
Tak terasa tiga hari telah terlewatkan, perhelatan pekan Mode yang menyita banyak perhatian akhirnya berakhir dengan lancar hari ini. Para jurnalis, konsumen, designer, model, aktris dan penggiat fashion lainnya, maupun influencer media sosial kini sibuk mengumumkan trend terbaru berbusana untuk koleksi musim semi dan musim panas yang di dapatkannya setelah menyaksikan pertunjukan catwal selama beberapa hari ini.
Begitupun dengan tim kru yang bekerja dibawah label Rachel_Langdon. Mereka tampak riuh, bersorak riang gembira atas kesuksesan mereka yang berhasil mengumpulkan banyak keuntungan selama pekan Mode itu berlangsung. Beberapa koleksi Summer dress rancangan Rachel bahkan menjadi sponsor untuk sebuah film Box Movie, dimana busana-busana Rachel akan digunakan oleh aktris yang bermain dalam film itu. Yang tentu saja membuat nama Rachel Langdon kini lebih bersinar di mata dunia.
Setelah acara penutupan, semua orang yang telah bekerja keras di backstage saling memberi applaus atas keberhasilan mereka masing-masing, sekaligus saling berpelukan secara bergantian bersama sesama rekan dari negara lain karena dengan berakhirnya runway itu, mereka juga akan saling berpisah dan mungkin akan bertemu pada pekan mode selanjutnya di negara lain.
"Kim, Januari nanti ikutan lagi di Milan fashion week?" Tanya Rachel pada Kimmy yang masih sibuk berbenah peralatannya.
"Untuk Milan nanti sepertinya aku tak sempat ikut, mungkin di Paris nanti baru sempat. Kalau kamu?"
"Aku lihat persiapanku dulu, kalau keburu ya ikutan lagi. Tapi mungkin karena waktunya yang hanya berselang seminggu antara Milan dan Paris, aku hanya bisa mengikuti salah satunya."
"Kalau begitu ikut di Paris saja, biar kita bisa ketemuan lagi disana."
"Kenapa bukan di Milan?"
"Ah, aku sudah tanda tangan kontrak kemarin dengan PH dari Korea. Aku jadi sponsor pakaian aktris dan aktornya untuk serial drama terbaru mereka. Dan proses syutingnya selesai hingga awal Januari."
"Wah, selamat... Sukses yah kedepannya."
"Kamu yang sukses dear, label mu bisa masuk Box Movie. Keren!" Kimmy menaikkan dua jempolnya pada Rachel, Rachel tersipu malu dibuatnya.
"Thanks dear, oh iya... Habis ini kamu ikut bersama kami yah, kami mau dinner bersama. Suamiku sudah reservasi Restoran untuk kami."
"Sayang sekali, malam ini juga aku harus berangkat ke Korea. Kami mau membahas beberapa model pakaian langsung dengan aktrisnya. By the way, thanks dear ajakannya..."
"Iya, tak apa kalau begitu. Kita bertemu di Paris nanti yah..." Rachel memeluk Kimmy, Kimmy balas memeluk.
"Ok Rachel, see you next time..." Ucap Kimmy saling bercipika-cipiki secara bergantian dengan Rachel. Rachel pun hendak beranjak kembali menuju stage nya. Namun Kimmy kembali memanggilnya.
"Oh, iya Rachel.. Foto-foto nya sudah aku kirim barusan yah." Kimmy menggoyang-goyangkan ponselnya di udara.
"Okey, Thanks dear." Rachel menaikkan jempolnya lalu melambaikan tangannya sebagai tanda berpisah.
Setelah berbenah, seluruh tim Rachel meninggalkan lokasi studio seni dengan menaiki Van hitam milik Rachel yang dikendarai oleh Merry, mengikuti arah mobil sport mewah di depannya yang di lajukan oleh Mahavir.
Mahavir dan Rachel mengendarai salah satu mobil sport yang selalu terparkir rapi di private park basement Penthouse mereka.
Kedua mobil itu kini melaju menuju Restoran mewah yang ada di pusat kota.
"Vir, kamu tidak mengajak Bryan dan Risya?"
"Mereka tak mau ikut. Entah ada apa lagi diantara mereka. Selama tiga hari ini mereka seperti main kucing-kucingan."
"Pantasan belakangan ini saat sarapan Risya tidak berceloteh banyak. Bryan pun bersikap cuek. Ada apa yah diantara mereka?"
Mahavir mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
"Kemarin Bryan sempat bertanya padaku tentang hubungan Rey dan Raya."
Rachel menaikkan kedua alisnya memandangi Mahavir, meminta penjelasan lebih lanjut.
"Aku tak tahu sayang...." Ujar Mahavir yang mengerti arti tatapan Rachel. "Aku tidak bertanya alasan Bryan menanyakannya."
"Lalu?"
"Aku hanya menceritakan garis besar hubungan Rey dan Raya selama ini. Sepertinya Bryan sedang galau dengan perasaannya sendiri. Anak seumurannya memang masih labil. Aku hanya memberikan saran, tapi aku tak mau terlalu jauh ikut campur. Biar dia belajar bertanggung jawab dengan perasaannya sendiri."
"Oh iya, dari dulu kuperhatikan kamu sangat akrab dengan Rey, tidak seperti atasan dan bawahan. Sejak kapan kalian saling mengenal?"
"Aku dan Rey dulu sama-sama ikut pelatihan manajemen bisnis perhotelan oleh Stuart, beserta beberapa calon Branch Manajer untuk hotel lainnya yang ada di bawah naungan Alister Corp. Sejak saat itu kami saling akrab dan sering saling curhat tentang kehidupan pribadi kami masing-masing."
"Oh, yah? Lalu, Apa Rey itu sungguh-sungguh menyukai Raya?"
"Bukan menyukai lagi sayang, tapi dia cinta mati dengan Raya, seperti aku yang tergila-gila padamu." Mahavir mengedipkan satu matanya lalu mengecup punggung tangan Rachel yang sedari tadi berada dalam genggamannya. "Tapi aku tidak bisa ikut campur lebih jauh karena di satu sisi Rey itu sahabatku, dan di sisi lain Bryan itu sudah seperti adikku."
"Tapi menurutmu, Raya lebih baik bersama siapa?"
"Yah kalau dilihat dari sisi Rey, aku menginginkan Raya bisa melihat ketulusan Rey dan menerimanya. Andaikan lawannya bukan Bryan, aku akan membantunya. Tapi kembali lagi, kita tidak bisa menentukan sesuai keinginan kita, karena mereka bertiga punya hati yang bisa merasakan sakit. Diantara mereka pasti akan ada satu hati yang tersakiti. Jadi biar mereka sendiri yang menyelesaikannya. Kulihat Bryan juga sudah mulai berfikir lebih dewasa."
"Semoga saja seperti itu. Raya orangnya masih plinplan, sebenarnya ia juga punya hati dengan Rey. Tapi aku tak tahu kenapa dia berusaha menutupinya. Aku malahan berharap Bryan bersama Risya. Anaknya lucu dan bisa bikin suasana lebih hidup. Cocok untuk Bryan yang sifatnya sedikit tertutup dan susah di tebak."
"Aku juga berfikir seperti itu..." Ujar Mahavir sedikit terkekeh sembari melajukan kendaraannya.
Rachel ikut terkekeh selama beberapa detik, kemudian akhirnya terhanyut dalam lamunannya. Alunan musik jazz yang terdengar dari celah audio tape mobil mengisi keheningan hingga mobil itu sampai tepat di depan restoran dengan bangunan berdesain klasik eropa.
Restoran mewah dengan konsep open kitchen, dimana mereka bisa melihat para koki handal menyiapkan menu pesanan mereka. Dengan menempati salah satu sudut, dimana terdapat meja panjang berwarna gold dipadukan kursi-kursi klasik berjejeran rapi disepanjang sisi meja. Mereka semua memesan menu rekomendasi dari restoran itu. Saling berbaur dan tertawa lepas bersama, membuat acara makan malam itu jauh dari kata canggung.
Rachel pun demikian, ia tak lagi bersikap dingin seperti biasanya kepada para timnya. Hatinya sudah melunak dan penuh kehangatan. Sesekali ia bahkan memandang takjub kepada Mahavir yang bisa berbaur dengan mudahnya kepada siapa saja. Sikap ramah dan penuh perhatian Mahavir membuatnya semakin luluh. Ia sendiri masih tak percaya dengan apa yang dialaminya. Sosok laki-laki sempurna di sampingnya itu adalah miliknya sepenuhnya. Seorang lelaki yang sangat memuja dirinya.
"Ada apa sayang?" Bisik Mahavir, menyadari Rachel tak berhenti menatapnya.
Rachel hanya mengulas senyum. Dengan tersipu malu ia memalingkan wajahnya kesembarang arah, saat ini jantungnya kembali berdentam tak karuan. Ia lalu mengalihkan perhatiannya, menyibukkan pandangannya dengan memandangi tampilan mewah interior Restoran itu. Pilar-pilar yang menjulang tinggi dengan kokohnya bak sebuah ruangan dari sebuah kastil membuat pengunjung tenggelam dengan suasana itu.
Mahavir mengamati gerak-gerik Rachel, ia pun menggeser kursinya lebih mendekat. "Mau aku suapin?" Bisiknya lagi. Di bawah meja, tangannya bergerak menarik tangan Rachel dan menenggelamkan jari-jemari nan mulus itu ke dalam tautan jari-jari besarnya.
Rachel menoleh kembali, kedua manik matanya langsung bersitatap dengan netra Mahavir. Sejenak keduanya saling tatap dengan jari-jemari yang saling tertaut, saling menggenggam dengan eratnya dibawah sana. Melupakan keberadaan yang lainnya di sekeliling mereka, hingga suara suitan dari para rekan kerja Rachel menyadarkan keduanya.
Baik Rachel maupun Mahavir hanya tersenyum renyah, selanjutnya keduanya tak lagi menyembunyikan keromantisan mereka hingga acara makan malam itu selesai. Setelah Mahavir membayar tagihan restoran itu, semuanya pun beranjak dan pulang ke tujuan masing-masing.
Dari restoran itu, Mahavir kemudian melanjutkan perjalanannya ke bagian utara kota London. Membawa Rachel bersamanya masuk ke sebuah lapangan terbuka yang begitu luas dan hanya ada mobil-mobil mewah yang ikut terparkir berjejeran dengan rapinya.
"Vir, kita dimana? Mau ngapain disini?" Rachel bertanya dengan penuh penasaran, saat Mahavir ikut memarkirkan mobil di salah satu tempat yang tersedia.
'CUP...
Bukannya menjawab pertanyaan Rachel, Mahavir malah mengecup pipi Rachel lalu membantunya membuka seatbelt-nya.
Rachel yang sudah terbiasa dengan kecupan tiba-tiba Mahavir hanya tersenyum dan menepuk pelan paha Mahavir. "Vir... Aku bertanya loh...!"
'CUP....
"Virrr...."
"Kenapa sayang? Masih mau?" Kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Rachel. Tangannya terangkat membelai lembut pipi Rachel.
Rachel menahan senyumnya sambil menggeleng pelan. "Aku tanya, kita mau apa disini?"
'CUP...
Kembali Mahavir mengecup pipi Rachel lalu menggenggam jari-jemari Rachel dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya terangkat ke depan dadanya dengan pandangannya yang fokus melihat angka-angka pada arlojinya.
"Tunggu, lima menit lagi." Ucapnya. Membuat Rachel semakin penasaran. Mahavir hanya mengedipkan satu matanya sambil mengecup punggung tangan Rachel.
Lima menit pun berlalu, lampu-lampu yang menerangi area lapangan luas itu tiba-tiba padam secara bersamaan. Tidak lama kemudian layar proyektor menyala dan menampilkan film pada sebuah layar besar yang ada di depan sana. Sebuah film Romantis karya William Shakespeare berjudul Romeo+Juliet. Rupanya Mahavir mengajak Rachel menonton ala Drive-in. Menyaksikan film dari layar proyektor tanpa harus turun dari kendaraan mereka.
Rachel mengulum senyumannya, suaminya itu selalu saja bisa membuat kejutan-kejutan yang membuatnya semakin jatuh hati padanya. Tanpa canggung lagi, di jatuhkannya kepalanya ke bahu Mahavir sambil menikmati tontonan dari layar di depan sana.
Mahavir pun menggeser tubuhnya lebih rapat ke tempat duduk Rachel, membuka tangannya dan menyandarkan kepala Rachel ke dalam dadanya. Mengusap-usap rambut Rachel dengan sesekali mengecup pucuk kepalanya.
Keduanya terhanyut dengan peran yang dimainkan oleh Leonardo DiCaprio dan Claire Danes. Adegan demi adegan romantis dalam film itu membuat keduanya ikut terbawa suasana, dan dibuai oleh roman picisan.
"Sayang..."
"Hmm??"
"Kalau kisah cinta kita serumit Romeo dan Juliet, apa kamu masih mau bertahan denganku?"
"Tapi kita kan bukan Romeo dan Juliet." Ucap Rachel dengan sedikit terkekeh.
"Seandainya..."
"Itu hanya sebuah cerita, cerita yang dibuat sedramatis mungkin untuk menarik perhatian. Dikehidupan nyata, tidak ada yang seperti itu. Hidup itu akan terus berlanjut, dengan atau tanpa orang yang kita inginkan."
Mahavir mendesah pelan mendengar argumen dari istrinya. "Begitukah cara pandangmu?"
"Yah, secara rasionalnya kan memang seperti itu? Kalau menurutmu?" Rachel bertanya balik.
"Yah, kalau aku...., aku mungkin akan berbuat hal yang sama dengan Juliet. Buat apa aku hidup bila aku tidak bisa bersama dengan orang yang aku sayangi?" Ucapnya lalu mengecup pucuk kepala Rachel.
Rachel menengadahkan wajahnya, berusaha melihat raut wajah Mahavir yang berbicara dengan nada sendu.
Mahavir pun menunduk dan mensejajarkan kedua netranya dengan iris mata Rachel.
"Apa yang akan kamu lakukan seandainya aku sudah tak ada lagi?" Tanya Rachel menatap lekat bola mata hazel yang selalu sukses membuat jantungnya berdentam kuat.
Tanpa menjawab Mahavir langsung menyambar bibir Rachel, menyesapi bibir perempuannya dengan perasaan yang sedikit emosional. Entah mengapa hatinya tersentak saat Rachel bertanya seperti itu padanya.
"Mmmppp..Vi..mmmp..Vir..Virr...." Rachel berusaha mendorong wajah Mahavir, karena merasakan ciuman Mahavir yang sedikit frontal.
"Maaf... Maaf sayang... Aku..." Mahavir mengusap bibir Rachel, lalu memeluknya dengan posesif. "Kamu tak akan pernah kemana-mana, kamu tak boleh meninggalkanku."
"Aku tak akan kemana Vir... Tempat ku sekarang di sisimu." Rachel berucap sembari mengusap lengan Mahavir. Membuat laki-laki itu mengurai pelukannya.
Tercipta keheningan selama beberapa saat diantara mereka, hingga suara berat Mahavir kembali terdengar.
"Sayang, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Tanya Mahavir ragu-ragu.
"Apa??"
"Waktu itu...." Mahavir menjeda sejenak, takut akan salah bicara. Namun dengan ragu-ragu ia kembali berucap. "Waktu itu mengapa kamu berniat mengakhiri hidupmu di laut? Apa laki-laki itu sangat berarti bagi kehidupanmu?"
Tak ada jawaban dari Rachel, selama beberapa detik ia hanya terdiam. Hingga kemudian ia berucap lirih. "Itu adalah kebodohanku. Aku hanya terbawa perasaan saat itu, aku...aku hanya merasa bersalah padanya. Dia bukanlah orang yang berharga bagiku." Rachel menunduk, tangannya semakin meremas tangan Mahavir.
Mahavir pun membiarkannya, ia ingin tahu apa sebenarnya yang Rachel rasakan pada sosok Dirman.
"Apa kamu pernah menyukai laki-laki itu?" tanyanya kembali.
"Tidak." Dengan cepat Rachel menjawab dengan lantang. "Dia orang yang sangat aku benci selama ini."
Mahavir sedih tersentak, namun berusaha menguasai dirinya. "Mengapa kamu sangat membencinya?"
"Dia...dia sudah membuatku tumbuh menjadi anak yang kesepian. Dengan topeng kepolosannya, dia merampas semua perhatian dan kasih sayang keluargaku. Bahkan di sekolahpun dia mengambil posisiku. Selalu menempel dan mengikutiku seperti benalu." Rachel berucap sembari menahan sesuatu di dada dan pelupuk matanya.
Mahavir menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar, berkali-kali ia menelan ludahnya dengan susah payah. Kepalanya dia jatuhkan di bahu Rachel, dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Rachel. Tanpa sadar mulutnya berkata lirih. "Maafkan aku....."
Walaupun terdengar sayup-sayup, tapi Rachel mendengarnya. Ia menarik kepala Mahavir ke hadapan wajahnya, kedua tangannya menangkup kedua pipi Mahavir dan memandanginya. Mahavir yang akhirnya tersadar, langsung meralat ucapannya.
"Maafkan aku telah membuatmu mengingatnya kembali."
"Tak apa, kamu berhak bertanya dan mengetahuinya." Ucapnya, kemudian menarik wajah Mahavir mendekat ke wajahnya dan mendaratkan kecupan lembutnya.
Tak tinggal diam, Mahavir membalas kecupan itu. Menciumi Rachel dengan penuh kelembutan. Soundtrack lagu Romeo+Juliet berjudul i'm kissing you dari Des'ree yang terdengar dari alat proyektor membuat keduanya semakin terbuai. Mahavir menurunkan sandaran kursi Rachel hingga posisi Rachel menjadi berbaring di bawah tubuhnya, dan terus mencumbunya. Bibirnya yang hangat dan basah kini mulai mengeksplor keseluruhan leher jenjang Rachel.
Saat tangan Mahavir hendak berbuat lebih jauh, Rachel langsung menyadarkannya. "Vir, kita tidak di rumah sekarang..." Ucapnya lalu memutar matanya ke sekeliling, berharap Mahavir tersadar.
Mahavir mengikuti arah pandang Rachel dan akhirnya tersenyum. Dengan segera ia memperbaiki kursi Rachel ke posisi semula.
"Kita pulang sekarang." Mahavir bersiap menyalakan mesin mobil namun langsung berhenti tatkala menyadari posisi mobilnya yang berada di tengah-tengah. Dengan frustasi Mahavir melepas kemudi dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Rachel menggeleng dan menahan tawanya. "Sudah, kita nikmati saja filmnya hingga selesai." Ucapnya, kemudian kembali menjatuhkan tubuhnya ke dada Mahavir.
Mau tidak mau Mahavir akhirnya menurut dan menyaksikan film roman picisan itu hingga selesai.
Keduanya baru kembali ke Penthouse saat malam sudah memasuki dini hari. Kelelahan akibat rutinitas harian langsung membuat keduanya terlelap dan melupakan hasrat mereka yang tadi menggebu-gebu.
* * * *
Happy Reading... 🥰
Makasih masih setia disini...🤗😚😘