
Mahavir yang masih diliputi emosi berjalan terus memasuki penthousenya dan berakhir di ruang kerjanya. Menghempaskan tubuhnya terduduk di balik meja kerjanya. Kedua tangannya terangkat memegang kepalanya dengan kedua siku yang menumpu diatas meja. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan guna menguapkan panas yang membakar hatinya. Entah mengapa dia betul-betul merasa tersinggung dengan perkataan Rachel. Inikah yang kamu rencanakan? Perkataan sekaligus pertanyaan istrinya itu terus menerus terngiang bahkan mendengung di telinganya.
Serendah itukah harga dirinya dimata wanita itu?
Tangannya terkepal kuat-kuat, hingga buku-buku jarinya terlihat memutih. Tanpa ancang-ancang, kepalan tangannya melayang begitu saja meninju meja kerjanya. Tak ada yang berubah dari meja kerja yang kokoh itu, justru buku-buku tangannya yang memerah dan terluka. Namun rasa sakit di tangannya itu di abaikannya karena sama sekali tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
Pandangannya kemudian terfokus pada sebuah kunci laci di atas meja yang entah mengapa tiba-tiba ada diatas sana. Ia meraih kunci itu dan memperhatikannya selama beberapa detik. Mengarahkan kunci tersebut ke laci meja sebelah kanan lalu membukanya.
Senyum getir terlihat dari wajahnya begitu mendapati kotak di dalam laci itu tidak berada pada posisi seperti sebelumnya saat ia menyimpannya. Mahavir mengangkat kotak itu dari dalam sana dan mengeluarkan isinya.
Apa karena melihat ini kamu mengenaliku.....
Ia menghela nafas sambil mengusap lembut saputangan berwarna pink itu. Menatap benda itu dengan tatapan penuh kepedihan.
Rachel.... Aku harus bagaimana lagi menghadapimu....
Tak adakah sedikitpun ruang dihatimu untukku?
Cepat-cepat jarinya menarik pangkal hidungnya ketika dirasakannya airmatanya akan kembali jatuh. Mahavir kembali meletakkan saputangan itu ke dalam tempat penyimpanannya lalu bangkit berdiri dan keluar dari dalam ruang kerjanya. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju kamarnya berharap bisa berbicara dari hati ke hati dengan istrinya. Namun ketidakberadaan Rachel disana membuatnya tersadar kalau dia sudah meninggalkan istrinya itu di mobil sedari tadi saking emosinya.
Dengan langkah terburu-buru, Mahavir kembali ke private park dimana dia meninggalkan Rachel tadi, tapi istrinya itu sudah tak berada disana.
"Shitt!!" Umpatnya. Tangannya terangkat mengusap wajahnya dengan kasar lalu menyugar rambutnya kebelakang dengan sama kasarnya. Satu tangannya meraih ponsel di sakunya dan menghubungi seseorang. Setelah mendapat informasi keberadaan Rachel, Mahavir langsung masuk ke mobil dan melajukannya dengan cepat ke jalan raya.
Tidak memakan waktu lama, Mahavir sudah berada di lokasi dimana Rachel berada. Dari kejauhan tampak beberapa laki-laki dengan menggunakan setelan jas hitam rapi berdiri di berbagai titik, menunduk memberi hormat. Salah satu diantaranya memberikan kode pada Mahavir. Mahavir mengangguk lalu melangkahkan kakinya mengikuti arah pandang pengawal yang sudah memberikannya informasi tadi.
Dilihatnya istrinya dari kejauhan sedang berjalan tertatih-tatih dengan pandangan yang kosong. Ingin rasanya Mahavir berlari menghampiri dan langsung mendekapnya kedalam pelukannya. Namun Mahavir berusaha menahan diri dan memilih mengikutinya dari kejauhan seperti yang dulu biasa ia lakukan. Wanita itu terus saja melangkahkan kakinya tak tentu arah. Terus berjalan tanpa terlihat mengeluh dengan heels yang digunakannya. Justru Mahavir yang terlihat begitu khawatir dengan keadaannya, hanya saja ia tak bisa berbuat apa-apa.
Daun-daun kering semakin beterbangan, ruas-ruas jalan sudah dipenuhi daun-daun kering itu. Membuat derap langkah kaki terdengar unik saat menginjaknya. Mahavir mengedarkan pandangannya ke sekeliling sekilas. Tampak beberapa ranting pohon sudah terlihat menggundul, mungkin sedikit lagi akan berubah musim. Waktu begitu cepat berlalu. Mahavir tersenyum, sedikit tertawa kecil. Menertawakan dirinya sendiri. Baik dulu maupun sekarang tak ada yang berubah. Dia sama sekali tak dapat meraih hati wanita dingin nan angkuh yang berjalan jauh di depan sana.
Rachel menghentikan langkahnya lalu duduk di salah satu bangku taman yang ada di sepanjang kawasan Queen's walk itu. Mahavir pun ikut menghentikan langkahnya dan duduk di bangku taman yang berada tak jauh dibelakang Rachel. Mengamati setiap gerak-gerik istrinya itu.
Langit sudah berganti warna, mentari semakin sembunyi ke peraduannya. Lampu-lampu taman yang berjejer rapi di sepanjang sisi sungai Thames mulai menyala satu persatu. Suhu udara pun sudah semakin menurun. Salah seorang laki-laki berstelan jas rapi menghampiri dan menyerahkan dua buah jaket tebal berbahan wol. Mahavir memakai salah satunya lalu bangkit berdiri menghampiri Rachel. Kemudian Mahavir langsung membalutkan jaket tebal itu ke punggung Rachel.
"Ayo pulang, kamu bisa masuk angin nanti." Ucapnya pelan.
Tanpa menoleh ke belakang, Rachel sudah mengetahui bahwa pemilik suara itu adalah Mahavir.
"Darimana kamu tahu aku ada disini?"
"Itu tidak penting."
"Pasti dari mereka kan?" Rachel tersenyum getir. Dia mengedarkan pandangannya pada sosok laki-laki berpakaian rapi yang berdiri di kejauhan. Sosok yang sudah mengikutinya selama ini. Awalnya ia tak menyadari hal itu. Namun setelah semuanya terbongkar ia baru menyadari bahwa selama ini ia sudah berada dalam sangkar Mahavir. Lebih tepatnya tahanan cintanya, yang tak akan pernah bisa kabur kemanapun. "Jangan khawatir, aku disini hanya menenangkan diri. Aku tak akan kabur meninggalkanmu."
Mahavir sedikit terkejut. Tangannya terangkat memijit ringan pelipisnya. "Jangan salah paham. Mereka hanya ingin menjagamu. Bukan hanya padamu, tapi juga pada Bryan." Jujurnya.
Rachel tak merespon, ia sudah merasa lemah untuk berdebat.
"Ayo, sudah malam." Mahavir berucap pelan dan hendak merangkul bahu Rachel, namun tangannya terhenti di udara. Ia takut kalau kembali memancing emosi istrinya itu yang mungkin belum mau disentuh olehnya. Dengan berat hati, ia berbalik lalu melangkahkan kakinya.
Rachel pun bangkit berdiri dengan perlahan dan mengikuti Mahavir yang sudah berjalan lebih dulu di depannya menuju parkiran. Ia sedikit terhuyung karena merasa lemas, mungkin karena belum ada yang masuk ke dalam perutnya sejak siang tadi.
Keduanya sama-sama terdiam dalam perjalanan hingga mobil tiba-tiba berhenti di bahu jalan tepat di depan sebuah restoran. Rachel mengernyit namun enggan bertanya.
"Aku belum makan seharian. Kamu juga kan?" Tanyanya menyadari ekspresi wajah Rachel dan Rachel hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Dengan ragu-ragu Mahavir mendekat dan membukakan seatbelt yang terpasang di tubuh Rachel. Hembusan nafas Rachel yang terasa di wajahnya membuatnya terhenti dan memandangi wajah istrinya selama beberapa detik. Kedua mata mereka kembali bertemu. Wajah Mahavir semakin mendekat ingin mengecup bibir Rachel, tapi cepat-cepat Rachel memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya. Sadar akan penolakan itu, Mahavir segera menarik tubuhnya ke tempatnya semula.
"Ayo..." Ucapnya singkat lalu turun dari mobil. Rachel mengikut. Keduanya pun masuk ke restoran itu dan menempati salah satu meja.
"Mau makan apa?" Tanya Mahavir terus menerus memandangi Rachel.
"Aku tidak lapar...." Ucapnya lemah, lalu memalingkan wajahnya ke samping menghindari tatapan Mahavir.
Mahavir menghela nafas, meraih tangan Rachel yang berada diatas meja dan menggenggamnya. Beruntung Rachel tak menipisnya. Atau bisa jadi ia sudah tak punya tenaga untuk sekedar menepis genggamannya.
"Sebesar apapun kemarahanmu padaku, kumohon jangan menyiksa dirimu sendiri. Terlebih ada anak kita dalam perutmu. Makanlah walau sedikit." Pintanya memelas.
Rachel memejamkan matanya, mendesah pelan lalu akhirnya mengangguk.
Mahavir menghela nafas lega lalu meraih buku menu. "Makanan seperti apa yang tidak membuatmu mual?" Tanyanya sembari melirik Rachel dari balik buku menu.
Rachel menggeleng pelan. "Entahlah..." Jawabnya singkat dan sangat pelan, nyaris tak kedengaran.
Mahavir termenung sejenak, lalu memesankan menu sehat untuk Rachel. Keduanya pun menikmati makan malamnya dalam diam. Sesekali Rachel mengalami mual, tapi terlihat ia masih bisa mengatasinya.
Setelahnya mereka melanjutkan perjalanan menuju pulang ke penthouse. Kembali hening diantara mereka sepanjang perjalanan hingga sampai ke tujuan. Dengan jarak yang saling berjauhan, keduanya berjalan memasuki penthouse hingga ke kamar mereka. Mahavir memilih duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan Rachel yang berganti pakaian di walk in closet. Jakunnya terlihat naik turun menelan ludahnya susah payah melihat penampilan seksi istrinya, tapi ia berusaha meredam hasratnya.
"Apa aku masih bisa tidur disini?" Tanyanya dengan hati-hati begitu Rachel membuka selimut dan bersiap naik ke tempat tidur.
"Rumah ini milikmu, semua yang ada disini milikmu. Untuk apa meminta izinku." Jawabnya lalu membaringkan tubuhnya memunggungi Mahavir dan menarik selimut hingga dadanya.
"Diriku pun bahkan sudah jadi milikmu sekarang. Kamu bebas melakukan apapun padaku di rumah ini." Lanjutnya berusaha tegar, walau ia sendiri merasa sakit mengatakan itu.
Tanpa bicara lagi, Mahavir ikut masuk ke dalam selimut dan membaringkan tubuhnya. Netranya berfokus menatap langit-langit kamar mereka.
Rachel memejamkan matanya, berusaha untuk tertidur dengan cepat. Tapi kembali airmatanya terjatuh dengan sendirinya tanpa bisa di tahannya. Ia mengigit bibir bawahnya kuat-kuat mencoba menyembunyikan tangisnya. Tapi suara isakan pelannya menembus pendengaran Mahavir.
"Ada apa?" Tanyanya dengan suara bergetar. "Apa kamu menginginkanku malam ini?" Rachel semakin menggigit bibir bawahnya, membendung tangisnya agar tidak semakin pecah. "Lakukanlah bila kamu menginginkanku. Aku tak akan menolak hal yang sudah menjadi kewajibanku sebagai istrimu..." Lanjutnya tanpa berbalik melihat Mahavir sedikitpun.
Mahavir menggeleng walaupun ia tahu Rachel tak melihatnya. Airmatanya ikut tumpah mendengar kepasrahan Rachel. Selama beberapa detik terjadi peran batin di hatinya. Perlahan-lahan, Mahavir menggeser tubuhnya mendekat dan mengusap pelan punggung Rachel lalu memberanikan diri memeluk Rachel dari belakang. "Maafkan aku sayang...." Ucapnya lirih.
"Kamu... Kamu jahat." Ucap Rachel pelan sambil terisak. "Kenapa kamu begitu jahat padaku Dirman?"
"Maaf....."
"Kamu tak tahu betapa sulitnya aku menjalani kehidupanku setelah kejadian itu. Aku selalu histeris setiap kali ada pria yang mendekat. Bayang-bayang wajahmu selalu saja menghantui di tiap malam tidurku. Aku menghabiskan setahun dalam hidupku dengan sia-sia hanya untuk bisa melupakanmu. Melakukan banyak terapi kesana kemari. Walau pada akhirnya aku baru tahu semua itu bukan kesalahanmu dan hanya kesalahpahamanku. Tapi...." Rachel menjeda ucapannya sejenak. mencoba menahan tangisnya dan menguatkan hatinya. lalu lanjut berucap. "Tapi.....aku sama sekali tak menduga kamu bisa senekat ini padaku. Menipu dan menikahiku seperti ini....."
Mahavir tak mampu berkata apapun, karena ia juga mencoba menahan tangisnya. Ia hanya semakin merapatkan pelukannya pada tubuh Rachel, dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya.
".... bahkan....." Rachel menjeda ucapannya kembali. Menarik nafas kuat-kuat karena merasakan sesak yang menghimpitnya. "Bahkan keluargapun ikut bekerjasama membantumu, tanpa mempedulikan perasaanku bila mengetahuinya..."
"Tidak sayang... Jangan salahkan keluargamu. Ini semua kesalahanku. Aku yang bertanggung jawab atas semuanya yang terjadi." menarik pelan bahu Rachel dan membuatnya berbalik menghadapnya.
"Maafkan aku...." Pintanya seraya tangannya bergerak mengusap airmata di wajah Rachel. Lalu kembali memeluknya dengan erat.
Rachel sudah tak berkata apa-apa lagi. Tanpa sadar ia membalas pelukan Mahavir dan terus saja terisak dalam dekapan Mahavir hingga akhirnya tertidur. Mahavir merenggangkan pelukannya. Ia terdiam membisu memandangi wajah istrinya itu cukup lama. Wajah yang tak bisa dibencinya sedikitpun walau kelakuan wanita itu sering kali menyakiti hatinya. Dengan perlahan Mahavir mengecup kening, kedua mata, kedua pipi dan berakhir di bibir Rachel.
Maafkan aku karena mencintai dan menyakitimu sekaligus sayang....
* * *
Pagi harinya, Rachel terbangun dengan kepala yang berdenyut sakit. Mual yang teramat sangat kembali dialaminya. Ia bergegas bangun, berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Nafasnya sudah terengah-engah. Dilihatnya penampilan dirinya dari pantulan cermin di kamar mandi begitu sangat kacau. Kedua matanya bengkak dengan cekungan hitam dibawah mata dan hidung yang memerah. Rachel segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya. Kembali melanjutkan aktivitasnya seperti biasa serta berusaha menata hati dan perasaannya juga melupakan semuanya. Tapi sekali lagi emosinya terpancing begitu melihat sosok baru yang menyapanya di ruang makan.
"Who are you?" Tanyanya menyelidik pada seorang wanita bule berumur sekitar 40 tahunan berpakaian pelayan. Belum sempat wanita itu memperkenalkan diri, Rachel kembali menanyakan keberadaan Mahavir.
BRAKKK...
Rachel mendorong pintu ruang kerja Mahavir dengan kasar. Mahavir yang tengah menelpon seseorang langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Kenapa ada pelayan baru? Kemana Bik Inah?" Cecarnya dengan emosi.
"Sayang tenang dulu."
"Apa kamu memecatnya karena tidak melaporkan apapun padamu?"
Mahavir mengusap wajahnya kasar lalu menekan-nekan pelipisnya. "Bukan aku yang melakukannya..."
"Bukan kamu? Lalu aku? Begitu?"
"Bu... Bukan sayang..." Berjalan menghampiri Rachel dan hendak memeluknya.
"Jangan menyentuhku....!" Ucapnya membuat Mahavir menarik tangannya kembali.
"Aku juga baru tahu tadi. Stuart yang sudah menggantinya. Dia yang mengatur semuanya. Aku tak punya wewenang menentangnya."
"Dan kamu pikir aku percaya?"
"Stuart itu tidak seperti yang kamu pikir. Dia tangan kanan Presdir, ayahku. Dia orang yang tegas dan tidak pandang bulu. Hanya pada kita dia bersikap lunak dan bersedia diperintah segala macam. Dia tak akan mentolerir satu kesalahan pun dari para pekerja yang tidak mengikuti instruksinya."
"Apa tidak cukup dengan CCTV di seluruh penjuru rumah ini? Apa sampai para pelayan pun harus melaporkan segala gerak-gerikku? Bahkan diluar sana-pun ada orang-orang yang terus menerus mengawasi pergerakanku..." Bola matanya kembali terasa panas, bahkan sesuatu telah kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Vir....Apa aku ini betul-betul kamu cintai? Atau sekedar hanya bonekamu yang harus kamu pantau dan bergerak sesuai kehendakmu?" Tanyanya dengan begitu lemah dan pelan, butiran bening sudah mulai terjatuh di disudut matanya. Ia kembali terisak.
"Sayang..... "
"Aku sudah mulai mau memaafkan dan menerimamu. Tapi sepertinya aku harus kembali memikirkannya." Ucapnya lagi sembari melangkahkan kakinya mundur kebelakang.
"Sayang.... Dengar dulu penjelasanku...." Pintanya, menarik dan memegang kedua lengan Rachel dengan paksa dan sedikit keras.
"AUUWW...." Teriak Rachel merasakan cengkraman Mahavir semakin kuat pada lengannya.
"Maaf aku tak bermaksud..." Mahavir melepaskan pegangannya. "Dengar dulu penjelasanku..."
"Aku tak mau dengar apa-apa lagi. Mulai detik ini aku benar-benar akan menjadi bonekamu!" Marahnya lalu berbalik dan berlari kecil keluar penthouse dengan isak tangisnya.
"SHITTT!!!" Mahavir mengumpat keras. Ia sama sekali tak tahu menahu soal ini. Ia juga sama terkejutnya dengan Rachel saat mendapati pelayan itu. Ia baru menanyakan perihal itu pada Stuart saat Rachel tiba-tiba masuk ke ruang kerjanya dan malah salah paham padanya.
Mahavir meraih ponselnya kembali dan menghubungi Stuart. Segala umpatan dan makian ia lontarkan, melampiaskan segala amarahnya pada pria Skotlandia itu.
Stuart hanya terdiam di seberang sana mendengar tiap makian dari tuan muda-nya. Ia juga tak tahu kalau kali ini ia juga salah langkah. Seumur hidupnya, baru kali ini ia merasa frustasi menghadapi masalah. Menghadapi istri tuan Muda-nya betul-betul membuatnya selalu kewalahan.
"Pokoknya kembalikan pelayan itu kerumah ini. Siang ini aku ingin dia sudah ada disini." Perintah Mahavir sebelum akhirnya menutup sambungan telepon dengan sepihak.
* * *
Happy Reading... 🤗
Sekali lagi kk othor minta maaf kalau telat Up lagi. Kk othor betul-betul sibuk akhir-akhir ini mengurus jualan yang semakin ramai menjelang hari raya.
Tapi Kk Author selalu berusaha untuk Up walau harus menyicil merangkai kata per kata demi kalian 🙏
Terima kasih sebanyak-banyaknya atas pengertiannya... 🥰
salam sayang dari Author... 🤗😘