Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 55.Kakak ASTAGANAGA.


Sorry ya agak telat Up-nya 🙏


Sebelum baca boleh dong tekan like 👍 nya dulu...


kalau selesai baca tinggalkan jejak berupa komen,


kalau ada yang mau berbaik hati bisa berikan Vote juga🥰😍


Happy Reading... 😘


* * *


Dua hari lagi pagelaran yang cukup menyita perhatian dunia mode sejagat raya akan segera dimulai. Beberapa fashion designer dunia, serta ambassador dari brand-brand ternama pun mulai berdatangan dari berbagai negara.


Hiruk-pikuk dan euforia warga London dalam menyambut dan meramaikan suasana persiapan runway berkelas ini pun sangat jelas terlihat di sepanjang pusat perbelanjaan Oxford Street, dimana bangunan kantor yang merupakan rumah Mode Rachel berada. Bangunan rumah Mode yang terletak diantara bangunan-bangunan yang tampak kokoh dan berjejeran dengan perpaduan arsitektur bangunan tua yang menjadi kawasan gerai serta butik-butik fashion modern. Kawasan fashion yang meneguhkan London sebagai kota desain dan mode.


Tak terkecuali dengan kantor Rachel yang merupakan rumah Mode berlabel Rachel_Langdon. Sejak pagi-pagi tadi Rachel yang di antar oleh Stuart, kini sudah tenggelam dalam kesibukannya.


Ia sudah mengirim pesan pada Mahavir agar pagi hingga sore nanti untuk tidak menghubunginya dulu. Mahavir sempat protes, tapi Rachel tetap bersikukuh untuk tak akan mau mengangkat telepon dari suaminya itu saat bekerja. Membuat Mahavir mau tidak mau mengikuti keinginan istrinya.


Dan kini di kantor Mode yang terdiri dari ruang Lobby, Showroom butik, Ruang desainer dan ruang Produksi, terlihat begitu sibuk. Seluruh tim crew-nya hilir mudik dan larut dalam pekerjaannya masing-masing, ada yang membawa dan ada mengepak beberapa busana utama beserta busana cadangan.


Begitupun dengan para model-model yang akan tampil dalam runway nanti, mereka juga sudah berkumpul di tempat itu sebagai bentuk bagian dari profesionalisme mereka kepada sang fashion designer. Karena hari ini merupakan jadwal mereka untuk fitting atau mengepas pakaian yang akan di tampilkan saat berjalan di catwalk nanti.


Mungkin bagi sebagian desainer dan para model hal ini tidak terlalu penting, tapi bagi Rachel yang sangat memuja kesempurnaan, hal ini sangatlah penting karena akan berpengaruh pada kesuksesan fashion show-nya nanti. Untungnya para model yang telah lama ikut dengannya bersedia bekerja sama untuk proses fitting secara sukarela dan mengikuti segala keinginannya tanpa banyak mengeluh.


Dengan menyilangkan kedua tangannya sambil bersandar pada ujung meja, Rachel yang terlihat elegan dalam balutan blazer berwarna maron dan rok span selutut berwarna senada serta polesan make up smokey eyes dan lipstik berwarna merah gelap, kini sedang mengamati total look penampilan tiap model yang sedang mengepas pakaian di hadapannya.


"How? Is there anything that needs to be changed? too small or too big?" Tanya Rachel pada beberapa model yang telah mengepas beberapa busana dihadapannya sambil menyuruhnya memutar.


(bagaimana? apa ada yang perlu dirubah? kekecilan atau kebesaran?)


"It's just right, Miss Rachel." Jawab model berambut pirang itu memutar tubuhnya.


(ini sudah pas nona Rachel)


"Looks like this one needs to go down again." Ucap model berkulit hitam yang sedang mengepas dress summer berbahan Lacey sambil memegangi kerah busana yang dianggapnya terlalu tinggi.


(Sepertinya yang ini perlu turun lagi)


Rachel maju dan memeriksa dress yang membalut tubuh model itu, sedikit menariknya dan mengamatinya selama beberapa detik.


"Looks like it needs to go down a little." Ujar Rachel pada Marry yang merupakan asisten sekaligus ketua tim crew nya sambil menunjuk pada bagian kerah yang sedikit tinggi.


(Sepertinya memang perlu turun sedikit)


Dengan cepat Marry maju dan melihat apa yang Rachel perintahkan lalu menyuruh model itu untuk melepaskan busana yang digunakannya dan dengan segera membawanya ke ruang produksi untuk diperbaiki dengan cepat.


Rachel pun kembali memeriksa beberapa model yang fitting busana lainnya, dengan seksama Rachel mengamati dan mencocokkan karakter para model dengan detail baju yang dipakainya. Karena bagi Rachel para modelnya harus bisa mengekspresikan busana rancangannya di runway sesuai dengan karakter para model agar detail baju yang ingin ditonjolkan bisa tertangkap oleh mata yang melihatnya.


Setelah selesai pada proses fitting panjang yang cukup menyita waktu, para model pun berpamitan untuk beristirahat lebih awal, karena besok para model akan lebih disibukkan dengan mempelajari koreografi serta urutan dalam berjalan di catwalk nanti.


Kini Rachel-pun beralih pada segala aksesoris pendukung.


"What shoes to wear?" Tanya Rachel pada Marry sang ketua tim sambil memeriksa beberapa stok heels dari sebuah tablet.


(sepatu apa yang akan dikenakannya?)


"Yesterday we got again shoes, accessories and cosmetic sponsorship from several vendors" Jawab Merry seraya menyerahkan beberapa buklet, yang bergambar jenis-jenis sepatu dan yang beberapa buklet lainnya lagi yang berisikan gambar bermacam-macam aksesoris, serta beberapa sample kosmetik untuk digunakan oleh para modelnya.


(kemarin kita mendapatkan lagi sponsor sepatu, aksesoris dan kosmetik dari beberapa Brand dan vendor yang bekerja sama dengan kita)


"Again?" Rachel menaikkan kedua alisnya, setengah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Kemudian disusul dengan senyum yang mengembang. Entah ini suatu keajaiban atau hanya sekedar kebetulan, sebab berkali-kali ia telah melakukan fashion show, ia akan selalu mendapatkan kemudahan dengan sponsor dari berbagai pihak.


"Yess Miss Rachel, we are always lucky."


(Iya Nona Rachel, kita selalu beruntung)


Dengan senyum yang masih mengembang Rachel pun memeriksa beberapa sample kosmetik dari tangan Merry itu. Lalu beralih membuka-buka halaman buklet. Mengamatinya selama beberapa saat lalu menandai beberapa gambar sepatu berhak tinggi yang menurutnya sesuai dengan karakter busana rancangannya, kemudian beralih lagi ke buklet lainnya dan mengamati beberapa gambar aksesoris serta jenis-jenis headpiece.


"Use the one I marked, adjust the color of the dress!" Seru Rachel seraya memberikan buklet yang telah ditandainya kepada Marry.


(Gunakan yang saya beri tanda, sesuaikan dengan warna busananya)


Merry kembali mengambil beberapa buklet itu lalu beranjak meninggalkan ruang fitting.


Namun selang beberapa menit, Rachel ikut keluar ruangan dan menghampiri Marry di balik kubikelnya.


"Please set whose First stage, whose last stage, opening and closing." Perintah Rachel.


( Tolong kamu atur stage Pertama siapa, stage terakhir siapa, pembukaan dan penutupannya.)


"Okay miss Rachel...." Ucap Marry sambil menaikkan dua jempolnya.


Rachel tersenyum puas lalu melangkah menaiki anak tangga menuju ruang produksi untuk memeriksa beberapa busana yang baru selesai di jahit.


* * * *


Sementara di tempat lain, tepatnya di 55 Upper Ground, London SE1 9EY. Bryan nampak sedang asyik menelepon sang pujaan hati. Sudah hampir sejam mereka berbicara di telepon tapi tak ada tanda-tanda dari mereka akan mengakhiri sambungan telepon itu.


Risya yang berbaring di sofa dengan posisi terbalik, yakni kepala di dudukan dan kaki yang terangkat terjulur ke naik ke sandaran sofa tampak cemberut dan tertekuk sambil memainkan game online di ponselnya. Bryan sudah berjanji akan membawanya jalan-jalan tapi sampai sekarang Bryan belum juga keluar kamar. Berkali-kali dia mengintip ke dalam kamar Bryan, tapi pemuda itu masih saja belum selesai menelepon seseorang.


"Kak Bry, sudah selesai belum?"


"Udah siang nih. Katanya mau ajak Risya jalan-jalan." Teriak Risya yang tidak mendapat balasan dari Bryan.


"Kak Bry...!" Panggilnya sekali lagi, masih tak ada jawaban.


Lelah menunggu membuat Risya bangkit dan berjalan ke kamar Bryan. Tanpa mengetuk pintu, Risya langsung melangkah masuk ke kamar Bryan dan menghempaskan bokongnya terduduk di atas ranjang di samping Bryan yang berbaring tengkurap sambil menelpon. Bryan hanya melotot tanpa mengucapkan sepatah katapun lalu berbalik membelakangi Risya.


"Kak Bry...!" Panggil Risya lagi.


Bryan kembali berbalik dan memberi peringatan untuk diam dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya.


"Itu Rachel yang manggil kamu?" Tanya Raya di ujung sana.


"Oh, itu adiknya Rey. Anaknya kayak burung beo, gak bisa diam." Ujar Bryan menjelaskan pada Raya perihal suara perempuan yang di dengarnya dari sambungan telepon itu.


"Oh, Aku pernah liat fotonya di ponsel Rey. Anaknya cantik dan manis."


"Tapi masih cantik dan manis Aya...."


"Ihh, kamu udah pandai menggombal yah?" Terdengar suara kekehan beberapa saat lalu kembali berucap. "Dia masih 13 tahun yah?"


"Iya, dia masih SMP, masih bocah ingusan."


Mendengar dirinya disebut bocah ingusan membuat Risya mencubit pinggang Bryan dengan kuat.


Bryan meringis menahan sakit sambil membekap mulutnya dengan telapak tangannya, agar teriakannya tidak pecah. Dengan kesalnya Bryan mencengkram tangan Risya dan menghempasnya dengan kasar, diiringi dengan tatapan yang seakan ingin membunuh Risya. Lalu kembali fokus ke ponselnya seakan tak terjadi apa-apa.


"Kenapa Aya? Tadi kurang jelas." Sambung Bryan tanpa mempedulikan keberadaan Risya.


Risya mengusap-usap pergelangan tangannya, mendengus kesal lalu ikut membaringkan tubuhnya ke samping Bryan yang membelakanginya.


5 menit...


10 menit...


15 menit...


20 menit....


Hingga akhirnya Risya tertidur di samping Bryan, tanpa Bryan sadari sama sekali karena keasyikan menelepon dokter cantiknya.


"Jangan lupa makan yah, nanti Ian telfon lagi. Miss you Aya sayang.... Mmmuaacchhh." Ujar Bryan menutup sambungan teleponnya.


Begitu melihat Risya yang tengah tertidur membuat Bryan refleks menendang bokong Risya dengan keras.


BRUKKK...


Risya yang tengah tertidur terjungkal dan terjatuh ke lantai.


"AAAAHHHHH...GEMPA..GEMPA...!" teriak Risya yang tidak tahu menahu kejadian apa yang menimpanya.


Bryan yang sempat terkejut dengan aksinya sendiri, langsung tertawa terpingkal-pingkal begitu melihat tingkah lucu Risya yang terbangun karena mengira sedang terjadi gempa.


Mendengar Bryan terbahak-bahak, Risya langsung tersadar lalu bangkit sambil mengusap punggung dan bokongnya yang terasa nyeri.


"Ulah kakak ya Risya sampai jatuh ke lantai?" Mendelik kesal ke arah Bryan.


Bryan yang masih tertawa langsung mengatupkan kedua bibirnya dan menggeleng cepat.


"Kak Bry sadis!"


"Dibilangin bukan aku juga!"


"Siapa lagi coba kalau bukan kakak? Sakit tahu kak, untung Risya gak mati di tempat."


"Kamu mimpi kali." Jawab Bryan asal masih setengah tertawa lalu berdiri dan berbalik hendak keluar kamar.


Risya yang tidak terima, dengan lincahnya langsung melompat naik ke tempat tidur lalu kembali melompat dan bergelayut di pundak Bryan.


"What are you doing?" Teriak Bryan, terkejut dengan aksi Risya.


"Ayo ngaku! kak Bry yang buat Risya jatuhkan?"


"Enggak tuh." Menggeleng-geleng sambil berusaha melepaskan kedua tangan Risya yang mencekal lehernya dan kedua kaki Riska yang melingkar di pinggangnya.


"Ngaku!"


"Kalau aku yang nendang kamu, memangnya kenapa? Salah sendiri tidur di tempat tidurku."


"APA??? KAK BRY NENDANG RISYA??" Risya yang tidak Terima langsung menggigit telinga Bryan sekeras mungkin.


"AAAAAAWWWWWWWWW!!!!!!" teriak Bryan meringis kesakitan. Dengan kasarnya Bryan langsung menarik tangan Risya yang ada di lehernya, hingga membuat gadis itu terjungkal ke belakang dan terhempas ke tempat tidur. Namun kedua kakinya yang masih melingkar di pinggang Bryan membuat Bryan hilang keseimbangan dan ikut terjatuh menindih tubuh Risya.


"AHH... KAK BRY BERAT!" Teriak Risya sambil mendorong punggung Bryan dengan kasar hingga terjatuh ke sampingnya.


"Salah sendiri!" Seru Bryan kesal. Bangun lalu duduk dengan tangan yang terangkat memegangi telinganya yang memerah.


Risya ikut bangun, terduduk sambil menormalkan nafasnya. Kedua matanya membulat seakan bola matanya ingin melompat keluar, menatap nanar wajah Bryan yang terlihat meringis kesakitan.


"Apa lihat-lihat?" Bryan menatap balik.


"Dasar Cowok tidak berprikemanusiaan!" Pekik Risya.


"Apa kamu bilang?"


"TIDAK BERPRIKEMANUSIAAN." teriak Risya.


"ASTAGANAGA...!!!" Ikut teriak, menghela nafas sejenak lalu kembali berkata. "Justru kamu yang tidak berprikemanusiaan, nih kupingku hampir copot kamu gigit."


Risya yang tadinya emosi, tiba-tiba terdiam. Raut wajahnya yang tadi terlihat penuh amarah kini berubah menjadi tatapan yang tidak dimengerti oleh Bryan.


"ASTAGA RISYA INGAT SEKARANG." Teriak Risya untuk kesekian kalinya.


"KAKAK ASTAGANAGA ITU!!!" lanjutnya lagi membuat Bryan mengernyit kebingungan.


"Kakak Astaganaga?"


"Iyya, yang teriak-teriak di Garden Terrace. Sebelum acara pesta kak Rachel. Yang waktu itu teriak-teriak Astaga.... Apa yang kulakukan??


Aarrrrggghhhhh, bisa gila aku, Astaganaga apa yang aku ucapkan." Terang Risya memperagakan kelakuan Bryan dengan mengacak-acak kepalanya yang tak sengaja dilihatnya saat ia sedang asyik menikmati pemandangan kota di garden terrace hotel Calister.


Raut wajah Bryan yang tadi terlihat meringis seketika memerah karena malunya. "Kamu dengar semuanya?"


"Yup.. Yup.. Semuanya, dengan jelas!"


"Kalau kejadian sebelumnya? Kamu lihat"


Risya terdiam, satu alisnya terangkat sementara bola matanya terlihat memutar. Sesaat kemudian terlintas di benaknya untuk mengerjai Bryan. "Hmmm aku lihatlah, semua perkataan kak BRY juga aku dengar semuanya." Ucap Risya berbohong.


Bryan langsung menepuk kepalanya. "Jangan bilang-bilang pada kak Rachel yah...!"


"Yang mana?"


"Semua yang kamu dengarlah!"


"Tapi ada syaratnya."


"Apa syaratnya?"


"Selama aku disini, ikuti semua keinginanku."


Bryan mengusap tengkuknya, sedikit berfikir lalu mengangguk pelan. "Tapi ingat, jalan bilang-bilang ke orang lain!"


"Deal.." Mengacungkan jari kelingkingnya.


"Hah.. Tidak usah pakai gitu-gituan." Mendorong tangan Risya.


"Ihh, ini tandanya kita deal." Menarik paksa tangan Bryan dan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Bryan. "Kakak janji ikuti semua keinginan Risya."


"Iyyah..!" Mengangguk dengan malas lalu menarik dan mendorong Risya keluar kamar. "Sekarang kamu keluar. Anak gadis tidak boleh lama-lama di kamar cowok."


"Tapi itu telinga kakak gak apa-apa?" Menarik kaos Bryan agar menunduk, lalu sedikit berjinjit memeriksa telinga Bryan. "Astaga, sampai lecet kak."


"Gara-gara siapa coba?"


"Maafin Risya. Kan kak Bry duluan yang jahil. Punggung dan bokong Risya saja masih nyeri."


"Iya, aku juga minta maaf. Aku juga tidak sengaja, tadi refleks karena kaget kamu tidur di belakangku."


"Apa ada kotak P3K disini? Risya obatin telinga kakak yah?"


"Gak usah, nanti sembuh sendiri."


"Tapi nanti perih loh." Kembali berjinjit dan melihat luka bekas gigitnya. "Tuh, lecetnya sedikit berdarah. Dimana kotak obatnya, biar Risya yang ambil."


"Dibilangin tidak usah."


"Ini termasuk keinginan Risya loh, kak Bry barusan sudah janji mau mengikuti keinginan Risya."


Mendesah pelan. "Baiklah, kotak obatnya ada di ruang kerja kak Vir, kemarin waktu mengambil kunci mobil aku melihatnya di lemari."


"Kak Vir?"


"Suami kak Rachel."


"Oh, kakak yang tinggi dan tampan itu yah."


"Iyyah"


* * * *


Makasih masih setia disini...


peluk cium dari Author 🤗😘