
Langit cerah, semilir angin laut berhembus pelan menyeruakkan semerbak aroma laut. Deburan ombak mengulum saling berkejaran.
Hari itu mereka semua menghabiskan waktu di laut. Berkeliling mengitari sekitar pulau dengan berperahu. Melewati hutan Mangrove, yakni sejenis hutan bakau yang dipenuhi tanaman dikotil yang hidup di habitat air payau dan air laut.
Sedikit pembicaraan yang terjadi diantara mereka, karena sepertinya mereka terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Rachel yang duduk manis di samping mahavir memilih diam karena merasa badmood atas perlakuan Dirga padanya pagi tadi, sambil sesekali melirik ke arah Bryan dan Rey yang saling membelakangi. Menatap keduanya penuh curiga, karena wajah keduanya berhiaskan memar di beberapa bagian.
Walaupun Rachel berulangkali bertanya, jawabannya keduanya sama dan kompak.
Yakni 'Karena jatuh!'.
Seperti pagi tadi saat sarapan, Rachel memulai percakapan...
"Rey wajahmu kenapa?"
"Oh, semalam saya terjatuh di depan Bu Rachel..." Kilah Rey tertunduk.
"Jatuh? Kenapa pas sekali dengan Bryan? Kalian berantem?"
"Tidak kak, semalam kami terjatuh bersama-sama di depan karena gelap." Bryan membela juga dengan kepala tertunduk.
"Iyya mereka jatuh, aku saksinya." Raya pun ikut menimpali. Seakan mereka sudah satu suara menyembunyikan sesuatu darinya, membuat Rachel semakin dongkol dan enggan untuk berbicara lagi pada mereka bertiga.
"Vir, mereka kenapa?" Bisik Rachel di telinga Mahavir pada akhirnya, mencoba mencari tahu dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Mereka siapa?"
"Bryan, Raya dan Rey."
"Sudah tanya mereka langsung?"
Rachel mengangguk, matanya membulat meminta penjelasan dari Mahavir. Tapi bukannya memberikan penjelasan, Mahavir hanya tersenyum dan menenggelamkan Rachel dalam dekapannya. "Jangan campuri masalah mereka, fokus saja dengan hubungan kita" Bisiknya kemudian. Nafas Mahavir bahkan terdengar lembut di telinga Rachel, yang entah mengapa membuat Rachel terdiam kembali dengan pipi yang bersemu merah merona.
Bryan dan Rey yang kini saling membelakangi juga disibukkan dengan ingatan mereka semalam. Rey yang merenungi kesalahan karena telah lepas kendali memarahi Raya, dan Bryan yang merenungi kejadian bersama Raya di kamar semalam.
Sementara Raya sedari tadi terus menerus memandangi kemesraan Rachel dan Mahavir. Berkali-kali Raya menepuk-nepuk pipinya, tak percaya dengan apa yang dia saksikan. Dia masih syok dengan kenyataan bahwa Mahavir adalah Dirman. Sungguh sangat ironi, orang yang sangat Rachel benci hingga membuat nya rapuh malah menjadi suaminya. Raya sangat bingung dan serbasalah akan berbuat apa kedepannya. Bagai buah simalakama, jujur kepada Rachel salah, ikut menyembunyikan rahasia itu juga sangat salah.
Sementara itu tanpa disadari oleh yang lainnya, Mahavir dan Dirga saling bersitatap. Walaupun Aretha telah berada dalam dekapan Dirga, tapi pandangan matanya tak lepas dari Mahavir dan Rachel. Entah apa yang ada dalam benaknya. Tapi Mahavir sangat menyadari akan hal itu, karena itu Mahavir semakin erat mendekap Rachel dan menghalangi pandangan Dirga. Menunjukkan kuasa dan hak kepemilikannya akan Rachel.
Hanya Aretha seorang yang sesekali berceloteh menjelaskan tentang apa yang mereka lewati. Selebihnya keadaan kembali hening dengan pemikiran yang menghinggapi benak mereka masing-masing, hingga perahu mereka kembali menempel ke bibir pantai tempat Villa mereka berada.
* * *
Sore itu, Rachel dan Raya bersantai di pantai. Sebenarnya tadi Aretha mengajak mereka untuk berenang, tapi Rachel yang tidak diperbolehkan memakai bikini oleh Mahavir, atau lebih tepatnya karena bekas yang di buat Mahavir di bawah leher dan sekitar tulang selangka nya membuatnya malu untuk memamerkan tubuhnya. Dan akhirnya memilih untuk bersantai pada Hammock yang tersedia di bibir pantai bersama Raya.
"Ra, Bryan dan Rey semalam berantem kan?" Rachel bertanya sekali lagi pada Raya.
Raya mendengus, sudah berapa kali Rachel menanyakan pertanyaan yang sama. "Rachel... Bisa tidak bertanya yang lainnya saja..."
"Aku tidak punya pertanyaan lain untuk mu..." Ujar Rachel menyibak rambut panjangnya yang diterpa angin. Kedua matanya fokus memandangi Mahavir yang sedang fokus berbicara dengan Rey dari kejauhan.
"Rachel...."
"Apa?"
"Kamu mencintai dia?" Raya menunjuk Mahavir dengan menggunakan ekor matanya.
"Stupid question...!!" Seru Rachel enggan menjawab.
"Rachel aku serius tanya. Kemarin kamu bilang masih segel, itu artinya kan kamu sama Mahavir belum.....?"
Rachel mendesah pelan, dua bola matanya terus memantau pergerakan Mahavir yang terlihat berjalan mendekatinya. "Gimana yah... Kalau dibilang cinta sih belum, aku masih susah membuka hati. Dan mungkin karena itu aku masih belum bisa ke tahap itu."
"Tapi kamu terlihat mesra dengannya, kulihat kamu tidak menghindar atau menolak setiap bersamanya."
"Entahlah...aku juga bingung, terkadang aku merasa nyaman bersamanya. Dia begitu lembut dan perhatian hingga membuatku tak berkutik."
"Hmmm.... Rachel, apa kamu tidak merasa kalau Mahavir itu mirip seseorang?" Ragu-ragu Raya mengajukan pertanyaan pancingan. Di posisi nya sekarang, dia harus mencari tahu.
"Memang nya Vir mirip siapa?" Rachel mengerutkan kening nya, mencoba mengingat-ingat.
"Emm..." Raya menggosok-gosokkan jari telunjuk nya di bibir bawahnya. "Kalau diperhatikan lebih jelas dia sangat persis dengan...."
"Dengan siapa?"
"Emmm, de..dengan... Em... Dirman." Ragu-ragu Raya menjawab.
"Hush, jangan ngaco Ra!! Dilihat dari mana pun mereka tidak ada kemiripan sama sekali." Rachel berucap dengan sedikit bergetar. Sekilas terlihat raut wajah Rachel yang tak bisa dimengerti oleh Raya. Membuat Raya kembali mendesah pelan.
Mahavir dan Rey menghampiri mereka. Terlihat Mahavir melirik sekilas ke arah Raya, seakan bertanya 'Apa yang kamu katakan pada Rachel'. Dengan cepat Raya memalingkan wajahnya dan malah bersitatap dengan Rey.
"Raya aku mau bicara sebentar!" Rey langsung menarik tangan Raya. Raya pun melompat turun dari ayunan gantung, mengikuti Rey menjauh dari Mahavir dan Rachel. Setelah beberapa langkah Rey melepaskan pegangannya.
"Maaf, aku hanya menyelamatkan mu dari introgasi Mahavir. Kendalikan dirimu, jangan sampai membuat rencananya berantakan!" Ucap Rey memperingatkan, lalu melangkah meninggalkan Raya tanpa berbalik sama sekali. Raya menyusul dibelakang dengan perasaan yang aneh, ada sedikit rasa sesak yang dirasakannya atas perlakuan Rey yang berubah dingin.
Sementara dari kejauhan, Rachel menatap kepergian Raya dan Rey.
"Sedang membicarakan apa dengan Raya sampai dia salah tingkah begitu?" Mahavir mendekat ke hadapan Rachel yang terduduk pada ayunan gantung yang terbuat dari tali anyaman. Kemudian menarik dagu Rachel agar berbalik dan melihatnya.
"Rahasia!" Jawab Rachel dengan senyum khasnya.
"Pasti membicarakanku?" Tebak Mahavir. "Kalau tidak menjawab aku akan menciummu."
"Coba saja kalau berani!" Rachel menaikkan kedua alisnya, menantang. Tidak mungkin kan dia mau menciumnya di tempat umum begitu.
Mahavir menunduk, menyibak rambut yang beterbangan menutupi wajah Rachel lalu dengan cepat mengecup bibir Rachel sekilas. Membuat Rachel terkesiap.
"Bagaimana, masih tidak mau menjawab? atau mau ku teruskan?" Mahavir kembali mendekat kan wajah nya.
Rachel mendorong tubuh Mahavir, "Apa sih, disini banyak orang." Ucapnya sambil menutup bibir nya dengan punggung tangan nya.
"Oh, berarti kalau sepi boleh?"
"Bu.. Bukan begitu." Kilah Rachel dengan alis yang tertekuk. Menghela nafas sesaat. "I...itu...Raya cuma bilang kalau kamu mirip dengan seseorang."
"Siapa?"
"Dia... Dia.. Dirman." Rachel memalingkan wajah nya, menatap birunya laut. Raut wajah cerianya seketika berubah menjadi sendu. "Dia laki-laki yang...." Ucapan Rachel terhenti saat telunjuk Mahavir menempel di bibir nya.
"Jangan dilanjutkan..." Mahavir menarik jarinya dan berpindah menggenggam tangan Rachel.
"Menurutmu aku mirip dengannya?" Mahavir menarik kedua tangan Rachel dan menempelkan nya ke pipi kiri dan kanannya.
"Yah, tidak miriplah. Dilihat dari manapun kalian berbeda jauh."
"Karena aku lebih tampan? Jauh lebih kaya?" Mahavir mencoba membandingkan. "Seandainya kami memang terlihat mirip, bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Kalau kami mirip kamu masih menyukaiku atau tidak?"
"Ihh...Ge-er, memangnya kamu kira sekarang aku menyukaimu?"
"Memang iya kan?"
Rachel menjauhkan wajahnya dari Mahavir, menatap dengan memicingkan kedua matanya, lalu menggeleng. "Tidak tuh!!"
"Yang betul....?" Mahavir bertanya dengan nada sensual yang dibuat-buat.
Rachel mendorong tubuh Mahavir lalu berlari kecil ke arah laut. Lidah nya terjulur mengejek Mahavir.
"Mr.Mahavir Alister.....Jangan ge-er deh, aku tidak pernah menyukaimu...!!!" Teriak Rachel dengan terkekeh-kekeh.
"Oh,begitu...awas ya kamu....." Mahavir ikut berlari mengejar Rachel yang semakin menjauh.
"Wekk!! Coba saja tangkap aku..." Teriak Rachel dengan terus berlari menghindari Mahavir.
"Awas saja kalau tertangkap, tidak akan aku lepaskan. Akan kubuat kamu menyukai ku hingga tergila-gila padaku...!!"
Lagi-lagi Rachel menjulurkan lidahnya.
Dan terjadilah aktivitas kejar-kejaran.
Mahavir dan Rachel terus berkejaran hingga masuk ke dalam air dan Rachel terjatuh karena dihempas ombak kecil. Dengan lincah Mahavir melompat dan menarik pinggang Rachel.
"I GOT YOU...!!!" Teriak Mahavir saat telah menangkap tubuh Rachel.
"Hosh.. Hosh..." Suara pernapasan Rachel yang ngos-ngosan terdengar di antara suara desiran ombak. Tubuhnya lunglai dalam pelukan Mahavir karena kelelahan berlari. Hal yang sama pun di alami oleh Mahavir. Degup jantung keduanya bertalu-talu tak beraturan."
"Katakan... Coba katakan kalau kamu tidak menyukai ku?" Mahavir berucap dengan terbata-bata karena pernapasannya yang belum normal.
"Aku..hosh..hosh...Aku... Aku tidak..." Ucapan terbata-bata Rachel terhenti karena Mahavir langsung membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman yang menuntut. Rasa asin dari air laut dan rasa manis dari dalam mulut Mahavir bercampur menjadi satu menggelitik indra perasanya. Saat Mahavir akan bereksplorasi lebih lanjut, ombak datang dan menerpa tubuh mereka. Rachel mendorong keras tubuh Mahavir, tapi Mahavir malah menarik tubuhnya dan membawanya ke tepian.
Mahavir menghempas tubuhnya berbaring di atas pasir putih tanpa melepaskan pegangannya sehingga Rachel ikut berbaring di lengannya. Baik Rachel maupun Mahavir berusaha keras menormalkan pernapasannya.
Keduanya pun memandangi langit yang mulai berubah warna. Larut dalam keindahan panorama senja yang membentang luas di cakrawala. Tapi sebelum mentari benar-benar meredup, Mahavir mengangkat tubuhnya dari posisi berbaring di atas pasir.
"Ayo kita kembali ke villa." Mahavir mengulurkan tangannya ke Rachel.
Rachel ikut terbangun, tapi masih dalam keadaan terduduk. "Tanggung, sebentar lagi matahari terbenam. Kita lihat Sunset dulu yah?"
Mahavir menggeleng. "Aku tidak mau melihat Sunset bersama mu...."
Rachel mengernyitkan keningnya, namun tetap menerima uluran tangan Mahavir. "Kenapa?"
Mahavir menarik tangan Rachel yang telah menggenggamnya, membuatnya ikut berdiri. Saat Rachel berdiri dengan lincah nya Mahavir membelakangi Rachel, sedikit membungkuk lalu menarik kedua tangan Rachel melingkar di lehernya hingga tubuh Rachel terjerembab jatuh di punggungnya. Kedua tangan Mahavir kemudian bergerak menarik kaki Rachel hingga ikut melingkar di pinggangnya. Dan 'HUP' Rachel berhasil digendong nya.
"Vir, turunin...." Rachel menepuk-nepuk bahu Mahavir, meminta diturunkan.
"Kalau kamu tidak mau aku gendong, maka kamu yang harus menggendongku! Bagaimana?"
"Peraturan dari mana?" Ketus Rachel.
"Peraturan dari Mahavir Alister!"
"Jangan Ngasal yah..."
"Yah, sudah. Aku turunin, tapi kamu yang gendong aku." Mahavir melepaskan pegangan nya. Membuat Rachel mengeratkan pegangan nya pada leher Mahavir. Mahavir tersenyum puas. "Kalau gak mau diturunin, jangan banyak gerak, Kamu berat!"
"BUKK" Rachel memukul punggung Mahavir.
"Awww, sakit!! Kalau aku sakit kamu juga yang susah nantinya..." Ujar Mahavir. Berhenti sejenak, memperbaiki gendongan nya, lalu kembali melangkah. Rachel mendengus dibelakang.
"Kenapa kamu tidak mau melihat Sunset denganku?" Rachel mengernyit bingung. Bukankah orang berlomba-lomba ingin menyaksikan Sunset? Kenapa dia justru tidak ingin? Sepertinya memang ada yang salah dengan otaknya. Rachel beretorika dalam pikiran nya.
Mahavir berbalik sekilas melihat wajah bingung istrinya yang justru sangat menggemaskan.
"Hmmm... Kamu tahukan kalau Sunset itu matahari yang terbenam?"
"I know, so?"
"Kebanyakan orang menatap Sunset bersama pasangan nya itu adalah hal yang romantis, tapi bagiku itu tidak begitu."
Rachel semakin bingung. "Why?"
"Matahari yang meredup dan akhirnya padam itu sama halnya dengan sebuah perpisahan. Sementara senja yang berwarna jingga ibaratkan sebuah rindu. Mereka hanya akan bertemu di satu waktu. Sama halnya dengan dirimu. Aku selalu ingin bertemu meskipun harus menunggu terlebih dahulu. Untuk itu aku tak mau menatap senja bersamamu, karena aku selalu ingin bersamamu disetiap waktu."
Rachel terdiam mendengar perkataan Mahavir. Dagunya dia jatuhkan di ceruk leher Mahavir yang masih basah karena air laut.
"Pandai juga laki-laki ini merangkai kata-kata..." Batin Rachel.
Lagi-lagi senyum terkembang di wajah Mahavir.
"Bagaimana denganmu Mrs.Mahavir? Apa kamu mau bersamaku di setiap waktumu? Di seluruh sisa hidupmu? Menemani ku hingga aku renta nanti?"
Rachel masih terdiam, kedua bibirnya terkatup rapat.
"I am waiting for your answer madam...."
"CUP" Rachel mengecup pipi Mahavir, "Kita lihat nanti..." Lirih Rachel dengan pelannya lalu menyembunyikan wajahnya semakin dalam ke leher Mahavir.
"Leher ku jangan di **** yah...rasanya asin...!!" canda Mahavir.
Mendengar itu Rachel langsung mengangkat kepalanya. "What?? turunin gak? turunin!!!!" serunya sembari memukul-mukul punggung Mahavir hingga terbebas dari gendongannya.
Rachel langsung berlari ke depan, berbalik menjulurkan lidahnya kemudian kembali berlari jauh meninggalkan Mahavir yang mematung memegangi dadanya.
* * *
Happy Reading... 🤗😘🥰