
Rachel kembali di baringkan ke atas brankarnya, tangan kanannya juga sudah kembali dibebat jarum infus. Kedua matanya tampak bengkak dan masih tampak sisa-sisa tangisannya. Namun nafasnya sudah mulai terdengar teratur.
Di sisi brankar-nya berdiri kedua orang tuanya yang memandanginya dengan penuh kekhawatiran.
Ny Amitha menyeka sudut matanya tuk kesekian kalinya, menaikkan selimut Rachel hingga ke dada kemudian memandangi suaminya. "Apa James sama sekali tak mau merubah keputusannya?" Tanyanya pada suaminya dengan suara yang direndahkan agar tak mengganggu putrinya.
Pak Wijaya hanya mengangguk tanpa bersuara. Manik matanya yang berwarna coklat tak lepas memandangi keadaan putrinya.
Ny. Amitha mendesah pelan, terlihat guratan kecewa di wajahnya. "Bagaimana anak kita kedepannya? Seperti yang kamu lihat tadi, dia begitu menyayangi suaminya. Itu bukan hanya sekedar rasa bersalah seperti yang sahabatmu itu tuduhkan. Apa kamu tak bisa melihat cinta di mata putrimu?"
"Sayang....aku bukan orang yang tak punya hati. Dia adalah putri kesayanganku satu-satunya. Tapi aku harus bagaimana? Semua ini terjadi karena ulahnya sendiri. Dan terlepas dari itu kita pun punya andil dalam hal ini. Kita yang sebenarnya bersalah disini. Kita yang membuatnya menikah dengan cara yang salah."
"Tapi tetap saja. Tak bisakah kamu membujuk sahabatmu itu?"
Pak Wijaya menghela nafas kasar lalu menarik istrinya dalam dekapannya. "Kamu sendiri tahu bagaimana James itu. Aku sudah memohon berkali-kali padanya tapi hasilnya nihil. Dia orang yang tegas, apa yang sudah dia ucapkan tak akan pernah di tariknya. Setidaknya sebagai orang tua kita harus mengerti karena ia juga ingin yang terbaik untuk putranya. Semoga saja Vir bisa pulih seperti sedia kala dan bisa kembali meluruskan semua ini dan menjemput putri kita." Ucapnya kemudian mengecup sekilas puncak kepala istrinya.
Ny Amitha hanya mengangguk pelan, hatinya terasa di remas-remas melihat keadaan putrinya. Namun ia juga tidak bisa berbuat banyak.
"Oh iya, cepat cari putramu itu. Dia pasti masih meratapi kepergian Mahavir di suatu tempat di rumah sakit ini." Lanjutnya, melepaskan pelukannya.
"Iya, mungkin Lily bersamanya. Putrimu itu sudah tertidur, gunakan waktu untuk istirahat dulu, kamu sudah kurang tidur selama disini." Ucapnya kemudian melangkah ke luar ruangan itu.
Pak Wijaya mengusap wajahnya lalu menghempas tubuhnya terduduk di atas sofa dan menyandarkan punggungnya. Baru saja hendak memejamkan matanya, sayup-sayup terdengar suara Rachel memanggilnya. Dengan sigap Pak Wijaya bangkit dan mendekat.
"Ada apa nak? Mau minum?" Tawarnya sembari duduk di samping brankar putrinya dan mengusap lembut keningnya.
Rachel menggeleng pelan. Ia kembali menitikkan airmatanya. "Dad...I miss him...i can't see him anymore.." (Ayah, aku merindukannya, aku sudah tak bisa melihatnya lagi.)
"Sabar nak....one day he will surely come back." (suatu saat dia pasti akan kembali.)
"Ini semua salahku dad... Mahavir seperti itu karena keegoisanku..." Lirihnya dengan terisak. "Saat mengetahui dirinya yang sebenarnya, aku sangat membencinya dad. Aku marah dan kecewa karena tindakannya yang sudah membohongiku. Aku bahkan tidak menginginkan anaknya yang sempat ada di dalam kandunganku. Aku sudah berkali-kali menyakitinya dengan kata-kata tajamku. Aku sangat bersalah padanya dad... Aku bersalah....hiks..hiks..." Lanjutnya semakin terisak.
"Tidak sayang, kalian tidak salah. Mahavir juga sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Ini semua salah Daddy dan Mommy. Tidak seharusnya kami membohongimu dan menikahkan kalian dengan cara yang salah."
Rachel menggerakkan tubuhnya berbalik menghadap Pak Wijaya. Tangannya terangkat menarik tangan besar yang mengusap keningnya.
"Aku tak menyesali pernikahanku dengannya, dad...tapi aku ingin tahu apa alasan daddy menikahkanku dengannya, daddy sendiri tahu kalau aku sangat membencinya dulu. Mengapa dad?"
"Maafkan daddy nak, kami pikir itu adalah yang terbaik buat kalian berdua." Ucapnya beriringan dengan hembusan nafas yang panjang. Menjeda sejenak, menunduk mengusap sudut matanya lalu kembali mengangkat wajahnya. "Daddy khawatir sebab kamu terus saja tertutup pada orang lain. Bersikap dingin pada laki-laki manapun karena bayang-bayang Dirman. Memupuk kebencian yang tak beralasan karena kesalahpahaman. Sementara dia sendiri begitu mencintaimu dengan tulus dan selalu berusaha menjagamu dari jauh."
Kembali Pak Wijaya menghela nafas.
"Tanpa kamu ketahui dia selalu membantumu sejak kamu menetap di London, Nak. Sejujurnya dialah yang mengurus sehingga kamu bisa masuk kuliah dengan mudah di Universitas idamanmu, dia sampai mencarikanmu mentor terbaik di bidang fashion. Dia yang meminta beberapa model ternama untuk bersedia menjadi modelmu saat launching perdana mu. Bahkan dialah yang telah mencarikanmu gedung untuk kantormu dan mendesainnya sendiri sesuai seleramu hingga kamu hanya menerima beres tanpa tau prosesnya. Semua uang dan biaya-biaya yang kamu gunakan untuk membayar itu semua dikembalikan pada daddy dalam bentuk tabungan atas namamu. Mobil Van untuk operasional kantormu yang kamu kira daddy belikan, itupun dia yang membelinya, bukan daddy nak. Dia juga memilih orang-orang terbaik untuk mendampingimu tanpa sepengetahuanmu sama sekali. Dialah yang selama ini ada dibalik kesuksesanmu tanpa mengharap balasan apapun. Berkali-kali daddy menolak kebaikannya, tapi dia masih saja bersikeras. Katanya tak apa bila kamu tak membalas perasaannya, dia cukup senang hanya dengan melihatmu bahagia. Dia membuat daddy berjanji agar merahasiakan semua itu darimu." Terangnya. Kembali mengusap sudut matanya lalu mengusap lembut punggung tangan Rachel.
"Terus terang Daddy tak tega melihatnya yang seperti itu. Pengorbanannya untukmu sungguh sangat besar nak. Karena itu daddy berusaha agar kalian bisa bersama. Dan ketika terjadi insiden penipuan di hotel yang menimpamu, daddy menjadikan itu sebagai kesempatan. Daddy yang memintanya untuk mengikuti rencana daddy. Awalnya ia juga tak setuju dengan permintaan daddy, tapi daddy yang memaksanya nak. Berkali-kali juga ia meminta izin agar mengaku padamu tentang identitas dirinya karena tak sanggup terus menerus membohongimu. Ia bahkan berkata tak berani menyentuhmu selama masih membohongimu, tapi daddy yang melarangnya nak. Daddy yang bersalah dalam hal ini." Urainya panjang lebar dengan penyesalan yang teramat dalam.
Mendengar itu semua Rachel semakin berurai airmata. Penyesalan pun semakin dalam dirasakannya. Dadanya semakin sesak. Bahkan bernafas pun sangat berat baginya. Sungguh sangat picik pemikirannya tentang Mahavir dulu. Betapa ia merendahkan harga diri laki-laki itu tanpa mau mendengarkan alasannya.
"Nak, jangan seperti ini. Daddy sakit melihatmu seperti ini..."
"Mengapa daddy menyembunyikan ini semua dariku? Seandainya aku tahu semuanya, aku tak akan bersikap buruk padanya dad...dan semua ini tak akan terjadi. Aku benci daddy, aku benci daddy..." Lirihnya diiringi isakan tangis yang semakin pilu memyayat hati.
Pak Wijaya menunduk dalam, tak kuasa melihat wajah putrinya.
"Seandainya saja kami tak saling mengenal sejak dulu. Seandainya saja daddy tak membawanya dulu. Dia pasti tak akan mengalami kesialan semua ini. Mengapa daddy membawanya ke dalam kehidupanku? Mengapa dad?"
"Maafkan daddy nak. Maafkan daddy..." Meraih tangan Rachel dan menggenggamnya, sementara satu tangannya mengusap airmata Rachel. "Apa kamu lupa nak, bukan daddy yang membawanya dalam kehidupanmu, dalam kehidupan kita. Tapi kamu sendiri nak. Tanpa sadar kamu yang membawanya kepada daddy, kamu yang membawanya masuk ke dalam keluarga kita. Kamu sendiri yang membuatnya masuk dalam kehidupanmu."
Rachel melepas genggaman Pak Wijaya lalu berbalik memunggunginya. "Cukup dad, aku sudah tak bisa mendengar lebih jauh lagi. Aku ingin sendiri dad, biarkan aku sendiri dulu..." Lirihnya dengan sesunggukan. Tubuhnya bergetar hebat karena tangisannya.
Pak Wijaya terdiam sejenak. Menelan ludahnya, lalu bangkit berdiri. Tangannya terulur mengusap lembut kepala putrinya, pelan-pelan ia mendekat dan mengecup kepalanya itu. Kemudian dalam diam, ia pun beranjak keluar. Memberikan waktu buat putrinya itu untuk sendiri.
****
Bryan masih terduduk meringkuk di atas permukaan lantai. Menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya dan menangis dalam diam. Berkali-kali sudah Lily membujuknya untuk beranjak dari tempatnya, tapi Bryan mengabaikan keberadaan sepupu perempuannya itu.
Seperti dejavu, Bryan mengalami keadaan yang sama saat masih berusia delapan tahun. Mengamuk dan memberontak saat orang yang sama dibawa pergi menjauh darinya. Seorang laki-laki yang sudah menjadi bagian hidupnya, seorang laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya, seorang laki-laki yang bahkan sangat disayanginya melebihi Rachel, kakak kandung satu-satunya. Sungguh sangat menyakitkan baginya setiap melihat keadaan Mahavir yang seperti itu.
Bryan masih larut dalam kesedihannya saat kemudian dirasakannya tangan seseorang mengusap lembut bahunya. Usapan yang sangat begitu dikenalinya. Bryan mengangkat wajahnya dan mendongak, tampak seorang wanita berumur yang sangat disayanginya. Wanita itu berjongkok dan menarik kepalanya kedalam dekapannya sambil mengusap lembut punggungnya.
"Sudahlah nak, ini demi kebaikan Mahavir juga. Kita tak bisa berbuat apa-apa." Ucapnya. "Kita doakan saja semoga dia cepat pulih kembali."
"Tapi kenapa harus dibawa seperti itu. Kita ini keluarganya. Kak Rachel itu istrinya. Apa telah terjadi sesuatu antara kak Vir dengan kak Rachel?"
Ny Amitha melepaskan kepala Bryan dari dalam dekapannya, berganti dengan menangkup wajah putranya dan menatap manik matanya lekat-lekat.
Seakan mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, Bryan pun mendesah pelan. "Wanita bodoh itu ternyata penyebab semuanya..." Umpatnya.
"Jangan berkata seperti itu. Dia itu kakakmu. Justru dia yang lebih terluka dalam hal ini."
"Yah, aku tahu mom. Jadi bagaimana keadaannya sekarang?" Tanyanya sembari bangkit berdiri bersama Ny Amitha.
"Berjanjilah kamu tak akan membahas hal ini di depannya. Jangan menyinggung apapun juga yang bisa membuatnya terluka."
Bryan mengangguk paham dan merangkul bahu mommy-nya sambil berjalan beriringan menuju kamar perawatan kakaknya. Dilihatnya sang daddy duduk di bangku besi yang berada di sepanjang koridor bersama Lily. Terduduk dengan lemas dan tampak kacau. Sangat jelas terlihat lingkaran hitam dan berkantung di bawah matanya. Selama ini kakak perempuannya itu memang sangat dekat dengan daddy-nya, sementara ia lebih dekat kepada mommy-nya.
"Dad..." Tegur Bryan saat sudah didepan Pak Wijaya. "Bagaimana kak Rachel?"
"Dia masih bersedih dan kesal pada daddy. Dia meminta daddy keluar dan butuh sendiri dulu."
"Kalau begitu, sebaiknya daddy dan mommy pulang dulu. Biar Bryan dan kak Lily yang menjaga kak Rachel."
"Iya Uncle, biar Lily bersama Bryan disini."
"Kami sudah banyak tidur tadi di pesawat, dad. Di parkiran masih ada Pak Maman. Kasian juga kalau dia bermalam di mobil. Sebaiknya kalian pulang. Kami akan segera mengabari kalau terjadi sesuatu pada kak Rachel."
Pak Wijaya melempar pandang pada istrinya dan Ny Amitha mengangguk pelan.
"Baiklah. Lily.., Uncle minta tolong hibur kakak kalian itu." Ucapnya lalu berdiri dari duduknya.
"Siap Uncle."
"Bryan, jangan berulah di depan kakakmu."
"Iyya..." Bryan berucap dengan malas.
"Baiklah, kami pulang dulu." Ny Amitha menggandeng tangan Pak Wijaya dan beranjak bersama dari tempat itu.
Bryan mendudukkan tubuhnya di tempat bekas daddy-nya duduk. Menyandarkan punggungnya ke belakang dan menyilangkan kedua tangannya.
"Bryan, yang dokter berambut sebahu yang tadi disini itu, she is you girlfriend, right? Wajahnya mirip seperti yang ada di wallpaper ponselmu."
" Hemm..." Bryan mengangguk malas.
"Lalu laki-laki tampan yang bersamanya siapa? Sepertinya mereka sangat dekat."
Bryan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. "Hmm, gimana yah... Hubungan mereka sulit di jabarkan."
"Hah?" Lily memandang heran pada Bryan. Dan Bryan hanya mengedikkan bahunya ke atas tanpa mau menjelaskan lebih lanjut.
* * *
Sementara di ruangan lainnya di rumah sakit itu, terduduk seorang laki-laki di kursi kerja seorang dokter, sementara sang dokter berdiri di hadapannya sambil sedikit membungkuk mengobati luka di wajah laki-laki itu.
"Pacarmu datang...." Ucap sang lelaki.
"Iya, aku melihatnya." Jawab dokter cantik itu dengan netra yang berfokus pada wajah laki-laki itu.
"Kamu tak ingin menemuinya dulu?"
Raya meluruskan punggungnya dan menatap dalam laki-laki di depannya. "Kamu ingin aku kesana?"
"Bukankah kalian lama tak bertemu? Apa kamu tak merindukannya?"
Raya meletakkan obat dan kapas yang di pegangnya kembali ke tempatnya, "Baiklah, aku kesana dan obati sendiri lukamu." ucapnya lalu berbalik dan hendak meninggalkan laki-laki itu. Tapi langkahnya terhenti karena tangannya ditarik kebelakang. "Apa lagi?"
"Selesaikan ini dulu...."
Raya menghela nafas, kembali meraih kapas dan cairan betadine, sedikit membungkuk dan kembali mengobati luka Rey. "Aku juga merindukannya, tapi dia butuh waktu bersama keluarganya dulu. Toh, aku juga akan bertemu dengannya."
Rey mematung di posisinya, ia sama sekali tak menyimak perkataan Raya, netranya sibuk memandangi bibir Raya yang bergerak-gerak saat berbicara dan terus mengamati garis-garis wajah Raya dengan begitu lekat seakan memindai keseluruhan wajah cantik itu. Mata bulat wanita itu berfokus pada bibir Rey, dan sesekali ia membasahi bibirnya lalu menggigiti bibir bawahnya. Membuat jantung Rey bereaksi dan bekerja cepat.
"Jangan melihatku seperti itu." Tegur Raya karena merasa terus dipandangi dengan intens.
"Aku merindukanmu....." Lirih Rey tanpa sadar.
Raya mengernyit dan balik menatap Rey dengan tajam. Rey gelagapan lalu menurunkan pandangannya.
"Apa kamu serius dengan bocah itu?"
"Bocah itu punya nama...!"
Kembali Rey mengangkat pandangannya dan menatap Raya yang semakin dekat dengan wajahnya. "Kamu serius dengan Bryan?"
"Menurutmu?"
"Apa aku benar-benar tak punya kesempatan?"
Raya menghentikan aktivitas-nya, lalu membalas tatapan Rey. Selama beberapa saat keduanya saling pandang dalam diam, hingga akhirnya Raya memutus pandangannya karena merasakan sesuatu yang berdenyut di hatinya. Kembali Raya melanjutkan gerakan tangannya di permukaan bibir Rey.
Rey meraih jemari Raya dan menggenggamnya dengan lembut. "Aku mencintaimu lebih dari yang kamu kira, Ra...." Lirihnya, menatap keseluruhan wajah Raya. "Sejak SMA hingga sekarang tak pernah berubah...."
Raya menarik tangannya lalu refleks mengusap tangannya pada jas putih kebesarannya. Gerakannya itu tak luput dari pandangan Rey. Membuat laki-laki itu tertunduk kecewa.
"Sepertinya luka di bibirmu itu sudah membuat mulutmu jadi meracau tak jelas." Ucap Raya dengan ketus. Membereskan peralatan obat dan meletakkannya kembali ke tempatnya. "Aku akan menemui Bryan, bila kamu ingin keluar jangan lupa menutup pintunya." Lanjutnya lagi lalu berbalik dan melangkah ke arah pintu.
Rey menatap punggung Raya yang menjauh. Perasaannya tiba-tiba bergejolak. Sebagian hatinya mengatakan untuk menahan wanita itu dan sebagian lainnya mengatakan untuk menyerah saja. Selama beberapa detik terjadi perang batin di hatinya. Hingga akhirnya Rey bangkit dan dengan langkah panjangnya langsung menarik Raya ke dalam pelukannya tepat sebelum wanita itu menyentuh handle pintu.
Tubuh Raya sontak tertarik ke belakang. Dua tangan besar kini melingkar sempurna di perutnya.
"Kumohon jangan pergi ke pemuda itu...." Bisik Rey di telinga Raya dengan nada memelas.
DEG'...
Tiba-tiba jantung Raya berdegup kencang. Seluruh tubuhnya meremang. Ada perasaan aneh yang tak pernah dirasakannya sebelumnya tiba-tiba menjalar memenuhi rongga hatinya.
"Le... Lepas..." Ucap Raya gelagapan.
Rey melepas pelukannya, membalik tubuh Raya perlahan lalu mendorongnya hingga punggung Raya menempel pada daun pintu. Satu tangannya terangkat mengangkat dagu Raya.
"Ma.. Mau apa kamu?" Tanyanya karena wajah Rey semakin mendekat ke wajahnya. Ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas laki-laki itu.
"Menurutmu dengan posisiku ini, aku akan berbuat apa?" Ucap Rey setengah berbisik.
* * *