
Rachel memejamkan matanya begitu mendengar suara pintu kamar menutup dengan perlahan, dari ekor matanya ia masih sempat melihat dengan sepintas sosok Mahavir yang berdiri menatapnya di ambang pintu. Sosok laki-laki yang sebenarnya sudah merasuk ke dalam hatinya.
Sakit, ia juga merasakan sakit memperlakukan Mahavir seperti itu, namun ia sendiri tak tahu mengapa hatinya begitu tak bisa menerima semua kenyataan ini. Amarah karena merasa dipermainkan membuat kebenciannya terhadap laki-laki itu tiba-tiba mendominasi dihatinya. Rachel kembali membaringkan tubuhnya ke ranjang, meringkuk seperti seorang bayi dengan memeluk kedua lututnya. Menangisi kehidupannya saat ini, menangisi dirinya yang tak tahu akan berbuat apa kedepannya.
Sementara di luar kamar, Mahavir kembali ke pantry. Menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri dan menyantapnya juga seorang diri. Walaupun saat ini ia tak punya nafsu makan sama sekali, namun ia tetap memaksakan diri untuk mengisi tenaganya.
Di ruang makan yang hening itu, Mahavir tertunduk dalam diam, di setiap satu sendokan yang masuk ke mulutnya, airmatanya juga ikut jatuh menetes ke bawah. Jakunnya berkali-kali naik turun, seiring betapa kuatnya ia menelan makanan hasil kunyahannya serta mencoba menahan tangisnya secara bersamaan.
Mahavir mendesah pelan, meletakkan kembali sendoknya ke atas piring dan mendorong piring itu menjauh dari hadapannya. Meneguk air dari gelas kaca bening sebanyak dua tegukan lalu ikut meletakkannya menjauh bersama piring tadi.
Ahh... Bahkan air minum pun begitu terasa susah turun di kerongkonganku....
Mahavir menarik nafas dalam-dalam dan kuat-kuat, mencoba meredam sesuatu yang mendera batinnya. Namun sepertinya gagal, karena setelahnya, tangisannya malah pecah. Kedua tangannya terangkat dengan cepat mengusap kedua pipinya.
Tidak... Tidak, aku seorang laki-laki...
Aku tak boleh seperti ini...
Aku harus kuat, aku tak boleh menyerah
disaat aku sudah sejauh ini....
Mahavir bermonolog seorang diri. Baginya yang seorang lelaki, sangat memalukan menangis seperti itu. Tapi saat ini dia seorang diri, jadi mungkin tidak masalah jika ia sedikit meluapkan emosinya. Kedua tangannya terlipat di atas meja makan, kemudian ia membenamkan wajahnya bersembunyi di atas tangannya itu. Hening, tak ada suara sedikitpun. Hanya saja bahunya terlihat bergetar dan naik turun dengan cepat. Menandakan bahwa laki-laki itu menangis dalam diam.
Keduanya lama larut dalam kesedihan dan egonya masing-masing. Hingga akhirnya Rachel memutuskan untuk lebih baik menyibukkan dirinya di kantornya daripada berdiam diri menangisi kebodohannya. Rachel pun keluar kamar setelah membersihkan diri dan sedikit berhias. Langkahnya terhenti begitu tiba di ruang makan, setetes airmatanya sempat lolos dari pelupuk matanya mendapati laki-laki yang memporak-porandakan hatinya terduduk disana dengan keadaan yang sangat kacau. Rachel menarik nafas dalam-dalam sebelum perasaannya kembali goyah.
"Aku mau ke kantor....." Ucapnya lirih. Entah untuk sekedar memberitahukan atau meminta izin. kemudian kembali melangkahkan kakinya.
Mahavir yang memang sudah menyadari keberadaan istrinya sejak tadi mengangkat kepalanya lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tapi kamu masih lemas..." Ucapnya dengan suara parau lagi serak.
Rachel menghentikan langkahnya. "Aku baik-baik saja." Ucapnya tanpa berbalik.
"Aku antar..." Bangkit berdiri, melangkah menuju wastafel dan membasuh wajahnya dengan cepat.
* * *
Sepanjang perjalanan, di dalam mobil keduanya hanya terdiam. Rachel lebih memilih memalingkan wajahnya ke samping, sementara pandangan Mahavir fokus kedepan. Menyetir dengan satu tangan dan tangan lainnya bertumpu di samping, di bingkai jendela sambil jemarinya memijit-mijit pelipisnya.
Lama laki-laki itu terdiam dalam posisinya dengan berbagai pemikiran di dalam kepalanya, hingga akhirnya ia tersadar bahwa saat ini ia masih punya harapan dengan janin yang berada dalam kandungan Rachel. Harapan yang mungkin bisa membuat istrinya itu tergugah dan berubah pikiran untuknya. Dengan cepat Mahavir memutar stir, merubah arah jalur mobilnya dengan arah sebaliknya dari kantor Rachel.
Rachel menautkan alisnya begitu mobil berbelok, ia berbalik menengok Mahavir sesaat, namun kembali memalingkan wajahnya kesamping karena enggan berbicara sedikitpun.
"Kamu tak bertanya kita mau kemana?" Tanya Mahavir yang tidak melihat respon apa-apa dari istrinya. Biasanya disaat seperti ini, wanita itu akan terus saja bertanya tanpa henti. Tapi kini, dia hanya mematung.
"Kamu tidak penasaran?" Tanyanya lagi, memancing wanita yang terduduk disampingnya untuk berbicara. "Mungkin saja aku membawamu ke penjagalan hewan loh... Heheh." Lanjutnya dengan sedikit terkekeh, mencoba bergurau dan bersikap seperti biasa walau hatinya terasa tersayat.
Rachel hanya melirik sekilas, namun masih tidak merespon apa-apa. Mahavir memejamkan matanya, satu tetesan bening terjatuh di sudut matanya tapi dengan cepat jarinya terangkat dan mengusap sudut matanya itu. Ia pun kembali fokus ke depan dan mengemudi dengan tenang. Hanya saja kedua tangannya mencengkram stir dengan begitu kuatnya.
Pandangan Rachel masih saja terarah ke samping, mengamati jalan dalam diam. Pasrah kemanapun Mahavir membawanya. Begitu mobil masuk ke dalam kawasan rumah sakit hingga akhirnya parkir di sana pun Rachel masih juga tak merespon apa-apa.
Mahavir mematikan mesin mobilnya, berbalik memandangi Rachel sejenak, kemudian mendekat dan membukakan seatbelt-nya. Sekali lagi, tak ada respon apa-apa dari wanita itu, bahkan penolakan sekalipun. Ia terduduk disana layaknya sebuah patung yang tak bernyawa. Mahavir semakin mendekatkan wajahnya ke hadapan istrinya itu hingga hembusan nafasnya begitu terasa di permukaan kulit wajah Rachel. Jari-jari besarnya terangkat menyelipkan anak-anak rambut Rachel ke belakang telinganya dengan lembut.
"Masih belum penasaran kenapa kita kesini?" Tanya Mahavir lagi, memancing tuk kesekian kalinya sambil menatap kedua mata Rachel dan berusaha mengulas senyumnya.
Sorot mata Mahavir yang terus menerus berusaha menerobos masuk ke dalam matanya membuat Rachel memejamkan matanya, aroma hembusan nafas laki-laki itu tiba-tiba membuat perasaannya tidak enak hingga merasakan mual kembali.
"Hoekk..." Satu tangannya terangkat dengan cepat membekap mulut serta hidungnya sekaligus, dan satu tangan lainnya mendorong Mahavir menjauh.
"Aroma ku juga tidak enak?" Tanya Mahavir sambil mengendus aroma tubuhnya dengan sengaja, lalu tersenyum sambil mengusap lembut rambut Rachel.
Rachel bahkan tak berkutik saat Mahavir mengecup keningnya dengan cepat lalu turun dari mobil dan membukakan pintu buatnya. Menarik tangannya, menautkan jari-jemari jenjangnya kedalam jari-jari besarnya, dan menggenggamnya dengan erat. Bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Menuntunnya berjalan memasuki koridor rumah sakit yang ia sendiri tak mengerti buat apa mereka kesana.
Genggaman tangan laki-laki itu baru terlepas begitu tiba di lobby rumah sakit.
"Tunggu sebentar disini." Ucapnya lalu menghampiri meja resepsionis. Bercakap-cakap sebentar dengan seorang staf disana lalu kembali menghampiri Rachel, menarik tangannya dan kembali menggenggamnya. Rachel hanya mengikut dengan patuh
Keduanya memasuki lift yang berhenti di lantai tiga. Kemudian Mahavir kembali menuntun Rachel berjalan melewati koridor panjang yang mengarah ke salah satu ruang pemeriksaan. Sebuah ruangan dengan nuansa hangat dengan papan nama di depan pintu yang membuat langkah Rachel terpaku setelah membacanya.
Menyadari Rachel yang bergerak menjauh, dengan lincah Mahavir menarik tangannya dan mengunci pergerakan istrinya dengan merangkul pinggangnya.
"Untuk memeriksakan dirimu." Mengecup kepala Rachel sekilas. "Untuk melihat perkembangan anak kita." Imbuhnya, yang langsung membuat pupil mata Rachel membesar.
"Tidak... Ini tidak mungkin, tidak..! Aku tidak hamil. Tidak mungkin. Aku tak mau." Racaunya dan berusaha melepaskan diri dari Mahavir.
Mahavir tak tinggal diam, dengan cepat ia menarik dan membawa Rachel masuk ke ruangan itu. "Jangan mempermalukan dirimu dengan membuat keributan disini." Bisiknya setengah mengancam. Rachel akhirnya pasrah dan mengikut.
Di dalam sana seorang dokter wanita paruh baya dengan bola mata berwarna biru beserta seorang perawat yang tampak seperti asistennya langsung menyambut dengan ramah.
Setelah berbasa-basi sedikit, dan memeriksa tekanan darah Rachel, Dokter wanita yang bernama Caroline itu langsung mengarahkan Rachel agar berbaring di brankar pemeriksaannya. Sang asisten pun bergerak cepat menutup bagian tubuh bawah Rachel dengan selimut saat dokter Caroline menyingkap dress Rachel ke atas hingga memperlihatkan perut ratanya yang berkulit putih mulus.
Menyadari kegugupan Rachel, Mahavir yang duduk di samping brankar kembali menggenggam erat tangan istrinya yang terkepal dan sudah basah akibat berkeringat dingin. Kedua mata Rachel terpejam saat alat USG beserta gel yang terasa begitu dingin menyapu dan bergerak-gerak di permukaan kulit perutnya. Kembali sudut matanya meneteskan bulir bening yang kemudian dirasakannya diusap oleh jari seseorang. Yang sangat dipastikan bahwa jari itu milik Mahavir.
"Do you remember when your last menstruation period was?" (*Apakah Anda ingat kapan terakhir menstruasi?) Tanya dokter Caroline sambil terus menggerak-gerakkan alat USG nya.
Rachel hanya menggeleng dengan mata yang menatap nanar Mahavir. Sementara Mahavir yang ditatapnya justru lebih fokus melihat ke layar USG. Memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter Caroline mengenai gambar yang ditampilkan oleh alat itu dengan wajah sumringahnya.
"Everything looks good, according to the measurement, it looks like your pregnancy has entered the third week." (*semuanya terlihat bagus, menurut ukurannya, sepertinya kehamilan Anda sudah memasuki minggu ketiga.) ucap dokter Caroline sambil memperlihatkan titik kecil di dalam sebuah lingkaran yang merupakan kantung kehamilan.
Mahavir terus saja mengamati layar USG dengan begitu antusias dan menjawab berbagai pertanyaan dari dokter Caroline menggantikan istrinya yang hanya terdiam bahkan lebih terlihat syok dengan keadaan dirinya sendiri.
Sepanjang jalan menuju parkiran, Mahavir terus merangkul Rachel dengan mata yang tak lepas sedikitpun memandangi kertas foto bergambar janin hasil USG empat dimensi yang diberikan oleh dokter Caroline dengan begitu penuh rasa sukacita. Bahkan ketika mereka sudah terduduk didalam mobil, Mahavir tak henti-hentinya tersenyum sambil mengecup berkali-kali foto itu.
"Apa kamu tak penasaran ingin melihatnya?" Tanya Mahavir dengan lembut sambil menyodorkan foto tersebut ke depan Rachel, namun istrinya itu malah memalingkan wajahnya ke samping. Mahavir menghela nafas. Foto hasil USG itu di masukkannya ke dalam saku coatnya lalu kembali memandangi istrinya.
"Sayang....." Mahavir mendekat dan mengelus lembut kepala Rachel. "Tak apa kalau kamu membenciku, tapi jangan membenci anak kita." Pintanya seraya memegang dagu Rachel dan membuatnya berbalik menghadapnya.
"Bukankah kamu juga senang dengan kabar gembira ini, hmm??" Tanyanya lagi sambil mengelus lembut pipi Rachel.
Rachel kembali terisak, airmata yang sedari tadi tertahan dan menggenang di pelupuk matanya akhirnya terjatuh. Saat ini dia betul-betul tak tahu harus merasa gembira atau sedih. Kehamilan yang datang di waktu yang tidak tepat membuat perasaannya kacau dan bimbang. Kabar yang harusnya membuatnya gembira justru saat ini malah membuatnya semakin terbelenggu oleh Mahavir.
"Sayang... Jangan seperti ini. Kamu juga akan menyakitinya..." Ucap Mahavir sambil mengelus lembut perut Rachel yang masih rata.
"Aku...aku tak menginginkannya....aku belum siap...." Lirihnya dengan terisak sambil menepis tangan Mahavir yang berada di perutnya.
"Rachel..!!" Memegang kedua bahu Rachel dengan sedikit kuat. "Mau tidak mau, kamu harus menerimanya, ini darah daging kita. Hasil cinta kita. Satu-satunya hal yang akan mengikat kita berdua selamanya."
Rachel menggelengkan kepalanya, tersenyum sinis diikuti tangisan yang tertahan. "Inikan yang kamu harapkan? Inikah rencanamu selama ini?"
'BUKKK....'
Mahavir memukul stir mobil dengan kasar. Perkataan Rachel lagi-lagi melukai harga dirinya. Membuat emosi yang sedari tadi ditahannya meluap dan membangkitkan amarahnya. Rahangnya mengeras, kilat amarah begitu terpancar dimatanya. Tanpa berucap lagi Mahavir langsung menyalakan mesin mobil, menancap gas kuat-kuat dan melajukan mobil sport-nya seperti orang kesetanan. Untungnya jalan siang ini cukup sepi sehingga mobil mereka bebas hambatan tanpa terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
Dalam sekejap, mobil sport yang dikendarainya kini sudah terparkir rapi di ruang private park penthousenya. Mahavir turun dan langsung membanting pintu dengan keras.
Meninggalkan Rachel yang masih terduduk sambil terisak di bangku penumpang. Terus berjalan tanpa berbalik sedikitpun, melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift yang langsung membawanya naik ke lantai teratas gedung mewah itu.
Rachel yang masih bersikeras dengan egonya, turun dari mobil dengar perlahan. Berjalan dengan gontai meninggalkan area privat parkir tersebut. Tapi bukan menyusul Mahavir naik ke atas, ia malah melangkah keluar gedung. Menahan taksi berwarna hitam dan menaikinya. Meminta kepada sang supir untuk membawanya berkeliling mengitari kota London. Setidaknya berkeliling melihat dunia luar bisa menghilangkan penat di hatinya.
Lama taksi itu berputar-putar membawanya berkeliling hingga akhirnya berhenti di kawasan Queen's walk. Rachel berjalan dengan tertatih-tatih menyusuri kawasan itu, kemudian duduk di salah satu bangku besi yang mengarah ke sungai Thames. Tatapannya kosong menerawang jauh kedepan sana.
Langit sudah mulai berubah warna, tampak warna birunya langit dan pancaran cahaya berkilau orange keemasan dengan gradasi ungu violet yang unik saling membaur menghiasi cakrawala diatas sana. Udara pun semakin turun ke suhu terendah, membuat orang-orang yang berlalu lalang semakin merapatkan jaketnya.
Rachel tersentak Dari lamunannya begitu seseorang tiba-tiba menyampirkan sebuah jaket tebal berbahan wol ke punggungnya dari belakang.
"Ayo pulang, kamu bisa masuk angin nanti."
* * *
Happy Reading All.... 🤗
Maaf yah baru bisa Up sekarang, soalnya othor semakin sibuk dan gak ada waktu buat nulis. Bab ini saja nulisnya nyicil-nyicil abis Tarwih dan sesudah sahur tadi karena sudah kelamaan gak Up. 🙏🙏
Buat yang masih betah nunggu kelanjutan kisah mereka, kk othor mengucapkan banyak-banyak Terima kasih...🥰😍 tanpa kalian karya othor ini bukanlah apa-apa... 😊☺
Salam sayang dari kk Author 🤗😘