Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 25.Bryan dan Raya.


Pukul 23.00. Pesta baru saja berakhir. Rachel dan Mahavir telah meninggalkan tempatnya. Beberapa tamu undangan pun juga telah berhamburan meninggalkan Ballroom hotel Calister. Hanya beberapa kolega, kerabat dan orang-orang terdekat yang masih tersisa dalam ruangan itu.


Pak Wijaya dan Ny Amitha tampak gembira dan tersenyum ramah berbincang dengan para koleganya, berterima kasih atas kehadiran mereka.


Salah seorang kenalan Pak Wijaya beserta istrinya tampak menghampiri mereka,


"Selamat Prof. Wijaya atas pernikahan putrinya." Pria paruh baya berketurunan Arab yang terlihat seumuran dengan Pak Wijaya menjabat dan merangkulnya.


"Dokter Manaf dan dokter Sally....!!! Sapa Pak Wijaya, lalu menjabat pasangan paruh baya didepannya secara bergantian.


Sementara Ny Amitha saling berpelukan dengan dokter Sally.


"Wahh... Proff!! padahal saya sangat ingin bisa berbesan dengan Profesor loh....tapi apalah daya, kami hanya memiliki seorang putri." Canda Dokter Manaf sambil sedikit terkekeh.


"Kalian lupa yah kalau kami masih punya seorang putra." Pak Wijaya membalas candaan Dokter Manaf.


Dokter Manaf dan dokter Sally menimpali dengan tertawa kecil. Raya yang berada tak jauh dari mereka mendengar canda tawa para orang tua itu. Raya pun menghampiri.


"Mama..." Tegur Raya ketika telah berada di samping dokter Sally.


"Itu putri kalian?" Tanya Pak Wijaya.


"Daddy lupa yah, dia kan sahabatnya Rachel. Yang dulu sering main di rumah." Ny Amitha mengingatkan. "Sekarang dia sudah jadi dokter gigi loh....!"


"Oh si Raya itu? Wah putri kalian tumbuh jadi wanita yang sangat cantik ya....jadi dokter pula, Hebat !!" Puji Pak Wijaya, membuat Raya tersipu malu.


"Terima kasih pujiannya. Iya sekarang dia sudah dewasa, tapi belum juga bertemu jodohnya!!!" dokter Sally menimpali sambil tertawa kecil. Raya hanya tersenyum kecut mendengar perkataan mama nya.


"Kalau putra kalian mana?" Tanya Dokter Manaf.


Ny Amitha menoleh ke kiri dan kanan menyisir ruangan yang sudah mulai nampak sepi.


"Itu dia!!" Seru Ny Amitha saat kedua matanya telah menemukan sosok putranya. Tangannya lalu bergerak melambai dan memanggil Bryan.


Ekor mata Raya mengikuti arah lambaian tangan Ny Amitha, dan berakhir dengan melihat sosok Bryan. Seketika Raya terpaku dan mematung.


"Please jangan kesini!! Please jangan kesini!!"


"Please jangan kesini!! Please jangan kesini!!


Guman Raya dalam hatinya berulang-ulang.


Menyadari bahwa mommy nya memanggil, Bryan datang menghampiri.


"Ini putra kami." Ucap Ny Amitha setelah Bryan telah berada di sampingnya.


Bryan menunduk memberi hormat, lalu kedua matanya mengamati gerak-gerik Raya yang berusaha menghindar darinya. Raya melirik ke arah Bryan dan mendapati pemuda itu juga sedang memandangi nya. Sekilas mata Raya dan Bryan beradu, membuat Raya salah tingkah dan memalingkan wajahnya berusaha bersembunyi dibalik pundak dokter Sally.


"Wah putra kalian tampan sekali...." dokter Sally menatap takjub pemuda didepannya. Bryan tersenyum tipis.


"Bagaimana? Berniat menjodohkannya dengan nak Raya tidak?" Canda Ny Amitha.


"Boleh.. Boleh..." dokter Sally terlihat antusias.


"Mama....!!!" Raya menarik lengan dokter Sally dan bersembunyi di belakangnya. Wajahnya sudah memerah karena malu, apalagi Bryan yang tidak berhenti menatapnya.


"Berarti ada kesempatan dong kita menjadi besan?!" Ujar Dokter Manaf.


"Wah, Kami sangat tersanjung! tapi putra Kami masih banyak kekurangan bila disandingkan dengan nak Raya, dokter muda yang berprestasi." Ujar Pak Wijaya.


"Jadi kalian menolak nih...??" Tanya dokter Sally.


"Bukannya begitu!! Bryan ini baru lulus SMA, pikiran nya masih kekanak-kanakan." Ujar Ny Amitha.


Mendengar perkataan Ny Amitha membuat Raya berbalik dan melirik tajam Bryan.


"Cihh..Apanya yang kekanak-kanakan?? Malah sifatnya lebih dewasa dibandingkan umurnya!!"


Gerutu Raya dalam hati.


"Oh, ya?? Padahal udah tinggi banget yah..!" dokter Sally memperhatikan Bryan dari atas kepala hingga kaki. "Sayang sekali, padahal aku sudah sangat berharap loh..."


"Jadi mau lanjut kuliah dimana?" Tanya Dokter Manaf pada Bryan.


"Di Oxford paman."


"Maunya dia disana, tapi saya maunya dia kuliah disini saja." Ujar Pak Wijaya.


"Loh kenapa?? Kalau memungkinkan kenapa tidak?" Ujar Dokter Manaf.


"Daddy nya takut nanti putra satu-satunya malah kepincut sama bule." Ujar Ny Amitha sambil terkekeh.


"Bisa aja!" dokter Sally ikut terkekeh. "Sayang sekali Raya terlalu tua buat nak Bryan yang sempurna ini." Ujar dokter Sally sedikit kecewa.


"Tapi kalau kak Raya bersedia, aku mau jadi pacar nya kok Bibi...." Canda Bryan membuat semuanya tertawa kecil, kecuali Raya. Kedua mata gadis itu membelalak dan terlihat geram. Kedua pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Hahah... Bryan serius?? Kalau Bryan bersedia Bibi akan menerimanya. Umur tidak jadi masalah. Bagaimana Pa? Papa juga setuju kan?" dokter Sally melempar canda kepada suaminya, Dokter Manaf.


"Begini nih Prof... Kalau para ibu sudah punya mau!!" Ujar Dokter Manaf menepuk ringan pundak Pak Wijaya.


"Sudah.. Sudah... Biarkan anak-anak kita yang mencari kebahagiaan nya sendiri." Ny Amitha menimpali.


Kembali mereka tertawa kecil. Karena waktu yang sudah semakin larut Dokter Manaf dan dokter Sally pun undur diri dan pulang bersama Raya. Setelah mengantar para kerabat keluar ke Lobby khusus, Pak Wijaya, Ny Amitha dan Bryan juga kembali ke Mansionnya. Sebenarnya Mahavir telah menyiapkan kamar untuk mereka, tapi karena Pak Wijaya yang tidak biasa tidur kalau bukan di kamarnya sendiri jadi mereka memutuskan untuk pulang.


* * *


Beberapa jam sebelum pesta dimulai....


Raya baru saja keluar dari Connection Room, tempat dia didandani bersama Rachel. Wajah nya telah dirias dengan cantik dan rambut sebahunya dibuat Curly oleh para hair stylish. Ditambah dengan dress cantik berwarna baby blue yang elegan makin membuat penampilannya sempurna.


Beberapa gaun mewah memang disediakan dalam ruangan itu, tapi Raya menjatuhkan pilihannya pada gaun panjang sederhana model one shoulder yang sangat pas membalut tubuhnya dengan indah.


Saat berjalan di lobby hendak menuju Ballroom, dia bertemu dengan Bryan yang juga telah berpakaian rapi dengan setelan jas berwarna navy.


Karena tidak ingin didekati Rey lagi, Raya langsung menarik tangan Bryan lalu mengapit lengan pemuda itu. Membawa Bryan ikut berjalan di sampingnya.


"Kamu masih marah?" Tanya Raya.


Bryan menghentikan langkahnya lalu berbalik ke samping melihat Raya. Tidak mengerti maksud Raya.


"Soal pagi tadi!" Raya memonyongkan kedua bibirnya. Memperagakan bagaimana bibir itu mengecup pipi Bryan.


Bryan menelan ludahnya melihat bibir merah Raya yang monyong ke arahnya. Dengan cepat dia langsung memalingkan wajahnya, dan menghalau pikiran kotornya.


"Bukan marah....tapi kesal!! Bisa-bisanya kak Raya menciumku didepan orang yang menyukai kak Raya."


"Maaf, itu spontan kulakukan karena tidak punya pilihan lain!!" Ujar Raya. lalu kembali menarik lengan Bryan dan membuat pemuda itu kembali melangkahkan kakinya


"Kan bisa tidak pakai cara itu juga......"


"Kamu lihat sendiri kan kalau dia membuatku tersudut?" Ucap Raya semakin merapatkan rangkulannya ke lengan Bryan.


"Hush, dia itu suka muncul dimana saja." Ujar Raya sembari menengok kiri dan kanan.


Bryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan tangan satunya. Benar-benar sudah tidak merasa nyaman.


Raya terus membawa nya berjalan hingga masuk ke dalam Ballroom yang masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa staff hotel dan orang-orang catering yang sedang mengatur jamuan untuk para tamu.


Raya tak henti-hentinya berceloteh kepada Bryan, tapi pemuda itu sama sekali tidak mendengarkan. Pikiran nya masih berlabuh pada lengannya yang tak henti-hentinya menempel pada dada wanita itu. Bryan sampai bisa merasakan kenyal dan padatnya gundukan itu.


Merasa semakin tidak bisa menahan diri, Bryan lalu melepaskan tangan Raya dari lengannya dan berjalan dengan cepat meninggalkan Raya. Raya mengernyitkan keningnya pertanda heran, kemudian kembali mengejar dan menggoda Bryan.


"Kamu kenapa?" Tanya Raya ketika berhasil menyusul langkah Bryan dan kembali mengapit lengan pemuda itu dalam rangkulannya.


Bryan menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Lagi-lagi sikunya menyentuh benda terlarang.


"Kak Raya, aku ini juga laki-laki tahu!!"


Raya menatap heran, bingung dengan maksud anak muda itu.


"Siapa yang bilang kamu perempuan?"


"Maksudku itu, aku ini seorang laki-laki!! Laki-laki!! Kak Raya mengerti?"


Raya mengangkat kedua alisnya, sejenak berfikir. Sepersekian detik dia pun paham dengan maksud dari Bryan, hingga muncul niatnya untuk menggoda pemuda itu.


Kedua tangannya bergerak menyentuh pipi Bryan dan membelainya. "Duhhh... Lucu banget sihhh... Cup.. Cup.. Cup... Mau di kiss lagi ya?" Raya tertawa kecil.


"KAK RAYA!!!" Teriak Bryan, wajahnya sudah memerah.


"Duh... Bocah ini malu juga yah....? Apa kamu belum pernah ciuman ya?" Goda Raya. Merasa gemas dengan kepolosan pemuda itu.


Wanita itu terus menggoda Bryan dengan memonyongkan bibirnya, berpura-pura ingin menciumnya.


Bryan kembali teringat akan bibir basah wanita itu yang menyentuh pipinya pagi tadi. Begitu hangat dan lembut. Dan saat ini bibir itu terpampang nyata di hadapan nya. Membuat jantung nya berdebar tidak karuan.


Bibir Raya masih saja berusaha menggapai wajah Bryan yang jauh lebih tinggi darinya.


Diantara puncak kekesalan dan debaran jantung yang terus saling beradu, membuat Bryan dibatas kesabarannya.


Dia menarik tangan Raya dan membawa wanita itu ke koridor yang menghubungkan ballroom dengan Garden Terrace yang menawarkan area hijau di tengah pemandangan ibu kota.


Bryan mendorong tubuh Raya hingga merapat ke tembok. Kedua tangannya berada di kiri dan kanan kepala wanita itu. Menahan dan mengunci pergerakannya dalam kungkungannya. Mata mereka saling beradu.


Raya tertawa kecil mencoba mencairkan suasana. "Bryan jangan bercanda! Oke, kakak janji tidak menggodamu lagi," kekehnya tertawa, lalu berusaha mendorong tubuh Bryan.


Bryan bergeming. Matanya menatap tajam ke manik mata Raya, membuat Raya mendadak kikuk.


"Ada apa dengan bocah ini?" Batin Raya bertanya-tanya.


Tangan Bryan bergerak ke wajah Raya, jari-jarinya membelai wajah itu dengan lembut. Dengan cepat Raya menepis tangan pemuda SMA itu.


"A-apa yang kamu lakukan?" Raya tergagap-gagap.


"Apa kak Raya menyukaiku?"


"Dasar bocah! Apa kamu tak tahu diajak bercanda?!"


"Kak Raya menganggapku bocah?"


"Memang kamu masih bocah, 'kan?"


"Sudah aku bilang jangan menganggap ku bocah."


"Kamu memang bocah, bocah, bocah, bocah, bocah, bocah!"


Bryan menyunggingkan senyum, kemudian perlahan mendekat ke telinga Raya.


"Bocah ini bahkan sudah bisa menghamili kak Raya loh! Apa kak Raya mau mencobanya??"


DEG'


Diraya Sabila, dokter gigi berusia dua puluh delapan tahun itu langsung membeku dan merona oleh perkataan ambigu seorang pemuda berusia delapan belas tahun.


Bryan menarik kepalanya dari telinga Raya, kemudian memposisikan wajahnya berhadapan dengan wanita itu, hidung mancung mereka bahkan nyaris bersentuhan.


Raya menatap tajam Bryan, tapi nafasnya terdengar memburu. Detak jantungnya bahkan terdengar oleh pemuda di hadapannya.


Bryan menyentuh bibir wanita itu dengan jarinya, kemudian memiringkan wajahnya hendak mengecup bibir itu. Melihat wajah Bryan yang semakin dekat membuat Raya menutup kedua matanya. Beberapa detik Raya menunggu tapi tak ada sentuhan yang dia rasakan dibibirnya. Pelan-pelan dia membuka kedua matanya, dan melihat wajah Bryan yang sudah berada jauh dari wajahnya. Membuat wajahnya semakin merona saking malunya.


"Kak Raya menunggu...??"


Raya terdiam, dia lebih memilih mengalihkan pandangannya. Enggan melihat bocah yang mempermainkannya.


"Apa sih yang kuharap??"


"Diraya Sabila!! Apa kamu menunggunya menciummu?"


"Sial...!!!" Batin Raya menggerutu.


"Aku tidak ingin merusak lipstik yang menempel di bibir kak Raya!!"


"Lagipula aku hanya akan mencium bibir gadis yang menjadi pacarku."


Bryan kembali mendekatkan wajahnya ke telinga Raya. "Jadi... Apa kak Raya mau jadi pacarku?" Bisik Bryan pada telinga Raya. Membuat telinga itu menjadi merah.


Bryan melihat Wajah Raya yang sudah merah seperti kepiting rebus. Dia pun melepaskan wanita itu dari kungkungan nya. Secepat kilat Raya langsung berlari meninggalkan Bryan.


Sepeninggal Raya, Bryan berjalan menuju Garden Terrace dan bersembunyi disana. Berjongkok dengan menyembunyikan wajahnya. Dia sendiri malu dan tak percaya dengan apa yang dilakukannya.


"Astaga.... Apa yang kulakukan???"


"kenapa aku bisa senekat itu???"


"Hampir saja aku mencium anak orang!"


"Dia takkan melaporkannya ke kak Rachel kan???"


"AAARRGGHHHHH!!!! BISA GILA AKU!!!"


Teriak Bryan frustasi, sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.


Kemudian tangannya membekap mulutnya ketika teringat dengan perkataannya sendiri...."Bocah ini bahkan sudah bisa menghamili kak Raya loh!! Apa kak Raya mau mencobanya??"


"ASTAGANAGA!!!! APA YANG TELAH KUKATAKAN??????"


* * *


Happy Reading 🥰🤗