
Sudah 10 menit lamanya suara gemerisik air terdengar dari dalam kamar mandi. Menandakan bahwa Mahavir sedang menjalankan ritual mandinya. Selama itu pula Rachel berselancar di dunia maya, membalas chat-chat dari rekan kerjanya di London. Setelah itu Rachel bangkit dari duduknya dan membuka travel bag nya yang berwarna coklat, mengambil pakaian dalam serta memilih-milih pakaiannya. Pilihannya jatuh pada long dress vintage bermotif floral dengan warna merah mendominasi hasil rancangannya sendiri.
Mengira Mahavir masih berlama-lama di kamar mandi, Rachel pun langsung membuka kimono mandi nya hingga jatuh teronggok ke lantai marmer. Berdiri dengan tubuh polosnya yang putih bersih.
Bersamaan dengan itu...Tanpa Rachel sadari, Mahavir yang memang tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mandi, dengan mengenakan handuk sebatas pinggang langsung bergegas keluar dari kamar mandi untuk mengambil pakaiannya.
Tapi sebelum pintu kamar mandi terbuka sempurna, Mahavir tiba-tiba mematung. Terpaku dan terkesiap kala kedua matanya terhipnotis oleh keindahan yang ada di hadapannya. Tubuh proporsional dengan lekukan-lekukan sempurna plus kulit putih bersih bagaikan sebuah porselin terpampang nyata di hadapannya. Halus mulus dan menggairahkan.
'Glekk'
Mahavir menelan saliva nya dengan bersusah payah. Wajah nya langsung memerah dengan aliran darah yang mendadak terasa panas, padahal baru saja dia mandi dengan air dingin. Dadanya kembang kempis karena didera kegugupan akibat debaran jantung yang begitu kerasnya. Tanpa arahan dari otaknya sesuatu mengeras dengan sendirinya dari balik handuknya. Dengan cepat Mahavir mundur dan kembali menutup pintu dengan sangat sangat perlahan. Dan akhirnya mengulang kembali ritual mandinya dengan menghabiskan banyak waktu.
Rachel yang telah berpakaian dengan cantik nya menunggu dengan duduk manis di ujung tempat tidur sambil kembali memainkan ponselnya. Long dress berwarna merah dengan belahan panjang hingga sampai di paha terbalut sempurna, dan sangat cocok di kulit putihnya.
30 menit berlalu, akhirnya Mahavir keluar dari kamar mandi dengan kulit tangan yang sudah mengkerut. Tanpa melihat ke arah Rachel, dia langsung mengambil setelan santainya, lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi dan kembali keluar setelah berpakaian rapi. Menggunakan kaos oblong berwarna hitam dipadukan celana jeans berwarna biru dongker yang sangat pas di tubuh tinggi nya.
Melihat Mahavir yang sudah rapi, Rachel langsung berdiri dan memasukkan ponselnya kedalam saku longdressnya.
Rachel mengamati wajah Mahavir.
"Virr... Itu kenapa?" Rachel menunjuk rahang nya sendiri. Rahang putih bersih dengan beberapa anak rambut yang menempel.
Mahavir kembali menelan saliva nya dan langsung memutar pandangan nya ke arah lain, otaknya sendiri masih terbayang-bayang dengan apa yang dilihatnya tadi, hingga pikiran nya masih tidak fokus.
"Apa?" Kedua alisnya terangkat naik.
Rachel maju dan menghampiri Mahavir, tapi Mahavir malah melangkah mundur hingga merapat ke dinding. "Ini kenapa? Kok merah?" mengelus lembut rahang Mahavir. Wajahnya mendekat ke wajah Mahavir, dekat dan semakin dekat. "Jangan bilang karena jatuh juga!" Seru Rachel tertawa kecil.
Mahavir mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit kamar itu. Keringat dingin nya mulai mengucur bebas tanpa kendali. Berusaha mengendalikan dirinya dengan tidak bersitatap dengan Rachel.
Ada apa lagi dengan pria ini??
"Virr?? Kenapa? Kamu sakit?" Rachel merasa heran dengan tingkah laku Mahavir. Kedua tangannya kini menangkup wajah Mahavir. "Tidak demam, tapi kenapa wajahmu merah dan berkeringat begini?"
Mahavir memejamkan matanya dan menggeleng lalu melepas kedua tangan Rachel dari wajahnya.
"A..aku tidak apa-apa, Ayo..." Mahavir berucap dengan gugupnya lalu berjalan cepat ke pintu. Tangannya memegang handle pintu dan terus memaksa membukanya tapi tak juga terbuka.
Rachel menatap heran, "Virr.. Are you okey?"
"Hah..?" Mahavir terlihat salah tingkah dengan masih terus memutar handle pintu.
Rachel menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Bukannya tadi kamu mengambil kuncinya?"
Mahavir menepuk dahinya lalu beranjak masuk ke kamar mandi dan mengambil kunci dari saku celana yang digunakannya tadi.
"Virr kamu kenapa?" Lagi-lagi Rachel mendekati Mahavir dan memegang lengan Mahavir. Wajahnya kini mendongak didepan dagu Mahavir. Mahavir menunduk hingga wajah mereka nyaris bersentuhan. Manik mata mereka saling bertemu dengan kilatan penuh gairah dalam sorot mata Mahavir.
"Sekarang aku berada pada level terendah dalam pengendalian diri, jika aku menciummu sekarang maka aku tidak akan bisa berhenti......jika kamu tidak bersedia, maka lepaskan tanganmu dan jaga jarak dariku sekarang juga." Mahavir memperingatkan dengan berusaha menahan gejolak gairah dalam darahnya.
Bukannya langsung menjauh, Rachel malah terpaku dan terdiam di posisinya. Dorongan dalam pikiran rasionalnya menyuruhnya untuk beranjak dari sana secepat mungkin, tapi tubuhnya tidak saling sinkron dengan pikiran nya. Tangannya yang memegang lengan Mahavir justru semakin mencengkram dengan kuatnya hingga kuku-kuku panjangnya menancap dan melukai lengan itu. Semakin membangkitkan gairah Mahavir.
Perlahan Rachel merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya, dengan sekali tarikan tubuhnya telah menempel pada dada bidang Mahavir. Merasakan degup jantungnya yang bekerja keras. Tubuh laki-laki itu bergetar hebat. Dapat Rachel rasakan betapa besar hasrat laki-laki itu padanya. Tangan kanan Mahavir bergerak menyusup memasuki anak-anak rambutnya hingga berakhir memegangi tengkuknya.
Bola mata Mahavir menatap tajam. "Jika aku memulainya, aku tak akan bisa berhenti...!" Mahavir memperingatkan sekali lagi.
Rachel terdiam tak bereaksi apa-apa, tidak menolak dan juga tidak mengiyakan. Pikirannya berlarian kesana kemari membawa kesadarannya. Meninggalkan tubuhnya yang diam membatu.
Mahavir memiringkan wajahnya, pelan-pelan bibirnya menyentuh bibir ranum Rachel lalu menciumnya dengan dalam dan hangat. Rachel masih terdiam, tidak membalas. Tapi kedua matanya terpejam menikmati ciuman itu.
Saat tangan Mahavir mulai menjalar kemana-mana, sebuah ketukan pintu mengagetkannya.
"Kak Virr... Kak Rachel...." Terdengar suara Bryan memanggil-manggil dari luar pintu.
"Kak... Dipanggil sama kak Raya..."
Dengan perasaan canggung Rachel dan Mahavir langsung saling menjauh. Rachel membelakangi Mahavir, menyembunyikan wajahnya yang masih merah merona bak kepiting rebus.
"Tunggu sebentar!!" Teriak Mahavir lalu bergegas membuka pintu. Setelah pintu terbuka, Mahavir menarik Rachel dan mendorong nya keluar.
"Ikutlah dengan Bryan dulu." Ucap Mahavir pada Rachel, lalu berpaling melihat Bryan. "Bryan titip kakakmu dulu, jangan pernah jauh darinya."
Bryan mengangguk paham dengan perintah kakak iparnya. "Kak Virr tidak turun?"
"Aku mau mandi dulu...!!!"
"Loh bukannya tadi...??" Rachel langsung mengatupkan kedua bibirnya saat Mahavir mengedipkan satu matanya. Rachel langsung paham dengan maksud Mahavir. Dengan cepat Rachel mendorong Bryan berjalan meninggalkan Mahavir.
* * *
Rachel dan Bryan berjalan menuju dapur, disana sudah ada Raya dan Rey yang sedang menyiapkan makan malam seadanya. Rachel langsung menghampiri Raya sementara Bryan langsung duduk pada salah satu kursi tinggi pada mini bar yang menjadi pembatas antara dapur dan ruang makan.
"Pak Boss dimana?" Tanya Rey karena tidak melihat keberadaan Mahavir.
"Lagi mandi.." Jawab Rachel singkat.
"Mandi? Memangnya dari tadi ngapain aja?" Guman Rey pelan tapi masih bisa terdengar dengan jelas. Membuat Rachel salah tingkah dan langsung membantu Raya menata makanan ke atas meja makan.
"Ra,ini yang masak Rey?" Rachel menebak dengan berbisik ke telinga Raya, Dilihat dari tampilan nya seperti nya masakan itu buatan Rey. Kata Mahavir, Rey sering ke dapur belajar masak dengan chef hotel kalau sedang punya waktu luang.
"Hmm.." Jawab Raya.
Raya mendengus, "ya kali... Calon musuh!!" Jawab Raya ketus lalu melirik kesal ke arah Rey.
Mendapat kan lirikan tajam membuat Rey melepaskan celemek yang dipakainya. "Semuanya sudah selesai, tinggal plating saja. Saya ke atas dulu menemui Pak Boss!" Seru Rey pada Rachel lalu berjalan dengan cuek melewati Raya.
"Ra, Kamu kenapa segitunya sih dengan Rey?"
"Gak tau, kesel aja!"
"Awas benci bisa berubah jadi cinta loh..." Ledek Rachel.
"Yah, contohnya kamu tuh....!!" Seru Raya tanpa sadar. "Benci betul-betul jadi cinta..."
"Aku? Dengan siapa?"
"Ya dengan...." Ucapan Raya terhenti karena Bryan langsung memanggilnya.
"Kak Raya nya aku pinjam sebentar yah..." Ujar Bryan. Bryan tak mau kalau Raya sampai keceplosan. Dengan cepat Bryan menarik Raya berjalan ke pintu samping keluar menuju taman meninggalkan Rachel seorang diri di ruang makan. Melupakan perintah Mahavir yang dia iyakan tadi.
Dari arah depan Dirga datang dan berjalan dengan santainya sambil mengelus wajahnya yang lebam.
Melihat Rachel yang seorang diri, Dirga langsung menghampiri. "Halo cantik, lagi ngapain?"
Rachel hanya melirik sekilas. Sedikit terkejut melihat wajah Dirga yang lebam-lebam, tapi kemudian kembali fokus mengatur piring ke atas meja. Enggan merespon laki-laki itu.
"Wah dicuekin lagi..." Dirga menarik sudut bibir nya hingga terlihat menyeringai. Memandang Rachel dengan tatapan buas sang predator. Dia semakin berjalan mendekat ke hadapan Rachel. "Kamu betul-betul tidak mengingatku?"
Rachel tetap tidak merespon. Pandangannya tetap fokus ke pada meja. Seolah Dirga tak ada di tempat itu.
Dirga mendengus kesal, lalu menarik tangan Rachel hingga piring kaca yang dipegang Rachel terlepas dan terpelanting ke lantai.
"PRANGGGG......" Suara nyaring kaca yang bertubrukan dengan kerasnya lantai marmer menggema ke setiap sudut ruangan, memekakan telinga. Piring kaca itu terpecah pecah menjadi serpihan-serpihan kecil.
Rachel yang terkejut spontan memejamkan matanya. Bukan karena suara nyaring dari dentingan piring tersebut, akan tetapi ada getaran-getaran samar yang tiba-tiba menggelayut dalam ingatannya. Bunyi nyaring itu mengingat kan Rachel akan kejadian 10 tahun yang lalu, suara dentingan yang sama dengan suara pecahan vas bunga berbahan kaca yang terhempas pada kepala seorang laki-laki yang berada di depan matanya saat itu. Rachel mencoba menggali lebih dalam memorinya, samar-samar bayangan dua orang laki-laki muncul dalam ingatannya. Ingatan yang masih saling tumpang tindih. Tapi Rachel berusaha keras mengingat nya.
Rachel tertegun, pikiran nya masih hanyut ke dalam labirin ingatan yang menyesakkan, hingga tidak menyadari kalau tangan Dirga sudah menyusup ke tengkuknya. Laki-laki itu sedang berusaha menciumnya. Tapi sebelum Dirga mendaratkan bibirnya, tiba-tiba tubuhnya tertarik kebelakang dan terjerembab jatuh ke lantai.
Mahavir langsung mendekap Rachel yang masih syok dengan tubuh yang gemetar.
"Kamu betul-betul masih berani mendekati nya?" Manik mata Mahavir berkilat-kilat penuh emosi. Rahangnya mengeras seirama dengan geraman gertakan giginya. Begitu mendengar suara nyaring dari benda kaca yang jatuh, dia langsung berlari ke arah sumber suara. Sudah cukup dia bersikap lunak pada laki-laki br*ngs*k itu. Mahavir mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang.
"Lakukan sekarang juga!" Perintah Mahavir kepada orang dalam sambungan itu. Singkat, padat dan tidak jelas bagi orang yang mendengarnya.
Mahavir menatap geram. Kedua tangannya mengepal. Dia betul-betul ingin membunuh laki-laki itu. Seandainya saja Rachel tak ada bersamanya saat ini, sudah dipastikan laki-laki itu hanya tinggal nama.
Dirga bangkit dan memperbaiki pakaian nya. Berdiri dengan sombongnya. Baginya yang merupakan seorang anak pejabat terkenal tidak mengenal rasa takut. Selama ini, segala kelakuan onarnya akan langsung diselesaikan oleh bawahan ayahnya. Karena itu dia selalu terbebas dari jeratan hukum atas segala perbuatan buruknya. Membuat nya menjadi bebal dan meremehkan segala sesuatunya.
Dirga melangkah maju ingin menyerang balik dengan melayangkan kepalan tangannya, Tapi Rey yang berada di belakang Mahavir langsung maju menjadi perisai dan menahannya. Kemudian mencengkram bahu Dirga dengan kuatnya.
"Hei.. Rachel... Kamu masih belum mengingatku??? Kamu belum tahu siapa aku? Tidak ingat 10 tahun lalu saat kita bercumbu di hotel?" Teriak Dirga memprovokasi. Dia tak hilang akal, dia langsung menyerang kelemahan Rachel. Yang sialnya langsung mendapat hantaman membabi buta dari Rey. Rey baru mengetahui alasan mengapa Mahavir begitu dingin kepada Dirga sejak awal bertemu. Andai dari awal dia mengetahui nya, pasti dia sudah membereskan orang itu lebih dulu.
Rachel yang baru masuk ke alam sadarnya kembali tersentak dengan perkataan Dirga. Dia berbalik melihat Dirga yang sedang di pukuli oleh Rey, mengamatinya dengan seksama, memastikan bahwa wajah yang dilihat nya saat ini sama dengan wajah dalam ingatannya. Seketika wajah Rachel pias seiring dengan kesadarannya yang menghilang. Tubuhnya langsung terkulai dan menyusut dalam dekapan Mahavir.
"Rachel... Rachel..." Mahavir panik mendapati Rachel yang terlihat pucat. Spontan tangannya mengangkat dan menggendongnya.
Di saat yang sama, Aretha, Raya dan Bryan muncul diantara mereka. Aretha langsung menghambur memeluk Dirga yang tampak menyedihkan. Raya menarik Rey agar berhenti memukuli Dirga, sementara Bryan langsung menghampiri Mahavir yang sedang menggendong kakaknya.
Wajah Bryan memucat, melihat keadaan Rachel dan amarah yang ada pada sorot mata Mahavir. "Kak Rachel ke.. Kenapa?"
"Dari mana saja kamu? Aku kan sudah memintamu untuk tidak jauh darinya!" Hardik Mahavir dengan aura gelapnya.
Bryan tertunduk penuh penyesalan, dia sama sekali tidak terpikir akan seperti ini jadinya.
Aretha memapah Dirga dan membantunya berdiri. "Ada apa ini honey? Kenapa mereka memukulimu?"
Dirga tidak menjawabnya, malah menepis tangan Aretha. Dia masih tidak mau menyerah.
"Ternyata kita bertiga itu berjodoh yah....Awalnya aku sudah curiga kenapa tatapan mu begitu tidak bersahabat. Hah... Bodohnya aku yang tidak langsung mengenalimu...!!!." Ucapnya dengan nada mengejek sedikit tertawa. "Kenapa? Kamu takut ketahuan? Apa Rachel sudah mengetahuinya?" Kembali Dirga terkekeh-kekeh. "Kamu kira Rachel akan menerima mu jika dia mengetahui dirimu yang sebenarnya? Bullshit...!!!"
Bryan yang baru menyadari situasi itu langsung maju dan menarik Dirga, mencengkramnya dengan kuat. Menghadiahkannya dengan pukulan bertubi-tubi.
"Sudah cukup, kamu bisa membunuhnya." Rey menarik Bryan sebelum Dirga benar-benar jatuh tersungkur. Bryan pun melepaskannya dengan sangat kasar tanpa belas kasihan. Kini wajah Dirga tampak penuh dengan lebam dan memar di beberapa bagian, bibir pecah dengan hidung yang mengeluarkan darah segar.
Raya menarik Aretha yang tampak syok dan kebingungan, dua perempuan itu terlihat sama-sama terkejut.
"Aku pastikan....kamu akan menyesalinya! A..A..Akan kubuat kalian semua mendekam di bui." Guman Dirga terbata-bata sambil mengeluarkan ponselnya ingin menghubungi ayahnya. Tapi saat berbicara dengan ayahnya justru dia yang mendapat kabar buruk. Seluruh aset keluarganya telah disita, Ayahnya ditangkap karena kasus korupsi milyaran rupiah. Dengan lemas Dirga menjatuhkan ponselnya. Matanya menatap nanar orang-orang di hadapannya.
Hembusan angin kencang terdengar berdengung seiring baling-baling yang berputar dengan kencangnya memporak-porandakan semua tanaman yang ada, sebuah helikopter mendarat darurat di halaman luas villa itu. Tiga orang laki-laki mengenakan jas hitam rapi berdiri di ambang pintu. Mereka adalah bodyguard bayangan yang di pekerjakan oleh James Alister, yakni Ayah Mahavir untuk menjaga keselamatan Putra satu-satunya.
Mahavir langsung melangkah dengan Rachel yang berada dalam gendongannya. Berjalan meninggalkan tempat itu. Tapi sebelum nya, Mahavir berhenti tepat di hadapan Dirga.
"Dulu aku memang bukan siapa-siapa, tapi sekarang kamu bukan tandingan ku!!" Mahavir menyeringai lalu memberi perintah kepada bodyguard nya. Kemudian berpaling dan meninggalkan semua orang yang masih terkaget-kaget.
* * *
Happy Reading 😘🤗🙏
please like, komen dan vote nya... 🙏🥰