Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 103.Raya, Bryan dan Risya


Ruangan yang tadinya begitu penuh keheningan dan hanya ada isakan tangis tertahan dari penghuninya, kini berubah menjadi ceria. Canda tawa terdengar membahana, menggema memantul ke setiap sudut ruangan itu.


Kehadiran satu sosok manis dengan tingkah lucu dan celotehannya yang tak ada hentinya membuat kesedihan Rachel teralihkan. Ny Amitha diam-diam memperhatikan putrinya, untuk sesaat ia bisa melihat putrinya itu tersenyum bahkan tertawa kecil setelah beberapa hari hanya terdengar tangisan dari mulutnya. Ny Amitha memalingkan wajahnya, menghalau setetes airmatanya yang hendak jatuh dan dengan cepat menguasai dirinya.


"Bryan.." Tegur Ny Amitha sambil menepuk pelan pundak putranya itu. "Kamu mandi sana, gak malu jam segini belum mandi juga?"


"OMG, jadi kak Bry belum mandi dari pagi?" Pekik Risya memandangi Bryan dari atas hingga ke bawah. "Ck..ck..ck..Pantasan dari tadi Risya cium ada yang bau-bau, ternyata dari kak Bry yah?" Lanjutnya dengan menutup hidungnya mengejek Bryan.


Bryan tak menanggapi sindiran Risya, justru ia berniat mengusili bocah itu. Bryan bangkit, dan langsung melingkarkan lengannya ke leher Risya dari belakang. "Coba cium, bau gak? Bau gak?" Semakin merapatkan lengannya pada Risya.


"Hoekk... Hoekk..." Risya berakting seperti ingin muntah. Membuat Rachel tertawa lepas melihat tingkah keduanya.


Ny Amitha mendekat dan menarik telinga Bryan, sehingga rangkulannya ke leher Risya terlepas. "Nih, anak. Di depan mommy sendiri malah jahilin anak orang. Sana Mandi. Risya benar, kamu bau."


"Betul tante, kak Bry nya suka usilin Risya, apalagi waktu di London dulu. Jewer kuping satunya lagi dong tante."


"Oh gitu..." Ny Amitha menjewer kuping Bryan yang sebelahnya lagi.


"Aww.. Aduhhhduhhh... Sakit mommy, Ampun, ampun, sakit mommy." Bryan terpekik dan meringis. "Hei, bocah. Diam sana." Melotot tajam ke Risya.


"Tuh tante, kak Bry nya ngancam Risya." Ucapnya menahan tawa dan meleletkan lidahnya membalas pelototan Bryan.


"Mommy lihat itu...!! bocah itu yang mengejek Bryan duluan." Tangan Bryan terjulur ingin menarik rambut Risya, namun sebelum sampai Ny Amitha terlebih dulu menarik putranya itu. "Aww, sakit mommy, sakit...aww...Mommy, jangan percaya bocah itu." Pekiknya berusaha melepaskan kedua tangan Ny Amitha dari kedua telinganya.


"Sudah sana, mandi sana. Kamu mau dilihat Raya seperti itu?" Ny Amitha melepaskan Bryan dan mendorongnya ke arah pintu toilet ruang perawatan itu.


Mendengar nama Raya membuat Bryan tertegun dan raut wajahnya berubah seketika. Tanpa banyak bicara, Bryan meraih pakaian yang baru dibawakan oleh Ny Amitha dan langsung masuk ke toilet.


"Risya gak terburu-buru kan pulangnya?" Tanya Ny Amitha.


"Gak kok tante, malah kalau dibolehin, Risya pengen nginap temani kak Rachel. Risya rindu sama kak Rachel." Ucapnya sembari melingkarkan tangan kanannya memeluk pinggang Rachel yang setengah terduduk di brankar.


"Emangnya besok gak sekolah?" Tanya Rachel dengan mengelus-elus lengan Risya yang memeluknya.


"Besok Risya udah libur kak, kan mau tahun baruan."


"Terus, kalau nginap dibolehin sama keluargamu?" Tanya Ny Amitha.


"Nanti Risya izin sama kakak Rey, kan kakak Rey kenal baik sama kak Rachel. Masa di London jauh sana Risya dibolehin nginap di rumah kak Rachel, terus di sini gak dibolehin."


Kedua alis Ny Amitha terangkat, "Jadi kamu adiknya Rey?" Tanyanya yang dibalas anggukan oleh Risya.


"Oh iya mom, dia adik bungsunya Rey." Ucap Rachel.


Ny Amitha tersenyum dan mengusap pelan punggung Risya. "Tante senang malah kalau kamu mau menemani kak Rachel-nya. Tapi di sini rumah sakit, kamu pasti tidak nyaman."


Risya menegakkan punggungnya, meraih tangan Ny Amitha dan memandanginya. "Risya gak papa kok tante, boleh yah..."


Ny Amitha mengangguk. Justru ia merasa senang kalau gadis itu bisa menemani Rachel, setidaknya putrinya itu akan terhibur dan melupakan kesedihan dan kerinduannya terhadap Mahavir.


"Oh iya, apa kakak Rey belum kesini? pagi tadi Risya janjian ketemu disini."


"Rey pagi-pagi tadi sudah datang, tapi ia mengantar Lily tadi pulang untuk mandi dan mengambil pakaian. Mungkin agak lama, soalnya tante nitip untuk bawakan makan siang dari rumah."


"Jadi kak Lily juga datang?" Tanya Risya dengan sumringah. Rachel mengangguk dengan seulas senyum di bibirnya. "Pantasan kak Rey gak angkat telfon Risya, lagi sama cewek toh..." Ucapnya disertai kekehan. "Baguslah semoga kakak Rey kesayangan Risya itu bisa move-on dari kak Raya...!" Lanjutnya lagi kelepasan.


Mendengar ucapan terakhir Risya membuat Ny Amitha kembali menghampiri Risya. Wanita paruh baya itu duduk di tepian brankar Rachel dan memusatkan perhatiannya pada Risya. "Gimana, gimana tadi Ris...? Rey kenapa dengan Raya?" Tanyanya penasaran.


"Mom,.." Rachel menepuk pelan tangan mommy-nya, menegurnya agar tidak penasaran dengan hubungan orang lain. Risya terdiam memandangi Rachel dan Ny Amitha bergantian dengan mata yang berkedip-kedip naik dan turun.


"Wajarlah kalau mommy penasaran." Ucapnya pada Rachel. "Terus.. Terus.., gimana Ris?" Lanjut Ny Amitha.


Risya menggaruk-garuk kepalanya, masih dengan mata yang berkedip-kedip keheranan. "Mmmm... Itu... " Ucapnya ragu-ragu.


"Rey suka sama Raya?" Tebak Ny Amitha.


Risya memandangi Rachel sekilas kemudian kembali memandangi Ny Amitha dan mengangguk pelan. "Sejak SMA kak Rey tergila-gila sama kak Diraya, tapi sepertinya bertepuk sebelah tangan. Risya dengar katanya kak Bry pacaran dengan kak Raya. Emang betul yah tante? Emang tante ngebolehin kak Bry pacaran dengan kakak yang lebih tua?" Tanyanya dengan polosnya.


Ny Amitha menghela nafas, terdiam sejenak. Mengingat-ingat kedekatan Rey dan Raya yang dilihatnya selama beberapa hari berada di rumah sakit. Awalnya Ny Amitha juga sedikit curiga dengan kedekatan mereka, hanya saja ia pikir mungkin kedekatan mereka sebatas teman saja. Tapi Ny Amitha bisa melihat bagaimana sikap perhatian Raya pada Rey, sangat terlihat jelas kalau Raya sebenarnya juga menyukai laki-laki itu. Kembali Ny Amitha menghela nafas, melirik sekilas ke arah pintu toilet yang tertutup, yang masih terdengar suara gemericik air dari dalam sana.


"Tante, kakak Rey-nya Risya gak bakalan ganggu hubungan kak Bry dengan kak Diraya kok, tante tak usah khawatir." Ucap Risya ragu-ragu, takut orang tua Rachel itu salah paham kepada kakaknya.


Ny Amitha memajukan wajahnya kedepan Risya, dan dengan setengah berbisik berucap. "Tante tidak mengkhawatirkan itu, justru tante pikir Bryan yang telah hadir diantara mereka."


"Maksud tante?"


"Sepertinya Bryan yang tak tahu diri disini."


Risya semakin bingung. "Maksud tante?" Ulangnya.


"Ris, bisa tidak panggil tante dengan mommy saja seperti Bryan dan Rachel?"


"Hah?"


"Yah, supaya kita lebih akrab saja. Kamu tidak keberatan kan? Mommy kok senang sama kamu yah...Pasti kamu dirumah jadi anak kesayangan mama dan papamu yah?"


Risya tercengang, kedua matanya seketika berkaca-kaca. Membuat Ny Amitha seketika panik dan merasa bersalah. Melihat itu Rachel menarik lengan Ny Amitha agar mendekat padanya dan berbisik ke telinga mommy-nya itu. Ny Amitha terkesiap mendengar alasan dari putrinya dan langsung saja menarik Risya ke dalam pelukannya.


"Mulai sekarang Risya jadi anak tante yah? Risya boleh menganggap mommy sebagai mommy Risya. Jangan sungkan-sungkan pada Mommy yah?" Mengusap lembut kepala gadis itu hingga turun ke punggungnya.


Risya yang mendengar itu semakin terharu, airmatanya semakin terjatuh. Gadis itu mengangguk pelan dalam dekapan wanita paruh baya itu. Baru kali ini merasakan hangatnya pelukan dari seseorang yang bisa dianggapnya sebagai seorang ibu.


Ny Amitha melepaskan pelukannya lalu mengusap kedua pipi gadis itu. "Coba panggil mommy?"


"Mo.. Mommy..."


Mengulas senyum lembut, Ny Amitha kembali memeluk penuh sayang gadis itu. Rachel ikut tersenyum diantara mereka berdua.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka bertiga. Ny Amitha melepaskan pelukannya, bangkit berdiri lalu melangkah ke arah pintu. Sesosok cantik dengan jas berwarna putih membalut tubuhnya muncul dari balik pintu itu, diikuti seorang perawat yang membawa nampan berisi makan siang untuk sang pasien.


"Siang Bibi..." Sapanya pada Ny Amitha yang dari dulu dipanggilnya dengan sebutan 'Bibi'


"Sudah selesai prakteknya?" Tanya Ny Amitha sembari mengambil nampan makanan dari perawat.


"Sedang istirahat makan siang, sebentar mau lanjut beri beberapa materi pada para siswa koas. Paman mana?"


"Dia ke kampus dulu. Ada banyak mahasiswa yang menunggunya untuk sidang kelulusan."


"Masih aktif yah?"


"Iya, Daddy Rachel itu orangnya keras kepala."


Raya terkekeh pelan. "Persis seperti Rachel." Ucapnya, mengalihkan pandangannya lalu menghampiri Rachel dan sosok gadis yang tak dikenalinya.


"Apa yang persis denganku, Ra?" Tanya Rachel dengan memicingkan matanya.


"Ah, bukan apa-apa. Gimana keadaanmu? Sudah enakan. Masih ada yang nyeri?" Tanyanya sembari memeriksa jalannya infus Rachel, memeriksa denyut nadi-nya dan memeriksa bagian tubuh Rachel yang masih membiru.


Rachel menggeleng dan mengulas senyum. "Kapan aku bisa pulang, Ra?"


"Kamu masih lemah. Pulih dulu baru boleh keluar."


"Iya, kak Rachel masih terlihat pucat." Ucap Risya, membuat Raya menoleh ke arahnya.


Raya dan Risya saling pandang selama beberapa saat, saling mencoba mengenali. Bersamaan dengan itu Bryan keluar dari toilet. Baik Raya maupun Risya refleks berbalik ke arah Bryan dan memandanginya dengan tatapan takjub. Penampilan pemuda itu terlihat sangat segar, menggunakan kaos oblong berwarna soft blue dipadukan celana pendek berwarna krem, memegang handuk sambil menggosok rambutnya yang masih basah. Terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya.


"Eh, ada Aya. Sudah lama?" Tegurnya pada dokter cantik yang tersenyum padanya. Dengan cepat Risya memalingkan wajahnya kembali ke arah Rachel.


"Baru juga. Jam segini baru mandi?"


Bryan hanya tersenyum dan menyengir malu atas pertanyaan pacarnya itu. Sementara Ny Amitha menghampiri Rachel di sisi brankar yang berseberangan dengan Risya, hendak menyuapi putrinya. Menyadari raut wajah Risya yang sedikit cemberut, Ny Amitha menatap Risya dan menaikkan kedua alisnya, seakan bertanya 'kenapa?'. Risya menggeleng dan mengulas senyum manisnya. Ny Amitha pun ikut tersenyum dan memilih diam menyimak obrolan anak-anak muda itu.


Raya tersenyum geli melihat pacar mudanya itu, lalu kembali memandangi gadis manis yang duduk di samping brankar Rachel. Sedikit menautkan alisnya, mencoba mengingat-ingat wajah gadis itu yang tidak asing menurutnya. "Mmm... Kamu?"


Risya tersenyum, menjulurkan tangan kanannya ke depan Raya. "Saya Risya kak, adik kesayangan kakak Reynold. Kakak pasti kak Raya kan?" Ucapnya.


"Oh Iya, aku pernah lihat foto mu di ponsel Rey." Ucap Raya yang langsung mendapat tatapan penasaran dari Bryan, Ny Amitha dan Rachel. Menyadari itu Raya kembali berucap. "Ah, aku tak sengaja melihat ponsel Rey waktu itu. Fotomu dijadikan wallpaper-nya kan? Ternyata aslinya imut sekali." lanjutnya dengan sedikit salah tingkah. Loh, kenapa aku harus salah tingkah sih? Aku kan tidak berbuat salah? Raya menggaruk pelan pelipisnya. "Terus Risya-nya kenal aku darimana...?" Tanyanya mengalihkan perhatian.


Kini Bryan, Ny Amitha dan Rachel kompak memandangi Risya.


"Risya juga kenal kak Raya dari kakak Rey. Kakak Rey banyak cerita pada Risya tentang kak Raya." Ucap Risya dengan polosnya, membuat Raya sedikit salah tingkah karena kini tiga pasang mata kembali memandanginya.


"Oh.. Hmm.. Iya kebetulan aku dan kakakmu memang teman sekolah dulu."


"Kak Raya juga aslinya ternyata lebih cantik." Memandangi Raya dengan seksama dan mata yang berbinar-binar. "Selama ini Risya hanya melihat kak Raya dari foto-foto yang ada di kamar kakak Rey. Tahu tidak kak, di kamar kakak Rey itu ada satu rak besar yang khusus memajang semua foto-foto kak Raya. Kadang Risya yang membersihkannya karena kakak Rey melarang orang lain yang menyentuhnya." Terang Risya tanpa sadar. Mode cerewetnya tiba-tiba aktif.


Raya hanya tersenyum kikuk mendengarnya. Dipikirnya, gadis itu sudah berhenti. Tapi perkataan Risya selanjutnya membuat Raya betul-betul tepuk jidat. Apalagi ketiga pasang mata yang sedari tadi memandanginya semakin menatapnya dengan intens.


"Oh iya kak, mulai dari foto-foto kak Raya saat masih SMA sampai waktu kuliah juga ada loh. Kak Raya dulu imut juga yah, rambutnya sering diikat dua atau di kuncir kuda dan ada poninya. Kak Raya dulu pake behel yah. Berapa lama kak Raya pake behelnya? Sakit tidak kak pake behel begitu? Nyaman tidak? Rencananya sih Risya juga mau pasang behel supaya gigi Risya bisa Rapi. Tapi kakak Rey bilang gigi Risya sudah bagus. Risya manis dengan tampilan gigi Risya sekarang. Kalau rapi nanti Risya gak manis lagi kata kakak Rey. Oh iya kak, yang terakhir ada dua foto kak Raya yang terbaru yang dipajang nya di bingkai diatas meja kerja kakak Rey. Kata kakak Rey dia ambil sembunyi-sembunyi waktu di Villa. Foto kak Raya disitu cantik banget deh kak. Kalau kakak Rey pulang ke rumah, sering kedapatan sama Risya sedang melamun sambil memandangi foto kakak yang itu, trus ngomong sendiri. Bilangnya gini 'kapan sih kamu mau membuka hati untukku? Aku menyayangimu...' lucu banget kan kakak Rey itu. Pernah juga kakak Rey bi...."


"Eh, Wa..waktu istirahat ku hampir selesai." Raya dengan cepat menyela Risya.


Melihat sikap canggung Raya, Risya baru tersadar kalau sudah banyak bicara di depan pacar dan calon mertua wanita itu. Risya mengatupkan kedua mulutnya rapat-rapat dan diam-diam menepuknya berkali-kali.


"Ian mau makan siang bareng?" Tanya Raya pada Bryan, ingin secepatnya pergi dari ruangan itu. Dan menghindari tatapan aneh dari Ny Amitha.


"Oh, ayo. Aku juga sudah lapar dari tadi."


"Ajak Risya juga." Ucap Ny Amitha menimpali.


Bryan dan Raya saling pandang lalu sama-sama memandangi Risya.


Menyadari tatapan itu, buru-buru Risya menggeleng. "Ah, Risya masih kenyang. Tadi sempat ngemil di tempat les." Ucapnya beralasan namun sepersekian detik selanjutnya terdengar suara bergemuruh dari perutnya.


Bryan menahan senyumnya dan langsung menarik tangan Risya. "Cacingmu sudah protes begitu bilangnya tak lapar."


"Ah, Risya disini saja kak Bry. Risya mau suapin kak Rachel." Tolaknya berusaha melepas pegangan Bryan. Merasa tak enak pada Raya.


"Tak apa Ris, kak Rachel-nya ditemani mommy saja." Ucap Rachel.


"Iya, Kak Rachel ada mommy yang urusin. Mom, ada yang mau dititip tidak?"


"Gak perlu. Sebentar Lily bawa makanan untuk mommy yang dimasak sama Bik.Sumi di rumah." Ujar Ny Amitha, menyuapi Rachel.


"Kak Rachel ada yang mau di titip?"


Rachel tersenyum dan menggeleng pelan. "Titip jagain Risya saja." Jawabnya sembari menerima suapan dari Ny Amitha.


Bryan mengangguk lalu menarik paksa Risya keluar. Raya ikut berjalan sejajar di samping Bryan.


Ketiganya kini berjalan beriringan dengan Bryan di tengah, Raya di sisi kiri, dan Risya di sisi kanan dengan pergelangan tangan yang masih dipegang erat oleh Bryan tanpa sadar, sementara pemuda yang memeganginya itu malah asyik berbicara dengan gadis yang ada di sisi kirinya.


Risya melirik kesal pada keduanya. Mulutnya mengguman tidak jelas. Tangannya terus ditarik mengikuti langkah Bryan. Kesal, Risya menghentikan langkahnya dan menghentakkan tangannya dengan keras hingga Bryan refleks menoleh padanya.


"Apa sih bocah?"


"Tangan Risya, bisa lepas tidak? Emangnya mau nyebrang pegangan tangan segala?"


Bryan melihat tangannya yang bertengger di pergelangan tangan Risya dan refleks langsung melepasnya. "Upss.. Sorry... Aku tidak sadar."


Risya hanya mengerucutkan bibirnya lalu melangkah lebih cepat mendahului keduanya dengan menghentak-hentakkan kedua kakinya.


* * *