
Kedua mata Rachel terpejam sempurna kala maskapai penerbangan yang di tumpanginya kini lepas landas meninggalkan kota London setelah sempat delay selama beberapa jam akibat cuaca buruk. Suara gemuruh langsung menyapa begitu pesawat yang sudah melebarkan sayapnya di udara membelah tumpukan awan tebal.
Setelah beberapa menit berlalu, Rachel pun membuka kedua matanya dan langsung memandang keluar jendela. Menerawang jauh kebawah sana dengan tatapan kosong.
Tanpa disadarinya, tetesan bening jatuh begitu saja dari sudut matanya melihat tampilan kota London yang mengecil dibawah sana. Kota yang memberikannya sejuta kenangan manis sekaligus pahit selama beberapa bulan belakangan ini.
Sekelebat kenangan demi kenangan bersama Mahavir terlintas dalam ingatannya. Membuat airmata nya semakin berderai. Rasa Benci pada lelaki itu dan cinta yang baru disadarinya begitu membaur dan menyatu dalam hatinya. Menciptakan warna abu-abu, membentuk kabut dimana ia tersesat diantaranya.
Berkali-kali sudah ia mencoba menampik perasaannya, mencoba menghapus sosok Mahavir, menghempas keberadaan Mahavir dari dalam hatinya, tapi semakin ia berusaha semakin ia tak mampu menghilangkan sosok laki-laki itu dari dalam pikirannya. Ia sama sekali tak mampu menghilangkan cinta yang selama ini laki-laki itu berikan padanya.
Rachel menggigit kuat-kuat bibir bawahnya berusaha menahan tangisnya. Tangannya bergerak menekan-nekan dadanya yang terasa begitu sesak dengan pandangan yang masih mengarah ke jendela. Ia sangat sadar bahwa ia sudah terlambat menyadari perasaannya. Dimana laki-laki itu kini sudah tak lagi mengharapkan dirinya.
Di setiap harinya, di setiap jamnya, di setiap menit, bahkan di setiap detiknya perkataan terakhir Mahavir yang didengarnya selalu mendengung dan terngiang berulangkali di telinganya.
Sakit, perih dan gelisah terus menyelimuti pikirannya selama berhari-hari. Hampir dua bulan lamanya ia mencoba bertahan menunggu dan berharap. Tapi tak jua ia mendapatkan kepastian.
Walaupun berusaha keras bersikap tegar, namun nyatanya jiwanya begitu rapuh. Ia tak sanggup menjalaninya seorang diri, apalagi bertahan di dalam penthouse yang penuh bayang-bayang laki-laki itu. Di dalam kesunyian yang menyapanya hanya orang tuanya yang terlintas dipikirannya. Tiba-tiba saja ia sangat merindukan pelukan mommy dan daddy-nya.
Dengan pikiran yang berkecamuk, akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan kota London selama beberapa waktu. Hingga disinilah ia berada saat ini. Di dalam pesawat yang membawanya menjauh.
Perlahan tangannya terangkat menyentuh jendela pesawat. Lalu jari telunjuknya mengukir nama Mahavir di permukaan kaca yang tampak berembun, diikuti bibirnya yang terbuka dan berucap lirih...
Mahavir....
Mungkin kini hati ku masih mengharapkanmu
Masih ingin bertemu dan bersamamu...
Tapi aku sadar diri...
Aku sudah berbuat fatal yang menorehkan luka besar di hatimu...
Maafkan aku...
Mungkin sudah tak ada guna aku menyesali semuanya...
Hubungan kita diawali dengan cara yang tidak benar, sehingga akhirnya juga menjadi seperti ini..
Tapi kini aku tak menyesalinya...
Terima kasih atas cinta yang kaberikan untukku...
Aku hanya bisa berdoa tulus untukmu...
Semoga engkau bahagia saat ini dimanapun engkau berada....
I will love you always.... Mahavir.
Di akhir ucapannya, Rachel tersenyum lembut dengan setetes airmata yang kembali terjatuh. Wajahnya kembali menghadap ke depan. Memperbaiki dan merilekskan posisi duduknya pada kursi first class pesawat tersebut. Memejamkan matanya kembali dan berusaha menikmati perjalanan panjang itu.
***
Pesawat komersil yang di tumpangi Rachel akhirnya landing dengan selamat di bandara soekarno-hatta setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tujuh belas jam.
Setelah merapikan diri, Rachel bangkit dari duduknya dan bersiap untuk keluar dari pesawat. Namun baru selangkah, tiba-tiba dua orang laki-laki asing bersetelan jas rapi yang duduk di kursi seberang dan dua lagi dari kursi di belakang menghampirinya. Dua orang berdiri tepat di depannya dan dua lagi tepat di belakangnya, sama sekali tidak memberikannya celah untuk bisa melewatinya.
"Who are you?" (siapa kalian?)
"Sorry Mrs. Alister. please come with us...." (maaf Nyonya Alister. silakan ikut dengan kami.) Ucap salah seorang laki-laki yang berada di depan, menunduk memberi hormat sembari mengayunkan tangannya ke samping tubuhnya, mempersilahkan Rachel untuk berjalan mengikutinya.
Rachel terdiam mengamati penampilan laki-laki tersebut. Dari pakaian dan simbol keluarga yang tersulam pada dasi berwarna biru gelap yang digunakannya Rachel sudah bisa mengenali siapa mereka. Tanpa berkata apapun Rachel mengangguk pelan dan akhirnya mengikuti mereka keluar dari pesawat dan langsung berjalan melewati jalur khusus.
"I have luggage. I have to take it first..." ( Saya memiliki bagasi. Saya harus mengambilnya dulu.) Ucap Rachel kala dirinya melewati jalur pengambilan bagasi.
"You don't have to worry. Someone's already got it for you. Mrs. Alister." ( Anda tidak perlu khawatir. Seseorang sudah mengambilkannya untuk Anda. Nyonya Alister)
Rachel menghela nafasnya, ia begitu merasa lelah. Memilih untuk tak berbicara lagi dan terus saja mengikuti mereka. Hingga keempat laki-laki itu membawanya menuju ke pelataran parkir khusus, dimana dari jauh sudah tampak mobil sedan hitam menunggunya.
Langkah kaki Rachel terhenti seketika ketika jarak diantara ia dan mobil itu sisa beberapa meter, membuat langkah keempat laki-laki yang mengawalnya juga ikut terhenti.
"Is he there?" (Apa dia disana) tanyanya dengan mempertajam penglihatannya. Mencoba menembus kaca mobil yang tampak pekat itu.
Walau merasakan rindu yang teramat sangat, dirinya belum siap bertemu Mahavir saat ini juga. Perlahan Rachel melangkah mundur dengan kepala menggeleng pelan, lalu berbalik dan hendak berlari menjauh. Namun ia lupa kalau ada dua laki-laki yang mengawal di belakang, siap siaga menghadangnya.
Salah satu laki-laki yang berdiri di depan berbalik. Membungkukkan badannya dan kembali mempersilahkan Rachel. "Please, Mrs. Alister....." (Silahkan Nyonya Alister.)
Rachel masih bergeming di tempatnya. "Where are we going?" (Kemana kita akan pergi?)
"Sorry Mrs. Alister..." Ucap laki-laki yang membungkukkan badannya, masih dengan posisi yang sama. "We were only told to pick you up. Mrs. Alister." (Kami hanya diperintahkan menjemput anda. Nyonya Alister)
Rachel mengedarkan pandangannya, memandangi tiga laki-laki lainnya. Ketiganya refleks menunduk. "Please, Mrs. Alister..." (Silahkan nyonya Alister) ucapnya serempak.
Saat ia sudah berdiri tepat di samping pintu, jantungnya dua kali berdetak semakin cepat kala seorang pengawal membukakan pintu mobil itu untuknya.
DEG....
Seluruh aliran darah Rachel seakan terhenti dalam pembuluh darahnya saat menghirup aroma yang sangat dikenalinya menguar dari dalam sana. Tubuhnya mematung, diam tertegun di posisinya. Bola matanya memanas dan memerah dengan sosok yang dilihatnya. Nafasnya memburu dan begitu terasa tercekat saat bibirnya berusaha menyebutkan nama laki-laki itu.
Lama menunggu, laki-laki yang duduk didalam sana akhirnya turun dari mobil lewat sisi sebelah, berjalan tergesa-gesa memutari belakang mobil menuju tempatnya berdiri. Rachel sendiri masih tak dapat menggerakkan tubuhnya, hanya bola matanya yang bergerak mengikuti pergerakan laki-laki itu.
"Sayang..." Laki-laki itu memegang kedua bahu Rachel dan mengamatinya dari atas hingga ke bawah. Pandangannya terhenti beberapa detik di perut Rachel, lalu kembali naik memandangi wajah sembabnya. Kemudian menariknya kedalam pelukannya. "Maafkan aku sayang.... Maafkan aku..." Ucapnya dengan nada suara yang begitu rendah, penuh penyesalan.
Nafas Rachel semakin tak teratur, tenggorokannya begitu tercekat. Masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Pandangannya tiba-tiba kabur dan menggelap. Hingga akhirnya kesadarannya hilang dengan tubuhnya yang luruh dalam pelukan Mahavir.
Mahavir menguatkan satu lengannya menopang punggung wanita itu, lalu tangan satunya langsung meraih kedua pahanya dan mengangkatnya.
"Mrs. Alister hasn't eaten anything on the way here. Mr. Alister." (Nyonya Alister belum makan apapun selama perjalanan ke sini. Tuan Alister.) Lapor pengawal yang tadi membukakan pintu untuk Rachel.
Mahavir mengangguk paham kemudian langsung membopong tubuh Rachel masuk ke dalam mobil bersamanya. Keempat Pengawal yang berdiri di luar mobil membungkuk memberi hormat sampai mobil yang membawa tuan muda beserta istrinya menjauh dan menghilang dari pandangan mereka. Setelahnya, dengan langkah lebarnya keempatnya langsung masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi dan menyusul tuan Mudanya.
****
Mahavir tertegun memandangi wajah sembab Rachel yang terbaring lemah di atas ranjang kamar president suite hotel Calister miliknya. Terduduk di tepian tempat tidur dengan menggenggam erat tangannya.
Rachel mengernyit sesaat, sebelum akhirnya tersadar dan membuka matanya setelah merasakan tangannya yang digenggam dengan begitu eratnya. Dengan cepat ia menarik tangannya lalu bangun dari tidurnya dan berusaha bangkit dari ranjang, tapi sebelum itu Mahavir terlebih dulu menahannya. Mahavir menarik paksa Rachel, dan membuat posisi wanita itu kembali duduk bersandar pada headboard tempat tidur. Kemudian meraih meja lipat yang berisi beberapa hidangan khas Indonesia dari atas meja tamu dan meletakkannya di atas paha Rachel yang terbalut selimut.
Pandangan Rachel fokus sepenuhnya pada Mahavir, memandangi nya dengan pandangan tak percaya. Laki-laki itu masih bisa bersikap santai seolah tak terjadi apapun selama dua bulan ini. Bahkan sifat pemaksanya masih sama. Rachel betul-betul tak mengerti dengan pola pikir laki-laki itu.
Enggan bersuara, Rachel akhirnya menunduk dan membisu. Memandang kosong pada makanan yang ada di hadapannya dengan berjuta pertanyaan dalam benaknya.
Setelah menghilang tanpa kabar, dia malah muncul dengan sesantai ini? Apa sebenarnya yang kamu harap Vir?
"Makanlah dulu, aku dengar kamu tidak makan apapun selama di pesawat."
Seketika Rachel mengangkat wajahnya, memandangi Mahavir dengan miris dan sedikit menyeringai. "Kamu mengetahui keadaanku di pesawat? tapi kamu sama sekali tidak menanyakan keadaanku selama kamu tinggalkan?"
"Aku tak akan menjawab pertanyaan apapun sebelum kamu memakan makanan itu." Ucapnya lalu bangkit berdiri dari duduknya.
Rachel menggeleng pelan dengan raut wajah penuh kekecewaan.
"Aku akan menunggu di luar bila kamu merasa kurang nyaman." Lanjutnya dengan melangkahkan kakinya ke arah pintu.
Rachel tertegun memandangi Mahavir. "Kenapa Vir?"
Mahavir berbalik, menatap Rachel sekilas. "Makan sampai habis, dan jangan pernah berfikir untuk melempar makanan itu." Ucapnya, mengabaikan pertanyaan Rachel, lalu benar-benar keluar dari kamar itu.
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan Vir?" Lirihnya sembari menyandarkan punggungnya ke belakang dan mengedarkan pandangannya mengamati ruangan kamar dimana ia berada saat ini. Ruangan yang sangat tidak asing baginya.
Setetes bening kembali terjatuh di sudut matanya mengingat apa yang pernah terjadi di tempat itu. Cepat-cepat ia mengusap airmatanya lalu meraih sendok di samping piring. "Baiklah Vir, aku ikuti permainanmu." Ucapnya lalu menyantap makanannya dengan sesekali mengusap airmatanya yang tak henti berjatuhan.
Setelah makan, perasaannya sedikit membaik. Rachel pun bangkit dari ranjang. Meletakkan kembali meja lipat di atas meja tamu seperti sebelumnya. Ekor matanya menangkap koper pakaiannya tergeletak dengan rapinya di sudut samping sofa. Melihat ada pakaian gantinya, Ia pun masuk ke dalam bathroom kamar itu dan membersihkan diri karena merasa lengket setelah perjalanan panjang dari London.
Saat Rachel masih di dalam sana, Mahavir masuk kembali ke kamar itu. Ia sedikit panik dan melebarkan pandangannya mencari sang istri, tapi sedetik kemudian bernafas lega begitu mendengar suara gemericik air dari dalam bathroom. Senyum Mahavir pun terkembang melihat seluruh makanan di atas nampan sudah tandas tak bersisa. Ia lalu menghempas tubuhnya terduduk di sofa sembari menunggu istrinya.
Tak lama berselang Rachel keluar dari bathroom dengan menggunakan bathrobe hotel berwarna putih bersih sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Posisinya yang membelakang membuatnya tak menyadari keberadaan Mahavir.
Semua pergerakan Rachel itu tak luput sedikitpun dari pandangan Mahavir. Aroma wangi Vanilla milk dari shampo dan sabun di tubuhnya langsung menguar dalam ruang kamar itu.
Netra Mahavir bergerak-gerak mengamati wanita di depannya, rasa rindu yang meluap-luap dan hasrat yang sudah tak terbendung membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Tanpa sadar ia bangkit dari duduknya. Melangkah dengan perlahan mendekati wanita itu. Kedua tangannya terangkat dan langsung meraih pinggangnya. Menariknya masuk ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan begitu eratnya dari belakang dan menghirup dengan dalam aroma tubuhnya.
"Aku merindukanmu..... Aku merindukanmu sayang...." Bisiknya di cuping telinga Rachel.
Rachel yang terkejut sontak melepaskan diri dan menjauh dari Mahavir. Sekujur tubuhnya masih meremang akibat tindakan Mahavir barusan. Ia sedikit bergidik lalu menatap Mahavir dengan sorot mata penuh pertanyaan.
"Tolong jelaskan padaku, apa maksud dari tujuanmu sebenarnya? Untuk apa kamu tiba-tiba datang kesini?" Tanyanya menuntut penjelasan.
"Untuk menjemputmu sayang...."
***
Happy Reading.... 🤗🥰
sorry Up-nya telat lagi.....
untuk itu hari ini othor Up 2 bab sekaligus.
2 bab ini hampir mencapai 5ribu kata loh...
jadi cukup panjang yah....
Dan Terima kasih buat yang masih betah menunggu kelanjutan kisah mereka...
peluk cium dari kk othor 🤗😘