
Rachel mengedarkan pandangannya mencari keberadaan dua sahabat yang ternyata sedang asyik berselfie ria dengan siswa-siswi lainnya.
Saat akan menghampiri dua sahabat nya itu, tiba-tiba Rachel bertabrakan dengan seseorang.
"Shittt!!" Umpat Rachel kala gaun yang di pakai nya terkena tumpahan minuman dari seorang laki-laki yang menubruknya barusan. Dengan kesalnya Rachel bergegas menuju toilet VVIP yang berada di samping ballroom itu.
Langkah kakinya terdengar menggema seiring sepatu heels berwarna gold saling beradu di atas licinnya lantai marmer di sepanjang koridor penghubung antara ballroom dan toilet VVIP. Kepala Rachel menunduk dengan kedua mata yang fokus pada noda yang melekat pada gaun off shoulder berwarna rose gold nya, hingga tidak menyadari seorang laki-laki yang sedang berjalan menyusul nya dibelakang.
Saat akan berbelok ke toilet perempuan, Rachel baru menyadari seseorang membuntuti nya sedari tadi. Bergegas Rachel mencoba berlari tapi terlambat, laki-laki itu langsung membekap hidung dan mulut nya dengan sebuah saputangan.
"Mmmppphh..... Mmmmpphhh...!!"
Sekuat tenaga Rachel meronta-ronta tapi pada akhirnya setelah Rachel merasakan aroma kuat yang ada pada saputangan itu, tubuhnya seketika menjadi lemas dan tak bisa bergerak.
Walau demikian Rachel masih berada dalam setengah kesadarannya. Samar-samar Rachel merasakan tubuhnya terangkat.
Tolongggg.... Tolonggg..... Rachel berusaha berteriak meminta tolong tapi jangankan suara, bahkan bibir nya pun sangat sulit untuk terbuka
Kedua matanya berusaha untuk tidak terpejam tapi kelopak matanya begitu berat. Dia hanya sempat melihat kehadiran pria lain yang langsung mengambil alih tubuhnya ke dalam gendongannya.
Mungkin karena dosis obatnya yang hanya sedikit membuat Rachel sayup-sayup masih bisa mendengar setiap perkataan dua orang itu.
"CCTV-nya sudah dimatikan untuk sementara, waktu mu 10 menit sebelum CCTV itu kembali dinyalakan."
"God job..!!"
"Dir, kamu serius dengan ini? Kalau ketahuan bisa berabe..." Ucapnya.
Rachel yang masih bisa menangkap samar pembicaraan itu terkaget dengan disebutkannya nama 'Dir'.
'Dir????' apa Dirman dalang di balik ini?? Hanya dia yang punya alasan kuat untuk membalas ku... Rachel yang diselimuti ketakutan menduga-duga.
"Don't worry... Aku hanya ingin memberi gadis sombong ini pelajaran!! Tugasmu hanya sampai disini. Aku akan bersenang-senang dengannya dulu.. Hahahhh..."
Suara tawa laki-laki itu begitu nyaring, menyusup memasuki gendang telinga Rachel yang sudah tak berkutik. Dirasakannya tubuhnya melayang-layang dalam gendongan laki-laki itu yang terus membawanya hingga berakhir di sebuah tempat empuk dan nyaman yang Rachel yakini adalah sebuah kasur. Benda basah dan hangat dirasakan Rachel mencecapi permukaan kulit wajah serta bibirnya hingga turun ke leher dan dadanya secara serampangan, gigitan-gigitan kasar yang sangat brutal bersamaan dengan jari-jarinya yang bergerak mencengkram dan menarik atasan gaunnya hingga terbuka bebas memperlihatkan lekukan-lekukan dadanya.
Tolongg... Tolong.. Siapun..tolong aku.... Jerit Rachel terisak-isak dalam ketidakberdayaannya. Namun tak ada sedikit pun suaranya yang berhasil lolos keluar dari kedua bibirnya.
Sekuat tenaga Rachel mengumpulkan kekuatan untuk bisa tetap terjaga. Hingga samar-samar Rachel melihat wajah laki-laki yang tengah berusaha menodainya. Dirga? diakan anak laki-laki yang selama ini mengejarku...Rachel mengenalinya. Dan sedetik kemudian..
"PRANGG"
Dalam usaha perlawanan nya, Rachel dikejutkan dengan suara hantaman nyaring yang memekakan telinganya. Suara pecahan vas bunga berbahan kaca yang terhempas ke kepala laki-laki yang berada tepat di depan matanya. Sukses melumpuhkan laki-laki itu. Hingga kemudian sosok wajah lain yang cukup dikenalinya muncul tiba-tiba dihadapannya.
Dirman?? Apa yang kamu lakukan? Apa ini semua ulahmu?...Apa kalian bekerja sama..Tolong.. Lepaskan aku....
Sekuat tenaga dia mengumpulkan tenaga untuk melawan, begitu tenaga nya terkumpul, dia langsung menjerit-jerit histeris. Begitu ketakutan mendapati tubuhnya di nikmati oleh dua pria yang berbeda.
Semakin memberikan perlawanan tubuhnya semakin lemas, dan semakin kehilangan tenaga. Dapat dirasakannya tubuh Dirman yang jatuh menindih tubuhnya seiring dengan hilangnya kesadarannya.
Tolong....
Tolong....
Tolong...
Tolong...
Rachel menjerit-jerit histeris dalam ketidaksadaran nya...
"Rachel..."
"Sayang... Sadarlah..."
"Rachel... Sayang.... Sadar.. Sayang..." Mahavir mengguncang pelan kedua bahu Rachel.
"Rac...." Panggilan Mahavir terjeda begitu Rachel tersadar dan langsung memeluknya. Kedua tangannya bergetar. Bahunya naik turun seirama tangisannya.
"Tenang... Tenanglah...." Mahavir mendekap erat tubuh Rachel dan memenangkan nya.
"Vir... Vir... Dia... Dia...." Suara Rachel terdengar parau dan serak. Dadanya naik turun berusaha menetralkan napasnya yang terengah.
Rachel mendongak dan menatap kedua manik mata Mahavir, seakan ingin menumpahkan segala ketakutannya. "Vir, Dirga.. Dirga, Aku mengingatnya.. Dia.. Dia yang dulu mencoba...."
"Tenanglah, tenanglah, dia sudah tidak bisa mengganggu mu lagi, aku sudah membereskannya. Tidak usah mengingat nya lagi!" Mahavir semakin mengeratkan dekapannya dan terus mengusap lembut punggung Rachel hingga dia merasa tenang.
Setelah beberapa saat, Rachel yang sudah bisa mengendalikan dirinya langsung melepaskan pelukan Mahavir dengan canggung. Dia mengedarkan pandangan nya melihat keadaan disekitarnya.
Mahavir menyadari kebingungan Rachel itu. "Kita sudah pulang, sekarang kita di hotel Calister. kamu sudah aman bersamaku" Ucapnya sambil meraih anak-anak rambut Rachel yang menutupi sebagian wajahnya, lalu menyelipkan nya kebelakang telinga.
"Bagaimana bisa?"
Kembali Mahavir menenggelamkan tubuh Rachel dalam dekapannya dan mengecup keningnya. Rasa lega langsung memenuhi ruang hatinya. "Kita pulang naik helikopter. Kamu cukup lama tidak sadarkan diri hingga sampai disini."
"Yang lainnya?"
"Bryan dan Raya juga ikut, mereka ada hotel ini." Mahavir lalu melepaskan pelukannya dan berdiri mengambil nampan berisi makanan yang ada di nakas samping tempat tidur. "Makanlah dulu, kamu belum sempat makan malam tadi. Sekarang sudah hampir pagi.
"Aku tidak lapar vir..."
"Makanlah biar sedikit." Mahavir menyendokkan makanan ke depan bibir Rachel. Rachel pun memakannya walaupun cuma sampai 4 sendok. Segera setelah meminum air putih, Mahavir kembali membaringkan Rachel dan menarik selimut hingga ke dada Rachel.
"Sekarang istirahat lah kembali." Ucapnya sambil mengusap kepala Rachel.
"Temani aku, aku takut...." Pinta Rachel, menarik tangan Mahavir yang hendak beranjak dari tempat tidur itu. "Jangan tinggalkan aku sendiri...." Lirihnya.
Mahavir pun kembali membaringkan tubuhnya di samping Rachel. Dengan segera Rachel merapat dan melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya itu. Mengikis jarak yang ada diantara mereka.
"Vir....."
"Hmm...."
"Bisakah kita kembali ke London?"
"Tentu saja bisa, kemana pun kamu mau aku akan membawamu. Ingatlah bahwa sekarang kamu sudah memilikiku."
Rachel mendongak, lalu mencium pipi Mahavir sekilas. "Terima kasih." Ucapnya lalu menyembunyikan wajahnya ke dada Mahavir.
Mahavir tersenyum lembut, "Istirahatlah, aku tidak akan kemana-mana."
Rachel semakin merapatkan wajahnya ke dalam dada Mahavir. Menghirup aroma tubuh laki-laki itu yang entah sejak kapan menjadi candu buatnya.
Mahavir mengecup kilas kening Rachel. Matanya senantiasa mengawasi pergerakan Rachel yang semakin menenggelamkan dirinya dalam pelukannya.
Saat ini dia tidak tahu harus bersikap bagaimana, harusnya dia merasa senang karena pelan-pelan Rachel sudah mau menerima dirinya, bahkan semua sentuhannya sudah tidak ditepis oleh wanita itu. Tapi diluar itu, dihati terdalamnya terselip rasa bersalah yang teramat besar.
* * *
Rachel menggeliat pelan, kehangatan yang dirasakannya menghilang. Tangannya meraba-raba permukaan kasur mencari keberadaan Mahavir.
"Kamu sudah bangun?"
Rachel mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, mencari keberadaan sumber suara. Dilihat nya Mahavir yang terduduk di sofa sedang memangku laptopnya. Sepertinya dia sudah mandi, dilihat dari penampilan nya yang sudah rapi dan bersih.
Rachel mengangkat tubuhnya lalu bersandar pada headboard tempat tidur. Mahavir menghampiri setelah meletakkan laptopnya ke atas meja.
Mahavir memberikan segelas air putih, Rachel menerimanya dan langsung meneguknya hingga setengah.
"Bagaimana perasaan mu?"
Mahavir tersenyum dan mengusap pucuk kepala Rachel. Rachel meraih tangan Mahavir dari atas kepalanya dan menggenggam nya.
"Kapan kita kembali ke London?"
"Sekarang pun bisa, tapi sebaiknya kita bicarakan dulu dengan daddy dan mommy mu yah..."
"Hmmm...Baiklah."
"Sekarang aku sudah bisa keluar sebentar? Aku cuma mau ke ruang kerjaku di sebelah."
Rachel mengernyitkan keningnya. "Pergi saja, kenapa minta izin segala?"
"Memangnya siapa yang menyuruhku untuk terus menemaninya, melarangku kemana-mana!!" Mahavir berucap sambil tersenyum-senyum.
Rachel mendengus kesal, lalu berdiri dan mendorong Mahavir keluar dari kamar itu.
"Sana, sana, pergilah..."
"Oh, gitu... Habis manis, sepah dibuang..."
Rachel memutar matanya, kesal. Tapi kemudian terulas senyum di wajahnya.
Mahavir mencubit pipi Rachel pelan. "Mandi lah dulu, aku tunggu disebelah. Lalu kita turun bersama menemui Raya dan Bryan. Mereka sangat mencemaskanmu semalaman."
"Hmm... Baiklah..." Ucap Rachel lalu menutup pintu usai Mahavir keluar dari ruangan itu. Dengan segera Rachel masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.
* * *
Bryan dan Raya duduk menikmati sarapan mereka di Cafe dan Resto Calister hotel. Raya menikmati sarapannya dengan santai sambil menikmati pemandangan kota dari balik jendela kaca yang besar di samping nya.
Bryan yang duduk tepat di hadapan Raya menjadi tidak konsen setiap kali melihat bibir Raya yang mengunyah makanan. Bayangan bibir Raya yang tidak sengaja diciumnya terus terbayang-bayang dalam ingatannya. Membuat kedua pipinya merah merona.
"Bryan, kamu kenapa?"
"Hah.. Ti...tidak apa-apa." Jawabnya dengan gugup.
"Mukamu merah, kamu sakit?" Raya bangkit dari duduknya lalu berpindah ke sebelah Bryan, tangannya bergerak menyentuh kening Bryan dan seluruh permukaan wajah Bryan. Raya pun menangkup pipi Bryan dengan kedua tangannya lalu mengarahkan wajah pemuda itu menghadap ke depan wajahnya. "Kenapa wajahmu merah begini? Tuh.. Telinga juga ikut memerah."
Seakan tersengat listrik, Bryan reflek menjauh dan,
'BRUKK'
Seketika semua mata di dalam restoran mewah itu mengarah ke Bryan. Bryan terjatuh dari kursinya, hingga pantatnya berhasil mendarat ke lantai marmer Restoran itu.
Melihat itu Raya terkekeh-kekeh. "Kamu lagi aktraksi ya?" Tanya Raya menahan tawanya sambil menarik Bryan, membantunya berdiri.
Bryan bersungut-sungut sambil mengusap-ngusap pantatnya. Meraih ponselnya di atas meja dan melangkah hendak meninggalkan Raya.
"Mau kemana? Sarapan mu belum habis nih..."
Bryan tidak menanggapi, dia terus melangkah dengan kepala menunduk. Astaga kenapa pakai acara jatuh segala? Sakit nya tidak seberapa, tapi malu nya itu loh....!!"
"Hei.... Malu yah?" Teriak Raya dengan tertawa kecil.
Bryan semakin menunduk dan mempercepat langkahnya. Terus berjalan dengan sikap kakunya. Mencoba menyembunyikan rasa malunya.
"Astaga... Menggemaskan sekali bocah itu...!!" Seru Raya lalu bangkit dan menyusul Bryan dengan berlari kecil.
"Bryan...Tunggu..." Panggil Raya.
Bryan semakin mempercepat langkahnya menuju pintu lift. Raya yang berlari kecil berhasil menyusul Bryan yang sedang menunggu lift datang.
"PLAKK"
Raya menepuk pundak Bryan dengan penuh rasa kesal. "Sengaja kamu yah membuat ku berolahraga pagi-pagi begini!" Serunya sambil menetralkan napasnya yang tersengal-sengal akibat berlari.
"Tidak ada yang menyuruh kak Raya untuk berlari."
"Cihh, bocah ini...!" Ketus Raya mencibir kan bibirnya ke depan.
Bryan sedikit melirik, mengamati wajah kesal Raya. Raya dengan santainya menjulurkan lidahnya dan membasahi bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Mencecap bekas juice yang masih tersisa di bibirnya. Membuat Bryan menelan saliva nya berkali-kali.
'Ting'
Pintu lift terbuka. Melihat tidak ada siapa-siapa di dalam lift itu, Bryan langsung menarik Raya masuk ke dalam dan menekan tombol tutup dengan cepat.
Begitu pintu lift menutup, Bryan menarik Raya dan merapatkan tubuh perempuan mungil itu ke dinding lift lalu mengungkungnya diantara dua tangannya.
Raya mengedip-ngedipkan kedua matanya, bingung. "Ka..kamu kenapa lagi?"
Bryan menatap tajam ke dalam manik mata Raya.
Raya yang di tatap dengan ekspresi aneh begitu langsung memalingkan wajahnya. "Jangan suka membuat orang berdebar begitu. Aku bisa salah paham nanti" Ucapnya lalu menunduk berusaha keluar dari kungkungan kedua tangan Bryan.
"Kak Raya berdebar bersama ku? kak Raya serius berdebar?" kedua mata Bryan berbinar-binar mendengar perkataan Raya. itu berarti kak Raya ada hati untukku kan?
Bryan menahan Raya, tidak memberi celah dengan semakin merapatkan tubuhnya. Bibirnya bergerak maju ke telinga Raya. "Kakak tidak salah paham, karena aku memang menyukai kak Raya..." Bisiknya lalu mencium sekilas pipi kanan Raya.
Mendapat kecupan tiba-tiba seperti itu membuat Raya mematung. "Ka.. Kamu berani menciumku?"
"Aku bahkan sudah mencium bibir kak Raya....kak Raya tidak ingat?"
Raya langsung mendongakkan kepalanya, matanya membulat sempurna atas keterkejutan nya. "Kapan?"
"Kakak tak perlu tahu."
Raya mendengus kesal dan mendorong Bryan menjauh. "Aku perlu tahu karena itu ciuman pertama ku."
Bryan mengangkat kedua alisnya, "Itu ciuman pertama kak Raya? Serius?? Aku laki-laki yang pertama?"
Raya mengangguk pelan kemudian langsung menggeleng-geleng "Ehh.. Bu.. Bukan, maksudku...bukan seperti itu..!!" Raya gelagapan. Baru kali ini dia seakan dipermainkan oleh seorang bocah ingusan.
Bryan tersenyum penuh arti lalu memberanikan diri menarik Raya ke dalam pelukannya.
"Apa yang kamu laku..."
'CUP'
Bryan mengecup bibir Raya, membuat perempuan itu tak bisa melanjutkan perkataannya.
"Jadilah pacarku kak....!"
Raya tidak menanggapi, sibuk dengan pikiran nya sendiri. Menunduk menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah memerah. Degup jantungnya bertalu-talu. Tidak menyangka bocah di depannya itu bisa seberani ini.
"Maukan jadi pacarku??..hhmmm?Tidak..Sekarang kak Raya sudah menjadi pacarku..." Tegasnya penuh percaya diri.
Tangan Bryan bergerak menarik dagu Raya dan membuatnya mendongak, dan...
'CUP'
Bryan kembali mendaratkan sentuhan bibirnya dengan singkat.
Bersamaan dengan itu pintu lift pun terbuka, dan terlihat dua sosok manusia yang sangat dikenal nya sedang berdiri di depan pintu lift menatap heran ke arah mereka.
* * *