
Sudah 2 jam lamanya Rachel melakukan perawatan rambut disalon yang telah di recommend oleh Ny.Amitha,mommy nya. Dari pantulan cermin di hadapannya terlihat Mahavir tengah terduduk di sofa dengan wajah cemberut. Terlihat jelas rasa kesal di raut wajahnya. Bukan karena kelamaan menunggu Rachel melainkan karena gangguan dari para Hair stylish yang berjenis kelamin setengah wanita setengah pria sedang menggoda nya. Beberapa kali dia terlihat memberi kode pada Rachel lewat pantulan cermin tapi Rachel yang sedang menahan tawa berpura-pura seakan tidak mengerti kode tersebut.
Beruntung kejadian menggelikan itu terjadi, dengan begitu kecanggungan yang telah terjadi selama dimobil tadi langsung sirna seketika.
Tiba-tiba muncul ide-ide gila dari benak Rachel, ide yang buruk buat Mahavir tentunya.
Ternyata begitu memuaskan rasanya bisa melihatnya merasa terganggu seperti itu.
Tunggu saja selanjutnya...
Kan ku buat hari ini menjadi hari yang berat untuk mu....Guman Rachel tertawa dalam hatinya.
Setelah Mahavir melakukan pembayaran tagihan salon tersebut, mereka pun meneruskan perjalanan dan masuk ke sebuah mall mewah di kawasan pusat kota.
"Seperti nya kamu menikmati sekali mengerjaiku seperti itu tadi!" Ucap Mahavir masih dengan raut wajah kesalnya.
"Jadi diantara mereka tadi yang mana yang mencuri hatimu?" Tanya Rachel mengejek.
Mahavir tidak menjawabnya, matanya malah fokus menatap tajam ke arah para pria yang memandangi Rachel sejak masuk ke dalam mall tadi. Instingnya sebagai seorang pria sangat tahu betul isi dari otak para pria itu. Dia pun kemudian menarik Rachel masuk ke sebuah store merk ternama dan memilih beberapa pakaian agak tertutup untuk Rachel.
"Ganti bajumu dengan ini" Perintah Mahavir sambil menyerahkan beberapa lembar baju kepada Rachel dan mendorong nya ke dalam kamar pas.
Rachel pun menurut tanpa banyak bicara, jelas ada banyak rencana licik dalam pikiran Rachel saat ini. Setelah beberapa saat dia pun keluar dengan penampilan yang baru.
Apapun jenis pakaian yang Rachel gunakan akan selalu sukses membuat Mahavir terkagum-kagum. "Begini lebih bagus!" Mahavir melihat penampilan Rachel dari atas ke bawah, kemudian berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
"Tunggu, aku masih mau memilih beberapa pakaian." Ujar Rachel tersenyum sinis. Dia pun kemudian berjalan mengitari seluruh isi store, sengaja berlama-lama dan asal-asalan memilih pakaian sampai-sampai dua pramuniaga wanita yang menadah pakaian dibelakangnya merasa kewalahan. Mahavir hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku wanita pujaannya itu.
"Kamu sanggup membayarnya kan?" Rachel menatap Mahavir sambil menunjuk ke arah belanjaannya dengan sikap angkuh.
"Bahkan Toko nya akan aku belikan untukmu kalau kamu menginginkannya." Mahavir tersenyum tipis sambil menyerahkan credit card platinum tanpa limit kepada kasir.
"Wow...dengan senang hati Mr Alister. Kalau begitu aku tidak akan sungkan-sungkan menghabiskan uangmu." melenggang dengan sombongnya keluar dari store itu.
Lima shoping bag ukuran besar kini tengah berada ditangan Mahavir, dengan total jumlah yang sangat fantastis bagi orang biasa.
Tanpa rasa malu Rachel kemudian melenggang masuk ke BagStore dan mengambil beberapa macam tas tangan branded.
Kini sudah ada 10 shoping bag terjinjing di tangan Mahavir, lima ditangan kanan dan lima ditangan kirinya. Seakan masih belum puas Rachel kemudian memasuki beberapa toko sepatu dan lagi-lagi asal mengambil sepatu yang sesuai dengan ukuran kakinya.
Setelah itu dilanjutkannya pula ke toko kosmetik dan mengambil segala macam jenis kosmetik. Mahavir hanya mampu menarik nafas panjang ketika diberikan beberapa tambahan shoping bag lagi.
Entah apa kata para karyawan nya seandainya mereka melihat Mahavir Alister CEO dari hotel kelas satu di London serta pewaris kerajaan bisnis Alister corp diperlakukan seperti ini. Semoga saja Rey, sang asisten sekaligus General Manager yang bertanggung jawab untuk hotel cabang yang ada di Indonesia tidak melihatnya, bisa jatuh sejatuh-jatuhnya harga dirinya. Apalagi Stuart yang terkadang dengan sengaja menyindirnya secara terang-terangan, mengatai dirinya sebagai budak cinta. Mau di taruh dimana mukanya nanti.
"Apa kamu sadar aku ini seorang CEO??" Tanya Mahavir yang sedikit kesulitan memegang semua belanjaan. Kedua tangannya bahkan sudah memerah.
"Lalu??? Kamu tidak bersedia?"
Mahavir menghela nafas. "Bukannya gitu,tapi...... " Ucap Mahavir lirih.
"Kamu sendirikan yang ingin menjadi suami ku, jadi sudah sepantasnya kamu harus tahu apa saja kebutuhanku. Lihat baik-baik, ini semua baru sebagian dari kebutuhanku."
"Iyya aku tahu, sekarang mau kemana lagi miss?" Ujar Mahavir pasrah tak ingin berdebat lagi.
Rachel mengedarkan pandangannya, begitu melihat simbol toilet pada sudut dinding yang dilewatinya, ide gila kembali muncul di benaknya. "Sepertinya aku harus ke toilet." langsung melenggang masuk ke toilet dan sengaja berlama-lama disana.
Cukup lama Mahavir berdiri menunggu di depan toilet tetapi Rachel tidak kunjung keluar juga. Hingga beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi, terlihat nomor tak dikenal tertera di layar ponselnya.
"Halo vir, sepertinya aku butuh bantuanmu?" Ucap suara dari ponsel nya itu yang ternyata adalah Rachel.
"Darimana kamu dapat nomorku? Bantuan apa?" Tanya Mahavir penasaran.
"Aku barusan meminta nomormu dari daddy. Vir,...Sepertinya aku butuh pembalut"
"Oh pemba....APA?? Kamu bercanda kan?"
"Apa sekarang saatnya bercanda?? you want to help me or not?? "
"OK wait a minute!" Mahavir mengiyakan dengan tidak ikhlas, kemudian berjalan dengan repotnya diantara banyaknya belanjaan yang ditentengnya menuju tangga eskalator.
Didalam supermarket terlihat Mahavir yang kebingungan memilih diantara banyak nya pembalut wanita yang ada, ingin mencoba bertanya kepada salah satu Sales promotion girl yang ada tapi rasa malu mengurung kan niatnya, akhirnya dia menelepon Rachel kembali.
"Pembalutnya ada banyak, merk yang mana? Bungkusnya warna apa?"
"OMG!! Beli apa aja, cepattt!!!" Perintah Rachel.
Dengan panik Mahavir mengambil satu dari tiap merk yang ada dan bergegas membawakannya ke Rachel dengan menitipkan ke salah satu cleaning service wanita yang sedang bertugas di depan toilet.
Selang beberapa menit Rachel keluar dari toilet dan memandang heran ke Mahavir. "Belanjaan yang tadi mana??"
Mahavir menepuk jidatnya. "Astaga, kelupaan di tempat penitipan!! Tunggu disini aku akan turun mengambil nya kembali." Berlari dengan paniknya menuju tangga eskalator.
Rachel tersenyum puas, rencananya mengerjai Mahavir berhasil dengan sempurna.
* * *
Masih di dalam mall, di sebuah resto siap saji. Mahavir terduduk sambil meneguk minuman dingin untuk melepas dahaganya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, yang menandakan kalau jam makan siang telah lama terlewatkan. Andaikan Mahavir tidak mengeluh kelaparan mungkin Rachel belum mau berhenti berkeliling mengitari semua toko didalam Mall itu. Mereka telah berkeliling mall selama kurang lebih 5 jam dengan tentengan shoping bag yang sudah tidak dapat dihitung dengan jari walau digabungkan dengan jari kaki sekalipun.
Sangat jelas terlihat Mahavir begitu kelelahan tapi tak juga dia keluhkan atau tampakkan pada Rachel. Harga dirinya sebagai seorang pewaris Alister Corporation telah dibuangnya jauh-jauh, yang tersisa hanyalah Mahavir yang sedang menjadi budak cinta. Baginya berkeliling seharian dengan membawa banyak belanjaan itu tidaklah sebanding dengan rasa lelah yang telah dia rasakan selama ini, yang dulunya selalu berharap tercipta momen-momen seperti ini dalam hidupnya.
Setiap Rachel mengerjainya dia hanya akan tersenyum dan mengikuti keinginannya. Ada sedikit penyesalan di lubuk hati kecil Rachel yang telah mengerjai habis-habisan calon suaminya itu, tapi sebagian besar isi hatinya juga membenarkan perbuatan nya.
Untuk menjadi suami seorang 'Rachel Sasmita Wijaya' harus lah pria yang tahan banting dan mampu mengikuti segala keinginan nya.
"Selanjutnya kemana?" Tanya Mahavir kemudian setelah selesai memakan beberapa potong pizza.
"Kita ke lantai atas sebentar."
"Masih belum cukup belanjaan mu ini?" Mahavir terheran-heran.
"Tadi aku lihat toko perhiasan, gak mungkinkan besok kita nikah tapi gak ada cincinnya." Ujar Rachel sambil memperlihatkan jari-jarinya yang kosong.
Mahavir kemudian tersenyum lembut, "Kamu pikir aku ini pria bodoh yang jauh-jauh datang melamar seorang wanita tanpa mempersiapkannya."
"Woww...apa itu Berlian?? Berapa karat??" Tanya Rachel menggoda Mahavir.
* * *
Pemberhentian mereka selanjutnya adalah sebuah klinik kecantikan. Mahavir kembali terduduk di sofa memainkan ponselnya, membaca segala laporan keuangan dari para manajer hotel yang dinaungi Alister corporation. 90 menit lamanya dia menunggu Rachel yang sedang melakukan treatment wajah, dan tidak pernah sekalipun dia menunjukkan tanda-tanda kebosanan diwajahnya itu.
"Sekarang kita kemana lagi miss?" Tanya Mahavir ketika mereka kembali ke dalam mobil.
"Kamu tidak lelah?" Tanya balik Rachel.
"Kalau aku lelah tidak mungkin aku masih berada disini!!" Jawab Mahavir, membuat Rachel kembali mengerut kesal.
Langit telah mulai berubah warna, Porsche hitam itu kembali membawa mereka berkeliling.
Rachel masih saja belum puas, berkali-kali dia singgah ke beberapa butik. Menghabiskan banyak waktu untuk melihat-lihat berbagai macam pakaian tanpa membeli satupun juga, dia lakukan itu hanya untuk membuat Mahavir menunggu lama dan melihatnya merasa jengkel dan mungkin akan membatalkan pernikahan mereka besok. Tapi usahanya itu selalu gagal, Mahavir selalu tersenyum dengan lembut kepadanya.
Akhirnya Rachel menyerah sendiri, mungkin pria disamping nya itu betul-betul ditakdirkan untuk mengikuti segala keinginannya.
"Masih ada tempat yang perlu kita singgahi?" Tanya Mahavir tanpa lelah dan hanya dibalas gelengan oleh Rachel.
"Kalau gitu kita singgah makan malam dulu yah" ucapnya kemudian yang sekali lagi hanya dibalas anggukan oleh Rachel.
Sebenarnya Mahavir sudah mengetahui kalau dia sedang dikerjai habis-habisan oleh calon istrinya itu tapi dia tetap berusaha mengikuti keinginannya agar wanita itu bisa merasa puas.
Mahavir pun akhirnya tersadar perkataan daddy Rachel kemarin,
Ternyata ini yang paman maksud dengan Hari yang panjang...
Porsche hitam itu kini berhenti di bahu jalan di dekat area jajanan kaki lima, Mahavir turun dari mobil dan menyuruh Rachel untuk menunggu. Tidak berapa lama akhirnya Mahavir kembali dengan membawa dua porsi sate.
"Sate?" Rachel terlihat menekuk alisnya "sate pinggir jalan?" Ulangnya memperjelas.
"Coba dulu, enak kok!"
Rachel masih terdiam tak menyentuh sama sekali hidangan yang tersedia untuk nya. Melihat itu Mahavir mengambil sate milik Rachel kemudian memisahkan daging dari tusuknya.
"Nih makan!" Ucap Mahavir, Rachel masih tetap terdiam dengan perasaan jijik yang terlihat jelas dari raut wajahnya. Mahavir tersenyum melihat wajah menggemaskan wanita itu. "Mau aku suapin?" Ucap nya lagi.
Rachel menggeleng tanda tak mau, ditepisnya sendok yang tengah berada di depan wajahnya itu.
Dengan sabar Mahavir kembali menggiring sendok itu ke bibir Rachel.
"Apa kau mau aku memasukkan makanan ini kemulutmu menggunakan bibirku?" Mahavir menggoda Rachel dengan mendekatkan wajahnya kehadapan Rachel.
Dengan kesal Rachel merebut piring sate itu dari tangan mahavir.
"Aku bisa makan sendiri" Ucapnya masih dengan wajah cemberut.
Diam-diam Mahavir memperhatikan Rachel memakan Sate tersebut, "katanya gak mau tapi makannya lahap." Ujar Mahavir dalam hati sambil menahan tawa.
* * *
Setelah santap malam tadi, akhirnya merekapun memutuskan untuk pulang kerumah. Sesekali Rachel melirik Mahavir, pria itu masih menyetir dengan tenang. Rachel memandangi wajah Mahavir dengan seksama dan memujinya dalam hati. "Ternyata kamulah yang akan menjadi suami seorang Rachel, Not Bad..." Lirih nya dalam hati.
Merasa sedang dipandangi, Mahavir berbalik ke arah Rachel dan dengan cepat Rachel langsung berpura-pura tertidur.
"Ternyata kamu tertidur lagi ya..." Ucap Mahavir tersenyum melihat Rachel.
Pelan-pelan Mahavir meraih tangan Rachel dan menautkan kembali jari-jarinya, Rachel tak bisa menolak karena tengah berpura-pura terlelap.
Rachel tak henti-hentinya mengutuk dirinya dalam hati karena terjebak dalam posisi seperti ini, karena kesalnya Rachel sengaja menjatuhkan kepalanya kesamping berharap Mahavir melepaskan genggaman tangannya dan menopang kepala nya.
Rencananya pun berhasil, Mahavir akhirnya melepaskan genggaman nya. Tapi kemudian Rachel merasakan mobil yang tiba-tiba terhenti. Pelan-pelan Rachel mengintip dan melihat mobil sedang menepi. "Mau apa dia?" batin Rachel bertanya-tanya.
Kemudian dia kembali terkejut begitu merasakan tubuh Mahavir mendekat ke tubuhnya, tercium aroma parfum khas seorang pria. Perlahan Rachel membuka sedikit matanya, terlihat wajah Mahavir yang begitu sangat dekat dengan wajahnya, mungkin jarak antara wajahnya dan wajah Mahavir hanya ada beberapa centi, sebab Rachel sangat bisa merasakan hembusan nafas pria itu.
Mahavir berusaha meraih sesuatu disamping kursi penumpang yang Rachel duduki. Begitu dia menemukan tuas pengatur kursi, perlahan Rachel merasakan kursi yang tengah dia duduki mundur kebelakang dan membuat posisinya setengah terduduk.
Saat itu Mahavir baru menyadari bahwa Rachel hanya berpura-pura tertidur. Mahavir semakin gemas dengan kelakuan wanita dihadapan nya itu. Pelan-pelan Mahavir mengelus pelipis Rachel mencoba menggodanya.
Rachel merasakan sentuhan hangat di pelipis kirinya, hal itu membuat nya tidak bisa berpura-pura lagi dan akhirnya membuka matanya.
"What are you doing?" Rachel terkejut tiba-tiba mendapati Mahavir tengah menatapnya sementara tangan pria itu mulai menangkup pipinya.
"I wanna kiss you" Mahavir mencoba menggoda Rachel sekali lagi.
"Coba saja kalau kamu berani" Rachel menantang dengan mata tajamnya.
Mata mereka sejenak beradu. Mahavir yang tadi nya cuma berniat menggoda Rachel mendadak tak bisa menahan diri. Mahavir menggerakkan jarinya dan menyentuh lembut bibir Rachel kemudian hendak mengecupnya, tapi dengan lincah Rachel memalingkan wajahnya, dan..
CUP
Bibir hangat Mahavir hanya bisa mendarat mulus di pipi kanan Rachel. Mahavir tersenyum lembut kemudian kembali keposisi duduknya melajukan Porsche hitam itu kembali.
Rachel masih terdiam di posisinya berusaha menetralkan detak jantung nya. Kemudian dia teringat kejadian semalam saat dia tertidur.
Berarti bisa saja kemarin malam saat aku tertidur pria ini juga menggenggam tanganku dengan bebasnya kan??
Juga menikmati menciumi bibir ku?
Ataukah melakukan lebih dari ini?
Tidakkkk!!!!! Teriak batin Rachel.
Dengan ragu Rachel memberanikan diri bertanya. "Apa kemarin kamu juga melakukan hal yang sama?"
"Mencium pipi mu?"
"Mungkin lebih dari itu??"
"Menurutmu?"
Rachel terdiam, "jawabannya sudah jelas! Kucing mana yang akan membuang kesempatan bila ada ikan didepan matanya." Ujar nya dalam hati sambil memegangi bibir nya.
Sementara Mahavir hanya tersenyum sepanjang jalan membiarkan Rachel hanyut dalam pikirannya sendiri.
* * *
~Terima Kasih sudah membaca 🙏 jangan lupa like, vote dan komen yaa 🤗🤗 Supaya Author juga semangat nulisnya... 🥰🥰
* * *