
Mahavir bergegas turun dari pesawat jet pribadi milik keluarga Alister yang berhasil membawanya ke Amerika, tepatnya di kota New York. Beberapa orang pria bersetelan jas rapi berwarna hitam pekat berbaris di kiri dan kanan tangga pesawat menjemput kedatangannya. Stuart dan Hannah menyusul dibelakang dengan langkah yang sama terburu-burunya lalu ketiganya langsung masuk ke dalam mobil sedan hitam yang sangat mengkilat-kilat akibat di terpa cahaya kilau mentari.
Dalam sekejap mobil itu telah sampai di pelataran sebuah bangunan tinggi menjulang yang begitu mewah. Sebuah rumah sakit dengan pusat medis terkemuka di kota New York, bahkan merupakan salah satu rumah sakit terbaik di dunia.
Di salah satu ruangan perawatan super highclass yang sebagian besar dindingnya berbahan kaca tebal, terbaring tubuh lemah seorang pebisnis handal dengan berbagai alat medis yang terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Suara alat pendeteksi detak jantung terdengar begitu nyaring mengisi keheningan ruangan itu.
Mahavir menghentikan langkahnya begitu jaraknya hanya tinggal sejengkal dari dinding kaca pemisah ruangan itu, diikuti dengan Stuart dibelakang. Sementara Hannah memilih menjauh dari dua laki-laki itu untuk menghubungi dan mengabari Ayahnya yang merupakan sahabat sekaligus rekan bisnis dari Tuan James.
Seorang laki-laki paruh baya bermata biru beserta dua orang wanita pirang yang juga tampak sudah berumur dengan menggunakan jubah putih khas seorang dokter datang menghampiri, Dokter yang merupakan petinggi rumah sakit beserta dua dokter spesialis jantung terbaik yang khusus menangani Tuan James itu sedikit menunduk memberi hormat kemudian menjelaskan keadaan sang pasien di dalam sana dengan begitu detail dan terperinci. Mahavir mendengarkan dengan seksama sembari sesekali melirik keadaan ayahnya dari balik kaca. Saat ini pikirannya hanya berfokus dengan orang tua yang terbaring tak berdaya di dalam sana, sehingga untuk sesaat ia betul-betul melupakan masalahnya dan bagaimana istrinya saat ini. Bahkan karena begitu terburu-burunya, ponselnya sampai terlupa dan tertinggal di ruang kerjanya di hotel Alister.
Mahavir kembali mengalihkan perhatian dan pandangannya menghadap ke kaca dinding begitu dokter-dokter yang menangani Ayahnya beranjak dari hadapannya. Netranya jauh menerawang ke dalam sana dengan berbagai penyesalan dalam hatinya. Untungnya saat ini jantung ayahnya sudah mulai stabil dengan bantuan beberapa alat medis.
Stuart yang berdiri tepat di belakang Mahavir sama terdiamnya memperhatikan keadaan di depan sana, bahkan saat ini otak laki-laki bule berperawakan tinggi besar itu sedang bekerja dua kali lipat memikirkan keadaan genting yang juga terjadi di London. Ia menghela nafas begitu berat, merasa begitu sangat bersalah karena belum bisa memberitahukan informasi itu kepada Tuan Mudanya. Stuart sangat yakin kalau Tuan Muda-nya tahu keadaan istrinya saat ini, ia tak akan segan-segan untuk meninggalkan semuanya dan menjadi pria yang lemah. Padahal dengan kondisi genting yang terjadi sekarang ini, Tuan Muda-nya itu sangat berperan penting demi kelangsungan hotel-hotel besar yang sudah dirintis oleh Presdir dari bawah.
Untuk saat ini Stuart hanya mampu mengerahkan orang terbaiknya untuk memantau dan menjaga Nyonya Muda-nya yang juga sedang dalam keadaan yang tidak baik.
"Hotel-hotel mana saja yang mengalami gangguan?" Tanya Mahavir pada Stuart tanpa mengalihkan perhatiannya dari kaca yang memperlihatkan Tuan James dibaliknya.
Stuart menaikkan tangan kanannya dan sedikit menggerakkan jari telunjuknya kepada beberapa orang yang berbaris rapi di ujung koridor. Salah seorang maju dengan sebuah tab di tangannya lalu menyerahkan tab berisi informasi penting perusahaan itu pada Stuart.
"Hotel yang ada di Washington DC, Los Angeles, San Fransisco, Oklahoma, dan Philadelphia. Termasuk hotel HighCluster yang terbesar milik kita di kota New York ini. Semua yang bermasalah adalah hotel-hotel yang besar, sementara hotel-hotel yang ada di kota kecil terkesan stabil dan tidak mengalami gangguan yang berarti." Terang Stuart membaca grafik tabel yang terpampang di layar tab.
"Kalau begitu kita mulai dari hotel yang mengalami penurunan yang lebih drastis." Berbalik lalu mengambil alih tab dari tangan Stuart.
"Sekretaris Presdir dan orang-orang kepercayaannya sekarang sudah menangani hotel besar di Los Angeles. Kita bisa mulai dari hotel yang ada di New York ini."
Mahavir terdiam dan tampak berfikir memperhatikan grafik perkembangan saham.
"Tidak, kita ke Philadelphia lebih dulu, lalu Oklahoma dan Washington DC. Biar hotel disini yang terakhir. Aku yakin mereka hanya ingin mengecoh kita agar fokus pada hotel terbesar yang ada disini sehingga mereka bisa bebas menumbangkan yang lainnya."
Stuart mengangguk sependapat dengan pemikiran Tuan Muda-nya. Mahavir lalu melangkahkan kakinya beranjak dari tempat itu yang langsung diikuti oleh Stuart.
"Han, aku titip ayahku." Ucapnya saat melewati Hannah di Koridor. Hannah hanya mengangguk mengiyakan tanpa berucap. Sedikit speechless dengan aura Mahavir yang berubah serius, dingin dan tegas.
Mahavir, Stuart dan beberapa orang yang mengikutinya langsung terbang menuju Philadelphia untuk memulai mengaudit dan menangani hotel disana.
****
Sementara jauh di kota London,
Rachel yang sudah tak sadarkan diri selama berjam-jam lamanya kini perlahan membuka kedua matanya. Aroma obat-obatan dan bau desinfektan langsung menyeruak ke dalam indera penciumannya.
"Nyonya Muda anda sudah sadar...?"
Rachel menoleh ke arah sumber suara, sedikit memicingkan matanya mencoba mengenali wanita berumur yang terlihat sangat khawatir dengan keadaannya.
"Bik Inah?" Ujarnya lalu mengedarkan pandangannya melihat ke sekitar dan akhirnya tersadar kalau saat ini ia tengah berbaring di ruang perawatan kamar rumah sakit.
"Nyonya, jangan banyak bergerak dulu." Bik Inah menahan dengan memegang kedua bahu Rachel saat melihat nyonya muda-nya itu bergerak tiba-tiba.
Rachel tak menghiraukan larangan Bik Inah. Ia tetap mengangkat tubuhnya mencoba untuk duduk, hingga rasa nyeri dibagian perutnya membuatnya mengingat kejadian sebelumnya.
"Anakku.!! Bagaimana dengan anakku bik? Dia baik-baik saja kan?" Tanyanya dengan Histeris sambil memegangi perutnya dengan tangan yang terpasang infus.
"Nyonya, sebaiknya anda tenang dulu. Anda masih sangat lemah."
"ANAKKU BIK, BAGAIMANA KEADAANNYA? APA DIA BAIK-BAIK SAJA?" Teriaknya mengulang pertanyaannya menuntut jawaban, tapi Bik Inah malah mengatupkan bibirnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Dari ekspresi wajah Bik Inah, Rachel sudah bisa menangkap apa yang terjadi padanya dan bayinya. Tapi tetap saja ia masih menuntut penjelasan yang pasti.
"Bik...?" Tanyanya dengan mata yang sudah mulai basah. "Anakku masih ada disinikan?" Lanjutnya dengan begitu pelan dan lemah sambil menunjuk perutnya. Airmatanya sudah berlinang begitu saja dengan bebasnya.
Bik Inah tak kuasa menjawab. Ia menunduk dengan menahan tangisnya.
"TIDAK, TIDAKKKK....." Teriaknya histeris, menarik paksa infus yang terpasang di punggung tangannya dan memberontak ingin turun dari brankar-nya, membuat Bik Inah dengan cekatan langsung menekan tombol darurat untuk memanggil perawat maupun dokter.
Seorang pria berjas rapi yang sejak tadi berdiri di depan pintu bergegas masuk karena mendengar keributan, tapi Bik Inah masih bisa mengatasinya dan meminta untuk tidak menyentuh Nyonya muda-nya. Pria itu lantas diam di tempatnya dan hanya memperhatikan sambil memberi kabar kepada atasannya.
Selang beberapa detik, seorang dokter wanita beserta dua perawat datang dan langsung menyuntikkan obat penenang pada Rachel.
"Vir... Anak kita vir..." Lirihnya memanggil nama suaminya sesaat sebelum akhirnya kesadarannya hilang dibawah pengaruh obat.
"Shall we tell her family? doesn't she also have family in london?" (*Haruskah kita memberi tahu keluarganya? bukankah dia juga punya keluarga di london?) tanya Bik Inah pada pria yang masih diam berdiri di posisinya.
Pria bule bernama Hans itu menggeleng. "We'd better follow Mr. Stuart's instructions." (*Sebaiknya kita mengikuti instruksi Mr.Stuart )
"But..." Belum sempat Bik Inah melanjutkan perkataannya, Hans langsung menyela.
"Mr. Alister doesn't know about Mrs.Alister's condition, it would be a problem for Mr.Alister if Mrs. Alister's family found out before him...And Mr.stuart advised not to let this news be known by outsiders." (* Tuan Alister tidak tahu tentang kondisi Nyonya Alister, akan menjadi masalah bagi Tuan Alister jika keluarga Nyonya Alister mengetahuinya sebelum dia. Dan Mr. Stuart berpesan agar berita ini tidak diketahui oleh orang luar.)
Bik Inah mau tidak mau mengangguk pelan. Menghela nafas, lalu berbalik ke arah Nyonya Mudanya dan menatapnya sayu.
***
Rachel tersadar kembali dari pengaruh obat penenang saat hanya ada dirinya seorang di dalam ruang perawatannya. Ditangannya sudah kembali terpasang infus. Ia mengangkat tubuhnya perlahan hingga posisi terduduk. Tertegun di posisinya dengan memandang kosong ke satu titik di depannya.
Vir.....
Maafkan aku...
Anakmu sudah tak ada...
Anak kita sudah tak ada...
Perlahan ia menarik kedua kakinya hingga tertekuk, dengan kedua tangan yang memeluk erat perutnya. Kemudian menjatuhkan kepalanya diatas lututnya itu dengan posisi miring menghadap ke kanan. Tepatnya menghadap ke pintu. Berharap seseorang yang diharapkannya muncul dari balik pintu itu. Tetesan airmatanya berjatuhan satu persatu membasahi selimut yang membalut kedua kakinya.
Maafkan aku Vir....
Aku tak bisa menjaga anak kita dengan baik....
Maafkan aku vir....
Mungkin ini balasan buatku... yang sempat tak menginginkan bayi kita...
Aku menyesal....
Vir... Kamu dimana?
Kenapa kamu tak ada saat aku membuka mataku?
Apa kamu betul-betul pergi menjauh?
Vir.....
Aku.....
Aku....
....... Membutuhkanmu.....
Rachel semakin terisak dengan memeluk erat Kedua lututnya. Kedua matanya sudah semakin bengkak dan sembab. Bahkan nafasnya pun mulai tersengal-sengal.
Drrtt... Drrttt... Drrtt...
Bunyi ponselnya yang masih berada di dalam tas tangannya yang berada di atas nakas membuatnya teralihkan dan terdiam sesaat. Dengan gerak lamban lagi lemah, ia berhasil meraih ponselnya.
Netranya menatap layar ponselnya, seperti menimbang-nimbang akan menerimanya atau tidak. Rachel akhirnya menarik nafas panjang, menormalkan pernafasannya kemudian menerima panggilan itu.
"Halo..." Sapanya dengan berusaha kuat agar terdengar santai.
"Halo sayang, lagi ngapain? Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya di ujung sana dengan penuh kelembutan.
Rachel menggigit keras bibir bawahnya lalu menelan ludahnya susah payah mencoba menguatkan dirinya.
"Aku baik-baik saja Mom. Sekarang sedang sibuk di kantor."
"Lalu Vir? Dia juga baik-baik saja kan? Mommy menelfon nomornya beberapa kali tapi tidak diangkat-angkat."
"Ah, mungkin Vir sedang sibuk di Hotel. Dia juga baik-baik saja." Ucapnya menahan tangisnya. Ingin rasanya ia mengadukan semua yang dialaminya, berkeluh kesah dan menyalahkan kedua orangtuanya, namun ia tak ingin membuat orang tuanya itu khawatir dan malah jatuh sakit memikirkannya.
"Syukurlah, dari kemarin-kemarin perasaan Mommy gak enak, semalaman inipun mommy gak bisa tidur karena kepikiran kamu terus. Daddy bilang kalau Vir pasti tak akan tinggal diam kalau sesuatu terjadi pada kalian. Tapi Mommy tidak bisa tenang kalau tidak mendengarnya langsung dari kalian."
"Kami baik-baik saja." Ucapnya dengan semakin menggigit bibirnya, menahan tangisnya.
"Oh iya, Mommy dan Daddy akan liburan ke sana saat pergantian tahun. Kebetulan katanya Bryan juga akan libur musim dingin, sekalian merayakan ulang tahunnya di awal tahun."
"Mom, aku sedikit sibuk saat ini." Ucapnya beralasan karena sudah tak kuasa menahan tangisnya.
"Baiklah. Baik-baik kamu disana yah... Mommy dan daddy tunggu kabar gembira dari kalian berdua. Dan jangan lupa sering-sering kunjungi Granny, dia mengeluh pada Mommy karena kamu jarang ke sana."
"Hmmm...." Ucapnya singkat kemudian langsung memutus sambungan telepon itu.
Rachel meletakkan ponselnya begitu saja. Membaringkan kembali tubuhnya yang masih lemah, meringkuk dibawah selimut dengan tangis yang semakin tak terkontrol.
Mom... Dad... Aku merindukan kalian....
Hikss.... Hiksss.... Hikss...
Kalian jahat....
Membuatku menikah dengannya....
Membuatku tinggal dengannya....
Apa yang kalian harapkan dengan pernikahanku bersamanya...??
Kenapa kalian sampai hati menipuku?
Kalian jahat....
Hikss... Hikss... Hikss...
Tapi...... Aku merindukan kalian....
Rachel terus saja terisak, tubuhnya sudah sangat lemah dan bergetar saat Bik Inah masuk kembali ke dalam ruangan.
"Nyonya...." Buru-buru Bik Inah menghampirinya dan memeluknya. "Tenanglah Nyonya, tenanglah....Nyonya harus sabar dan ikhlas, jangan seperti ini. Nyonya masih muda, nyonya pasti akan bisa mengandung lagi."
Rachel malah semakin terisak dalam pelukan Bik Inah. "Aku tak akan kembali bersamanya bik...."
Bik Inah merenggangkan pelukannya dan memandang heran Nyonya Muda-nya. "Kenapa Nyonya? Bukankah kalian saling mencintai?"
Rachel menggeleng, "Tidak.., Dia sudah lelah bersamaku, dia sudah membenciku. Dia hanya bertahan karena keberadaan anaknya dalam kandunganku?"
"Astaga, Nyonya.. Tuan Muda tak pernah seperti itu."
"Aku mendengarnya sendiri bik, aku mendengar perkataan yang langsung keluar dari mulutnya sendiri. Dia menyesal menikahiku..., Aku mendengarnya langsung.....Hikss... Hiksss.... Hikss...." Lirihnya diiringi isakan tangis yang semakin pilu. "Dia bahkan ingin menikah dengan wanita lain...."
"Tidak, itu tidak benar. Anda pasti salah paham. Saya tahu betul bagaimana dengan Tuan Muda."
"Lalu mengapa dia tak ada disini Bik? Mengapa dia tak muncul dan menanyakan kabar anaknya?"
Bik inah melepaskan pelukannya, memegang kedua tangan Rachel dan memandanginya.
"Saat ini Tuan Muda sedang berada di Amerika, Tuan besar sedang sekarat dan sedang ada masalah besar dengan hotel disana. Tuan muda sama sekali tidak mengetahui kondisi anda saat ini."
"Omong kosong. Tak mungkin dia tak mengetahuinya. Apapun itu, hal sekecil apapun tentangku dia akan selalu mengetahuinya. Selama ini tak pernah ada yang luput dari perhatiannya. Dimanapun aku bersembunyi dia selalu mengetahuinya, apapun yang aku lakukan dia pasti mengetahuinya..... Hikss... Hikss... Hikss..."
Bik Inah menghela nafas berat berkali-kali sembari mengusap pelan punggung Nyonya Muda-nya. Ia tak tahu harus berkata apa lagi.
"Aku sudah selesai dengannya Bik....Kami sudah selesai...."
***