Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 75.Mempercayaimu.


Mahavir melajukan mobil sport nya dengan cepat menuju Belvedere Road, lokasi dimana Queen Elizabeth Hall berada. Kedua tangannya mencengkram stir begitu kuatnya, dengan tatapan mata yang fokus ke depan tanpa berbalik sedikitpun pada Rachel. Ia memilih terdiam dan mencoba bersabar dalam menghadapi perubahan sikap istrinya.


Sementara Rachel juga duduk terdiam di samping Mahavir. Kedua tangannya saling meremas dengan pandangan yang juga berfokus ke depan, namun sesekali ekor matanya melirik Mahavir yang berusaha keras untuk bersabar menghadapinya.


Keduanya saling membungkam mulut sepanjang jalan tanpa ada yang berniat memulai percakapan hingga akhirnya sampai di tempat tujuan. Keduanya pun langsung berjalan menghampiri Bryan yang sudah menunggu mereka di depan pintu masuk auditorium.



"Risya mana? Sudah mulai?" Tanya Mahavir sambil melirik ke pintu masuk auditorium.


"Risya sedang bersiap-siap di belakang panggung. Acaranya sudah hampir dimulai, ini kartu undangan kita." Bryan menyerahkan 3 buah kartu pada Mahavir. "Sepertinya dia tampil di pertengahan acara."


"Tak apa, ayo masuk. Kita nonton dari awal saja." Mahavir berucap sembari berbalik melihat Rachel yang sedang mengedarkan pandangannya, menelisik desain bangunan gedung seni itu. "Sayang...." Panggilnya dengan santai seolah tak terjadi apa-apa.


Rachel tersentak dan menoleh, lalu mengangguk pelan kemudian mengikuti langkah Bryan dan Mahavir memasuki ruang auditorium. Ketiganya langsung menempati kursi sesuai dengan kartu undangannya.


Kini Rachel terduduk ditengah dengan diapit oleh Mahavir disisi kanan dan Bryan di sisi kiri. Ketiganya terduduk di baris tengah auditorium Queen Elizabeth Hall yang begitu luas dan megah. Lampu utama auditorium telah mulai padam, berganti lampu sorot yang mengarah pada panggung.


Ketiga pasang mata itu menatap lurus ke depan menyaksikan rentetan pertunjukan bakat dari anak-anak belia, yang saat ini giliran pertunjukan dari negeri sakura. Dengan gadis-gadis belia yang berpakaian kimono dan bernyanyi sambil menari menggunakan properti payung kertas.


Sesaat Rachel melupakan masalahnya dan terhibur dengan pertunjukan itu. Senyum yang terbit di wajahnya rupanya menular pada Mahavir yang juga ikut mengulas senyumnya, yang sedari tadi memang memperhatikan ekspresi Rachel.


Lain halnya dengan Bryan yang berekspresi datar-datar saja menyaksikan pertunjukan itu, bahkan terlihat bosan sejak awal hingga pertengahan acara. Sampai pada saat Risya dan kawan-kawannya tampil barulah bola matanya melebar dan berfokus pada satu orang gadis belia yang menggunakan pakaian adat modifikasi dari beberapa daerah di Indonesia sambil menarikan tarian medley, percampuran tarian dari sabang sampai merauke. Wajahnya tampak serius dengan kedua bola matanya terus bergerak-gerak mengikuti kemana gadis belia itu melangkah.


Mahavir melihat mood Rachel yang sudah mulai membaik, ia akhirnya memberanikan diri untuk memulai percakapan pada istrinya itu.


"Sayang, lihat Bryan... Sepertinya baru kali ini aku lihat dia fokus seperti itu." Bisik Mahavir di telinga Rachel dengan mata yang menyorot ke arah Bryan.


Rachel mengangguk dan tersenyum. "Iya, pertama dalam sejarahnya." Bisiknya pula ketelinga Mahavir tanpa sadar.


Perasaan Mahavir langsung menghangat dengan sikap spontan Rachel itu. Senyum Rachel yang terkembang seakan setetes air yang susah payah di dapatkannya di tengah gurun pasir yang tandus.


"Kalau senyum begini kan kamu lebih cantik." Bisiknya lagi membuat Rachel tersadar dan langsung memalingkan wajahnya. Namun Mahavir dengan lincah menarik tangan Rachel, membawa tangan mulus itu ke atas pahanya dan menggenggamnya dengan begitu eratnya.


"Aku hanya menggenggamnya, bukan melukainya." Mahavir kembali berucap sembari menahan tangan Rachel tatkala merasakan wanita itu hendak menarik tangannya.


Rachel menoleh dan menatap Mahavir dalam remang cahaya lampu sorot, Mahavir mengedipkan matanya dan tersenyum dengan begitu lembutnya lalu mengecup punggung tangannya. Netranya terus menerus mengamati wajah Mahavir yang tersenyum tulus itu, namun hatinya terasa teriris melihat senyum itu. Ada rasa sesak yang kembali mendera batinnya.


Dengan cepat Rachel memalingkan wajahnya kembali. ketika merasakan sesuatu memaksa untuk terjatuh dari pelupuk matanya. Hatinya betul-betul bimbang, di satu sisi ia ingin mempercayai laki-laki itu, tapi di sisi lainnya ia tidak bisa menerima seandainya laki-laki itu betul-betul tega menipunya.


Selama pertunjukan berlangsung mereka bertiga terdiam dan larut dengan pikiran masing-masing. Hingga kemudian acara selesai dan lampu utama auditorium kembali menyala.


Para tamu undangan dan penonton yang berasal dari berbagai negara mulai berhamburan, ada yang langsung keluar auditorium, dan ada yang langsung menghampiri para peserta yang tampil. Seperti halnya Rachel, Mahavir dan Bryan yang langsung mendatangi Risya dan kelompoknya. Setelah sedikit bercakap-cakap, saling berkenalan dan berfoto bersama, lalu menunggu Risya berganti pakaian mereka pun keluar dari gedung seni tersebut.


"Kak Vir jadi ke rumah Granny?" Tanya Bryan saat sudah di parkiran.


Mahavir melempar pandang pada Rachel, meminta pendapatnya. "Sayang...??"


"Hmm..." Rachel mengangguk pelan tanpa melihat ke arah Mahavir.


"Oke, ketemu disana yah." Ucap Bryan kemudian langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya diikuti oleh Risya.


"Ayo sayang, kita jalan juga." Mahavir berucap sembari meraih pinggang Rachel sebelum istrinya itu menjaga jarak darinya. Dengan lincahnya Mahavir menarik Rachel hingga ke samping mobil, membukakan pintu dan langsung mengangkat Rachel tanpa menghiraukan amukannya, lalu mendudukkannya ke kursi penumpang. Setelah itu ia juga masuk ke kursi pengemudi.


Di dalam mobil Rachel hanya mematung membuat Mahavir mencondongkan tubuhnya mendekat dan hendak membantu memakaikan seatbelt pada Rachel.


"Aku bisa pakai sendiri." Ujar Rachel, menghalau tangan Mahavir.


Mahavir menghela nafas kasar kemudian menyalakan mesin mobil dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh ke jalan raya dan beradu dengan kendaraan lainnya.


Rahangnya terlihat mengeras seakan menahan amarah dan kekesalannya.


"Bukankah kita mau ke rumah Granny?" Tanya Rachel saat menyadari mobil yang membawanya malah melewati jalan dengan arah sebaliknya dari jalan menuju rumah Granny-nya.


Mahavir tak menjawab, ia terus melajukan mobil dengan kecepatan maximal melewati tol panjang dan keluar dari batas kota London.


"Vir....." Panggilnya, namun Mahavir tak merespon.


"Vir...." Panggilnya lagi diikuti tangannya yang refleks menarik lengan kemeja Mahavir.


Mahavir berbalik, melihat Rachel sekilas lalu kembali fokus ke depan. "Aku tak bisa membawamu ke rumah Granny dengan tampilan seperti itu. Bisa-bisa aku kena pukul tongkatnya karena mengira aku menyakitimu."


Kedua alis Rachel tampak saling bertaut, mencoba mencerna ucapan Mahavir. Sedetik kemudian mulutnya kembali berucap, "Lalu kita mau kemana?"


"Menurutmu?"


Kedua bola mata Rachel tampak bergerak-gerak mengamati jalan sekitar, lalu kembali fokus ke wajah Mahavir meminta penjelasan.


"Membawamu untuk bicara." Ucap Mahavir tanpa melihat ke arah Rachel.


Rachel akhirnya mengatupkan kedua bibirnya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil.


Mobil tersebut terus bergerak melewati jalur setapak yang berbatu dengan pepohonan tinggi yang mengelilinginya hingga sampai di padang rumput yang luas. Mobil sport itu akhirnya berhenti sempurna ketika tepat berada di tepi tebing pantai.


Pemandangan di luar begitu indahnya. Langit senja membentang luas dengan megahnya, sementara dibawah sana terdapat hamparan laut lepas berwarna biru keemasan.


Mahavir melepaskan seatbelt-nya lalu turun dan berjalan ke depan mobil dan bersandar setengah terduduk di sana.


Selama beberapa detik Rachel hanya mengamati punggung Mahavir dari balik kaca depan, hingga akhirnya ia turut turun dari mobil dan menghampiri Mahavir. Rachel merapatkan coat-nya lalu ikut bersandar di samping Mahavir pada kap depan mobil.


"Ah Maaf..." Rachel dengan cepat menarik rambutnya, namun semilir angin yang berembus kuat seakan membuat gerakannya tak bermanfaat.


Mahavir meraih anak-anak rambut Rachel itu dan menyatukannya ke anak-anak rambut lainnya. Menyugar keseluruhan rambut Rachel dan menyatukannya dengan mengikatnya menggunakan sapu tangannya.


Rachel hanya diam menerima perlakuan suaminya itu sembari mengamati gerak ombak menuju ke tepian pantai yang berpasir bebatuan kerikil bulat.


Mahavir tersenyum lembut dan mengelus pelan pelipis Rachel. "Rachel....." Panggilnya. Kemudian dengan pelan berucap, "Ada apa denganmu sayang? Aku sudah bersabar dari semalam dengan perubahan sikapmu, tapi mau sampai kapan kamu seperti ini?" Tanyanya dengan raut wajah penuh kekecewaan.


"Sekarang aku minta padamu untuk jujur, apa yang membuatmu seperti ini? Aku bukan peramal yang bisa langsung tahu apa yang kamu pikirkan." Lanjutnya lagi.


Rachel tak menjawab, ia malah mengalihkan pandangannya ke arah depan. Tatapannya kosong menerawang jauh kedepan yang tidak berujung.


Mahavir menghela nafas lalu menarik kedua bahu Rachel agar berbalik menghadapnya. Kemudian satu tangannya terangkat menahan dagu Rachel agar mata mereka saling bertemu.


"Kita akan disini terus kalau kamu tidak mau bicara." Mahavir berucap seraya menatap kedua mata Rachel, mencoba menyelami manik mata bening berwarna cokelat itu.


Rachel pun ikut menyelami bola mata hazel milik Mahavir, sorot mata yang selalu penuh cinta dan kerinduan untuk dirinya. Melihat laki-laki itu kini dengan raut wajah penuh kecewa membuat perasaannya kalut. Sejujurnya, ada rasa bersalah sekaligus terluka yang terselip dalam hatinya saat memperlakukan Mahavir dengan dingin.


Hatinya kembali berkecamuk. Rachel menyadari, tidak seharusnya ia bersikap seperti itu pada Mahavir. Apalagi kecurigaannya sangat tidak mendasar dan belum terbukti kebenarannya. Lagipula di hati kecilnya ia sudah memberikan kepercayaan pada Mahavir sebelum benar-benar menjatuhkan dan menyerahkan dirinya seutuhnya pada suaminya itu.


Mahavir, suaminya, laki-laki itu masih menatapnya. Menunggu jawaban dan penjelasan terlontar dari kedua bibirnya.


Perlahan-lahan kedua bibir Rachel terbuka,


"Vir...." Panggilnya dengan lirih namun masih terdengar sayup-sayup di telinga Mahavir.


"Iya sayang...."


"Aku... Aku....." Rachel kembali merapatkan kedua bibirnya, namun kedua tangannya terbuka dan langsung memeluk Mahavir. Isak tangisnya pecah dalam dada bidang Mahavir. Mahavir tak tinggal diam, ia langsung merengkuh tubuh rapuh istrinya ke dalam dekapannya. Mengusap-usap punggungnya hingga perasaannya tenang.


"Maaf..." Ucap Rachel lirih dalam pelukan Mahavir.


"Tak apa sayang, tak apa. Tapi jangan pernah seperti ini lagi."


Rachel mengangguk dan menengadahkan wajahnya ke atas melihat wajah Mahavir. "Maaf, aku tidak seharusnya bersikap seperti itu padamu. Tapi sesuatu hal telah membuat pikiran ku terganggu."


"Apa aku boleh tahu apa itu?" Tanya Mahavir seraya merenggangkan pelukannya.


"Ini soal... Dirman." Rachel berucap sambil mengamati ekspresi Mahavir. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Mahavir bila mendengar nama itu.


"Dirman?" Mahavir menaikkan satu alisnya. Tangannya terkepal menahan diri agar tidak membuat ekspresi aneh didepan Rachel. "Ada apa dengannya?" Tanyanya dengan datar. Namun jauh di dalam hatinya sedang bergemuruh.


Apa hubunganmu dengannya?


Rachel bertanya dalam hati karena tenggorokannya terasa tercekat untuk menanyakan hal itu.


Aku memberimu kesempatan saat ini...


Kumohon jujurlah bila dia itu adalah dirimu saat ini juga...


Kembali batin Rachel mengguman, netranya terus-menerus menatap Mahavir yang masih bersikap tenang setelah mendengar nama itu.


"Sayang, ada apa dengannya?" Tanyanya ulang sambil berusaha mengontrol mimik wajahnya. Sementara didalam hatinya sendiri sedang mengguman, Apakah sekarang saatnya aku harus jujur? apakah Rachel siap mendengar kenyataannya? apakah wanita ini tak akan rapuh bila mengetahui diriku? Tidak, Tidak bisa. Tidak boleh. Aku tak mau kehilangannya, aku tak bisa membiarkannya pergi dari sisiku. Tidak untuk saat ini dan tidak juga hingga nanti. Tuhan, biarkan aku egois untuk saat ini...


Rachel terus mengamati raut wajah Mahavir namun tidak menemukan kecurigaan. Membuat hatinya kembali yakin bahwa kecurigaannya itu salah.


Yah, Mahavir bukanlah Dirman...


Aku pasti telah salah...


Keduanya begitu bertolak belakang.


Tidak mungkin keduanya adalah orang yang sama...


Aku akan mempercayaimu Vir...


Semoga kamu tidak menyembunyikan sesuatu di belakangku...


Rachel memejamkan kedua matanya selama beberapa detik lalu kembali membukanya dan tersenyum. "Aku hanya kepikiran dan mengingatnya kembali. Aku sangat merasa bersalah karena sudah bisa berbahagia bersamamu dan melupakannya." Ujar Rachel beralasan.


Mahavir tersenyum tipis dan kembali menenggelamkan Rachel dalam pelukannya. Tangannya bergerak mengusap lembut punggung Rachel. "Sayang, kamu berhak bahagia. Lupakan masa lalumu, lupakan dia. Dia juga pasti berharap kamu bahagia saat ini."


"Iya kamu benar Vir..." Lirih Rachel sambil menghirup aroma tubuh Mahavir.


Mahavir memejamkan matanya, jakunnya bergerak naik turun seiring dengan tenggorokannya yang menelan ludahnya berkali-kali. Ia kemudian menghela nafas panjang dan melepaskan pelukannya, lalu kedua tangannya terangkat menangkup kedua pipi Rachel. "Mulai saat ini aku tak mau kamu mengingat dan menyebutkan namanya lagi. Hmmm??"


Rachel mengangguk dan tersenyum tipis. Mahavir langsung mengecup bibir Rachel dan menyesapinya dengan lembut. Awalnya hanya sekedar kecupan, kemudian menjadi ciuman liar yang menuntut. Tubuh Rachel bahkan sudah berbaring diatas kap mobil, dengan Mahavir yang terus mencumbunya. Melepaskan segala perasaan sesak yang sempat menyelimuti keduanya.


Matahari di depan sana sudah benar-benar sembunyi ke peraduannya membuat keadaan sekitar sudah mulai menggelap. Desau angin laut semakin berembus dengan kencangnya dan menusuk hingga ke sendi.


Mahavir akhirnya melepaskan pagutannya setelah merasakan tubuh Rachel bergetar karena kedinginan dan langsung mengangkat tubuh istrinya itu ke dalam mobil.


"Kita lanjut di rumah." Mahavir berbisik di telinga Rachel dan mengecup pipinya, lalu memasangkan seatbelt pada Rachel.


Walaupun masih ada sedikit yang mengganjal dalam hatinya, namun semburat merah terlihat jelas di kedua pipi Rachel. Rachel akhirnya memutuskan untuk mempercayai laki-laki yang tersenyum-senyum di sampingnya sambil menggenggam jemarinya dan tak akan lagi mencari tahu tentang Dirman.


* * * *