
Sebuah Ruangan didekat kolam renang di mansion kediaman Rachel kini disulap menjadi tempat pernikahan. Beberapa macam jenis bunga tampak menghiasi tiap sudut ruangan itu.
Tak banyak yang hadir dalam prosesi sakral tersebut, hanya ada Ny.Amitha, Bryan, beberapa kerabat terdekat, asisten kepercayaan Pak Wijaya serta beberapa asisten rumah tangga dan pak Maman supir Pak Wijaya
Ayah Mahavir sendiri tidak dapat hadir karena masih berada di Dubai mengurus bisnis lainnya, tapi dia berjanji akan datang saat Resepsi nanti digelar.
Rachel terlihat menawan dengan balutan kebaya putih sederhana nan elegan, sementara Mahavir menggunakan kemeja dan jas yang senada dengan kebaya Rachel. Mereka berdua berdampingan namun saling terdiam dengan pikiran yang memenuhi benaknya masing-masing.
Rachel memasang ekspresi wajah seperti biasa, tersenyum cantik tapi terkesan dingin. Mencoba menyembunyikan ketidakberdayaan nya didepan orang-orang, tapi jauh di lubuk hatinya sangat tidak menyangka semua ini terjadi.
Tak pernah dia bayangkan akan menikah secara mendadak seperti ini, beberapa hari yang lalu dia masih menikmati kehidupan sempurna nya di London.
Sungguh menyedihkan... Seorang Rachel akan menikah secara diam-diam....
Dia masih saja tertegun membatu menyaksikan dirinya diam tak berdaya.
Orang-orang disekitarnya tampak rapi dengan raut wajah yang terlihat serius. Terutama sang daddy dan mempelai laki-laki yang terlihat begitu tegang.
Rachel hanya mampu memejamkan kedua matanya saat proses pernikahan yang begitu khidmat berlangsung.
Prosesi pernikahan itu berjalan dengan lancar, sehingga tidak sampai lima menit Rachel sudah berubah status menjadi Ny.Mahavir Alister, Seorang istri konglomerat di London.
"... el... Rachel.... " Suara Ny. Amitha mengagetkan Rachel. Rachel tersadar dan melihat Mahavir tengah memegang sebuah kotak kecil dengan 2 buah cincin di dalamnya.
"Ulurkan tanganmu sayang..." Bisik Ny.Amitha.
Rachel kemudian mengulurkan tangannya ke hadapan Mahavir dan dengan cepat pria itu memasangkan sebuah cincin di jari manisnya.
Begitu pun sebaliknya, Tanpa aba-aba dari mommy nya Rachel juga memakaikan cincin yang satunya lagi ke jari Mahavir
Rachel memandangi sinis wajah Mahavir, tapi sebaliknya dibalas dengan tatapan penuh kasih oleh laki-laki yang baru saja berubah status menjadi suaminya. Ia sendiri masih merasa kesal pada Mahavir karena kejadian semalam. Setiap kali melihat Mahavir dia kemudian teringat akan bayangan bibir pria itu menyentuhnya tanpa izin.
Usianya memang sudah 28 tahun, dia pun telah berkarir dengan hebatnya, bahkan dengan kehidupan gemerlapnya di London dia tetap bisa menjaga dirinya dengan baik.
Setiap ada pria yang mendekatinya dengan sigap dia akan mengeluarkan taringnya hingga tak ada sekalipun pria yang mampu bertahan menjalani hubungan serius dengannya.
Awalnya Rachel berniat untuk tidak akan pernah menikah. Trauma masa lalunya membuatnya jijik terhadap pria yang mencoba mendekat dan mengejarnya.
Tapi berbeda dengan Mahavir, entah mengapa walaupun baru mengenal nya tapi mampu membuat Rachel tidak berkutik hingga bersedia menikah. Seperti ada ikatan kuat yang membuatnya berjodoh dengan laki-laki itu.
Cincin emas putih bertahtakan berlian telah melingkar cantik menghiasi jari manis Rachel pertanda bukti bahwa dia telah di ikat oleh Mahavir.
Rachel mencium punggung tangan Mahavir dan dibalas kecupan ringan di keningnya.
Aura kebahagiaan terlihat terpancar menyelimuti Mahavir, sementara Rachel masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi.
"Kiss... Kiss.. Kiss" Teriak orang-orang yang hadir dalam acara itu.
Mendengar itu Rachel membelalakkan matanya ke arah Mahavir memberikan kode untuk tidak melakukannya. Tapi...
"Cup"
Tanpa disangka-sangkanya bibir Mahavir telah mendarat di bibirnya, mereka berciuman dengan sekilas.
Membuat yang hadir tersenyum-senyum .
Rachel yang terkejut langsung mendorong Mahavir. Beruntung keseimbangan Mahavir terjaga hingga tidak sampai terjungkal ke belakang. Orang-orang yang menyaksikan hanya tersenyum menahan tawa mereka.
Setelah prosesi benar-benar selesai, tanpa sepatah katapun Rachel langsung meninggalkan tempat itu menuju kamarnya dan berdiam diri disana.
Mahavir hanya terdiam pasrah diperlakukan seperti itu. Sedari dulu ia sudah terbiasa dengan sikap arogan Rachel. Namun ia sudah bertekad untuk bisa menaklukkan hati wanita itu. Sekeras apapun wanita itu ia akan bersabar menghadapinya.
"Kak Vir...!!" Sapa Bryan sambil memeluk tubuh Mahavir dengan erat. "Congratulation kak Vir, akhirnya menikah juga."
"Hei...my little Brother." Mahavir membalas pelukan Bryan. Pemuda yang selama ini telah dianggapnya seperti adik kandungnya sendiri.
"Wahhh... akhirnya kak Vir jadi kakakku betulan. Aku sangat bersyukur, selamat bergabung dalam keluarga Wijaya Langdon kak."
"Kamu bisa aja" Mahavir terkekeh kecil. "ternyata kamu sudah semakin tinggi rupanya" Ucapnya lagi sambil memandangi pemuda yang sudah bertumbuh lebih tinggi dari terakhir kali dia bertemu.
"Iyalah...Masa mau kecil terus sih...!! Btw, jurus apa yang kakak gunakan buat menjinakkan nya?"
Tanya Bryan menggoda Mahavir.
"Anak kecil gak boleh tahu" Ucap Mahavir
"Waduhh, ga bener ini...!!!" ucapnya terkekeh. "Tapi aku salut sama kegigihan kakak, kedepan nya kakak harus bisa lebih sabar lagi menghadapi wanita bar-bar itu" lanjutnya lagi sambil mengacungkan jempolnya.
"Entahlah... Kalau suatu saat kakakmu itu mengenaliku mungkin akan lain ceritanya"
"Ayolah kak!! sudah sampai sejauh ini, jangan patah semangat. Terus maju. Kak Vir harus lebih berusaha lagi. Sudah sampai sejauh ini, jangan pernah mundur lagi. Kak Vir harus percaya diri, kami semua mendukung dari belakang." Ucap Bryan membuat Mahavir tercengang.
"Sudah-sudah ngobrol nya dilanjut entar lagi, makan yuk, mommy dah siapkan banyak makanan" Ucap Ny Amitha tiba-tiba, kemudian menuntun mereka ke tempat makanan tersaji. Disana para kerabat dan yang lainnya telah lebih dulu menikmati hidangan yang tersedia.
* * *
Sore menjelang maghrib Rachel baru keluar dari kamarnya karena merasa belum makan dari siang tadi dan mendapati keadaan rumah yang sepi tak berpenghuni. Dia berkeliling tapi hanya ada Bik Santi di dapur yang baru saja selesai mencuci piring kotor bekas jamuan makan tadi.
"Bik, yang lain mana?" Tanya Rachel.
"Yang lain dah pada pulang Non."
"Terus?"
"Bapak sama ibu lagi mengantar keluarga nona katanya besok sore baru pulang."
"Terus...?"
"Terus apa non?" Tanya Bik santi bingung.
"Yang lainnya kemana?"
"Mas Bryan katanya ke rumah temen mau main PS kalau Bibik gak salah dengar tadi."
"Terus, yang lainnya lagi?"
"Oh iya Bik Sumi tadi pamit katanya mau bawain anaknya sisa catering tadi,dianterin sama pak Maman."
"Yang satunya kemana lagi?" Tanya Rachel tidak puas.
Bik Santi berbalik menatap nona nya bingung.
"Iyya yang satunya lagi kemana??"
Bik Santi semakin Bingung.
"Si pria jangkung itu...!!" Ujar Rachel menjelaskan.
"Oalah... Non.. Non...tinggal bilang suamiku aja kok susah. Suami cakep-cakep begitu dibilang si jangkung" Ucap Bik Santi santai.
Rachel meradang, membuat bulu kuduk Bik Santi berdiri, " ii...itu saya kurang tau non, coba Non telepon saja."
"Ya udah, siapin makan dan bawa ke kamar ya" Perintah Rachel
"Baik Non." Jawab Bik Santi.
Rachel pun kembali kekamar nya. Sambil menikmati makan malamnya matanya terus tertuju ke ponselnya yang sedari tadi tidak ada panggilan yang masuk. Bahkan ketika jam sudah menunjukkan pukul 10 malam tidak ada kabar berita apapun membuat hatinya semakin kesal.
Come Rachel!!
Kamu kesal kenapa??
Kamu nungguin siapa??
Mahavir??
Terus kalau sudah datang emang mau ngapain??
"ARRRGGGHHH....!!! "
Ujar Rachel berbicara pada dirinya sendiri.
Sepanjang malam Rachel terus memandangi ponselnya hingga tertidur.
Pukul 23.30 Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar Rachel terbuka, dan seseorang masuk dengan mengendap-endap. Rachel yang baru saja terlelap menyadari pergerakan itu.
Saat orang itu baru akan berbaring ke tempat tidur Rachel bangkit dan menyalakan lampu yang berada di nakas samping tempat tidur.
"Mau apa kamu dikamarku?"
"Emangnya aku mau apa? Ya tidur!!"
"Kenapa mau tidur di kamarku?"
"Kamu lupa ya kalau kita baru saja menikah? Aku suami mu jadi mau kemana lagi aku tidur??"
"Suami yang meninggalkan istrinya pada hari pernikahan dan baru pulang tengah malam?"
"Emangnya siapa yang duluan meninggalkan suaminya setelah prosesi pernikahan selesai?"
"Oh..Jadi kamu balas dendam??" Teriak Rachel kemudian melemparkan bantal ke arah Mahavir.
"Balas dendam? kamu salah paham..."
"Salah paham? aku salah paham padamu? Dari mana baru pulang jam segini?"
"Kamu menungguku?"
"What??? Buat apa aku menunggu mu? Najis!" Ucap Rachel kemudian kembali memukul Mahavir dengan Bantal.
"Sudahlah, tak usah malu. Aku justru senang kalau kamu ternyata menungguku."
"Jangan mimpi deh..."
"Mimpi? aku belum tidur tuh, jadi tidak mungkin bermimpi."
"MAHAVIR!!!" Teriak Rachel saking kesalnya dan tak henti-hentinya menghujani Mahavir dengan pukulan.
"Sstt, istri ku yang cantik. Disini bukan hutan. jadi jangan teriak-teriak yah..."
"Astaga kok ada yah orang yang nyebelin kayak kamu di dunia ini."
"Yah, ada dong. Buktinya sekarang aku ada di hadapanmu. Sepertinya aku memang tercipta untuk dirimu sayang..." Mahavir terus menggoda sambil menahan pukulan Rachel.
"Keluar sana! KELUAR!!!" Rachel kembali melempari Mahavir dengan bantal. Tapi Mahavir tak bergeming. Tak puas, Rachel kembali melempari Mahavir dengan remote AC yang ada di atas kasur dan tepat mengenai kepalanya.
"AWW, SAKIT RACHEL!!" Mahavir meringis sambil mengusap kepalanya.
"Biar mati saja sekalian."
"Astaga, itu mulut yah...!" Mahavir menarik gemas kedua bibir Rachel.
Rachel menepis tangan Mahavir dan kembali memukulinya. Tak hilang akal, Mahavir langsung memeluk Rachel dan mendekatkan wajahnya ke telinga wanita barbar itu.
"Maaf kalau aku membuatmu menunggu." Bisiknya di telinga Rachel dengan lembut. Hembusan nafas laki-laki itu membuat jantung Rachel berdetak lebih cepat.
"Bu..bu...buat apa aku menunggumu." Rachel gelagapan karena degupan jantungnya bekerja sangat cepat namun kedua tangannya kembali beraksi.
Mahavir mencoba menahan serangan pukulan Rachel, tapi Rachel memukul dengan membabi buta sehingga mahavir mengeluarkan sedikit tenaganya mencengkram kedua pergelangan tangan Rachel dan mendorong nya hingga mereka sama-sama terjatuh ke atas kasur
Dan...
DEG...
Kini Posisi Rachel telah berada dibawah tubuh Mahavir. Sejenak terdengar dua suara detakan jantung seolah saling berkejaran. Mereka saling pandang selama beberapa saat.
Mahavir memandangi Rachel dengan tatapan buas sang pemangsa yang siap menerkam. Tubuhnya semakin merapat, hingga tak ada lagi ruang diantara tubuh keduanya.
"Mungkin untuk melanjutkan yang tadi... " Ucap Mahavir kemudian mencoba mencium Bibir Rachel dan...
"Cup"
Lagi-lagi dengan Lincah nya Rachel menghindari ciuman itu dan hanya mendarat di pipi mulusnya.
Mahavir menyeringai, kemudian mencoba melanjutkan lebih lagi dengan mengecup ringan leher jenjang Rachel. Tapi terlihat Rachel yang tengah menutup matanya ketakutan. Tangannya terasa gemetaran di cengkraman Mahavir. Membuat Mahavir jadi tidak tega untuk melanjutkannya.
Mahavir kemudian hanya mengecup kening Rachel. Rachel hanya dapat merasakan sesuatu yang lembut, hangat dan basah menyentuh keningnya, lalu dirasakannya tangan kuat yang mencengkram tangannya perlahan terlepas.
Pelan-pelan Rachel membuka matanya...
Dan melihat Mahavir sudah berjalan menjauh darinya. Rachel bangkit dan terduduk sambil menyentuh jantungnya yang memompa begitu cepat.
"Aku tidur di kamar tamu saja" Ucap Mahavir kemudian meninggalkan Rachel dan menutup pintu dengan rapat.
Rachel menghela nafas lega lalu buru-buru mengunci pintu kamarnya.
Sementara Mahavir kembali ke kamar tamu. Melepas segala yang melekat pada tubuhnya dan segera masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk menghilangkan hasratnya yang sesaat bangkit tadi.
* * *
Keesokan harinya kebisuan kembali hadir diantara mereka, hanya ada suara sendok dan garpu yang terdengar saat ini.
Di meja makan hanya ada mereka berdua, Pak Wijaya dan istrinya belum kembali dari mengantar kerabat yang tinggal di Luar kota. Sementara Bryan entah menghilang kemana lagi.
Mahavir melirik Rachel yang hanya menusuk-nusuk Roti nya. Kejengkelan terlihat jelas diwajahnya.
"Maaf" Ucap Mahavir mencoba berdamai.
"Maaf untuk apa?"
"Untuk hal yang membuatmu marah"
"Emang apa yang membuat ku marah?" Ucap Rachel sambil menancapkan garpunya ke atas roti lapis dengan keras.
"Karena...menciummu?"
Rachel hanya terdiam menatap tajam
"Karena tidak melanjutkan yang semalam....?"
Rachel semakin membelalakkan matanya.
"Karena....... " Mahavir mencoba menebak
Rachel memutar bola matanya, jengah. "Dari mana kamu kemarin?"
"Oh itu... Aku dari menemui orang yang paling kusayangi" Jawab Mahavir santai.
"What??" Tatapan Rachel semakin mengintimidasi Mahavir.
GLEKK....terdengar suara kerongkongan Mahavir menelan ludah.
"Ibu ku...heheh...Maksudku menemui ibuku"
Seketika Raut wajah Rachel berubah drastis.
"Ibumu? Ibumu ada disini? Kenapa beliau tidak hadir di pernikahan kita kemarin?"
Mahavir menunduk, mencoba menyembunyikan gurat kesedihan yang tercetak di wajahnya. "Karena suatu hal dia tidak bisa hadir" ucapnya lirih.
"Kenapa tidak mengabariku?"
Mahavir mengangkat wajahnya, menatap Rachel dengan kedua alis yang terangkat. "Kau menunggu kabarku?" tanya Mahavir tak percaya.
"jangan Ge-Er deh.... " Rachel menjawab ketus, membuat Mahavir tersenyum kecewa.
"Disana signalnya kurang bagus, lagipula aku tidak menyangka kamu akan mencariku."
"Lalu kenapa tidak mengajakku bertemu dengannya?"
Kembali Mahavir menatap Rachel dengan raut wajah keterkejutannya. Tak menyangka kalau wanita didepannya itu berharap diajak. "Kamu mau??" tanyanya dengan penuh harap.
"Kalau diajak....." Rachel berucap lirih dengan menyembunyikan rona malunya.
Mahavir mengulas senyum lebarnya. "Ok, Ayo kita kesana." Ajaknya yang langsung dibalas dengan senyum sumringah dan anggukan oleh Rachel.
"Kapan?" tanya Rachel
"Sekarang juga bisa kalau kamu mau."
"Ok, kalau gitu aku siap-siap dulu."
* * *
~Terima Kasih sudah membaca 🙏 jangan lupa like, vote dan komen yaa 🤗🤗 Supaya Author juga semangat nulisnya... 🥰🥰
* * *