Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 95. Kritis.


Ayunan langkah kaki Reynold terlihat tergesa-gesa memasuki area lounge Calister hotel. Netranya berfokus pada sofa melingkar yang ada di sudut, dimana beberapa pria asing bersetelan jas rapi sedang duduk menyesapi kopi yang masih mengepul.


"Where Mr. Alister?" Tanyanya memastikan saat sudah berada di depan mereka. Ia baru saja masuk ke pelataran hotel saat sepintas ekor matanya melihat mobil yang sangat dikenalinya baru saja keluar dari parkiran basement.


Salah seorang pria bernama Hans dengan segera bangkit berdiri. "Mr Alister just came out with his wife. They were going to Mrs. Alister's house." (Tuan Alister baru saja keluar dengan istrinya. Mereka akan pergi ke rumah Nyonya Alister. )


"Don't tell me he drives my car...?" (jangan bilang dia mengendarai mobilku) Tanya Rey dengan raut wajah yang sudah mulai panik.


"Yes, they drive your car and ask us not to follow it." (ya, Tuan Alister mengendarai mobil Anda dan meminta kami untuk tidak mengikutinya.) jawabnya dengan alis yang saling tertaut melihat wajah panik Rey.


"Astaga!" Rey segera menghubungi nomor telepon Mahavir, tapi tidak terhubung sama sekali. Lalu beralih menghubungi Rachel tapi keadaannya juga sama. Rey berdecak kesal sembari mengusap kasar wajahnya dan hendak berlari kembali keluar untuk mengejar Mahavir.


Hans yang penasaran melihat gerak-gerik Rey langsung mencegatnya.


"We don't have time. Mr Alister may be in danger. the car he was using had a problem with the brakes." (Kita tidak punya waktu. Tuan Alister mungkin dalam bahaya. mobil yang digunakannya bermasalah dengan remnya.) ujarnya yang langsung membuat sekelompok pria yang terduduk tadi langsung berhamburan keluar hotel dengan paniknya dan segera masuk ke dalam mobil.


Rey dan Hans pun demikian. Rey melajukan mobil operasional hotel dengan kecepatan diatas rata-rata bersama Hans yang terduduk di sampingnya, disusul mobil sedan hitam yang membawa para pengawal Mahavir di belakang mereka.


Kedua mobil itu melaju begitu kencang membelah jalan di waktu dini hari, menerobos semua lampu merah yang mereka lewati. Hingga beberapa meter kemudian dari kejauhan Rey dan Hans dapat melihat sebuah Porsche hitam berusaha menghindari sebuah Truk kontainer yang oleng. Hans mengarahkan Rey untuk melewati celah samping truk kontainer, Rey pun berhasil menghindarinya. Rey lalu menancap gas kuat-kuat untuk mengejar Porsche hitam itu dan berniat menabrakkan mobil yang dikendarainya ke sisi samping agar laju Porsche itu bisa melambat. Namun terlambat. Sedetik kemudian, tampak di depan mata mereka Porsche hitam itu menabrak pembatas jalan, terlempar beberapa meter jauh kedepan, terguling-guling di atas jalan beraspal dan berhenti sempurna dengan posisi terbalik.


CIIIITTTTTT'......


Rey sontak menginjak pedal rem kuat-kuat hingga menimbulkan bunyi berdecit dari ban yang tergesek di aspal dengan begitu nyaringnya. Begitupun dengan mobil yang berada di belakangnya.


Kesemua lelaki dari dua mobil itu bergegas turun dan berlarian mendekati mobil yang terbalik itu dengan sangat panik. Asap dan aroma menyengat seperti kabel terbakar menguar dari mobil itu. Para pengawal langsung membuka paksa pintu mobil yang ringsek dan menemukan tubuh Tuan Muda-nya yang penuh luka dan berceceran darah dimana-mana masih menggenggam erat tangan istrinya. Hans bersama pengawal lainnyapun langsung menarik lalu mengangkat tubuh keduanya dari dalam sana, sementara Rey langsung menghubungi Rumah sakit terdekat dan meminta dikirimkan ambulans secepat mungkin.


****


Suasana begitu mencekam. Lampu operation room masih menyala sejak dua jam yang lalu. Namun kedua kaki Rey belum bisa berhenti untuk tinggal diam di tempat. Ia terus saja berjalan mondar mandir bak setrikaan di depan pintu ruang operasi dengan penuh rasa bersalah.


Begitupun dengan beberapa pengawal yang sejak tadi berdiri dengan kepala tertunduk di depan ruangan itu. Sementara pimpinan mereka yang bernama Hans tampak sedang berbicara serius dengan seseorang lewat sambungan telepon. Dari gestur tubuhnya sangat terlihat kalau laki-laki asing itu sedang menerima makian dan amukan dari seseorang di ujung sambungan telepon itu, dan Rey tahu siapa orang itu. Kemungkinan dia juga akan mendapatkan hal yang sama. Bahkan bisa jadi ia akan dipecat oleh orang itu. Rey bergidik ngeri membayangkannya namun juga sudah bersiap diri atas segala konsekuensi kesalahannya.


Dari arah koridor terdengar derap langkah kaki yang sedang berlari mendekat. Perhatian Rey teralihkan, dan membuatnya berbalik menengok sosok yang tiba-tiba muncul itu.


"Bagaimana keadaan mereka?" Tanyanya sembari terus melangkah menghampiri Rey. Mata gadis itu beralih sesaat memandangi suasana sekitar lalu kembali memandangi Rey.


Kaki Rey berhenti di tempat. Ia mengembuskan nafas kasar. Lalu menghempaskan punggungnya bersandar pada dinding rumah sakit. "Dari mana kamu tahu?"


"Ah, papa ku yang memberi kabar tadi. Ia yang turun tangan langsung menangani Mahavir."


Rey hanya mengangguk pelan menanggapinya dan kembali terdiam.


"Apa Bibi dan paman sudah diberi kabar?" Tanya gadis itu kembali.


Rey menggeleng pelan. "Aku tak tahu nomor telepon mereka."


"Ah, biar aku yang mengabari mereka." Ucapnya lalu segera berjalan sedikit menjauh ke sudut yang ruangan yang sepi.


Pupil mata Rey bergerak-gerak mengikuti pergerakan gadis yang dirindukannya itu. Terakhir kali melihatnya saat di bandara mengantar keberangkatan Bos nya yang saat ini sedang dalam keadaan kritis di dalam sana.


Rey dengan segera mengalihkan pandangannya saat Raya kembali berjalan ke arahnya dan ikut berdiri tepat di sampingnya. Bahkan tak ada jarak diantara mereka karena lengan Raya kini begitu menempel dengan lengannya. Sedikit canggung, Rey menarik tangannya lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menengadahkan kepalanya menatap kosong langit-langit ruangan rumah sakit yang berwarna putih, sebelum akhirnya merasakan kepala gadis disampingnya itu bersandar di bahunya.


Tanpa disangka-sangka jantung Rey bereaksi dengan kedekatan mereka saat ini. Setelah sekian lama mengenalnya, baru kali ini Raya mendekat dengan sendirinya.


Menyadari suasana yang tidak mendukung, dengan cepat Rey menjauhkan segala perasaan di hatinya dan kembali memfokuskan diri pada keadaan sahabat serta bos-nya saat ini. Rey sangat menyesal karena kejadian itu terjadi akibat kecerobohannya yang selalu menunda-nunda membawa mobilnya ke bengkel. Ia sama sekali tidak menduga kalau Mahavir akan tiba-tiba datang lalu mengendarai mobil itu. Andaikan dapat memutar waktu kembali, Rey berharap kalau lebih baik ia saja yang terbaring di dalam sana.


Tangan Rey pun terkepal lalu memukul-mukul keningnya berulang kali. Merutuki semua kesalahannya.


Raya yang melihat itu langsung menarik tangan Rey dan menggenggamnya dengan kedua tangannya tanpa berkata sedikitpun. Rey sedikit terkejut, sontak berbalik dan sedikit menunduk memandangi Raya. Rey bisa melihat kalau Raya tampak berusaha menahan tangisnya, hingga tanpa sadar tangan Rey yang satunya bergerak menarik bahu Raya ke dalam dekapannya.


"Tenanglah, mereka akan baik-baik saja." Ucapnya sambil mengusap lembut punggung Raya. Keduanya cukup lama dalam posisi itu, hingga sepasang paruh baya dengan raut wajah yang begitu pucat dan panik datang dengan nafas terengah-engah diantara mereka.


"Apa yang terjadi dengan mereka? Bagaimana mereka bisa tiba-tiba ada disini? Bagaimana dengan Rachel? Bagaimana dengan nak Mahavir? mereka baik-baik saja kan?" Ny. Amitha membombardir Rey dan Raya dengan pertanyaan yang beruntun. Wanita paruh baya yang tampak masih cantik itu histeris dan terisak.


Pak Wijaya menghela nafas, menarik istrinya ke dalam pelukannya dan menenangkannya. Laki-laki paruh baya itu berusaha keras tampak tegar namun sangat terlihat pada sorot matanya kalau ia begitu cemas dan khawatir dengan keadaan putri dan menantunya.


Pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter wanita keluar bersamaan dengan sebuah brankar yang di dorong oleh tiga orang perawat. Di atas brankar itu terbaring tubuh wanita cantik dengan kepala berbalut perban dan beberapa luka lecet pada sekujur tubuhnya. Refleks kesemua orang yang berdiri di depan ruangan itu mendekat dan menahan brankar itu.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Ny. Amitha dengan tidak sabaran sembari meraih tangan Rachel dan menggenggamnya. Sementara Pak Wijaya dan Raya langsung berdiri di depan Dokter meminta penjelasan.


"Apa dia baik-baik saja dokter Shahnaz?" Tanya pula Raya pada dokter bedah yang merupakan kawan papa dan mamanya.


Dokter itu tersenyum tipis dan menepuk pelan bahu Raya. "Bersyukur dia baik-baik saja. Kami sudah menangani pendarahan kecil di kepalanya. Ia hanya mengalami sedikit lecet di beberapa bagian tubuhnya. Selebihnya seluruh organ vitalnya aman. Sekarang dia akan kami pindahkan ke ruang perawatan. Kalian bisa melihatnya bergantian satu persatu."


Dokter itu sedikit menunduk dengan raut wajah yang ikut berubah. Kemudian mengembuskan nafasnya dengan berat. "Dia masih dalam penanganan. Kami juga sedang menunggu darah dari PMI karena golongan darahnya yang cukup langka. Beruntung PMI bergerak cepat dan berhasil mendapatkan darah O-Rhesus negatif. Kita berdoa saja semoga operasinya berjalan dengan lancar." Ucapnya lalu sedikit membungkuk dan meneruskan langkahnya.


Pak Wijaya mengangguk paham walaupun kedua lututnya sudah lemas dan bergetar. Tanpa berkata apapun lagi, kini ia dan Ny Amitha berjalan mengikuti brankar Rachel yang didorong pelan oleh tiga perawat menuju kamar perawatan.


"Kamu tidak menyusul mereka?" Tanya Rey yang melihat Raya mematung memandangi punggung Ny Amitha dan Pak Wijaya yang menjauh dari pandangannya.


Raya menggeleng pelan, berbalik menoleh ke Rey dan tersenyum getir. "Mereka yang lebih berhak untuk melihat putri mereka. Aku bisa melihat Rachel nanti. Lebih baik aku menemanimu disini. Sekalian menunggu papaku untuk menanyakan kabar Mahavir."


Rey mengangguk pelan lalu menarik lembut lengan Raya untuk ikut duduk di kursi tunggu yang ada di ruangan itu.


"Mereka siapa? Lalu kenapa Rachel dan Mahavir tiba-tiba ada di sini?" Bisiknya pada Rey saat sudah duduk berdampingan. Netranya mengamati beberapa pria bule yang berbaris rapi di samping kiri kanan pintu ruang operasi.


"Mereka para pengawal Mahavir. Kalau masalah Mahavir dan Rachel yang tiba-tiba ada disini, aku juga belum mengetahuinya dengan jelas." Ucap Rey sembari mengedikkan bahunya ke atas, tapi Raya masih menatapnya dengan penasaran.


"Mahavir tiba-tiba muncul sambil membawa Rachel yang tidak sadarkan diri ke hotel. Lalu keduanya berdiam diri di kamar sejak sore. Dan dini hari tadi aku baru tahu kalau ia baru keluar dengan mengendarai mobilku yang sialnya sedang ada masalah pada rem-nya." Terangnya menjelaskan dengan nada suara serendah mungkin.


"Astaga, Rey..!!" Raya menggeleng pelan dengan alis yang saling tertaut.


"Apa hubungan mereka sedang ada masalah?" Bisiknya lagi. Kini ia begitu dekat dengan Rey.


Rey menengok ke samping. Jarak antara wajahnya dengan wajah Raya hanya tersisa tiga puluh centi. Ia menatap manik mata kecoklatan milik Raya selama beberapa detik lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya ke depan. "Sebelumnya Vir sempat curhat kalau Rachel sudah mengenalinya."


"Apa?" Raya yang terkejut sekaligus penasaran semakin mendekatkan diri pada Rey. "Apa jangan-jangan Rachel berusaha kabur, dan Mahavir mengejarnya sampai kesini?"


Kembali Rey mengedikkan bahunya. Enggan berkomentar lebih jauh perihal rumah tangga sahabatnya, dimana ia juga tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Keduanya akhirnya diam membisu dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Beberapa jam pun berlalu. Lampu yang berpendar berwarna merah pada atas pintu masuk ruang operasi akhirnya padam. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan keluar tiga dokter paruh baya dengan menggunakan setelan berwarna hijau.


"Papa...!" Panggil Raya sembari menghampiri salah satu dokter paruh baya berwajah Arab yang merupakan dokter bedah terbaik sekaligus kepala rumah sakit itu. Dua dokter lainnya hanya menyapa sekilas kemudian meneruskan langkahnya. "Bagaimana keadaannya?" Tanyanya meminta penjelasan, begitupun dengan Rey yang berada di sampingnya.


"Dia masih dalam keadaan kritis. Dia mengalami Epidural Hematoma pada otaknya. Tapi kami sudah berusaha menanganinya dengan baik. Hanya saja, sepertinya dia pernah mengalami pendarahan hebat di kepala sebelumnya, dan hal itu yang memperburuk keadaannya. Bila dia bisa melewati masa kritis kemungkin dia akan koma selama beberapa waktu. Selain itu ada sedikit cedera pada tulang leher hingga ke tulang punggungnya karena mengalami benturan keras. Tungkai bawahnya, yakni tulang fibula-nya juga patah. Sekarang kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya." Jelasnya sembari menepuk pelan bahu Raya lalu beralih memandangi Rey yang berada di sampingnya. Mengamati garis-garis wajah Rey seakan mencoba mengenalinya.


"Pa.., berapa persen?" Tanya Raya dengan istilah medisnya. Mengalihkan perhatian papa-nya untuk kembali terarah padanya.


Dr. Manaf, yakni papa Raya menghela nafasnya dengan berat. Sedikit menarik sudut bibirnya hingga memperlihatkan senyum getir dan kembali menepuk pundak Raya. "Berdoa saja semoga ada keajaiban."


Mendengar itu Raya menggigiti bibir dalamnya sambil meremas kuat lengan Rey. Rey pun tampak berkaca-kaca dengan memandang kosong ke arah pintu ruang operasi.


Di waktu bersamaan pria asing bernama Hans menghampiri dan meminta waktu Dr.Manaf untuk berbicara empat mata. Dr Manaf dan Hans pun menjauh ke sudut koridor rumah sakit itu dan terlibat percakapan yang tampak begitu serius. Setelah lima belas menit kemudian, Dr.Manaf kembali menghampiri Raya dan Rey yang kini sudah duduk berdampingan.


"Apa Prof. Wijaya dan istrinya sudah mengetahuinya?"


Raya mengangguk pelan. "Raya yang menelepon mereka tadi, Pa. Sekarang mereka sudah ada di ruang perawatan Rachel."


"Kamu masih tinggal? Belum pulang?"


"Iya, Pa. Kebetulan Raya dinas pagi."


Dr. Manaf mengangguk paham lalu menengok jam di pergelangan tangannya. "Sekarang sudah pukul tujuh pagi. Sebaiknya kalian istirahat dan sarapan. Kalian bisa melihat kawan kalian begitu sudah dipindahkan ke ruang ICU." Ujarnya mengusap lembut puncak kepala putrinya sambil mengamati gerak-gerik keduanya yang terlihat dekat. Terutama pada sosok Rey yang dirasa tidak asing baginya. Sedikit mengernyit Dr. Manaf berucap. "Apa kamu adik dari Prof. Dr. Reinhard? Dokter bedah saraf itu?"


Rey sedikit menautkan alisnya, namun refleks mengangguk. "Iya dok. Dia kakak tertua saya."


"Pantas saja saya merasa tidak asing dengan wajahmu." Ujarnya, lalu kembali mengamati keduanya. "Kalian pacaran?" Tanya Dr. Manaf to the point sambil menunjuk keduanya bergantian.


Baik Raya maupun Rey langsung menggeleng dan meralat tuduhan itu.


"Ah..itu, Raya teman sekolah saya di Langdon school, Dok. Begitu juga dengan Rachel dan Mahavir. Kami berempat sekelas dulu." Ujar Rey menjelaskan. Raya ikut membenarkan.


Dr. Manaf tersenyum samar dan menepuk bahu Rey. "Panggil saja saya paman. Kalau begitu saya titip salam buat kakakmu itu. Kami sudah lama tidak bertemu."


"I.. Iya, nanti saya sampaikan pa...paman." Ucapnya dengan canggung.


"Baiklah, saya menemui Prof. Wijaya dulu. Raya bawa pacar....ah kawanmu itu ke kantin untuk sarapan." Ujarnya lalu beranjak dari hadapan keduanya.


Raya dan Rey saling pandang selama beberapa saat, lalu saling membuang muka dan kembali menjaga jarak.


****


Happy Reading... 🤗