Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 26.Meminta penjelasan.


"Hufff..."


Terdengar suara desahan nafas kasar Rachel berkali-kali. Berjam-jam berdiri meladeni para tamu undangan yang memberi selamat membuat nya sangat kelelahan. Apalagi pemikiran-pemikiran yang berseliweran dalam otaknya, membuatnya merasakan kelelahan yang dua kali lipat. Jangankan untuk berjalan, kakinya yang sedang menggunakan high heels bahkan sudah tidak mampu untuk berdiri didalam lift saat ini. Rasanya dia ingin langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur yang empuk.


Begitupun dengan Mahavir yang berdiri di belakang Rachel saat ini, beberapa kali dia juga ikut menghela nafas panjang. Bukan karena kelelahan, tapi lebih karena kebingungan melihat sikap wanita didepannya yang sering berubah-ubah.


Ya, Saat di pelaminan tadi Rachel hanya tersenyum saat bertemu dengan temannya, selebihnya dia memasang wajah ketusnya sepanjang acara berlangsung. Kalau Mahavir bertanya dia hanya diam seribu bahasa sambil memberikan tatapan tajamnya. Berkali-kali dia berusaha membantu istrinya itu berjalan tapi begitu disentuh dia langsung menepisnya, bahkan ketika Mahavir berusaha membantu mengangkatkan gaun pengantinnya pun dia langsung menarik gaunnya itu dengan kasar.


Dengan sabar, Mahavir hanya mampu memandangi punggung Rachel dari belakang.


"Tingg...."


Pintu lift terbuka tepat dilantai yang mereka tuju. Dengan cepat Rachel keluar sambil mengangkat bawahan gaun pengantin yang digunakannya. Mahavir menggeleng-geleng melihat Rachel yang sedikit ribet berjalan dengan menyeret-nyeret gaunnya yang panjang dan tak ingin dibantu.


Saat menyadari langkah Rachel yang sempoyongan, Mahavir langsung mendekat dan mengangkat tubuh wanita itu dari belakang lalu menggendong nya ala Bridal style.


"What are you doing?" Rachel terkaget lalu berusaha turun dari gendongan Mahavir.


"Aku hanya membantu mu."


"Aku tidak mau dibantu!!"


"Sudah susah berjalan masih bilang tidak mau dibantu!"


"Aku masih kuat!"


"Kita lihat kamu masih kuat atau tidak saat dikamar nanti!"


"Apa maksudmu? Lepaskan !! Aku bilang lepaskan!!!!" Ujarnya sambil terus meronta-ronta.


"BISA DIAM TIDAK??" Teriak Mahavir yang sudah kesal karena kelakuan wanita itu yang tidak dimengertinya. Seakan dihipnotis oleh teriakan Mahavir, Rachel langsung mematung.


Mahavir pun membopong tubuh Rachel masuk ke dalam kamar President Suite miliknya. Kemudian menurunkannya tepat diatas tempat tidur yang telah dipenuhi oleh kelopak bunga Mawar berwarna merah. Mahavir pun ikut terduduk di tepi kasur, dengan cekatan tangannya bergerak membuka high heels yang terpasang pada kedua kaki Rachel. Mengusap pergelangan kaki Rachel yang sedikit memerah sambil memandangi wajah cantiknya yang memperlihatkan ekspresi kebingungannya.


Rachel mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, beraneka macam rangkaian bunga-bunga nan cantik telah menghiasi kamar itu. Ruangan yang telah di hias layaknya kamar pengantin baru.


Seketika dia tersentak saat pandangannya turun dan melihat hamparan kelopak bunga mawar memenuhi tempat tidur tempatnya berada saat ini.


"Apa-apaan ini?" Tanya Rachel sambil menarik kedua tangannya yang tadi sempat menyentuh beberapa kelopak bunga itu.


"Apanya yang apa-apan?" Mahavir menaikkan satu alisnya.


"Yah...bunga ini? Kenapa banyak bunga disini? Bukankah tadi kita meninggalkan ruangan ini tidak dalam keadaan seperti ini?"


"Menurutmu?" Mahavir mendekatkan wajahnya ke hadapan Rachel. Refleks Rachel memundurkan tubuhnya.


"Ya Makanya aku bertanya!!!"


"Kamu bertanya karena tidak tahu atau memang tidak tahu? Hmmmm???" Mahavir bertanya dengan nada sensual yang dibuat-buat, wajahnya semakin maju hingga nyaris menyentuh pucuk hidung Rachel.


Rachel terkesiap, dan semakin memundurkan kepalanya.


"Mau tahu kenapa?" Mahavir kembali memajukan tubuhnya, salah satu kakinya malah telah naik ke atas tempat tidur. "Bukannya memang seperti ini kamar pengantin baru?? kamu pasti tahu kan kegiatan selanjutnya seperti apa??"


"Ma.. mau apa kamu? ja..jangan macam-macam ya!!!" pekik Rachel memundurkan tubuhnya karena wajah Mahavir yang semakin dekat dengan wajahnya.


"Hanya satu macam kok!!" Goda Mahavir. Melihat wajah Rachel yang mulai memerah dan panik membuatnya merasa gemas dan semakin ingin menggodanya.


Semakin Rachel memundurkan kepalanya, semakin Mahavir mendekatinya. Hingga membuat kepala Rachel mendarat di hamparan kelopak bunga mawar merah itu dan mengunci pergerakannya.


"A.. apa yang kamu lakukan? menjauh dariku!!" teriak Rachel sambil mendorong dada Mahavir, karena kini posisi Rachel telah berada di bawah kungkungan Mahavir.


Rachel berusaha keluar dari kungkungan tubuh Mahavir tapi tenaganya tidak mampu melawan kekuatan Mahavir dan malah membuat tubuh Mahavir semakin menindihnya. Menghilangkan jarak diantara mereka.


"lepaskan!!"


"Mari nikmati malam ini sayang...." Mahavir kembali menggoda Rachel.


Kedua manik mata mereka beradu. Mahavir menatap dengan penuh cinta, tapi dibalas dengan tatapan tajam dari Rachel.


"Kalau seperti ini kamu semakin terlihat cantik..."


Tangan sadar, Mahavir bergerak membelai pelipis dan pipi Rachel. lalu,


"CUP"


Mahavir mengecup bibir merah Rachel sekilas, lalu mengusap bibir itu dengan jempolnya. Tadinya dia hanya ingin menggoda Rachel tapi mendadak hasratnya bangkit.


"I am very happy to marry you please love me as much as I love you" Bisik Mahavir ke telinga Rachel. (Aku sangat bahagia menikahimu, tolong cintai aku seperti aku mencintaimu)


DEG


Rachel seakan terhipnotis dengan tatapan lembut dari Mahavir. Membuat lidahnya kelu tak bisa berkata-kata hingga terpaku.


Pelan-pelan Mahavir kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Rachel. Kali ini agak sedikit lama, dia menunggu reaksi dari Rachel. Karena tidak ada penolakan, Mahavir mengulum bibir Rachel dengan lembut secara bergantian. Menghisap dan merasakan manisnya bibir merah itu.


"Katakan bahwa kamu mencintaiku......" Pinta Mahavir saat melepaskan ciumannya.


Rachel hanya terdiam, kedua matanya terpejam.


Nafasnya terdengar memburu, sukses membuat aliran darah Mahavir memanas. Membuat Mahavir kembali menautkan bibirnya ke bibir Rachel. Kali ini ciumannya lebih menuntut, meminta akses lebih untuk bisa mengeksplor kedalam mulut wanita itu. Tapi sayangnya Rachel masih menutup Rapat mulutnya. Enggan memberikan kebebasan pada Mahavir untuk bertindak lebih jauh. Menyadari penolakan Rachel, Mahavir melepaskan ciumannya dan menjatuhkan kepalanya ke ceruk leher Rachel. Rachel dapat merasakan dengan jelas hembusan nafas yang menggelitik di lehernya.


"Say that you love me.........." Pinta Mahavir sekali lagi, tapi lagi-lagi Rachel tetap terdiam dan masih dalam keadaan terpejam. Tidak bereaksi atas perkataan Mahavir.


Mahavir mengangkat kepalanya lalu memandangi garis-garis wajah Rachel. Dengan lembut dia mengecup kening Rachel.


"Tak apa kalau kamu belum bisa..."


"Aku akan selalu menunggumu.... Kapanpun itu, selama apapun itu...!"


"Aku akan selalu menunggu!! Menunggu hingga kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu mencintaiku." Ucap Mahavir lalu melepaskan kungkungan nya dan bangkit dari tempat tidur.


Pelan-pelan Rachel membuka kedua matanya, dilihatnya Mahavir telah berdiri di samping tempat tidur dengan senyuman khasnya.


"Aku mau mandi dulu." Ujarnya lalu berjalan masuk ke kamar mandi dengan santainya, hingga kemudian terdengar gemericik suara air shower dari kamar mandi.


Sepeninggal Mahavir, Rachel langsung bernafas lega. Dengan cepat dia bangun dan duduk di sudut tempat tidur. Tangannya bergerak memegang jantungnya, berusaha menenangkan ritme jantungnya yang tak beraturan.


"Maaf kan aku... Aku belum bisa membuka hatiku untukmu....


aku belum bisa membuat diriku terjatuh padamu...


Masih banyak hal yang tidak kuketahui darimu...


Masih banyak teka-teki dari dirimu...


Termasuk dengan perkataan Ayah mu....


Aku masih tidak bisa mengerti dengan maksudnya yang sebenarnya.....!!"


Lirih Batin Rachel sambil terus memandangi pintu kamar mandi.



"Ceklek"


"Kamu tidak mau mandi?" Tanya Mahavir yang justru jadi salah tingkah dengan pertanyaannya.


"Emmm.. Maksudku, apa kamu tidak gerah dengan wedding dress itu? Apa kamu butuh seseorang untuk membantumu melepasnya?"


Rachel menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa sendiri!" Ujarnya tapi masih tetap mematung ditempatnya.


Mahavir mengernyitkan kedua alisnya, lalu menggaruk pelipis nya yang tidak gatal.


"Kamu kenapa lagi? dari tadi terlihat kesal..." Mahavir berjalan menghampiri Rachel lalu berlutut di hadapannya.


Rachel hanya menggeleng pelan.


"Bisa minta tolong?" pintar Mahavir.


"Apa?"


"Keringkan rambut ku..." Belum sempat Rachel menjawab, Mahavir sudah menarik tangan Rachel dan memberikannya handuk kecil.


Begitu Rachel mengambil handuk itu, dia lalu menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Rachel.


Mencoba menarik perhatian istrinya dengan bersikap manja.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Mahavir dengan nada lembut.


"Tidak ada...!!"


"Jangan bohong, aku tahu ada yang kamu pikirkan."


Rachel terdiam, sementara Mahavir terlihat menarik nafas panjang.


"Apa kamu menyesal menikah denganku?" Mahavir mendongakkan kepalanya, menatap wajah Rachel dengan intens. Menuntut jawaban.


"Eemmmm....Tidak tahu..."


Mahavir menarik tangan Rachel dan menempelkan nya ke pipinya.


"Kenapa tidak tahu?? Apa sampai sekarang hatimu belum bisa menerimaku?" Ucap Mahavir dengan lembut.


Rachel berfikir sejenak,


"Kamu tidak penasaran dengan masa laluku? Kamu tidak penasaran tentang kejadian kemarin malam?"


"Aku sudah mengetahuinya, kamu pikir Bryan tidak menceritakan nya padaku? Kamu pikir aku tidak mencari tahu tentangmu? Lagi pula itu masa lalumu, yang aku mau kamu yang sekarang..!!"


"Begitulah... Kamu sangat tahu semua tentang ku!! Tapi aku?? Aku tidak tahu apapun tentang mu!!"


"Pelan-pelan, kamu pasti akan mengenalku."


"Kamu tahu kan alasan awal aku mau menikah denganmu?"


"Karena foto-foto itukan? Karena berita skandal kita?"


Rachel mengangguk, "Dan juga... Karena aku ingin menjaga nama baikku dan keluargaku."


"Terus??"


"Aku menerima mu karena latar belakangmu yang hebat dan mungkin juga karena penampilanmu. Tadinya aku sempat berfikir akan bercerai begitu gosip tentang kita sudah menghilang. Tapi...... "


"Tapi??"


"Tapi aku melihat begitu banyak cinta di matamu untukku...aku bisa merasakan ketulusanmu....!"


"Terima kasih kamu bisa merasakannya...." Mahavir mengecup lembut punggung tangan Rachel. "Lalu apa masalahnya?"


"Hatiku.....!! Aku belum bisa membuka hatiku selama belum mengenalmu dengan baik, masih banyak penjelasan yang kuinginkan darimu."


"Penjelasan yang seperti apa?"


"Ya, dimulai dari...Sejak kapan kamu mengenalku, Apa hubunganmu dengan keluargaku, Bagaimana bisa orang sehebat kamu bisa tergila-gila padaku."


"Aku akan menjelaskannya satu persatu...,tapi tidak sekarang!" ujar Mahavir, tak ingin menciptakan kebohongan lainnya.


"Kenapa tidak sekarang?"


Mahavir terdiam,"haruskah aku memberitahunya sekarang??" Keluh Batin Mahavir.


Mahavir mengumpulkan keberaniannya, lalu merubah posisinya hingga berhadapan dengan Rachel, tapi masih dalam keadaan berlutut. "Coba perhatikan wajahku baik-baik, apa kamu betul-betul tidak bisa mengenaliku??"


Rachel terdiam. Dia mengamati garis-garis wajah pria yang tersenyum lembut dihadapannya. Sekilas senyuman itu tidak asing dalam ingatannya.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Ya, bahkan beberapa kali..."


Rachel kembali mengamati wajah Mahavir, kembali mencoba mengingat lebih jauh. Bukannya mendapat ingatan apapun, justru samar-samar bayangan Dirman terlintas dalam benaknya. Dengan cepat Rachel menunduk dan menutup kedua matanya.


"Sebesar inikah memoriku menyimpan kenangan buruk tentang Dirman?? Kenapa setiap saat justru wajah nya yang muncul?? Inikah hukuman untukku?? Ya Tuhan... Hilangkan bayangan nya dalam pikiran ku..." Batin Rachel.


"Kamu kenapa?" Tanya Mahavir terkejut melihat reaksi Rachel. Kedua tangannya berusaha menarik tangan Rachel yang menutup wajahnya.


Lirih terdengar isakan tangis Rachel, dengan cepat Mahavir menarik Rachel dalam pelukannya.


Mahavir merasakan tubuh Rachel yang mulai gemetaran, terlihat rasa ketakutan, kebencian, dan kesedihan yang bercampur menjadi satu. Mahavir semakin merapatkan pelukannya. Ada rasa penyesalan teramat besar dalam dirinya.


"Maafkan aku... Mungkin memang belum saat nya aku menjelaskan siapa diriku...."


Setelah beberapa menit berlalu, Rachel yang telah kembali tenang langsung melepaskan diri dari pelukan Mahavir.


"Maafkan aku"


"Tidak apa-apa, sudah jangan dipikirkan lagi." Mahavir mengusap pucuk kepala Rachel. "Kemana Wanita ketus,dingin dan sombong yang selama ini kukenal??" Tanya Mahavir. Berusaha mengubah suasana hati Rachel.


Rachel tersenyum tipis, "Bisa aja kamu!!"


"Jadi kamu betulan tidak mau mengganti gaun mu itu? Mau aku bantu?" Tanya Mahavir dengan kerlingan nakal. "Lalu kita lanjut kan yang tadi?"


Rachel melotot, sebuah bantal langsung melayang menimpuk kepala Mahavir.


"Berani ya kamu!" Mahavir membalas melempar bantal yang tadi ke arah Rachel.


"Kamu membalasku?"


Rachel kembali melempari Mahavir dengan bantal. Tak mau kalah Mahavir menarik bantal lainnya dan kembali melempari Rachel hingga membuatnya terjengkal ke belakang.


Akhirnya terjadi perang bantal diantara mereka selama beberapa jam hingga dini hari. Mereka sama-sama kelelahan dan akhirnya menghempaskan tubuh mereka masing-masing ke atas tempat tidur yang sudah berantakan tak berbentuk.


Mahavir tertidur dengan menggunakan kimono handuknya sementara Rachel masih dengan wedding dressnya.


* * *


Happy Reading dears 🤗🥰 Peluk cium dari kaka Author 😘🥰💗