
Rachel menoleh, memandangi Daddy dan Mommy-nya bergantian. Sorot matanya dipenuhi kepedihan, serta airmata yang terus saja berjatuhan membasahi wajahnya.
"Tidak, aku tidak mengizinkannya. Kenapa kalian begitu jahat? Kalian yang membuatku menikahinya, kenapa sekarang kalian sendiri yang menginginkanku untuk melepaskannya?" Tukasnya dengan suara yang sudah parau tanpa melepaskan sedikitpun pelukannya pada tubuh Mahavir.
"Nak, kamu akan menyakiti tubuh Mahavir jika memeluknya seperti itu. Lihat, kamu menghalangi fungsi alat-alat di tubuhnya..." Ujar Pak Wijaya memperingatkan putrinya.
Rachel yang tidak menyadarinya langsung melepaskan pelukannya dan mengangkat tubuhnya dari atas Mahavir. Namun tangannya beralih memegang kuat besi pada brankar Mahavir dengan kepala yang terus menggeleng, mengisyaratkan ketidaksetujuannya.
Pak Wijaya menghela nafas begitu berat. Merasa serba salah dalam keadaan itu. Begitupun dengan Ny Amitha yang sudah tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Dua hari yang lalu, Dr.Manaf sudah memberitahukan mereka tentang keinginan dari ayah Mahavir setelah berbicara empat mata dengan Hans. Saat Mahavir baru akan dipindahkan ke ruang ICU, saat itu juga mereka memaksa ingin membawanya. Tapi Dokter Manaf menahannya karena kondisi Mahavir yang belum stabil, dan akhirnya mereka menunggu hingga dua hari. Pak Wijaya pun telah mengkonfirmasi dengan menelfon langsung Tuan James. Mengutarakan ketidak setujuannya, namun apa yang di dengar dari besannya itu membuatnya tak berkutik. Dari pembicaraan itu Pak Wijaya akhirnya mengetahui sebab musabab mengapa putri dan menantunya tiba-tiba ada disini.
Walaupun begitu Pak Wijaya begitu tak setuju dan tak tega untuk memisahkan pasangan yang nyatanya saling mencintai.
Pak Wijaya perlahan melangkah mundur, meraih ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang. Berharap masih bisa merubah keputusan orang itu. Tapi tampaknya pembicaraan itu tak berhasil karena terlihat rahang Pak Wijaya yang mengeras dengan kedua alisnya yang nyaris menyatu. Seperti berusaha keras menahan luapan emosi berbicara dengan orang di sambungan telepon itu.
Setelah menutup panggilan itu, Pak Wijaya kembali menghampiri Rachel yang masih menahan brankar Mahavir. Kemudian dirangkulnya bahu putrinya itu dengan lembut. "Ayo nak, biarkan mereka mengerjakan tugas mereka." Ucapnya selembut mungkin sembari menarik putrinya.
Rachel mengusap kedua pipinya, lalu pandangannya berfokus pada Mr.Forrer. "Can't I come with him?" (tak bisakah aku ikut bersamanya) pintanya dengan memelas.
"I'm sorry Mrs. Alister, but we were told to bring Mr. Mahavir only...." (Saya minta maaf Nyonya Alister, tapi kami diperintahkan untuk membawa Tuan Alister saja.) tegasnya.
"Without me?" (Tanpa aku) tanyanya menatap nanar Mr.Forrer.
Mr.Forrer mengangguk tanpa ragu.
"But I'm his wife..." (Tapi aku istrinya)
Mr. Forrer terdiam, seperti kehabisan kata-kata. Hingga akhirnya ia menghubungi seseorang lewat ponselnya dan melaporkan keadaan pelik yang terjadi disana. Setelahnya, ia maju selangkah ke depan Rachel lalu menyerahkan ponselnya yang masih terhubung dengan seseorang.
Rachel mengernyit bingung, namun tetap menerima ponsel tersebut.
"Ha... Halo...."
"Apa sebenarnya yang anda inginkan nona?"
DEG...
Seketika jantung Rachel berdetak cepat kala mendengar suara bariton berat yang tegas dan terdengar sangat mengintimidasi itu.
"Aku dengar kamu menghalangi pekerjaan Tuan Forrer..."
Rachel terdiam. Menelan ludahnya dengan susah payah. Sama sekali tak mampu mengeluarkan sepatah katapun akibat rasa gugup yang menderanya.
"Apa sekarang kamu sudah puas dengan keadaan putraku saat ini?" Tanya orang itu lagi dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Rachel menggelengkan kepalanya walau ia tahu orang yang berbicara dengannya tak kan bisa melihat itu.
"Ma.. Maafkan saya... Saya... Sa..saya..." Suara Rachel tercekat di kerongkongan, kembali ia menitikkan airmatanya.
"Ingatkah nona Rachel saat terakhir kali kita bertemu? kamu lihatkan bagaimana saya sudah merendahkan diri dihadapanmu saat itu, memohon dengan sangat padamu untuk menerima putraku. Tapi apa yang kamu katakan waktu itu?"
"Maaf... Maafkan saya.... " Ucapnya dengan terisak.
"Kamu bahkan berterima kasih bila saya bisa membawanya sejauh-jauhnya dari pandanganmu. Seandainya saja saat itu juga saya mendengarkan permintaanmu, pasti kejadian ini tak akan terjadi."
"Maaf... Maafkan saya...." Ucapnya, semakin sesunggukan dalam tangisnya. Hanya kata-kata itu yang berulang-ulang mampu terucap dari kedua bibirnya.
"Jadi saat ini harusnya kamu sudah bisa mengertikan?"
"Tidak, kumohon... Jangan jauhkan dia dari saya. Kumohon....tak bisakah saya ikut bersamanya?"
"Dan kembali menyakitinya saat ia sudah pulih kembali?" Tanyanya di sertai kekehan mencemooh Rachel.
"Tidak, saya tak mungkin berbuat seperti itu. Itu.. Itu dulu.. Sebelum menyadari perasaanku sendiri. Saya menyesalinya....dan sekarang saya mencintai putra anda... Sangat mencintainya...tolong jangan pisahkan kami..."
"BULLSHIT..!!!!" Teriak Tuan James dengan amarah yang meledak-ledak.
Rachel pasrah dan hanya bisa memejamkan matanya mendengar makian itu.
"Saya sudah tidak dapat membiarkan putraku satu-satunya bersama wanita angkuh sepertimu. Saat itu saya melunak karena dia terlihat begitu gembira setelah menikah denganmu, selain itu kamu juga mengandung darah dagingnya, cucu saya. Tapi saat itu kamu bahkan terang-terangan menunjukkan kalau kamu enggan untuk mengandung anaknya. Dan kini, karena kegilaannya padamu, dia harus mengalami semua ini. Apa kamu pikir saya masih bisa berbaik hati padamu? Sudah cukup dua kali ia mengalami nasib sial hingga hampir meregang nyawa karenamu. Dan saya berharap tidak ada yang ketiga kalinya. Anda wanita yang cerdas, jadi pasti mengerti dengan maksudku bukan?"
Kembali Rachel menggeleng dengan berurai airmata. Tubuhnya akhirnya merosot turun dan terduduk di lantai, membuat selang infus di tangannya terlepas hingga darah di punggung tangannya berceceran. Baik Pak Wijaya maupun Ny Amitha refleks berjongkok untuk membantunya, namun semua itu di abaikannya.
Tak ada lagi rasa sakit yang dirasakan di tubuhnya, kecuali hatinya yang terasa tersayat-sayat. Dadanya begitu sesak. Bernafas pun terasa berat. Rachel mengingat setiap kata yang dulu diucapkannya. Ia menyesali semua perkataannya serta sikap angkuhnya pada ayah Mahavir waktu itu.
Dan kini, ia pun tersadar kalau semua itu sudah terlambat. Menyesalinya pun sudah tak ada gunanya.
"Baiklah. Sekarang saya memberimu pilihan. Dia tetap dirawat di sana bersamamu dengan keadaan yang tak tahu akan bagaimana ke depannya, atau...." Tuan james terdengar menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Atau kamu melepaskannya dan dia bisa menjalani perawatan intensif serta ditangani oleh dokter-dokter terbaik disini. Kamu tahu betul kan kemajuan teknologi medis disini? Bila kamu sungguh-sungguh mencintainya, kamu pasti bisa memilih yang terbaik untuknya kan?"
Mendengar itu, Rachel tertegun di posisinya. Menggigit keras bibir bawahnya. Sungguh sangat berat baginya untuk bisa memilih, padahal jawabannya sudah sangat jelas.
"Bagaimana bila ia sadar dan mencariku? anda tahu kan kalau saya sudah seperti nafas baginya."
"Itu bukan urusanmu. Saya sendiri yang akan membuatnya melupakanmu!"
Kembali Rachel memejamkan matanya. Hatinya teramat sakit seakan ribuan paku tertancap di sana. Mengapa semua keinginan bodohnya dulu malah terkabulkan sekarang ini? disaat dirinya sudah sangat menyadari betapa cintanya ia pada suaminya itu. Tak bisakah ia mereguk kembali cinta laki-laki itu padanya? ikhlaskah dirinya bila pada akhirnya Mahavir bisa melupakannya? Tidak, jawabannya pasti tidak. Tapi kini ia sudah tak punya pilihan lain.
"Bagaimana? Semakin kamu mengulur waktu, semakin merugikan Mahavir."
Menarik nafas dalam-dalam, Rachel akhirnya kembali membuka mulutnya. "Baiklah, demi kebaikannya... saya... Melepaskannya....." Ucapnya dengan sangat berat hati.
"Berjanjilah kalau dia akan baik-baik saja di sana..." Ucap Rachel diiringi tetesan bulir bening yang terjatuh di kedua pipinya.
"Dia putraku kalau anda lupa nona...!" Tegasnya, di seberang sana lalu menutup sambungan telepon itu.
Dengan tubuh yang terduduk mematung, Rachel melepaskan ponsel Mr. Forrer begitu saja dari tangannya, hingga ponsel itu terjatuh ke lantai. Rachel menatap kosong lantai di depannya, Ia begitu syok dengan pilihannya sendiri. Namun ia sadar itu adalah yang terbaik untuk Mahavir saat ini.
Mungkin juga ini adalah cara Tuhan untuk membalasnya. Membalas semua rasa sakit yang ia berikan pada Mahavir dulu.
Mr. Forrer membungkuk meraih ponselnya dan memasukkannya ke balik jas-nya. Melirik jam di pergelangan tangannya, kemudian memberikan isyarat kepada orang-orangnya. Baik para pengawal maupun para dokter asing langsung mengambil posisi mereka masing-masing. Sedangkan tiga dokter senior yang merupakan petinggi rumah sakit itu langsung beranjak ke ruangan mereka masing-masing karena tugas mereka telah selesai, selain itu mereka juga tak ingin terlibat lebih jauh dengan orang-orang asing itu.
"Sorry Mrs Alister, we have to bring it right now...!!" (maaf Nyonya Alister, kami harus membawanya sekarang juga.) tegasnya dengan menunduk hormat. Berbalik kemudian melangkah beriringan brankar Mahavir yang sudah didorong oleh dokter-dokter asing yang sebelumnya ikut bersamanya.
"WAIT....!!!" (Tunggu) teriaknya begitu jarak brankar yang membawa Mahavir di atasnya sudah sejauh lima meter darinya. Rachel melepaskan tangan daddy dan Mommy-nya yang memeganginya di samping kiri kanannya, lalu bangkit berdiri. Mengusap airmatanya dan berlari ke sisi kiri brankar Mahavir.
Diraihnya tangan Mahavir dan di genggamnya. Wajahnya perlahan maju mendekati wajah Mahavir, mendaratkan kecupan ringan dan lembut pada kening laki-laki itu.
"Aku sudah berjanji untuk tidak lagi melepaskan tanganmu ini. Aku yakin, takdir akan membawamu kembali padaku. Kita diciptakan satu sama lain untuk saling mencintai. Aku akan menunggumu sayang. Sampai kapanpun, selama apapun. Datanglah kembali padaku. Dan bila kamu sulit menemukanku, maka diamlah di tempatmu. Biarkan aku yang menemukan dirimu dimanapun kamu berada. Kita pasti akan bertemu kembali suatu hari nanti." Ucapnya dengan berusaha tegar.
Kembali Rachel mengecup kening Mahavir lalu mendekat ke telinganya dan berbisik, "I will love you always..."
Saat Rachel menarik tubuhnya dari Mahavir, brankar itupun kembali di dorong. Rachel masih menggenggam tangan Mahavir, merasa berat melepaskannya. Semakin jauh, tangannya yang terjulur menggenggam tangan Mahavir semakin merenggang, genggamannya perlahan-lahan turun ke pangkal jari Mahavir, pertengahan jari, ujung jarinya hingga terlepas dengan sepenuhnya dan semakin menjauh bersamaan dengan airmatanya yang kembali terjatuh.
Tubuhnya perlahan-lahan turun hingga akhirnya berjongkok, menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya dan terisak disana. Ia hanya mendengar gesekan roda brankar pada permukaan lantai dan derap langkah kaki sekelompok orang yang semakin menjauh darinya.
Tepat di ujung koridor penghubung ruangan itu tiba-tiba muncul dua sosok manusia yang dengan tatapan bingungnya melihat keadaan itu. Dari nafas keduanya yang terengah-engah dan wajah paniknya, dapat dipastikan kalau mereka baru saja berlari dari luar rumah sakit hingga sampai di ruangan tersebut.
Yang laki-laki langsung menghadang brankar Mahavir sembari mengamati keseluruhan penampilan Mahavir dengan pandangan terluka dan sirat kesedihan pada raut wajahnya.
"Mau dibawa kemana kak Vir?" Tanyanya dengan berusaha menahan tangisnya melihat keadaan kakak iparnya.
"Where do you want to take him?" (mau dibawa kemana dia) ulangnya, begitu menyadari bahwa orang asing yang berada di sekeliling Mahavir.
Tak mendapat jawaban dari mereka membuatnya mengalihkan perhatiannya pada kakaknya yang berada jauh di belakang sana, berjongkok sambil menyembunyikan tangisannya. Kemudian matanya beralih pada kedua orang tuanya yang juga terlihat menahan tangisnya, lalu lebih jauh di belakang sana ia melihat pacarnya sedang memapah laki-laki yang terlihat seperti habis dipukuli. Kembali ia memandangi orang-orang asing di depannya sembari menelaah keadaan yang ada.
"Where do you want to take him?" (mau dibawa kemana dia) tanyanya lagi dengan rahang yang sudah mulai mengeras.
Mr. Forrer hanya menunduk sekilas memberikan hormat, lalu melanjutkan langkahnya tanpa menjawab pertanyaan pemuda didepannya.
"Kak, mau dibawa kemana kak Vir?" Tanyanya berlari cepat ke depan Rachel. Namun kakaknya itu hanya semakin sesunggukan dalam tangisnya.
"Mom, dad, ada apa ini?" Melempar pandang pada kedua orang tuanya meminta jawaban.
Bryan menghela nafas kasar lalu menarik paksa Rachel berdiri. "Kak, suamimu itu dibawa pergi. Kenapa kamu cuma tinggal diam dan menangis disini? Ayo kejar dia. Hentikan mereka." Menarik Rachel untuk ikut bersamanya mengejar Mahavir.
Rachel terdiam mematung di tempat, melepaskan tangan adiknya dan menggeleng sambil menahan tangisnya.
"Kakak kenapa membiarkan mereka membawanya? Kakak ikhlas melepaskannya? Kakak bisa berada jauh darinya?" cecarnya.
Rachel terus saja menggeleng dalam tangisnya. Nafasnya tersengal-sengal. Pandangannya mulai mengabur, perlahan-lahan menggelap hingga akhirnya kesadarannya menghilang. Bryan refleks menangkap tubuh kakaknya itu sebelum ambruk ke lantai.
Pak Wijaya dan Ny Amitha sontak berlari menghampiri anak-anak mereka. Pak Wijaya mengambil alih Rachel dari Bryan, dengan tubuh tinggi dan tegapnya yang masih kuat, ia langsung membopong tubuh putrinya dengan kedua tangannya. Sementara Ny Amitha berusaha menenangkan putranya.
"Ada apa ini? Kenapa kak Rachel seperti ini? Kenapa kak Vir dibawa oleh mereka? Apa yang terjadi mom? Dad?" Tanyanya, yang lagi-lagi tak mendapat jawaban apapun. Hanya tangisan yang ada pada wajah semua orang yang dilihatnya.
"ADA APA DENGAN KALIAN SEMUA? MAU DIBAWA KEMANA KAKAKKU ITU?" teriak Bryan frustasi lalu berbalik, berlari mengejar orang-orang tadi yang membawa Mahavir.
Lily yang tadi datang bersamanya berusaha menahannya namun di abaikannya dan terus saja berlari mengejar Mahavir.
"DON'T TAKE MY BROTHER..!!!" (jangan bawa kakakku) teriaknya saat berhasil menyusul mereka. Tangannya terjulur menarik paksa brankar Mahavir. Namun dua orang pengawal langsung menariknya dan melepas paksa tangan Bryan dari brankar itu.
BUKK... BUKKK.... BUKKK...
Bryan memukuli kedua pengawal tersebut dengan membabi buta hingga keduanya tersungkur ke lantai.
Bukannya kedua pengawal itu tak bisa mengalahkan Bryan, hanya saja mereka sudah di perintahkan untuk tidak menyakiti anggota keluarga dari istri Tuan Mudanya itu. Sehingga mereka hanya bisa pasrah menerima pukulan dari anak muda itu.
Kembali Bryan berlari mengejar Mahavir, tapi belum sampai pada brankar kakak iparnya itu, dia sudah di hadang oleh empat pengawal sekaligus yang langsung memegangi tangannya di kiri dan kanan lalu mengangkatnya. Tak hilang akal, Bryan menggerakkan kedua kakinya menendang kesana kemari dengan sekuat tenaga.
"JANGAN BAWA KAK VIR PERGI. KEMBALIKAN DIA. KEMBALIKAN KAKAKKU. KALIAN TIDAK BERHAK MEMBAWANYA. KEMBALIKAN KAKAKKU... KEMBALIKAN DIA...!!!" teriaknya dengan memberontak. Membuat orang-orang yang ada di sepanjang koridor rumah sakit itu memandang ke arahnya.
Dari kejauhan Mr. Forrer membungkuk hormat sebelum akhirnya masuk ke dalam lift bersama Mahavir dan para dokter asing yang dibawanya dari Amerika untuk memantau keadaan Mahavir selama perjalanan. Lift itupun membawa mereka langsung ke atap, dimana sudah ada helikopter yang sudah menunggu sedari tadi untuk membawa mereka ke bandara. Dan dari bandara itu mereka akan menaiki pesawat pribadi keluarga Alister yang akan membawanya langsung ke Amerika.
Setelah mendapat informasi dari rekan mereka kalau helikopter sudah lepas landas, para pengawal yang menahan Bryan pun akhirnya melepaskannya.
Setelah menunduk hormat, kesemua pengawal itupun akhirnya beranjak dengan langkah panjangnya keluar dari bangunan rumah sakit mewah itu menuju mobil mereka, dan dengan segera menyusul ke bandara.
Bryan yang kehabisan tenaga karena memberontak, langsung menjatuhkan tubuhnya terduduk di lantai. Kedua matanya memanas sementara kedua tangannya terkepal kuat menahan amarah dan kesedihannya sekaligus.
"Kak Vir... Bila sudah sadar, kembalilah pada kami....kami menunggumu...." Lirihnya dengan setetes bulir bening di sudut matanya.
* * *
**Happy Reading.... 🤗😘
Jangan lupa beri Like dan tinggalkan jejaknya...
Maaf kalau agak lebay dan melow-melow.... 😔
peluk cium dari Author.. 🥰**