
Pagi hari pukul 08.00 kota London, Di tengah rapat penting yang sedang berlangsung, Mahavir terlihat begitu gelisah. Kedua matanya tak henti-hentinya melirik ke arah arloji di tangan kirinya. Berharap waktu berjalan dengan cepatnya.
Stuart, sang asisten berkali-kali memberi kode agar bos nya itu tidak meninggalkan rapat penting bersama para kolega mitra kerja sama Alister Corporation dari berbagai negara Asia dan Eropa.
Sejak mendapat kabar kalau Rachel mengurung diri di kamar menangis semalaman, pikiran nya menjadi kacau, hatinya bahkan tidak tenang untuk bisa bertahan lebih lama lagi di tempat nya saat ini. Berkali-kali dia menelepon istrinya itu tapi tak pernah ada jawaban dari sana. Andaikan dia memiliki kekuatan teleportasi, tentunya dia akan menghilang saat itu juga dan langsung memeluk tubuh istrinya serta memberikan penghiburan kepada wanita yang sangat dia sayangi itu.
Tanpa perlu mengkoreksi diri, Mahavir sadar bahwa dialah sebenarnya yang telah menghunuskan pedang dan melukai hati wanita itu. Semua betul-betul diluar dari perkiraan nya. Ingin rasanya dia membenamkan dirinya sendiri ke sungai Thames yang tidak jauh dari lokasi nya saat ini.
Begitu rapat itu berakhir, Mahavir langsung kabur dan meninggalkan ruang rapat itu. Menyisakan Stuart yang akan mengurus semua pekerjaan yang tersisa.
Dengan cepatnya Mahavir telah berada di landasan Jet pribadi milik keluarga Alister. Tidak menunggu lama jet pribadi itupun lepas landas, terbang dengan kecepatan tinggi membelah awan biru.
* * *
Di waktu yang bersamaan, pukul 15.00 di kediaman Pak Wijaya. Rachel baru terbangun dari tidurnya. Semalaman suntuk dia menangis sejadi-jadinya meluapkan segala penyesalan nya dan baru tertidur saat pagi hari tadi.
Rachel mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba memperjelas penglihatannya. Kedua matanya tampak bengkak hingga membuat bola matanya terlihat lebih kecil, nafasnya masih tersengal-sengal dengan hidung yang masih memerah.
Tangannya meraba ke nakas di samping tempat tidur dan meraih ponselnya, dilihat nya ada seratus lebih panggilan tak terjawab dari Mahavir. Rachel menelepon balik tapi tidak ada nada sambung yang terdengar.
Rachel bangkit dengan terhuyung-huyung membuka pintu kamar dan melangkah keluar, tapi rasa pening di kepalanya membuatnya oleng dan hampir terjatuh. Bryan sang adik yang kebetulan keluar dari kamarnya melihat Rachel yang terlihat lemas langsung menghampiri nya dan memapahnya kembali ke tempat tidur.
"Kakak ini kenapa sih? Bikin orang repot saja." Gerutu Bryan sambil menepuk-nepuk bantal dan menaruhnya di dipan tempat tidur, Rachel mengikuti arahan Bryan yang memposisikan tubuhnya setengah terduduk bersandar pada bantal tadi.
"Kakak lemas karena belum makan, tunggu disini, jangan kunci pintu lagi! Ingat jangan kunci pintu!!" Perintah Bryan kemudian beranjak keluar dari kamar Rachel.
Bryan melangkah menuju dapur, memerintah kan Bik Sumi menyiapkan makanan untuk Rachel. Kemudian berjalan ke kamar Ny Amitha.
"Mom, kak Rachel sudah bangun. Dia terlihat sangat kacau." Ungkap Bryan kepada mommy nya yang sedang menerima telepon, lalu dia kembali berjalan ke dapur.
"Ohh,kata Bryan barusan dia sudah bangun, iya jangan khawatir!" Seru Ny Amitha berbicara kepada suaminya dalam sambungan telepon. Hari ini Prof. Wijaya Langdon sedang memimpin sebuah seminar di sebuah Fakultas ternama di ibukota. Disela-sela istirahatnya dia sempat kan menelepon istrinya untuk mengetahui kabar dari putrinya. Setelah memutuskan sambungan telepon nya, Ny Amitha bergegas menuju kamar Rachel.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Tanya Ny Amitha kepada Rachel sesaat setelah terduduk di pinggir tempat tidur.
Rachel hanya mengangguk pelan. Tidak lama kemudian Bryan masuk membawa sebuah nampan berisi makanan.
Bryan terlihat mengernyitkan keningnya dan sedikit mendengus, kesal kepada Kakak satu-satunya itu. Kemarin seharian dia berputar-putar berkeliling mencarinya hingga malam hari. Tapi walaupun begitu Bryan masih memberikan perhatian lebih kepada wanita yang dianggap nya es balok itu.
Ny Amitha menyuapi Rachel yang terlihat lemas. Setelah makan beberapa sendok, Rachel kembali tertidur.
"Kakak mu sudah tertidur, jangan ribut." Pesan Ny Amitha sedikit berbisik kepada Bryan yang duduk bermain ponsel di sofa kamar Rachel.
"Aku akan tetap disini menemaninya, jangan sampai dia terbangun dan kembali mengunci pintu." Ujar Bryan menghempaskan tubuhnya berbaring di sofa itu dan melanjutkan bermain game di ponsel.
"Ya sudah, kalau begitu kamu temani kakakmu dulu! Mommy mau pergi lihat persiapan Catering dan lain-lainnya untuk besok, nanti Mommy dijemput sama daddy. Jadi kamu jangan keluyuran kemana-mana! " Perintah Ny Amitha yang hanya dibalas anggukan oleh Bryan.
Sore hari Rachel terbangun dengan perasaan yang sudah mendingan. Dilihatnya Bryan yang sedang ketiduran memegang ponsel didadanya pada sofa dekat tempat tidurnya. Rachel bangkit dari tidurnya dengan perlahan dan masuk kekamar mandi. Tidak lama kemudian dia keluar dengan penampilan yang lebih baik, wajah nya telah terpoles make up tipis walaupun masih tampak sedikit bengkak dimatanya.
Pukul 18.00, Bryan terbangun dan baru menyadari kalau kakaknya sudah tidak berada di kamar itu. Bryan menyusuri ruangan dilantai dua tapi tak menemukan Rachel, kemudian dia turun ke lantai bawah dan hanya melihat Bik Santi dan Bik Sumi yang sedang mempersiapkan makan malam.
"Bik liat kak Rachel?" Tanya Bryan.
"Tadi non Rachel keluar mas Bryan! Bik Santi sempat mencegahnya untuk keluar tapi mas Bryan tahu sendiri bagaimana non Rachel." Jawab Bik Sumi.
"Kenapa tidak membangunkan ku?" Gusar Bryan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Tadi Bibik cari ke kamar mas Bryan, tapi mas Bryan nya tidak ada, kami pikir mas Bryan tidak ada di rumah." Jawab Bik Santi dan Bik Sumi bersamaan.
"Aku ketiduran di kamar kak Rachel."
Bik Santi dan Bik Sumi saling berpandangan heran.
"Lah kok bisa mas Bryan tidak menyadari non Rachel pergi ya??"
Begitu kira-kira pemikiran Bik Santi dan Bik Sumi.
Bryan berlari kecil menyisir ke halaman rumah dan garasi, Porsche putih milik Mahavir sudah tidak ada terparkir. Bryan mengacak rambutnya kesal karena tidak terpikirkan olehnya untuk menyembunyikan kunci mobil kakak iparnya.
"Tadi sekitar jam 5 sore mas Bryan." Jawab bik Santi.
"Sial!!! Kerepotan apa lagi yang kau berikan untukku kak...! kak Vir cepatlah datang, aku sudah tidak mampu menjaga istri mu!!!" umpat Bryan sambil melangkahkan kakinya dengan malas menuju ke kamarnya, lalu mandi dan bersiap-siap untuk kembali berkeliling mencari keberadaan kakaknya yang merepotkan.
* * *
Semilir angin sepoi-sepoi menerbangkan beberapa helai anak rambut Rachel hingga membuat rambut nya tampak sedikit berantakan. Suara tawa anak-anak yang saling berkejaran terdengar melengking-lengking membahana, Bahkan sesekali ada anak yang menyenggol tubuhnya saat berkejar-kejaran.
Sore itu Rachel mengunjungi Panti Asuhan tempat Dirman di besarkan. Mungkin sudah telat baginya untuk mengenal Dirman lebih jauh, tapi hati Rachel seakan terpanggil untuk berkunjung ke tempat itu.
Panti Asuhan itu tidak terlalu besar, tapi tidak juga kecil. Cukup untuk menampung 100 anak Yatim piatu. Bangunannya semi dua lantai dan sudah tampak lebih besar dan lebih bersih dari saat terakhir dia berkunjung. Mungkin karena panti itu telah didaftarkan ke Yayasan yang didirikan oleh Pak Wijaya sebagai penerima tetap bantuan dana dari para donatur.
Saat ini Rachel terduduk dibangku di taman kecil yang berada di halaman Panti itu. Dia masih fokus melihat-lihat isi album foto yang dipegangnya. Walaupun sudah agak usang tapi tampilan foto-foto jaman dulu itu masih sangat jelas.
"Itu foto nak Dirman waktu mau berangkat sekolah hari pertama, waktu itu dia sangat antusias sekali, dia berlarian kesana kemari meminta ibu untuk memotret nya memakai seragam sekolah. Yah, walaupun saat itu seragam yang ada di panti sangat jauh dari kata layak pakai tapi dia tetap ngotot untuk memakainya." Ujar Ibu Mirna. kepala panti Asuhan itu menunjuk sebuah foto yang menampilkan anak memakai seragam usang dengan celana pendek selutut berwarna biru yang tampak kedodoran di tubuh cekingnya.
Rachel mengingatnya. Penampilan Dirman waktu itu mencuri perhatian satu sekolah, menjadikan dirinya sebagai bahan tertawaan dan ejekan anak-anak satu sekolahan. Karena keadaan nya itu hingga sering kali dia menjadi bahan bully-an.
Rachel menarik sedikit ujung bibirnya hingga memperlihatkan senyum tipis di wajahnya, tapi dari sudut matanya terlihat kristal bening yang hampir terjatuh.
Rachel membalik lembaran album itu, ada satu foto Dirman lagi yang sedang memegang sebuah Raport, dengan rambut bergelombang tidak beraturan dan senyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang besar dan berwarna kekuningan.
Rachel memutar memorinya mengingat-ingat pertama kali melihat Dirman itu dimana. Dia yakin pertama kali melihat Dirman itu bukan di sekolahan. Rachel memicingkan matanya mencoba mengingat lebih dalam. Dan...Yah, di perempatan lampu merah. Rachel mengingatnya samar-samar, saat itu ada anak yang biasa mengamen dan berjualan permen terserempet mobil dan dia turun untuk mengobati lukanya. Saat itu mata Dirman memang memandangi nya dengan lekat.
"Ah yang itu foto Dirman waktu dapat peringkat 10 di sekolah Pak Wijaya." Ujar Bu Mirna menunjuk ke foto tadi,membuyarkan ingatan Rachel yang samar-samar.
"Dirman bahkan berpuasa selama 3 hari berturut-turut karena bisa masuk sepuluh besar disekolah yang katanya seperti istana itu. Dari dulu dia sangat pandai tapi dia anak yang tidak mau menyusahkan orang-orang, setiap ada jatah bantuan dari pemerintah untuk bersekolah, dia lebih mendorong anak-anak yang lebih kecil darinya untuk didaftarkan lebih dulu. Baginya sudah cukup kalau dia bisa membaca dan berhitung. Tapi begitu Pak Wijaya, Ayah Nona Rachel menyekolahkannya di sekolah besarnya itu dia sangat girang dan tidak menolak nya, katanya malaikat nya juga bersekolah di sana. Entah malaikat apa yang anak itu maksud." Ujar Bu Mirna kembali menjelaskan dengan wajah berbinar-binar.
Rachel kembali tersenyum getir. Pelupuk matanya sudah tidak sanggup membendung air matanya yang hampir terjatuh. Dadanya kembali terasa sesak. Dengan cepat Rachel memalingkan wajahnya kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya seolah kelilipan oleh angin.
"Oh iya, sejak umur berapa Dirman berada di panti ini Bu?" Tanya Rachel setelah berhasil menghalau jatuhnya air matanya.
"Dia sudah disini sejak Lahir, ibunya dulu bekerja dan tinggal disini tapi meninggal karena sakit, jadi dia ibu besarkan bersama anak-anak yang lainnya. Dia salah satu anak kebanggaan ibu, dia sangat pandai, berani dan pekerja keras. Sesuai dengan nama yang diberikan oleh ibunya, Dirman Maha......" Ucapan Bu Mirna terputus karena salah satu anak yang berkejaran tadi terjatuh dan menangis. Bu Mirna bangkit dari duduknya dan menggendong anak yang terjatuh itu. "Nona Rachel makan malam di sini dulu yah, kami akan sangat senang kalau nona Rachel mau bergabung." Pinta Bu Mirna kemudian berjalan masuk ke dalam bangunan panti sambil membopong anak tadi.
Rachel mengangguk tipis.
Sepeninggal Bu Mirna dia masih menatap foto-foto yang ada ditangannya.
Dada nya masih terasa panas, dia mengingat betapa kejamnya perlakuan nya kepada Dirman dulu hanya karena merasa malu tersaingi oleh anak yang jauh dibawah levelnya, merasa cemburu padanya karena dia berhasil merebut perhatian orang tuanya. Tanpa Rachel sadari air matanya jatuh menetes diatas lembaran album foto itu.
Hari sudah beranjak gelap, Rachel masuk ke dalam Panti karena ajakan Bu Mirna yang sangat mengharapkan nya ikut bergabung makan malam bersama anak-anak Yatim Piatu yang di asuhnya.
Diruang tengah yang agak besar, tampak anak-anak duduk berjejeran berbaris memanjang saling berhadapan. Didepan mereka telah tersedia alat makan dengan lauk pauk seadanya. Sebelum makan mereka melantunkan beberapa doa memanjatkan rasa syukur atas makanan yang tersedia untuk mereka.
Sekali lagi hati Rachel terenyuh. Dia mengingat kata-kata Mahavir tempo hari sewaktu Berada di rumah makan.
"Kalau lagi lapar kan tidak boleh pilih-pilih makanan. Lagipula sudah kubilang kalau aku ini sempat dibesarkan di panti asuhan kan!!"
Dia baru menyadari arti dari perkataan Mahavir itu. Bahwa betapa berharganya setiap bentuk makanan yang ada. Dia sendiri merasa malu karena seringnya merasa jijik terhadap makanan yang mungkin sangat diharapkan oleh sebagian orang tertentu.
Setelah makan malam bersama itu. Rachel menyempatkan masuk melihat-lihat ke dalam kamar tempat Dirman dulu tidur, kamar dengan luas 3x2,5 meter. Dengan 2 ranjang besi bersusun di samping kiri dan kanan, serta 2 lemari plastik yang kini telah ditempati oleh anak yang lain. Sangat kontras dengan tampilan kamarnya yang luas dengan berbagai perabotan mewah.
Kata ibu Mirna, Dirman menempati kamar itu hingga umur 18 tahun. Rachel membayangkan bagaimana kamar yang begitu sempit itu bisa ditempati oleh 4 orang.
Rachel sempat berpura-pura menanyakan keberadaan Dirman saat ini, tapi Bu Mirna hanya menarik nafas panjang dan tersenyum tak mau memberikan jawaban apapun.
Bu Mirna dan Rachel bercakap-cakap panjang hingga lupa waktu. Pukul 09.00 malam, Rachel meninggalkan Panti Asuhan itu. Dia melajukan Porsche putih nya dengan sangat pelan, berkeliling mengitari jalan malam itu tanpa tujuan.
Membawa pikiran nya ikut larut dengan suasana hatinya.
* * *
~Terima Kasih sudah membaca 🙏 jangan lupa like, vote dan komen yaa 🤗🤗 Supaya Author juga semangat nulisnya... 🥰🥰
* * *