
Rachel menggelengkan kepalanya pelan, kedua kakinya refleks berlari meninggalkan ruang VVIP restoran hotel. Untuk saat ini dia benar-benar tak sanggup melihat wajah Mahavir, wajah laki-laki yang mulai dia cintai namun saat detik ini juga ia benci. Airmatanya sudah tak terbendung lagi. Hatinya teramat sakit, begitu terasa tertusuk-tusuk, seakan ribuan paku tertancap di hatinya. Tembok cintanya telah rubuh, porak-poranda oleh kepercayaan palsu yang Mahavir berikan. Terlebih lagi saat mengetahui kalau orang-orang terdekatnya bahkan ikut terlibat. Rachel sama sekali tak menyangka kalau hidupnya betul-betul dipermainkan seperti ini, ditipu mentah-mentah seperti ini, seakan dirinya tak punya perasaan sama sekali.
Hentakan hak sepatunya yang beradu dengan licinnya lantai marmer terdengar menggema seiring derap langkahnya yang berlari di sepanjang koridor. Satu tangannya terangkat dengan punggung tangan yang menempel pada hidungnya berusaha menutupi tangisannya, Sementara satu tangannya mengangkat bawahan gaunnya agar memudahkannya berlari.
Di belakang sana terlihat Stuart berusaha mengejarnya dengan langkah panjangnya sambil membawakan longcoat-nya yang tertinggal, namun Rachel tak menghiraukannya sama sekali. Ia terus saja berlari berharap tidak bertemu dengan Mahavir dalam keadaan seperti itu.
Kepalanya yang menunduk dan pandangannya yang mengabur diakibatkan airmatanya yang terus mengalir, membuat Rachel tanpa sengaja menabrak seseorang yang berjalan dari arah sebaliknya di hadapannya.
"Sorry, I didn't see you..." (*Maaf, aku tak melihat anda...) ucap Rachel dengan tertunduk menyembunyikan wajahnya yang masih saja dibanjiri airmata.
"Sayang....."
'DEG..... 'Suara lembut dari laki-laki itu tiba-tiba membuat Rachel mematung, dengan degup jantung yang memompa lebih cepat.
"Sayang...sedang apa disini?" Tanya Mahavir dengan polosnya dan tak tahu menahu dengan kejadian sebelumnya, ia memegang kedua bahu Rachel yang sempat terhuyung akibat tak sengaja menabraknya.
"Sayang kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya lagi begitu menyadari bahu Rachel yang begitu dingin dan gemetaran. Netranya bergerak mengamati penampilan Rachel dari atas ke bawah. "Dan....kenapa pakaianmu seperti ini?"
Rachel hanya terdiam di tempat dengan kedua bibir yang terbungkam rapat. Sama sekali enggan memberikan jawaban.
Karena tak mendapat jawaban dari Rachel, Mahavir mengalihkan pandangannya pada Stuart yang berhasil menyusul dan kini berada di belakang Rachel. Stuart sedikit menunduk di depan Mahavir kemudian menyerahkan longcoat Rachel seraya memberi kode mata kepada Tuan Mudanya itu. Namun Mahavir yang tak mengerti hanya melihat Rachel dan Stuart secara bergantian dengan tatapan bingungnya.
Mahavir pun menerima longcoat dari tangan Stuart dan kembali memusatkan perhatiannya pada Rachel.
"Sayang, ada apa? Kenapa keadaanmu seperti ini?" Tanyanya sambil menyampirkan longcoat pada bahu Rachel yang masih mematung.
Tangan Mahavir terangkat ingin memalingkan wajah Rachel agar menghadap padanya, namun belum sempat tangannya menyentuh permukaan kulit wajah Rachel, istrinya itu langsung menepis tangannya dengan kasar.
"Sayang???" Menautkan kedua alisnya hingga nyaris bersatu dan kembali ingin memegang kedua bahu Rachel. Tapi lagi-lagi Rachel menepis kedua tangannya dengan kasar.
"DON'T TOUCH ME!!" teriak Rachel dengan suara bergetar dan penuh emosi. Kedua matanya berkilat-kilat memandangi Mahavir dengan tatapan yang Mahavir sendiri sulit pahami.
"Sayang, ada apa?" Tanyanya lagi, berusaha memeluk tubuh istrinya yang justru semakin berusaha menjauh darinya. Mahavir yang sudah lelah seharian bekerja di balik tumpukan berkas-berkas menjadi gusar dan menarik paksa tangan Rachel. "Sayang, kamu kena....."
'PLAKKK..... '
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Mahavir, membuat laki-laki itu terkesiap dan terpaku di tempatnya. Bahkan Stuart yang berdiri di belakang keduanya membulatkan kedua matanya saking terkejutnya.
Tangan kanan Rachel yang menampar Mahavir bergetar hebat, terasa kebas dan panas. Rachel menarik dan memandangi telapak tangannya yang memerah selama beberapa saat. Nafasnya tersengal-sengal, jantungnya berdetak tak terkendali. Ia sendiri tak sadar saat melayangkan tamparan yang begitu keras pada Mahavir. "Maaf...." Lirihnya dengan terisak sambil membekap mulutnya menggunakan telapak tangan yang sudah menampar Mahavir. "Aku...aku mohon biarkan aku sendiri saat ini...." Lanjutnya, berusaha berbicara setenang mungkin. Kemudian ia kembali melangkahkan kedua kakinya, meninggalkan Mahavir yang masih terdiam terpaku di tempatnya.
"Tuan Muda, anda baik-baik saja....?" Tanya Stuart memandangi Tuan Mudanya yang masih syok.
"Tuan...., tuan Mahavir.....?"
"I'm fine....." Menjeda ucapannya dengan mengusap wajahnya. "Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Mahavir pada Stuart dengan kilat emosi pada raut wajahnya. Stuart hanya menunduk dan berucap maaf berkali-kali.
"Apa kamu membawanya bertemu Presdir tanpa sepengetahuanku?" Tebaknya.
"Maafkan saya, saya hanya mengikuti perintah. Maaf..." Ucap Stuart masih dengan kepala tertunduk. Ia sudah tak tahu harus bersikap bagaimana.
"SHITTT....!!" Teriak Mahavir sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kamu kejar istriku sekarang juga, ikuti kemanapun dia pergi. Aku akan bicara dengan presdir." Perintahnya kemudian langsung dijalankan oleh Stuart.
Stuart langsung berlari sambil menghubungi seseorang lewat earpiece-nya. Sebuah alat komunikasi rahasia yang disematkan di telinganya dan beberapa pasukan pengawal rahasia. "The young madam has just left the VVIP room. In about five minutes she will be at the lobby. Hold her there without making her suspicious until I come." (*Nyonya muda baru saja meninggalkan ruang VVIP. Dalam waktu sekitar lima menit lagi dia akan berada di lobi. tahan dia di sana tanpa membuatnya curiga sampai aku datang.) Perintahnya.
Sementara Mahavir langsung berlari menuju ruang VVIP dimana Presdir sedang duduk termenung memikirkan nasib putranya.
"BRAKKK...." Mahavir mendorong pintu ruang VVIP tersebut dengan kasar, dua orang pengawal yang berjaga di depan pintu langsung memegangi kedua tangannya.
"LET ME GO!" teriak Mahavir pada kedua orang itu. Kedua orang pengawal itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Presdir, dan menunggu aba-abanya. Setelah melihat satu anggukan dari Presdir, dua orang pengawal itu pun melepaskan pegangannya dan membungkuk memberi hormat lalu kembali keluar dari ruangan itu.
"APA YANG AYAH KATAKAN PADANYA SAMPAI DIA TERPUKUL SEPERTI ITU?" teriak Mahavir penuh emosi.
Tuan James hanya terdiam sambil memandangi wajah putranya dengan pandangan terluka.
"AYAH TAHU KALAU DIA ADALAH HIDUPKU, MENGAPA AYAH BEGITU TIDAK BISA MEMAHAMI KU??" Marahnya, namun Tuan James masih tak mau membuka mulut.
'PRANGG... PRANGG... PRANGG....'
Satu persatu piring dan mangkok kaca berisi hidangan mewah yang ada di atas meja Mahavir hempaskan ke lantai. Terus menerus hingga tak ada lagi yang tersisa di meja itu.
Tuan James memejamkan mata sejenak, menghembuskan nafas perlahan kemudian bangkit berdiri. Berusaha bersikap tenang dan tak terpancing emosi.
"Jangan merusak dirimu seperti itu hanya karena seorang wanita."
Mahavir menatap keseluruhan wajah Ayahnya penuh emosi, kedua tangannya mengepal dengan kerasnya.
"Bahkan aku rela mati karenanya....." Umpatnya menantang sang ayah.
'PLAKKK.....'
Satu tamparan dari Tuan James mendarat sempurna di pipi kiri Mahavir, menyisakan luka lecet di sudut bibirnya. Membuat pipinya yang masih terasa kebas akibat tamparan Rachel kini menjadi mati rasa.
"Do you think this is all dad's fault?" (*menurutmu ini semua salah ayah?)
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Mahavir dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
Tuan James tak menjawab, ia kembali terdiam. Sangat berat baginya untuk menjelaskan dan mengulang perkataan menantunya yang menyesakkan tadi. Kedua mata tuan James terpejam. Ia merapatkan gigi-giginya, membuat rahangnya yang tegas terlihat mengeras.
Mahavir melorotkan tubuhnya, turun bersimpuh di hadapan ayahnya. Kepalanya menunduk hingga tetesan air matanya akhirnya terjatuh ke permukaan lantai marmer.
"Sejak berusia 13 tahun mataku sudah terpaku padanya. Karenanya aku mempunyai semangat menjalani hari-hariku dulu, karenanya aku punya semangat untuk belajar, karenanya aku semakin berusaha untuk menjadi lebih baik. Karena mengejarnya aku akhirnya bertemu dengan paman dan disekolahkan olehnya, karena berusaha menyelamatkannya pula akhirnya ayah menemukan diriku yang sekarat saat itu." Menjeda sejenak ucapannya dengan menelan ludahnya beberapa kali, mengerjapkan matanya hingga buliran kristal bening yang menggantung di sudut matanya terjatuh, kemudian kembali berucap getir, "Yah...aku memang gila, gila karena hanya mencintainya seorang. Seperti itulah aku Yah.... Jadi jangan pernah membuatnya menjauh dariku, begitupun sebaliknya, jangan membuatku untuk menjauhinya."
Tuan James menghela nafas panjang, ia sendiri begitu susah menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya. Tak mengapa baginya kalau putranya itu salah paham padanya, asalkan putra satu-satunya itu tidak kehilangan semangat hidupnya. Perlahan tangannya pun bergerak mencengkram bahu Mahavir, tubuhnya sedikit membungkuk, sementara satu tangannya meraih tangan Mahavir dan menyerahkan kalung bermata berlian Ruby di telapak tangan putranya itu. "Aku tak pernah berniat memisahkan kalian. Tak pernah sedikitpun. Tapi kamu juga harus sadar bahwa kamu tak bisa memaksakan segala sesuatunya berjalan sesuai dengan kehendakmu." Ucapnya dengan pelan dan menepuk bahu putranya beberapa kali.
"Aku harus pergi, pesawat sudah menungguku." Lanjutnya lagi, kemudian melangkahkan kakinya dengan berat meninggalkan Mahavir yang masih terdiam di tempatnya, duduk bersimpuh sambil memandangi kalung yang kini berada dalam genggamannya.
Lama Mahavir terpaku di posisinya sambil termenung, hingga suara dering ponselnya menyadarkannya. Mahavir bangkit berdiri, meraih ponselnya, sekilas melihat nama si pemanggil dan segera menerimanya sambil melangkahkan kakinya berjalan cepat keluar dari ruangan yang sudah kacau balau dengan serpihan kaca dan makanan yang berhamburan di permukaan lantai.
"Bagaimana? Dia baik-baik saja kan?"
"Maaf tuan Muda, saat ini Nyonya Muda tak sadarkan diri." Jawab Stuart diujung sana.
"Kalian dimana?"
"Kami sedang di jalan, tapi belum jauh dari lokasi hotel. Apa perlu Nyonya saya bawa ke rumah sakit?"
"Jangan, takutnya dia akan histeris dan mengundang perhatian orang banyak. Bawa ke Penthouse saja. Hubungi dokter Elizabeth dan suruh segera datang. Aku akan menyusul secepat mungkin." Perintahnya, sambil mempercepat langkahnya menuju parkiran khusus di basement hotel Alister.
Dengan cepat, Mahavir sudah terduduk di balik kemudi. Mahavir menancapkan gas dan mobil langsung melesat dengan kecepatan maksimum membelah jalan kota London. Laju mobil sport yang seakan terbang di jalan itu akhirnya tiba di private park Penthouse dengan waktu yang cukup singkat. Bahkan Mahavir tiba lebih dulu beberapa detik sebelum Stuart.
Setelah Stuart membukakan pintu penumpang belakang, Mahavir segera mengangkat tubuh lemah Rachel ke dalam dekapannya dan membawanya hingga ke unit Penthouse mereka.
Dengan hati-hati Mahavir membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur. Mahavir melepaskan heels yang masih melekat di kedua kaki mulus Rachel kemudian dengan telaten ia menggantikan gaun yang dikenakan istrinya itu dengan gaun tidur yang lebih nyaman. Kali ini tak ada hasrat sedikitpun yang muncul dalam dirinya melihat tubuh seksi istrinya, hanya ada rasa cemas dan khawatir yang terus menerus menyelimuti pikirannya.
Satu tangan Mahavir terjulur membelai lembut ubun-ubun Rachel, sementara satu tangannya mengenggam erat tangan Rachel. Sayang... Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuatmu begitu terpukul seperti ini? Lirihnya, sambil membawa tangan Rachel ke pipinya dan mengusap-usapkan pipinya yang sudah menerima dua tamparan dalam semalam dengan punggung tangan istrinya itu.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu kamarnya membuat perhatian Mahavir teralihkan. Mahavir merapatkan selimut Rachel lalu bangkit berdiri dan membuka pintu. Di depan pintu sudah berdiri Stuart dan seorang wanita bule paruh baya yang tak lain adalah dokter keluarga Alister.
Mahavir mempersilahkan dokter Elizabeth masuk dan memeriksa Rachel, sementara ia keluar menuju ruang kerja bersama Stuart.
Mahavir menduduki kursi kerjanya dengan kedua tangan menumpu di meja sambil memijat-mijat pelan kepalanya. Ia sudah mengintrogasi Stuart terus menerus, namun Stuart hanya berdiri menunduk di depan meja kerjanya itu sambil terus berucap maaf.
"Apa menurutmu Presdir memberitahukan siapa diriku yang sebenarnya padanya?"
"Itu tak mungkin tuan Muda, saya sudah mengenal Presdir cukup lama. Walaupun terkesan dingin dan tegas, tapi Presdir tak akan pernah melakukan itu."
"Lalu apa yang membuatnya bisa seperti itu? apa ada hal yang aneh yang terjadi padanya selama seminggu belakangan ini?"
"Saya kurang tahu, tapi saya sangat yakin bukan Presdir yang membuatnya seperti itu. Selama seminggu ini tak ada yang aneh sama sekali, Nyonya Muda melakukan aktivitasnya di kantor dengan ceria seperti biasanya. Tidak sampai siang tadi."
"Maksudmu? kenapa dengan siang tadi? apa yang terjadi?"
"Saya sudah merasa aneh dengan kelakuan Nyonya Muda sejak ia meninggalkan Star Productions House siang tadi. Sejak itu, Nyonya Muda menjadi murung, tak banyak bicara, dan terlihat pucat. Hanya saja saya menepis kecurigaan karena Nyonya Muda beralasan bahwa dia hanya kelelahan. Saya juga sudah mencari tahu lewat Pimpinan perusahaan yang ditemuinya, tapi beliau mengatakan semua baik-baik saja hingga Nyonya meninggalkan ruangannya. Dan......"
"Dan apa?"
"Barusan saya juga mendapat laporan dari Merry bahwa Nyonya juga sempat pingsan di kantornya. Nyonya bersikeras melarang Merry untuk memberitahukannya pada anda."
"Astaga...!! apa sebenarnya yang terjadi..." Mahavir mengusap wajahnya dengan kasar, tapi tiba-tiba meringis begitu jarinya menyentuh sudut bibirnya yang lecet.
"Apa sebaiknya luka di bibir Anda diobati dulu?"
"Aku tak apa-apa. Memang ini yang terlihat terluka tapi bukan ini yang terasa sakit....." Lirihnya sambil memejamkan matanya.
"Apa tamparan Nyonya Muda sekeras itu?" Stuart bergidik nyeri lalu meraih kotak obat yang ada di rak buku, mengambil salep luka dari dalam sana dan mengoleskannya dengan hati-hati ke sudut bibir Mahavir.
"Ini bukan karenanya...."
"Apa Presdir?" Tebaknya.
Mahavir mengangguk pelan, masih dengan mata terpejam. Tapi dari sudut matanya terlihat kembali setetes cairan bening yang terjatuh.
"Tuan Muda....."
Mahavir membuka matanya lalu bangkit berdiri. "Aku tak apa-apa. Tak usah cemaskan aku. Aku kembali ke atas dulu, dokter Elizabeth mungkin sudah selesai memeriksa Rachel." Ucapnya menepuk bahu Stuart dan tersenyum getir.
"Saya masih akan tinggal dulu memeriksa CCTV seminggu belakangan ini." Ucapnya sambil menunduk.
Mahavir hanya berdehem lalu bergegas ke kamarnya menemui dokter Elizabeth.
* * *