencium Rachel dari kemarin sore hingga pagi tadi, Rachel terus bermain kucing-kucingan dengannya. Bahkan semalam Mahavir betul-betul tidur di kamar tamu. Karena jengkel, dia memilih pergi ke hotel Calister dan melimpahkan kekesalannya kepada Reynold.


"Kenapa lagi sih??" Rey semakin pusing dengan tingkah laku sahabat nya. "Gak dapat jatah?" Lanjutnya dengan terkekeh dan membuat Mahavir melemparinya dengan ballpoint yang ada ditangan nya.


"Tidak kena!!" Ejek Rey, yang langsung bisa menghindar.


"Gaji mu kupotong 50%." Mahavir mengancam.


"Astaga, segitunya....!! Oke, oke, pukul aku saja." Rey menghampiri Mahavir, menggulung kemejanya dan memberikan akses kepada Mahavir untuk memukul bahunya.


"PLAKKK!!!"


Mahavir malah memukul kepala Rey hingga membuat Rey meringis dan mengusap kepalanya.


"Astaga!! Deritaku... Aku tak salah apa-apa malah aku yang dapat getahnya." Gerutu Rey sambil berjalan ke sofa tamu dan duduk disana.


"Ada apa lagi dengan Rachel?" Tanya Rey, langsung bisa menebak kejengkelan Mahavir. Siapa lagi yang bisa membolak-balikan dan menjungkirbalikkan hati seorang Mahavir kalau bukan Rachel.


"Dia ngambek!! Dia tak mau bertemu denganku!!"


"Kenapa? Apa kamu memaksanya melakukan...."


"Jaga mulutmu!!" Mahavir kembali melempar Ballpoint lainnya yang masih tersisa di meja dan kali ini tepat sasaran.


"Kalau bukan itu apa lagi?" Rey mengusap-usap pelipisnya yang terkena lemparan Ballpoint.


"Aku mengganggunya saat lagi video Zoom dengan rekan kerjanya..." Jawab Mahavir pelan.


"Wah.. Itu sih kamu yang salah emang!!" Seru Rey tertawa. "Memangnya apa yang kamu lakukan?"


"Aku memeluknya saat video Zoom itu masih berlangsung. Dia marah dan memukuliku, karena gemas aku malah menciuminya dengan liar."


"Ups... Hahahha" Rey tertawa terbahak-bahak. "Segitu berhasrat nya kamu dengan Rachel yah..."


"Aku kan laki-laki normal."


"Kalau begitu kenapa tidak langsung kamu makan saja dia, jadi sekalian basah kan!!"


"Kamu pikir aku tidak mau? Kamu tahu sendiri, berapa lama aku telah mendambanya dan seberapa besar aku menginginkan nya.


"Terus, kenapa tidak kamu lakukan?? Kamu aneh!! Punya istri cantik, sexy tapi dianggurin. Kamu paksa pun tidak akan ada orang yang menyalahkanmu. Kamu itu suaminya sah secara agama dan hukum!!"


"Aku tidak mungkin melakukannya, apalagi sampai memaksanya. Kamu tahu, setiap bersamanya aku selalu berusaha keras untuk menahan diri." Ujar Mahavir lalu mengusap wajahnya kasar.


"Lalu buat apa kamu menikahinya, Goblok!!!" Ejek Rey hingga membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari Mahavir. "Sorry, kelepasan!!"


"Karena aku sangat..sangat mencintai nya. Bahkan sampai sekarang aku masih mengira sedang bermimpi bisa menikahinya dengan mudah. Aku tidak mau melakukannya selagi Aku masih berbohong padanya. Aku tidak ingin mengambil kesempatan. Aku menginginkan hatinya, bukan tubuhnya. Aku akan bersabar dan menahan diri hingga dia menyukai dan bisa mencintai diriku saat ini. Yah, walaupun kadang aku sering kelepasan menciumnya." Ujar Mahavir menjelaskan sambil sesekali menarik nafas panjang.


Rey menyandarkan punggungnya ke sofa. Pandangannya menatap langit-langit ruangan itu. Sungguh sangat ironi dengan kisah percintaan sahabatnya. Walaupun kisahnya percintaannya juga sedikit rumit.


"Jadi sampai kapan kamu begitu? Aku pikir setelah menikahinya kamu akan bisa bahagia. Ternyata yang kulihat kamu malah semakin nelangsa!!"


"Tak tahulah.... Setidaknya aku harus bisa membuatnya mencintaiku terlebih dahulu, setelah itu aku akan menjelaskan diriku yang sebenarnya."


"Kamu harus cepat menjelaskannya, jangan sampai dia tahu dari orang lain atau dia sendiri yang mencari tahu. Itu bisa jadi bumerang buatmu sobat!!"


"Yahhh......" Lirih Mahavir menatap kedepan dengan pandangan kosong.


Keduanya sejenak larut dengan pikiran masing-masing.


"Lalu bagaimana perkembangan hubungan mu dengan Raya?" Tanya Mahavir kemudian.


"Entahlah... Tak ada kemajuan sama sekali."


"Memangnya apa yang menjadi kendalanya?"


"Masalahnya sama denganmu, sikapnya persis seperti Rachel padamu dulu!! Dia sangat membenciku, aku sampai tidak tahu kenapa dia membenciku. Kamu tahukan kalau dulu aku satu kampus dengannya, cuman dia mengambil jurusan kedokteran sementara aku jurusan manajemen. Dulu, Setiap ada kesempatan aku selalu berusaha mendekatinya, bahkan sudah tak terhitung berapa kali aku menembaknya. Pernah sekali dia akhirnya menerima ku karena mungkin sudah lelah menolak, tapi kamu tahu berapa lama hubungan itu bertahan?"


"Memangnya berapa lama?"


"Tiga hari!! Di hari ketiga di memutuskan ku tanpa alasan jelas. Sakit tahu!! Setelah itu aku sudah tidak melihatnya lagi sampai dia muncul di hotel ini bersama Rachel..!!!"


"Hahh....Kenapa perempuan itu begitu susah ya....!!!" Mahavir mendesah pelan.


"Setidaknya kamu sudah berhasil menikahinya, bahkan sudah menciumnya. Nah aku, boro-boro cium!! Pegang tangan saja malah langsung dipelototi." Rey berucap dengan kesal. "Malah didepan mataku dia mencium pipi Bryan!!"


"Apa?? Bryan? Kok bisa???" Mahavir terkejut.


"Iyya, kalau bukan adik ipar kesayangan kamu. Aku sudah lama menghajarnya."


"Maksudnya, kenapa Bryan sampai dicium oleh Raya?"


"Entahlah... Kamu tanya adik ipar mu itu, dia ada hubungan apa dengan Raya! Bryan bilang sih kalau tidak punya hubungan apa-apa, tapi melihat gelagat mereka berdua seperti ada sesuatu."


"Astaga Rey, Bryan itu masih terlalu muda. Usianya saja terpaut 10 tahun dengan Raya. Mana mungkinlah...."


"Berciuman??" Mata Mahavir membulat sempurna saking terkejutnya, dia tidak percaya dengan perkataan Rey. "Tidak mungkin!!"


"Hei.. Walaupun masih 18 tahun, Bryan itu juga laki-laki tahu!! Aarrgghhh... Sudahlah!! Hatiku panas membahas ini."


"Nanti aku bicara dengan Bryan. Dia selalu jujur dan terbuka padaku. Semua kata-kataku di dengarkan."


"Kalau begitu minta dia menjauhi Raya." Rengek Rey.


"Aku tidak punya hak mencampuri urusan pribadinya. Kalau dia bilang menyukai Raya, berarti kalian harus bersaing dengan adil."


"Jadi sekarang kamu memihak adik ipar mu itu?"


"Aku tidak memihak siapa-siapa. Aku kan tidak bisa melarang hati orang untuk saling jatuh cinta. Kalau Raya dan Bryan memang saling suka yah mau bagaimana lagi. Kamu harus mengikhlaskan nya atau berusah lebih keras lagi untuk mendapatkannya."


Drrtt.. Drrtt.. Drrt


Bunyi pesan masuk di ponsel Mahavir. Mahavir mengambil ponselnya dari saku celana dan melihat nama pengirim pesan itu.


"Panjang umur dia, Nih ada pesan laporan dari Bryan." Ujar Mahavir sembari memperlihatkan layar ponselnya pada Rey.


"Laporan apa?"


"Bryan itu mata-mata ku dirumah, dia yang sering melaporkan kegiatan Rachel." Ujar Mahavir menjelaskan sembari membuka sandi ponselnya dan melihat pesan yang dikirim Bryan.


Kak Vir, cepat pulang! kak Rachel bersiap-siap mau pergi bersama temannya. Aku dengar tadi dia mau ke pulau. Kak Rachel mengaku pada daddy kalau kak vir menunggu nya di dermaga.


"Astaga!!!" Mahavir memukul keningnya dengan telapak tangannya. Karena larut dalam kejengkelannya dia sampai lupa dengan rencana Rachel.


"Kenapa?"


"Aku harus pulang secepatnya, Rachel mau pergi ke pulau." Mahavir meraih kunci mobilnya lalu bangkit dari duduknya.


"Mau ngapain di pulau?" Rey menahan Mahavir.


"Katanya Aretha mengundangnya sebagai hadiah pernikahan."


"Hanya Rachel yang diundang? Kamu?"


"Aku juga diundang tapi karena aku melarangnya jadi dia nekat mau pergi sendiri."


"Kenapa kamu larang?"


"Ah, tidak ada waktu menjelaskan." Mahavir kembali melangkah keluar. Hingga langkah ketiga, ponselnya kembali berbunyi. Mahavir membuka pesan dari Bryan.


Kak Vir, aku sudah dijalan menuju rumah kak Raya. Aku memaksa ikut sama kak Rachel, takut dia nekat pergi sendiri. Aku akan berusaha mengulur waktu. Kak vir harus bisa ada di dermaga sebelum kami. Aku Share lokasi ke kak Vir ya...


"God Job Bryan!!" Puji Mahavir pada kelincahan adik iparnya, sembari melangkahkan kaki menuju kamar president suite nya.


"Ada apa?" Rey menyusul di belakang.


"Rachel dan Bryan lagi di jalan menuju rumah Raya, sepertinya mereka mau menjemput Raya."


"Raya ikut?"


"Sepertinya..."


"Bryan??"


Mahavir menatap heran ke Rey, "Memangnya kenapa kalau Bryan ikut?"


"Aku juga ikut."


"Lalu siapa yang mengurus hotel?"


"Sekali-kali aku juga ingin libur..!! Selama ini aku kan bekerja dengan baik, sampai-sampai aku jarang pulang ke rumah dan menetap di hotel ini!!."


"Yah sudah, kalau begitu kemas pakaian mu. Kita berlibur. Lapor pada Pak Sugandi." Perintah Mahavir sambil mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai pada walking closet di kamar hotelnya.


"Siap Boss!" Seru Rey kegirangan.


Setelah berkemas seadanya, mereka berdua pun pergi ke dermaga mendahului Rachel.


Sementara di kediaman Raya, tepatnya di dalam kamar Raya. Rachel masih berusaha keras membujuk Raya untuk ikut serta berlibur ke pulau.


* * *


Mohon maaf ya bila ada sedikit terlambat Up nya πŸ™πŸ™Soalnya kk Author juga punya kesibukan lain di Real Life.


Selama ini kk Author cukupin 2000kata tiap bab baru update bab baru. Tapi karena mungkin nunggu nya kelamaan, Kk akan usahakan update tiap Hari walaupun tidak sampai 2000kata. Sekali lagi Mohon maaf yah... πŸ€—


Mohon dukungannya selalu πŸ₯° πŸ™ Please tinggalkan jejak berupa Like, Komen dan Vote nya....


Salam sayang selalu dari kakak Author... πŸ₯°πŸ€—πŸ˜˜


Happy Reading πŸ₯°πŸ€—